Sugar

Sugar
The Promised Day (Author POV)


__ADS_3

Drey memeriksa dirinya dengan gelisah di depan cermin berkali-kali. Dia kelihatan sempurna, kecuali rasa gugup yang menyergapnya. Drey tidak menyangka jika menikah akan mampu menghidupkan perasaan semacam ini. Apalagi pernikahan ini hanya alat untuk ambisinya. Seharusnya Drey bisa lebih percaya diri.


"Semua sudah siap. Apa Anda ingin pergi ke altar sekarang?" tanya Logan yang sudah muncul di balik pintu.


Drey mengangguk dan mulai mengatur nafasnya. Membayangkan hal baik seperti ekspresi kekalahan di wajah Ares dan Calvin untuk menenangkan dirinya.


Ketika Drey masuk ke ruang upacara, tempat itu sudah penuh. Seluruh undangan telah duduk di tempat, termasuk keluarganya di barisan paling depan. Belasan kamera dan reporter juga tersebar di seluruh ruangan. Mereka akan menjadi alat bagi Drey ingin memberitahukan pada seluruh dunia mengenai pernikahannya ini. Semakin banyak acara ini diliput, semakin baik baginya.


Drey berjalan menyusuri karpet merah dengan penuh kebanggaan. Dadanya membusung. Senyuman bahagia yang menerbitkan kekecewaan pada perempuan yang duduk di kursi undangan. Banyak wanita cantik, kaya, ternama dari berbagai kalangan mencoba untuk menarik hati Drey, tetapi tak satupun berhasil. Sehingga mereka cukup iri pada siapapun gadis yang cukup beruntung untuk menikah dengan Drey.


Setelah Drey berdiri di altar, mereka menunggu kehadiran mempelai wanita. Hingga lebih dari 5 menit, tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Drey kembali gelisah. Dia menatap ke arah pintu masuk. Liam, yang semestinya menjemput mempelainyalah, yang datang.


Drey memperhatikan Liam yang pergi ke barisan tamu paling depan, tempat keluarga Everdeen. Dia membisikkan sesuatu pada Oswald. Tak lama, ayah Drey itu beranjak dari kursinya dan mengikuti langkah Liam keluar ruangan.


Rasa gugup menyergap Drey lagi. Ia penasaran dengan apa yang terjadi. Namun, ia bisa bernafas lega saat melihat Liam kembali masuk. Dia berdiri di depan pintu seperti memberi pengarahan. Lalu muncullah Oswald ayahnya, sedang menggandeng seorang gadis, calon pengantinnya.


Ada perasaan aneh di detik-detik Drey pertama kali melihat rupa calon pengantinnya. Gadis itu seolah persis dengan sosok yang selalu Drey bayangkan. Calonnya itu tidak memakai riasan berlebihan. Rambutnya yang memiliki warna seperti matanya disanggul tertutup dengan veil. Badannya yang mungil sangat pas dibalut gaun pengantin bergaya off-shoulder. Dan dari semua itu, mungkin senyum gadis itu yang terbaik. Drey tidak tahu apakah ini semacam euforia pernikahan, jantungnya bisa berdebar keras hanya melihat senyuman itu. Terlihat tulus, dan meneduhkan.


Saat Oswald menyerahkan tangan mempelai wanitanya pada Drey, sempat terpikir olehnya, bahwa mungkin pernikahan ini akan menyenangkan buatnya. Itulah yang dipikirkan Drey saat menatap manik mata coklat keemasan gadis itu di atas altar.


Drey seolah tersihir untuk terus menatap mata gadis itu. Dia ingin merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. Tubuh mungil? Drey sedikit merasa aneh untuk yang satu itu. Seingatnya putri Emmet Helbram punya tubuh tinggi menjulang bak model. Meskipun Drey hanya pernah melihatnya dari belakang, itupun dari kejauhan. Tetapi mungkin hanya perasaannya.


***


"Oh... bukankah dia sangat cantik?" puji Larya saat melihat calon menantunya digandeng oleh suaminya. Larya tidak punya anak perempuan, sehingga bayangan kehadiran seorang menantu cukup membahagiakan baginya.


"Siapa dia? sepertinya aku tidak pernah melihat dia sebelumnya," sahut Ares. Padahal dia mengenal hampir semua putri pebisnis atau pejabat di negara ini. Walaupun harus Ares akui, jantungnya sedikit berdebar melihat kecantikan calon adik iparnya itu.


Dibandingkan Larya dan Ares, mungkin Calvin-lah yang paling terkejut. Dia merasa kecut di hatinya. Tadinya dia berharap tertawa menyaksikan adiknya yang sombong dipermalukan di atas altar sana. Dia sudah memastikan bahwa Emmet Helbram dan putrinya membatalkan pernikahan ini. Karena itu, tidak satupun keluarga Helbram terlihat di sini. Namun Drey masih tersenyum di atas altar dan siapa gadis ini? Calvin belum pernah melihatnya sebelumnya.


Bisikan heran dan terkejut tidak hanya terjadi di barisan bangku Everdeen saja. Para tamu di belakang pun memiliki pertanyaan yang sama. Tidak ada yang tahu, bahwa gadis itu adalah Luna yang salah masuk ruangan dan berpikir ini hanyalah syuting iklan.

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti saat upacara mengikat janji dimulai.


"Do you Drey Alderio Everdeen take Luna Helbram to be your wife, promise to be true to her in a good times and in bad, in sickness and health. Will you love her and honor her all the days of your life?"


Luna sempat terkejut ketika namanya disebut sampai nama belakangnya "Helbram".


"Darimana mereka tahu nama itu?" batin Luna.


"Yes, I do" jawab Drey mantap. Mata birunya tak lepas menatap warna coklat keemasan yang indah di mata Luna. Tidak ada waktu bagi Luna untuk memikirkan apa yang terjadi. Dia harus mengikuti jalannya upacara yang menurutnya hanya syuting iklan ini.


"Do you Luna Helbram take Drey Alderio Everdeen to be your husband, promise to be true to him in a good times and in bad, in sickness and health. Will you love him and honor him all the days of your life?"


"Yes, I do" jawab Luna sama tegasnya.


Mereka kemudian saling menyematkan cincin di jari pasangannya. Setelah disahkan sebagai suami istri, Drey dipersilakan mencium Luna.


Tanpa ragu, Drey memagut bibir tipis Luna dengan lembut. Merasakan sekilas rasa manisnya sebelum melepaskannya. Drey melihat semburat merah yang memenuhi pipi Luna. Jantungnya berdetak makin keras. Seolah langsung jatuh cinta hanya dengan ciuman itu.


***


Luna mengedarkan pandangan ke sekeliling. Upacara pernikahan telah usai, dan dia tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Karena tidak ada naskah di iklan ini. Saat itu dia baru menyadari keanehan yang ada. Dari seluruh hadirin yang ada, tidak ada yang dikenalnya. Kemana semua orang yang ditemuinya tadi pagi?


"Kau mau kemana?" Drey sudah menarik tangan Luna saat melihat gadis itu hendak pergi.


"Apa ini belum selesai?" tanya Luna balik.


Drey tidak menjawab, malah menarik Luna ke dalam pelukannya. Hingga hanya tersisa lima senti jarak di antara mereka. Luna terkejut sekali dengan tindakan Drey itu. Namun ia terlalu terpesona pada ketampanan pria itu untuk menolak.


"Kau cantik sekali," bisik Drey tiba-tiba.


Luna merasakan bulu di sekitar lehernya meremang. Hatinya berdesir. Dirinya yang sudah kesulitan bernafas, makin sesak.  Warna merah sekali lagi muncul di pipinya. Untung saja akal sehatku Luna masih bekerja. Dia sempat membalas pujian itu.

__ADS_1


"Anda juga terlihat sangat menawan, Tuan Everdeen."


Drey sungguh gemas dengan gadis ini. Dia harus menahan hasratnya untuk tidak sekali lagi mencium gadis itu. Bagaimana bisa dia merasa senang hanya karena pujian yang biasa didapatnya itu.


"Kau terlalu formal. Mulai sekarang panggil saja aku Drey." Drey mengoreksi cara Luna memanggilnya. Hanya dijawab anggukan oleh gadis itu.


"Kau benar-benar mengejutkanku Drey, dia cantik sekali!" pekik Larya yang datang bersama suami dan anak-anaknya.


Drey melepaskan Luna, lalu menunjukkan senyum bangga pada ibunya. Sementara Luna yang melihat Oswald juga mendekat menjadi kaku. Dia merasa pria itu tidak menyukainya saat berperan sebagai ayahnya tadi.


"Luna, mereka adalah keluargaku. Larya, Oswald Everdeen, Ares dan Calvin." Drey memperkenalkan semua keluarganya pada Luna karena mereka kini resmi menikah.


"Saya Luna, senang bisa bertemu dengan kalian." Luna berusaha menyapa sesopan mungkin. Ia masih dilanda kebingungan. Tidak menyangka jika Drey mengenalkan seluruh keluarganya meskipun mereka hanya rekan kerja.


Tidak ada respon yang berarti juga dari keluarga Everdeen. Oswald hanya menatapnya dengan ekspresi yang dingin seperti sebelumnya. Ares hanya tersenyum, dan Calvin juga tersenyum, tapi dengan ekspresi menyelidik.


Luna tidak tahu harus bagaimana meluluhkan kecanggungan itu. Hingga Larya mendekat padanya. Menyentuh wajah Luna dengan kedua tangannya.


"Aku senang Drey menemukanmu. Kau memiliki cinta di dalam kedua matamu." Ucapan Larya itu terdengar menyentuh bagi Luna. Walaupun tidak paham dengan maksud perkataan Drey menemukannya.


Luna yang tidak pernah melihat ibu kandung di hidupnya, menyukai tatapan penuh sayang Larya padanya. Seketika ia lupa pada semua hal penting yang harus ditanyakannya.


***


Pesta pernikahan belum selesai. Ketika suara musik dilantunkan, Drey menarik Luna ke dalam pelukannya. Membawanya ke tengah ruangan untuk berdansa. Luna bisa merasakan lututnya gemetar. Dia menjadi pusat perhatian. Kini semua pasang mata sedang melihat ke arah mereka, ke arahnya. Tentu saja, yang paling mematikan adalah tatapan mata Drey padanya.


Mereka benar-benar sedang berada dalam jarak terdekat. Hingga mereka bisa saling mengagumi setiap lekuk wajah masing-masing. Garis tegas di wajah Drey sedangkan garis kelembutan di wajah Luna. Sesaat, mereka lupa bahwa mereka sedang berdansa sekarang. Atau kenyataan bahwa banyak orang sedang memperhatikan mereka. Baik Drey maupun Luna terlarut dalam dunia mereka berdua.


Luna menghirup dalam-dalam aroma Drey. Entah aroma parfum atau aftershave yang dirasanya. Yang jelas Luna terbius oleh wang Drey yang maskulin. Luna belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Ini adalah pertama kalinya ada seorang pria menggenggam tangannya, menciumnya, dan memeluknya begitu erat. Membuat Luna kesulitan bernafas.


Drey merasa kecanduan dengan Luna. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya pada wanita manapun. Menurutnya Luna beraroma segar namun manis. Membuat jantungnya berdebar kencang hanya dengan menghirup wanginya. Bagi Drey, Luna yang pertama membuatnya merasa seperti ini. Atau mungkin karena dia tidak pernah menjalin hubungan serius sebelumnya dengan wanita lain. Yang jelas, Drey ingin terus menyimpan Luna dalam pelukannya. Merasa yakin bahwa dia bisa melalui pernikahan ini dengan gadis itu. Tanpa tahu bahwa saat ini dia tengah memeluk gadis yang salah.

__ADS_1


__ADS_2