Sugar

Sugar
Sugar's Girl (Drey POV)


__ADS_3

- 5 tahun yang lalu -


"Brakkk!!!"


Suara gebrakan di meja terdengar nyaring di ruangan itu. Disusul oleh umpatan yang sudah familiar bagiku.


"Dasar anak tak berguna!"


Tetapi semua itu tidak sedikitpun membuatku sedih atau sakit. Mungkin hatiku telah mati rasa.


Melihatku tak bergeming pasti membuatnya makin jengah. Hingga ia bersiap melayangkan pukulan padaku, namun ditahan oleh paman di belakangnya.


Aku bangkit dari dudukku, menatap nanar pada ruangan yang sudah berantakan tak karuan akibat amukanku tadi. Ini mungkin sudah yang ketiga kalinya perabotan ruangan ini diganti. Semua karena aku.


"Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi"


Ujarku dingin, lalu pergi keluar. Dari kejauhan langkahku, bisa kudengar suara barang dijatuhkan. Mungkin untuk menunjukkan padaku, bahwa dia juga tidak takut dengan ancamanku.


*****


Kata mereka aku anak yang tidak tahu diuntung. Terlahir memiliki segalanya namun selalu menimbulkan masalah. Mereka selalu menganggap apa yang kulakukan sebagai bentuk pembangkangan. Padahal orang-orang itulah yang tidak sepenuhnya memahami diriku.


Bahwa kehidupanku yang terlihat sempurna itu sebenarnya cacat.


"Apa kau sudah bicara lagi dengan ayahmu?"


Pertanyaan James membuyarkan lamunanku.


Aku hanya melengos Dan tidak menjawab. Tentu saja jawabannya tidak.


"Lucy adalah wanita yang baik. Tidak Ada salahnya mencoba menerimanya"


James tidak berhenti. Terus mencoba mencekokiku dengan nasehatnya.


Lucy memang wanita yang baik. Aku tahu itu meski hanya sekali bertemu dengannya. Dia seorang yang keibuan dan juga lembut. Pantas jika ayah pun jatuh cinta padanya. Namun justru karena itu aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Aku takut Lucy yang baik hati itu Akan terluka oleh ayahku.


Lagipula aku sudah Ada di usia '20-an. Aneh sekali memiliki ibu tiri dan saudara tiri. Walaupun sebelumnya sudah banyak ibu tiri yang lain silih berganti datang dalam hidupku. Tetapi masalah sebenarnya bukan tentang pernikahan itu. Ada hal lain yang membuat ayahku tidak senang.


Sejak dulu, ayahku benci dengan pilihanku menjadi pemain sepak bola. Baginya itu bukan profesi, hanya untuk main-main. Dia ingin aku menjalani pekerjaan pilihannya. Tanpa mempedulikan kehidupan seperti apa yang ingin kujalani.


Mungkin karena itu, aku tidak bisa lagi berbicara dengan ayahku. Selayaknya keluarga yang lain. Aku muak dengan Gaya hidupnya. Dia muak dengan pilihan hidupku. Tiada hari tanpa pertengkaran di antara kami.


"Sepertinya kita sudah sampai"


Sekali lagi James membuyarkan lamunanku. Entah nasehat apa saja yang dikatakan James sepanjang perjalanan. Mungkin dia juga bosan sendiri saat menyadari aku tak mendengarkannya.


Dengan langkah malas aku mengikuti James turun dari taksi. Mataku nyalang memperhatikan dengan seksama hotel yang akan kami tempati. Cukup megah, sesuai dengan reputasinya. Walaupun tidak terlalu istimewa menurutku.


Sementara James sibuk mengurus pemesanan kamar, aku berkeliling ke sekitar lobi. Melihat setiap sudut. Hingga mataku menangkap sebuah banner yang terpasang di tengah lobi. Sebuah iklan tentang kompetisi modelling tingkat Asia. Alasan utama James kemari. Aku sendiri hanya mengikutinya karena sedang tidak ada kerjaan.


Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik juga. Aku kenal banyak model cantik. Menurutku mereka sama saja. Mereka seperti bintang. Terlihat cantik jika dilihat dari kejauhan, tidak begitu halnya ketika sudah menggenggamnya. Begitulah yang kupikirkan saat ini.


******


Aku menatap tak percaya pada isi surel yang dikirim padaku. Ayahku benar-benar serius kali ini. Dua ancaman langsung disodorkan padaku. Bahwa aku harus hadir dalam pernikahannya, dan satunya kesediaan melepaskan profesiku sebagai pesepak bola. Dia bahkan rela mengganti biaya penalti kontrak. Sebaliknya, jika aku tidak melakukannya, dia tidak akan lagi menganggapku sebagai anak.


Aku hampir saja membanting laptop di pangkuanku,


"Apa kau ingin makan di luar saja?"


James muncul dan memaksaku meredam amarahku. Sejujurnya, dari semua orang aku Paling tidak ingin James tahu masalahku dengan ayah. Sudah terlalu sering dia pasang badan untukku.


"Maaf, aku masih kenyang"


Jawabku. Dengan tangan yang sudah lemas, kuletakkan laptopku dan berjalan keluar. Setidaknya aku harus menghindar dari James dulu.


Aku terus melangkah menjauhi kamarku. Naik tangga dan terus ke atas. Begitu sadar, aku sudah di rooftop bagian belakang hotel. Terlihat jika tempat itu terbengkalai. Barang ditumpuk sekenanya di Sana.


Tempat itu sepi.


Begitu yang kupikirkan, sehingga amarah yang tadi kutahan kembali Naik. Serasa ingin meledak. Aku melampiaskannya dengan mencoba menendang bangku reyot di depanku.


"Bruakkk!!"


Belum sempat aku menendang, ada suara keras dari sisi lain mengejutkanku. Di depanku ada sebuah papan kayu besar memisahkan rooftop menjadi 2 bagian. Suara itu berasal dari seberang papan itu.


"Bruakk!"


Kembali terdengar. Sangat jelas jika itu suara pukulan atau tendangan pada suatu barang. Artinya Ada orang selain aku di Sana. Pastinya sedang melampiaskan kemarahan sepertiku.

__ADS_1


Memikirkan bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang mengalami hari buruk, membuatku lega. Perlahan kekesalanku surut saat mendengarkan suara di balik sana.


Mungkin setelah tendangan keempat akhirnya suara itu berhenti. Hening sesaat, dan sebuah inisiatif muncul di otakku. Aku mengetuk papan pembatas itu. Mencoba bicara dengan siapapun yang sedang berada di baliknya.


Aku bisa mendengar suara terkesiap. Pasti dia terkejut sekali. Tidak menyangka bahwa ada orang lain di sini.


"A..apa ada orang di Sana? Ma..maafkan aku, sudah membuat keributan"


Aku cukup terkejut mendengar suara perempuan. Padahal kedengarannya pukulan tadi cukup keras. Terlebih, dia menggunakan logat yang berbeda denganku. Masih Kaku, seolah bahasanya sebenarnya berbeda.


"Tidak apa-apa. Kau sepertinya banyak masalah"


Jawabku sambil tertawa kecil.


Tanpa sadar, aku sudah duduk di kursi reyot yang batal kutendang tadi.


Kami berdua sama-sama diam untuk waktu yang lama. Menikmati malam yang sebenarnya indah dan sejuk ini.


"Apa kau juga sedang Ada masalah?"


Gadis itu yang pertama kali memecahkan kesunyian di antara kami.


"Ya, banyak sekali"


Gadis itu tertawa. Terdengar getir, karena pasti bukan untuk menertawakanku.


"Ingin bertukar cerita?"


Tanyanya lagi. Kali ini aku ragu untuk menjawab. Meskipun belum begitu terkenal, sangat mudah mencari nama Drey Charleville. Jika ia tahu identitasku, tidak Ada jaminan cerita pribadiku aman di tangannya.


"Kita tidak perlu saling melihat atau mengenal. Hanya cukup bercerita. Dengan begitu, Kita bisa saling melupakan Setelah ini"


Tawar gadis itu lagi, seolah membaca alasan keraguanku.


"Boleh juga idemu"


"Oh ya, supaya lebih mudah sebaiknya Kita pakai nickname. Kau bisa memanggilku... Mm.. panggil aku Sugar saja"


"Sugar? Kenapa harus sugar?"


"Karena aku sedang merindukan gula. Aku ingin makan sesuatu yang banyak gulanya, sudah lama aku tidak melakukannya"


"Kalau begitu panggil aku D"


"Namamu juga aneh"


Ledek sugar. Seperti ingin membalasku. Aku hanya bisa tertawa.


****


Sugar menceritakan masalahnya. Dia adalah salah satu peserta kompetisi modelling yang akan dihadiri James. Saat ini Sugar membenci situasinya saat ini. Dia harus menjadi model, namun dia tidak suka dengan kekangan di dalamnya. Menjalani diet ketat, mengalami pelatihan yang keras. Semua hal yang tidak ingin ia lakukan.


Dulu Sugar menyukai dunia modelling. Baginya seperti sebuah dunia impian yang indah. Nyatanya kini dunia itu terasa gelap baginya. Tidak seindah yang pernah dibayangkannya.


Sugar merasa ragu, jika ini hidup yang diinginkannya. Menjadikan modelling sebagai pekerjaan, artinya dia harus siap berkorban mencapainya. Lalu dia marah pada dirinya sendiri. Karena meragukan itu saat panggung penentuan sudah ada di depan matanya.


Pikiran itu mendadak muncul. Gadis ini mirip denganku. Setidaknya kami sama-sama ragu pada jalan di depan kami. Hal itu menggugah rasa penasaranku.


Sebenarnya aku bukan orang yang suka berbuat curang. Tetapi kali ini aku melakukannya. Mengambil pecahan kaca yang berserakan di Sana, aku menyelipkannya di antara papan pembatas. Lalu melihat wajah Sugar.


Apakah ini namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?


Aku tidak pernah mempercayainya, jadi aku tidak tahu. Untuk seorang gadis yang kulihat pertama Kali, Ada rasa asing muncul di hatiku.


Tampilannya sederhana. Hanya menggunakan kaos oblong dan celana longgar. Duduk meringkuk membuatnya seperti dibungkus oleh pakaian kedodorannya.


Sugar juga gadis yang cantik. Rambut panjangnya yang tergerai ditiup angin, memperlihatkan wajahnya.  memiliki garis wajah lembut seperti ibuku. Meskipun bukan gadis tercantik yang pernah kulihat, namun senyum yang tersungging di wajahnya sungguh melengkapi keindahannya.


Walau ada kesedihan di dalamnya, ada binar penuh semangat di matanya. Dan itu seperti menghipnotisku. Untuk tetap menatapnya.


Namun hal yang tak akan pernah kulupakan dan membuatku benar-benar terpesonanya adalah kata-kata saran yang diucapkannya untukku.


Pada Sugar, aku berterus terang tentang masalahku. Keraguanku untuk terus bermain sepak bola. Tentang alasan yang selalu dianggap bodoh oleh orang lain. Haruskah aku memilih terus berjalan atau berhenti dan menyerah.


"Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan kita di masa depan. Karena itu pilihlah jalan yang paling tidak kau sesali nantinya. Jangan biarkan orang lain menentukan jalan hidupmu"


Begitu katanya.


"Aku iri padamu. Setidaknya kau bisa memilih. Tapi aku harus menjalani semua ini karena tidak ada pilihan lain bagiku"

__ADS_1


Lanjut Sugar. Tidak sepertiku, dia harus menjadi model agar bisa membantu keuangan keluarganya. Bahkan meski dia ragu, Sugar tidak bisa mundur. Namun dia mengatakannya sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang tulus, yang terus terkenang di hatiku.


*****


Besoknya aku baru tahu siapa Sugar. Saat menonton final kompetisi modelling itu, dia muncul di sana. Namanya Luna Eloise. Meskipun mengatakan benci pada panggung yang dilewatinya, dia berjalan dengan mengagumkan. Dia tetap tersenyum, dan memenangkan hati para juri.


Gadis pembenci modelling itu, justru menjadi juara satu di Sana. Setelah melihat dia, aku memutuskan untuk tidak melarikan diri. Aku menghadapi masalahku.


Pada akhirnya, aku berhasil bernegoisasi dengan ayahku. Menerima pernikahannya dengan Lucy, bahkan menghadirinya. Namun aku tetap bermain sepak bola. Meskipun harus angkat kaki dari rumah. Setidaknya ayahku menarik ucapannya untuk tidak lagi menganggapku sebagai anak.


Semua berkat Sugar.


******


- 4 tahun yang lalu -


Dalam final kompetisi modelling sebelumnya, aku mempengaruhi James untuk memilih Luna. Dia memang sengaja datang kesana mencari talent untuk filmnya. Jadi sepanjang acara aku terus membicarakan Luna. James terpengaruh dan perhatiannya pun tercuri oleh gadis itu.


Rencanaku berhasil. Luna masuk dalam proyek film James.


Ini adalah caraku untuk bisa terus memantau Luna. Meskipun menjadi model terkenal, karena dia tidak masuk di agensi besar Eropa atau Amerika, sangat sulit bagiku menemukan berita tentangnya. Sebagai model Asia, tentu dia lebih banyak bekerja di sana. Tetapi dengan terlibatnya dia dalam film James, tidak sulit mendapat informasi tentangnya.


James pun sepertinya menyadari, bagaimana perasaanku pada Luna. Sampai memberitahuku saat gadis itu mengalami kesulitan dengan proyek film pertamanya.


James menyarankan padaku untuk menemuinya. Memberinya semangat atau apalah. Meskipun awalnya aku hanya ingin memperhatikan dia dari kejauhan, aku setuju bertemu dengannya. Sebuah pertemuan yang kusesali dalam hidupku.


Aku batal datang karena mendadak harus pergi untuk membicarakan kontrak dengan klub baru. Namaku sedang melambung, dan sebuah klub besar asal Spanyol ingin merekrutku. Sebuah kesempatan besar untuk Masa depanku. Aku memilih membatalkan pertemuan dengan Luna.


Tanpa kutahu, James justru bertemu orang lain menggantikanku. Pria yang akhirnya lebih dulu menjadi penolong bagi Luna. Pria yang akhirnya lebih dulu mendapatkan hati Luna. Namanya Casey.


Berita kencan mereka menyebar cepat tak lama setelah film Luna dirilis. Dan Luna pun semakin jauh dariku.


Aku hanya bisa melihat Luna diam-diam. Cinta pertamaku yang langsung patah. Kutukar dengan karirku yang cemerlang.


Rasa sakitnya ternyata cukup parah. Karena ini yang pertama, aku tidak tahu Cara mengobatinya. Lalu terpikir kemungkinan mencari penggantinya. Bertemu satu wanita ke wanita yang lain. Nyatanya mereka berbeda dengan Luna. Aku tidak bisa jatuh cinta pada mereka seperti pada Luna. Aku tidak bisa menemukan sosok Luna pada mereka.


Sampai pada Hari itu.


Kami bertemu dalam satu pesta yang sama. Awalnya aku tidak berniat mendekat pada Luna. Tetapi James yang menyesal membawa Casey bertemu Luna berusaha menebus kesalahannya. Dia membujukku mendekati Luna. James pura-pura mengenalkanku pada Luna. Maksudnya agar aku tidak lagi melihat dari kejauhan.


Ternyata pertemuan itu benar-benar membawa kembali Luna padaku.


*****


- 4 jam yang lalu (di pesta) -


"Kau datang dengan pacarmu?"


Tanya Gracey. Dia menatap ke arah Luna yang sedang bicara dengan Lara. Memperhatikannya dari atas sampai bawah.


"Cantik kan?"


Tanyaku bangga. Melina dan Gracey tertawa bersamaan.


"Paling sebentar lagi akan berubah. Wajah polosnya itu akan segera menjadi seperti kami"


Ujar Melina mengejek. Sebenarnya aku tidak terlalu nyaman dengan kata-katanya barusan. Kenyataannya, setiap wanita yang berhubungan denganku Akan menjadi seperti mereka.


"Mau bertaruh?"


Tantang Gracey. Seperti biasa dia menatapku penuh semangat. Di antara yang lain, dia Paling suka melihat wanita yang rusak karenaku. Lalu membawa mereka ke dalam lingkarannya.


"Coba saja"


Jawabku yakin. Gracey mengulas senyum culasnya padaku. Seolah yakin bahwa dia Akan menang.


Taruhan malam ini adalah memeriksa seberapa kuat Luna menghadapi reputasiku. Untuk itu Gracey dan temannya terus mengganggunya. Sementara aku harus berakting menggoda wanita lain. Hasilnya, Luna menjawab keyakinanku.


Dia tidak lari sambil menangis dari pesta seperti tipikal wanita manja. Luna menghadapi Gracey, menghadapiku. Secara jelas seperti memberitahu mereka, bahwa aku miliknya. Tidak Ada yang boleh menyentuhku. Ataupun hubungan kami. Dengan begini aku tahu, Luna memang berbeda.


*****


"Tidur saja"


Ujarku pada Luna yang sudah terkantuk-kantuk. Beberapa Kali dia menguap tetapi mencoba tetap terjaga.


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi Kita sampai di rumah"


Jawab Luna. Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


Rumah. Itu adalah bagian yang cacat dari hidupku yang sempurna. Karena aku tidak pernah memilikinya. Kini Luna memberikannya. Menyempurnakan kehidupanku itu.


__ADS_2