Sugar

Sugar
Rival


__ADS_3

Aku berharap ini adalah mimpi. Rambut brunette berwarna coklat itu, serta senyum lembut yang seolah memantik kegelisahan di hatiku. Semua hal itu hanya dimiliki oleh seorang gadis berdarah bangsawan bernama Priscilla.


Ingin sekali aku melangkah pergi dari sana sambil berpura-pura tidak mengenalnya. Masih terbayang jelas pertengkaran antara aku dan Drey yang disebabkan olehnya. Namun mata kami telah saling beradu pandang. Kami sama-sama menyadari kehadiran satu sama lain.


Aku melihat Priscilla yang pertama melemparkan senyum, yang tanpa sadar membuat spontan membalasnya. Entah karena khawatir dianggap tidak sopan atau karena sudah insting alamiku. Setelah itu perhatianku tertuju pada langkah kecil Priscilla yang berjalan ke arahku.


“Jangan mendekat!” teriakku dalam hati. Aku masih canggung bertemu dengannya apalagi jika harus bicara. sayangnya, meski dengan langkah kecil itu, Priscilla telah sampai di hadapanku.


“Senang bertemu denganmu lagi”


“Ya, kebetulan sekali kita bertemu lagi di sini”


Rasanya aku menelan ludah pahit mengatakan hal itu. Binar polos tanpa rasa bersalah di mata Priscilla sungguh menggangguku. Tidak adakah hal lain yang ingin ia sampaikan padaku? setelah membuat kegaduhan dengan Drey.


Secara instan aku menyesali harapanku itu.


“Bagaimana hubunganmu dengan Drey?” tanya Priscilla menatapku penuh selidik.


Aku tercekat untuk beberapa saat, kenapa dia menanyakan hal itu? apa dia merasa tidak enak padaku?


“Kami baik-baik saja”


Tiba-tiba Priscilla tertawa kecil mendengar jawabanku. Aku hanya bisa mengernyitkan kening, bingung. Gadis itu kemudian menatapku. Ia sempat mencondongkan tubuhnya untuk berbisik padaku.


“Mentalmu kuat juga. Padahal Richard sudah menolakmu”


Aku langsung tidak bisa berkata-kata mendengar hal itu. Apalagi setelah mengatakan itu, Priscilla melihatku dari atas sampai bawah dengan tatapan kasihan. Bukan! Jelas dia sedang meledekku.


Priscilla menyibakkan rambutnya, seolah sedang meniru model iklan shampoo. Harus ku akui, dia memang pantas melakukannya. Rambutnya yang cantik itu tetap rapi.


“Aku juga tidak masalah sih, jika Drey bermain-main dulu sebelum menikah denganku”


Usai mengucapkan itu, Priscilla pergi meninggalkanku. Dia sempat menunjukkan perangai aslinya dengan memandangku sinis. Bodohnya, aku hanya berdiri termangu di sana tanpa bisa membalas satupun ucapannya. Memperhatikan langkah kecil itu pergi menjauh.


*****


Persiapan akhirnya hampir selesai. Meskipun belum dibuka, banyak orang telah berjajar di depan mejaku, menunggu untuk mendapat pengobatan gratis. Namun perhatianku sepenuhnya tertuju pada meja di seberangku. Di sana gadis brunette itu sedang bersiap membagikan makanan gratis. Untung saja kami berada di tempat berbeda. Kalau tidak, aku mungkin aku akan mulai mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


“Apa kau yang akan membantuku?”


Suara seseorang mengalihkan perhatianku. Seorang wanita paruh baya dengan seragam dokter. Sepertinya orang yang akan memberikan pengobatan gratis.


“Iya, perkenalkan aku Luna”


Jawabku sopan lalu mengulurkan tangan untuk menjabatnya.


“Lily Dawson. Panggil saja aku Lily”


Jawab dokter itu ramah. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Dokter itu lalu menjelaskan hal-hal yang harus ku lakukan. Tugasku di sini memang membantunya seperti seorang asisten. Saat itu beberapa kali aku menangkap dr. Lily memandangku penuh selidik. Aku sampai salah tingkah sendiri.


Apa dokter ini meragukan kemampuanku?


Jam menunjuk pukul sepuluh tepat saat kegiatan amal itu dibuka. Orang yang telah mengantri segera menyerbu meja. Di luar dugaanku, ini memang tidak mudah tetapi juga menyenangkan. Kebanyakan yang datang di acara amal ini adalah para tunawisma. Jadi mungkin tidak pernah menyaksikan acara TV sehingga tidak terlalu mengenalku. Namun tanpa henti membicarakan Priscilla. Membuat kupingku panas.


Memang, Priscilla adalah keluarga bangsawan di negara ini. Dia juga sering mengikuti acara semacam ini. Wajar saja mereka mengenal dan mengaguminya. Sementara mereka bicara denganku sama seperti pada petugas lainnya.


Wajarkah jika aku merasa sebal hanya karena itu?


Untung saja, kegiatan ini cukup menyita energi. Banyaknya orang yang datang membuat kami kewalahan, sehingga aku tidak punya waktu memikirkan hal itu.


Gelombang orang yang datang semakin padat saat jam makan siang. Hingga beberapa kali aku melakukan kesalahan akibat panik. Dr. Lily akhirnya memintaku beristirahat. Karena merasa tidak enak telah menyulitkan pekerjaan petugas lain, aku memilih mundur. Mungkin duduk beberapa menit sambil makan bisa mengembalikan fokusku.


Aku mengambil nasi kotak yang disediakan untuk petugas dan segera pergi mencari tempat yang sepi. Perutku sudah keroncongan, protes minta diisi. Tak sabar aku membuka kardus makanan. Baru saja aku hendak memakan sendok pertama, kedamaianku itu langsung terganggu.


Aku melihat bayangan rambut brunette di depanku. Dengan langkah kecilnya, dia mengambil duduk di sampingku.


“Kita bertemu lagi”. Sapaan itu diucapkannya dengan enteng, membuatku berharap bisa mendelik padanya saat itu juga.


Aku mengedarkan pandangan ke sekitarku. Masih banyak tempat lain yang kosong. Kenapa dia harus duduk di sampingku?


Priscilla masih menatapku dengan senyumannya. Seolah menunggu tanggapan dariku. Namun yang ku lakukan justru melahap makanan di pangkuanku, seolah tidak terjadi apa-apa. Menurutku sebaiknya kami membicarakan masalah Drey di tempat lain. Sekarang aku hanya perlu fokus pada acara ini.


Hanya saja sepertinya Priscilla tidak memahami pikiranku, dia kembali memprovokasiku.


“Richard, bagaimana kabarmu?”


Aku hampir tersedak saat mendengar nama itu. Bodohnya malah melihat ke arah Priscilla. Wanita itu sedang berbicara lewat ponselnya, tetapi menatapku dengan penuh senyum kemenangan. Orang tidak peka sekalipun pasti tahu maksudnya melakukan itu.


Priscilla bicara di telfon untuk menunjukkan padaku bahwa dia dekat dengan ayah Drey itu. Beberapa kali dia terdengar merajuk manja. Masih sambil menatapku. Hatiku jadi panas juga. Aku mencoba menahan diri dan tetap melahap makananku. Jika aku kelepasan sekarang sama saja  mengakui bahwa aku iri padanya dan kalah darinya. Jadi aku bersikap sok tidak peduli. Padahal dalam hati mendengar setiap detail ucapan Priscilla hingga ia menutup telfon.


“Dia selalu saja mengkhawatirkanku”

__ADS_1


Aku masih sempat mendengar ucapan sok mengeluh itu. Mempertegas bahwa Richard peduli padanya. Aku bisa membayangkan ekspresi meledek Priscilla padaku.


Dasar mereka berdua! Rutukku gemas.


Saat itu ponselku berbunyi. Seperti sebuah keberuntungan, aku melihat nama Drey muncul di layar. Segera ku angkat tanpa ragu.


“Hai sayang”


Sengaja ku keraskan suaraku saat menyapa Drey. Kali ini gantian aku yang melihat Priscilla dengan wajah penuh kemenangan. Bisa ku lihat Priscilla yang sedikit terkejut.


“Sugar, ada apa denganmu?” tanya Drey bingung. Ini pertama kalinya aku menggunakan kata ‘sayang’ memanggilnya. Sebenarnya hanya untuk memanasi Priscilla saja.


“Apa kau sudah makan?” tanyaku mengabaikan pertanyaan Drey sebelumnya.


“Tentu saja sudah, bagaimana denganmu?”


“Aku sedang makan sayang, tidak perlu mencemaskanku”


Senyumku makin mengembang melihat ekspresi Priscilla yang nampak tak nyaman. Kali ini gantian aku yang membuatnya merasa panas. Aku berusaha bicara semanis mungkin pada Drey. Mengabaikan pertanyaannya yang terus bertanya ada apa denganku. Seolah aku bersikap aneh.


“Dia selalu saja mengkhawatirkanku”


Aku mengatakan hal yang sama persis dengan yang diucapkan Priscilla saat menutup telfon. Sikapku memang kekanakan, namun itu salahnya memulai duluan. Dia harus tahu seperti apa rasanya dibuat cemburu.


Untuk beberapa saat kami saling berpandangan. Mungkin hati kecil kami sadar, tidak ada pemenang hari ini. Kami sama-sama kalah. Sama-sama kekanakan juga. Dia mendapatkan dukungan dari Richard sementara aku memiliki hati Drey. Jadi yang tersisa sekarang adalah perasaan canggung dan malu sudah saling memanasi.


Priscilla yang lebih dulu membereskan makanannya dan beranjak pergi. Ku pikir ini adalah akhir dari pertarungan kami hari ini. Namun kemudian mataku menatap ke arah kardus makanan yang hendak dibuangnya.


Aku menatap kesal makanan di dalam kardus. Sisanya masih banyak karena wanita itu hanya mengambil beberapa sendok dari dalamnya. Padahal di sisi lain tempat ini, banyak orang datang ke acara ini karena kelaparan. Sementara wanita itu, yang mereka kagumi malah membuang makanan. Emosi yang sudah ku tahan sejak tadi akhirnya meledak juga.


“Kenapa kau tidak menghabiskan makananmu” tanyaku dengan nada tinggi.


Priscilla menatapku heran. Dia kemudian memandang kardus makanan di tangannya.


“Aku sedang diet, dan makanan itu mengandung terlalu banyak karbohidrat”


Enteng sekali dia bicara, seolah itu bukan apapun. Sungguh ironis di mataku. Seorang wanita yang menghabiskan hari-harinya datang ke satu acara amal ke acara amal lainnya. Ternyata sama sekali tidak menghargai hal sekecil itu. Lebih menjengkelkan lagi buatku karena makanan yang disediakan untuk kami lebih mewah dari yang dibagikan di acara amal ini. Sementara banyak orang harus mengantri di sana hanya untuk mendapatkan makanan yang tak seberapa. 


“Kau bisa membawa bekal sendiri jika tidak bisa memakan menu di sini. Lalu berikan jatahmu pada orang yang sedang mengantri di luar sana. Bayangkan betapa bahagianya orang itu menerimanya”


Tanpa sadar aku sudah bicara dengan keras. Menahan luapan emosi di dadaku, rasanya tidak enak jika ada yang melihat aku menegur wanita bangsawan ini.


“Kalau begitu kau saja yang berikan”


“Kau harusnya malu dengan senyumanmu yang sok seperti malaikat itu” sergahku tanpa basa basi. Rasanya percuma untuk bicara lebih banyak dengannya. 


Aku segera meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Priscilla yang melihat langkah-langkahku.


*****


“Kau kelihatan kesal, apa terjadi sesuatu?”


Tanya dr. Lily tak lama sejak kembali membantu. Aku menatapnya heran, apa terlihat jelas di wajahku? Aku memang kesal dengan Priscilla, apalagi saat masih mendengar orang-orang memujinya tanpa tahu kelakuannya.


“Tidak”


Jawabku berbohong. Dr. Lily hanya tersenyum dan tidak bertanya lebih jauh.


“Miss, apakah Anda bisa membantu di bagian makanan? Di sana sedang kewalahan”


Salah satu panitia sudah mendatangiku meminta bantuan. Ingin aku menolaknya karena ada Priscilla di bagian itu. Namun aku tidak bisa melakukannya dan akhirnya mengikuti panitia itu setelah pamit pada dr. Lily.


Lebih sialnya, ternyata aku harus berdiri di samping Priscilla. Kami hanya saling berpandangan tetapi tidak bicara sepatah katapun.


Canggung sekali rasanya. Aku memilih untuk fokus pada pekerjaanku saja. Lagipula tempat itu memang padat oleh pengunjung.


Saat hari semakin sore, akhirnya pengunjung mulai berkurang. Sebagian makanan yang dibagikan juga mulai habis, aku baru bisa merenggangkan tubuhku. Sepertinya ikut acara amal seperti ini tidak buruk juga. Bukan untuk urusan pekerjaan tentunya.


Aku mulai membereskan mejaku. Saat itu Priscilla mendekat padaku. Dia berbisik padaku,


"Apa kau punya waktu setelah ini?"


Aku menatapnya heran.


"Kenapa?" Tanyaku balik. Aku rasa kami tidak cukup dekat untuk saling meluangkan waktu.


"Aku ingin bicara denganmu. Kita bisa pergi ke restoran dekat sini"


"Bicara tentang apa?" Tanyaku lagi. Aku punya perasaan tidak enak tentang ini.


"Tentang hubunganmu dan Drey"

__ADS_1


Betul saja. Aku yakin Priscilla masih punya banyak Hal untuk dibicarakan tentang itu. Tapi bukankah posisi kami terbalik? Harusnya aku yang mengatakan ini karena dia yang tanpa malu hadir di antara aku Dan Drey. Terlepas dari alasan dia melakukannya.


Belum sempat aku menjawab, Priscilla sudah bicara lagi.


"Aku ingin tahu kapan kau berniat melepaskan Drey"


Bukankah seharusnya aku yang bertanya itu padanya?


"Apa maksudmu?"


"Seperti yang ku katakan sebelumnya. Tidak masalah bagiku jika dia ingin bermain denganmu dulu sebelum kami menikah. Hanya saja, aku harap tidak terlalu lama. Richard juga pasti tidak suka"


Entah sebenarnya wanita seperti apa Priscilla ini. Dia mengatakan semua hal itu dengan wajah datar yang berhiaskan senyum. Sejak tadi sengaja membuatku kesal dan memprovokasiku.


Aku melihat ke sekeliling, di sini masih ramai orang. Kalau saja sepi, aku pasti sudah berteriak pada Priscilla. Sepertinya aku harus sedikit bersabar. Aku hendak berbisik padanya. Jadi sengaja ku tarik lengannya mendekat, namun dia malah jatuh, ambruk ke tanah.


"Kk..kkenapa denganmu?"


Tanyaku panik. Priscilla tak bergeming. Tubuhnya lemas tak bergerak. Dia pingsan!


Segera aku berteriak meminta pertolongan.


*****


Beberapa orang menolong dan langsung membopong Priscilla ke tenda tempat penyimpanan barang terdekat. Dr. Lily juga langsung memeriksanya.


Menurut dr. Lily, Priscilla pingsan karena kelelahan dan kurang gizi. Dia sampai harus disuntik dengan cairan IV. Wajar saja, dengan banyaknya kegiatan ini, dia bahkan tidak makan dengan benar. Masih ku ingat beberapa sendok makan yang tadi masuk ke mulutnya.


Entah kenapa amarahku padanya tadi menguap begitu saja. Melihat wajah pucat itu. Priscilla mengingatkanku pada diriku yang dulu. Dia tidak bisa disalahkan untuk itu. Pasti melelahkan rasanya menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju padanya, dan Priscilla harus memenuhi semua ekspektasi yang ditujukan padanya. Mungkin diet untuk tubuh yang sempurna adalah salah satunya.


“Apa ada yang sakit?” tanyaku saat Priscilla sudah sadar.


“Hanya sedikit pusing,” jawabnya sambil memijit kepalanya.


Aku ingin mengatakan betapa bodohnya tindakannya menyakiti diri sendiri. Namun sepertinya itu bukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.


"Di mana pelayanku?"


Tanya Priscilla sambil melihat sekeliling. Dia menyadari hanya ada kami berdua di sana Setelah dr. Lily pergi.


"Sedang berbicara dengan dokter" jawabku.


Kami berdua lalu terdiam. Tidak mudah mencari bahan pembicaraan dengan orang yang tidak disukai.


"Kita bicara lain kali saja. Hari ini kau langsung pulang dan beristirahatlah"


Ujarku kemudian. Aku bermaksud segera pergi dari sini sebelum semakin canggung. Namun Priscilla meraih tanganku. Menahanku agar aku tetap tinggal.


"Kita bicara di sini saja"


Aku tidak bisa menolak dan akhirnya kembali duduk di sampingnya.


"Kenapa kau begitu ingin menikah dengan Drey? Dia bahkan tidak menyukaimu"


Aku berinisiatif bertanya dulu. Aku merasa Priscilla sudah mengatakan semua yang dia inginkan. Ini giliranku. Sejak tadi aku menahan diri untuk menanyakan hal ini. Walaupun terdengar menyakitkan, tetapi itu kenyataan. Jadi aku ingin tahu alasan Priscilla begitu ngotot mengharapkan hubungan kami berakhir.


Priscilla nampaknya tidak menyangka akan ucapanku. Dia terdiam untuk beberapa lama.


"Anggap saja ini sebagai sebuah kesempatan besar yang bisa dimiliki oleh seorang wanita"


Aku sama sekali tidak paham dengan maksud ucapan Priscilla. Jadi sepertinya aku harus menggunakan bentuk pertanyaan lain.


"Kau mencintai Drey?" tanyaku tanpa basa basi.


Ada sedikit keterkejutan di wajah Priscilla. Tapi dia berusaha menutupinya dengan senyuman.


"Ini tidak Ada hubungannya dengan cinta"


"Kalau begitu biarkanlah kami. Kau bahkan tidak mencintainya, kenapa bersikeras menikah dengannya?" Sergahku.


Tanpa sadar aku sudah bicara dengan nada tinggi. Tiba-tiba terpikir olehku ambisi konyol Richard yang ingin mendapat kekuasaan dari pernikahan politik. Priscilla pasti sama saja.


"Bukankah ini sama saja denganmu? Richard juga tidak menyukaimu, memangnya apa rencanamu dengan terus berhubungan dengan Drey?"


Inilah kenapa aku tidak menyukai wanita ini. Dia selalu punya cara membuatku kesal. Berani sekali dia memutar balikkan ucapanku? Kalau saja dia bukan pasien saat ini, mungkin aku sudah mengajaknya berkelahi.


“Aku dan Drey tidak sedang bermain-main. Walaupun sekarang Richard masih menolakku, aku pasti akan berusaha membujuknya untuk merestui kami. Karena itu kau mundurlah”


Aku tahu tidak Ada gunanya melanjutkan perdebatan ini. Jadi aku langsung mengakhirinya dengan peringatan tegas.


Tanpa menunggu respon darinya, aku berdiri dari tempatku. Sebelum pergi, aku sempat melemparkan snack favoritku untuk diet padanya.

__ADS_1


"Setidaknya makanlah ini saat diet agar tidak pingsan"


__ADS_2