Sugar

Sugar
Fuzzy


__ADS_3

"Srekk...srekk"


Suara daun kering terasa seperti musik di kegelapan malam ini. Daun-daun itu terseret oleh kakiku. Entah kemana tubuhku yang sudah tidak berdaya ini akan dibawa.


Mungkin karena merasa aku sudah sedikit tenang dan tidak berontak, aku merasakan dekapan di tubuhku sedikit mengendur. Saat itu, mendapat dorongan tiba-tiba, aku mencoba menghempaskan lengan besar yang membelitku. Karena kulakukan dengan cepat, bekapan di tubuhku berhasil terlepas dan aku memiliki kesempatan untuk kabur. Sialnya, kakiku ternyata lemas sekali. Bukannya lari, aku malah terjatuh setelah itu.


Tubuhku ambruk menghantam tanah. Ponsel di tangan yang sedari tadi ku genggam dengan kuat juga terlepas. Bahkan mulutku yang seharusnya bisa digunakan untuk berteriak meminta tolong malah kaku. Tidak mampu mengeluarkan suara apapun.


Yang ada aku menangis terisak sambil meringkuk di tanah. Ku rasakan lengan itu kembali meraih tubuhku yang sudah tidak berdaya. Memelukku lagi, namun kali ini dengan posisiku menghadap ke arahnya. Anehnya, pelukan itu justru terasa lembut dan menenangkan.


Di sela kesadaranku yang tipis, aku mendengar bisikan,


"Maaf Sugar, apa aku sudah membuatmu takut?"


******


Suara air terseret ke bawah langsung terdengar begitu aku menekan tombol flushing. Rasanya lega sekali setelah menahannya beberapa lama. Kini aku bisa kembali berdiri tegak. Aku menarik tisu dan menyeka tanganku. Kotor karena bekas tanah. Dan akhirnya aku menyadari jika bukan hanya tanganku saja.


Dengan lampu yang tidak terlalu terang inipun aku bisa melihat jika bagian lengan baju dan celanaku memiliki noda kecoklatan. Setelah ngesot di tanah seperti tadi, wajar saja ini terjadi. Aku menghela nafas besar dan akhirnya kembali duduk di toilet, batal keluar.


Rasanya wajahku panas karena malu.


Ternyata pria yang mengikutiku tadi Drey. Aku belum meminta penjelasan darinya kenapa ada di sini. Namun dia sudah membuatku ketakutan setengah mati dengan membekapku seperti tadi. Tanganku saja masih gemetaran sampai sekarang.


Sekarang dia ada di luar sana. Meskipun lega bahwa ternyata ada Drey, aku masih enggan menemuinya. Akan ada banyak hal yang kami bicarakan jika bertemu. Namun aku belum siap. Pikiranku masih kacau.


Hanya saja tidak mungkin aku terus berada di sini. Malam makin beranjak, dan karena di sini anginnya kencang, aku mulai kedinginan. Jadi, akhirnya ku buka pintu toilet itu.


Aku bisa melihat tatapan mata Drey dari balik masker dan topinya. Sesegera mungkin aku mengalihkan pandanganku. Pasti wajahku sekarang berantakan sekali. Sembab, Kotor, lusuh.


"Untung saja ini baik-baik saja"


Ujar Drey sambil menyerahkan ponsel yang tadi terlepas dari genggamanku. Aku menerimanya tanpa mengatakan apapun. Melihatnya saja tidak.


Kami berdua jadi canggung sekali. Wajar jika mengingat bahwa kami baru saja bertengkar siang tadi. Mungkin kami tidak tahu harus mulai dari mana untuk berbaikan. Lagipula, aku juga tidak yakin bisa berbaikan dengannya.


Drey tiba-tiba berjongkok di depanku.


"Naiklah"


Dia ingin menggendongku. Untuk beberapa lama aku hanya menatap punggung yang selalu ku rindukan itu. Benci dengan desakan hati untuk memeluknya. Namun aku tahu, bukan masalah harga diri atau semacamnya. Tubuhku lemas dan lebih cepat kembali ke pondok dengan cara ini.


Akhirnya aku naik dalam gendongannya. Drey tidak mengatakan apapun sepanjang jalan. Menghargai perasaanku yang masih kacau.


Rasanya ada pergolakan hebat dalam hatiku. Aku masih marah padanya, di saat bersamaan merasa lega memeluk tubuh kokohnya. Aku masih kecewa padanya, tetapi tidak bisa membohongi kerinduan yang ku rasakan. Aku masih ingin menjauhinya, namun bersyukur dia datang padaku.


Suara nyanyian terdengar, menandakan bahwa kami telah sampai di area pondokan. Kelompok yang memintaku bergabung tadi masih berdendang dengan alunan gitar. Saat itu aku segera menyembunyikan wajahku dalam-dalam di punggung Drey.


Kurasakan tubuh Drey berhenti bersamaan dengan berhentinya suara nyanyian mereka.


"Sudah selesai?"


Tanya salah seorang dari kelompok itu. Dari suaranya sepertinya yang tadi menawari untuk mengantarku. Yang ku curigai mengikutiku.


"Ya, dia sedang tidak enak badan"


Jawab Drey. Sepertinya mereka pernah berbicara sebelum ini, karena Drey terdengar akrab saat berbincang dengan mereka.


"Kalau begitu segeralah beristirahat. Jika butuh bantuan, panggil saja kami. Kalau kami terlalu berisik, juga katakan saja"


Kali ini yang menjawab adalah yang wanita.


Aku tidak tahu apa jawaban Drey. Sepertinya dia mengangguk atau mengiyakan tawaran itu. Yang jelas setelah itu badannya kembali bergerak dan masuk ke dalam pondokku.


Drey menurunkanku di ranjang.


"Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali"


Ujar Drey sebelum akhirnya keluar dari pondok.


Aku seharusnya bangkit dan segera mengunci pintu pondokku jika memang berniat tidak menemui Drey. Ini kesempatanku. Nyatanya, tubuhku tidak bergerak seinci pun. Aku hanya menatap pintu dan menanti Drey kembali.


Tak lama, Drey datang dengan membawa sebuah tas ransel. Dia langsung mengunci pintu setelah menaruh tas di meja. Seolah aku sudah mengijinkannya untuk tinggal di sini.

__ADS_1


Drey membongkar tas ranselnya. Dia mengeluarkan pakaianku dari sana. Rupanya dia membawakan semua barang untukku. Bahkan sampai membawa barang sekecil kaos kaki.


"Bajumu Kotor Kan? Gantilah dulu"


Drey menyodorkan bajuku. Aku hanya menatapnya. Ganti di mana? Ruangan sempit ini tidak memiliki pembatas sama sekali. Artinya aku harus berganti pakaian di depan Drey.


Seolah menyadari apa yang ku pikirkan, Drey segera membalikan tubuhnya, sambil menutup kedua matanya.


"Aku tidak akan mengintip"


Janjinya.


Aku sudah terlalu lelah dan tidak memiliki mood untuk berdebat. Jadi dengan acuhnya akhirnya aku berganti pakaian juga di sana.


Rasanya hangat dan nyaman dengan pakaian bersih. Drey juga tahu kebiasaanku memakai kaus kaki saat tidur, dan membawakannya untukku.


"Aku sudah selesai"


Ujarku canggung. Drey segera membuka matanya dan melihat ke arahku. Aku sempat menangkap senyumannya sebelum memalingkan wajah lagi. Entah kenapa rasanya senyuman Drey seperti mencubit hatiku. Mungkin karena aku merasa dia tidak pantas melakukannya.


Kami berdua terdiam cukup lama. Membiarkan suara samar-samar nyanyian orang di luar sana bercampur dengan suara derak kaca yang bergetar karena angin menjadi penyemarak suasana.


"Sugar..."


Panggil Drey, hendak memulai pembicaraan. Dia sedikit mendekat, dan aku menanggapinya dengan beringsut mundur. Akhirnya Drey memilih tetap berada di tempatnya. Namun tidak menghentikannya untuk mengutarakan maafnya.


"Maaf, aku sudah berbohong padamu dan diam-diam bertemu dengan Priscilla"


Sebenarnya pengakuan Drey bukanlah hal yang mengejutkan. Itu adalah akar dari kemarahanku sebelumnya, tetapi mendengarnya secara langsung ternyata tetap terasa menyakitkan.


"Aku hanya ingin meluruskan masalah perjodohan itu dengannya. Aku khawatir membicarakannya denganmu akan melukaimu. Jadi aku berpikir untuk menyelesaikan semuanya sendiri"


Sial! Kenapa air mataku malah jatuh?


"Aku bersumpah tidak melakukan apapun dengan Priscilla. Aku hanya membujuknya untuk menolak perjodohan itu"


Pikiran dan hatiku benar-benar kacau saat ini. Masalah yang menyerang tiba-tiba. Penjelasan Drey yang seperti bom, membuatku tidak bisa bereaksi. Aku ingin marah, tetapi di sisi lain juga memaklumi kesalahan Drey.


"Aku benci padamu!"


Umpatku sambil menepis Drey. Banyak yang ingin ku keluhkan pada Drey, tetapi akhirnya hanya itu yang bisa ku katakan padanya. Meskipun masih terisak, aku tidak ingin menjadi lemah terhadapnya.


Drey menerima semua penolakan dan pukulanku, namun tidak menyerah untuk merengkuhku. Hingga akhirnya aku kalah dan dia berhasil mendekapku.


"Ini salahku. Aku tidak melibatkanmu dan membuatmu bingung. Ini salahku juga berbohong padamu. Aku akan memperbaiki semuanya. Kali ini aku akan berubah. Akan ku lakukan semua yang kau inginkan. Jadi maafkan aku"


Ucap Drey sungguh-sungguh. Walaupun itu hanya kebohongan, aku tidak mampu lagi untuk berontak. 


*****


Suara nyanyian dari pondok sebelah telah hilang. Sepertinya mereka sudah tidur. Sehingga malam kembali sunyi di sini. Untuk pertama kalinya, aku bisa menikmati suara desau angin yang terdengar lembut dari luar sana.


Mataku sudah mulai terkantuk-kantuk, Rasa hangat dan nyaman telah berhasil membuaiku. Aku benci mengakui ini, namun tidak ada rasa paling aman melebihi dekapan hangat Drey.


Tidak tahukah dia, bahwa aku masih marah?


Drey dengan percaya diri tinggal di pondok ini. Meskipun aku telah memunggunginya, dia masih cukup berani memelukku begini.


Aku pun sama saja. Menerimanya dengan mudah. Seolah kini aku mengorbit padanya. Mustahil bagiku menghindari Drey.


Kalau saja dalam situasi normal, ini akan menjadi kencan yang menyenangkan. Menghabiskan waktu berdua di ruangan yang temaram dan sepi. Kami punya waktu untuk membicarakan banyak hal. Merasakan satu sama lain.


Sayangnya, kami baru saja bertengkar beberapa jam yang lalu. Meski sudah ada penjelasan dan permintaan maaf, kami belum menyelesaikannya. Aku masih enggan menatap Drey, dan kami belum memutuskan bagaimana Drey akan memperbaiki kesalahannya.


Hembusan nafas Drey yang teratur menyapu tengkukku. Saat itu, perlahan mataku terpejam. Rasa familiar dari pelukan Drey telah mengalahkan asingnya ruangan ini. Dan membuaiku ke alam mimpi.


******


Ini musim semi, tetapi saat aku membuka pintu, angin dingin langsung menyapu wajahku. Membuatku gemetar. Langit masih berwarna abu-abu gelap, artinya matahari pun belum terbit. Pantas saja rasa dingin jadi tidak terelakkan.


Aku mengusap lenganku menghalau rasa beku. Terkadang mengucek mata,  kadang juga menguap. Tubuhku sibuk sekali mengumpulkan kesadaran. Kalau saja bukan karena desakan ingin ke toilet, aku pasti masih meringkuk di atas ranjang.


Aku merasakan tanganku diraih oleh Drey. Dia menuntunku menyusuri jalan setapak yang basah oleh embun. Aku hanya diam dan menurut. Daripada berjalan sendirian, terhuyung.

__ADS_1


Rencanaku untuk kembali tidur usai dari toilet, batal. Melihat Drey yang sibuk menyalakan pemanas air, Kesadaranku akhirnya kembali sepenuhnya. Kami telah menghabiskan malam bersama walau sedang bertengkar.


"Aku harus pulang sebelum jam enam. Apa kau mau pulang juga?"


Tanya Drey. Dia memang ada sesi latihan pagi, jadi tidak mungkin menemaniku terus di sini.


Aku hanya menggeleng. Saat ini aku belum ingin pulang. Di sini memang tidak menyenangkan, tetapi setidaknya aku bisa menata pikiranku. Drey tidak berkomentar atas jawabanku. Dia sudah sibuk menyeduh minuman hangat untukku.


Di sisa pagi sebelum ia pulang, lebih banyak diisi oleh cerita Drey. Kenapa dia bisa ada di sini.


Drey telah mengikutiku sejak aku keluar dari rumah. Dia tahu aku mungkin melakukan hal-hal aneh dalam kondisi emosi seperti itu. Jadi sejak awal kemari, Drey sudah di sini juga. Hanya saja, ia ingin memberiku waktu sendiri.


Itu menjelaskan apa yang ku lihat semalam. Dari seluruh pondok, hanya tiga yang terisi. Satu milikku, satu yang ditempati oleh kelompok yang menyapaku, dan satu lagi disewa oleh Drey. Sebenarnya, Drey ingin merahasiakan ini.


Saat mendengar aku diajak bicara oleh tiga sekawan kemarin, Drey akhirnya keluar dari pondoknya. Khawatir identitasku akan terbongkar. Cuma cara Drey yang mendadak menyergapku telah membuatku ketakutan setengah mati.


Drey memang menyebalkan. Namun rasanya ada sedikit rasa senang saat tahu Drey ternyata terus mengawasiku. Aku juga tidak bisa menyangkal bahwa keberadaannya di sini membuatku bersyukur. Tempat ini memang menyenangkan untuk menyendiri, tetapi aku tidak akan bisa melaluinya sendirian. Pada akhirnya, aku membutuhkan Drey juga.


"Kita bicarakan lagi masalah kita nanti. Jangan kemana-mana, aku akan segera kembali kemari saat pekerjaanku selesai"


Ujar Drey menutup ceritanya. Meski aku tidak menjawab, dia tahu aku setuju dengan itu.


******


"Aku hampir saja melapor ke kantor polisi!"


Omel Daniel sedikit berlebihan. Padahal aku tahu Drey pasti mengabarinya tentangku. Hampir saja ku matikan sambungan telfonnya karena sebal.


"Jadi, sampai kapan kau akan bersembunyi?"


Tanya Daniel.


"Sampai aku puas"


"Hmm...ya sudah kalau begitu"


Tuh kan. Daniel sok peduli mengomeliku, tetapi sebenarnya dia juga tidak terlalu pusing memikirkanku. Dasar manajer!


Aku mematikan telfon dengan cepat sebelum Daniel memulai ocehan lainnya. Apalagi sampai menyinggung rumor tentang Drey.


Aku menatap ponselku sejenak, sebelum mematikannya. Lebih baik aku tidak memeriksa artikel yang beredar tentang gosip Drey. Hanya akan membuatku menerima masukan negatif. Publik suka sekali menggoreng isu. Jika ada yang harus ku ketahui, sebaiknya aku mendengar langsung dari mulut Drey.


Baru saja aku memikirkan itu, pintu pondok sudah dibuka dan Drey datang. Sepertinya latihannya sudah selesai. Dia membawa dua plastik besar belanjaan.


"Apa kau ingin ke toilet?"


Tanya Drey. Memang aneh menanyakan itu saat kami baru bertatap muka. Namun itu penting bagiku yang takut pergi ke toilet sendirian.


Setengah malu aku menggelengkan kepala.


Drey langsung membongkar isi belanjaannya. Dia membawakan makan siang dan banyak sekali camilan. Dia langsung menatanya di meja. Mengajakku segera menyantap makan siang.


Sebenarnya rencana kabur macam apa ini?


Pada akhirnya Drey membawakan pakaian ganti, dan makanan untukku. Pada akhirnya aku juga banyak bergantung padanya. Kalau begini, ini sama saja dengan kegiatan piknik.


Amarahku pada Drey juga sudah mereda. Sekarang aku tidak terlalu menghindari tatapannya. Meskipun belum kembali seperti sebelumnya, suasana di antara kami telah membaik.


Usapan di bibirku membuyarkan lamunanku. Aku menatap bingung pada Drey.


"Ada bumbu di sana"


Sebelum aku bertanya, Drey sudah lebih dulu menjelaskan alasannya menyentuh wajahku.


Damn him!


Di saat seperti ini masih bisa membuat jantungku berdebar. Kacau sekali emosiku.


Aku buru-buru menyelesaikan makanku, memang sebaiknya aku menghindar dulu. Drey terlalu pintar menarik perhatianku.


"Apa kau sudah siap untuk bicara?"


Namun Drey sudah lebih dulu menahanku agar duduk lebih lama di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2