Sugar

Sugar
A Wish (Drey POV)


__ADS_3

Setelah musim dingin yang panjang, Akan datang musim semi yang hangat. Semakin hangat ketika musim panas tiba. Begitulah musim berganti, seiring waktu berjalan. Tidak ada yang bertahan selamanya. Sama halnya dengan kehidupan. Badai Akan selalu datang, namun Akan segera mereda. Ku rasa, itulah yang kini ku rasakan bersama Luna.


Kami bisa bertahan dari kehadiran ayahku dan Priscilla. Kembali menikmati hari-hari yang hangat dan tenang milik kami.


Sepertinya ancamanku terakhir Kali bekerja cukup baik. Ayahku berhenti mengusik kami. Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabarnya. Bahkan mungkin sekarang dia sudah tidak di negara ini. Aku harap ini bertahan selamanya.


Mobilku melaju mulus memasuki basemen tempat parkir berada. Karena ini sudah hampir jam makan malam, tidak banyak Mobil terparkir di Sana.


Tujuanku adalah lantai 6 gedung ini. Di Sana berjajar ruang yang merupakan gym. Fitness center ini cukup terkenal, sehingga ketika mengintip ke dalamnya adalah Hal wajar menemukan wajah familiar dari selebritis maupun tokoh terkenal lainnya. Tetapi bukan itu tujuanku.


Ruangannya terletak Paling sudut. Terpisah dari gym yang Ada di depan. Aku melihat Luna dari balik pintu kaca. Kekasihku itu kini sedang berlatih keras dengan instrukturnya. Dia mempelajari gerakan yang Akan digunakan dalam adegan perkelahian untuk film action-nya.


Karena sudah berlatih untuk waktu yang cukup lama, dia terlihat lebih fit. Bahkan badannya mulai memiliki abs. Lebih dari itu, dia terlihat lebih "hidup" dari sebelumnya. Mungkin pengaruh dari karakter yang diperankannya.


Aku menunggu hingga sesi latihan mereka diakhiri. Luna juga langsung menangkap kehadiranku, sehingga tidak perlu menunggu lama dia sudah berlari ke arahku.


"Apa kau sudah lama di sini?" Tanyanya.


Aku hanya menggeleng sambil meraih tangannya. Menariknya untuk segera berjalan pergi.


"Ingin makan apa malam ini?"


"Kita makan sesuatu yang cepat saja. Kau harus bersiap untuk pertandinganmu"


Luna sudah menautkan tangannya dengan erat di lenganku lalu bergelayut manja seiring langkah kami keluar dari gedung itu.


Hanya ini kebiasaan kecil baru milik kami. Pulang bekerja bersama, lalu makan malam bersama, sambil mendengarkan cerita masing-masing tentang Hari ini. Namun aku menyukainya. Sangat, sangat menyukainya.


*****


We are the champions, my friends


And we'll keep on fighting 'til the end


We are the champions


We are the champions


No time for losers


'Cause we are the champions of the world


Nyanyian itu terdengar riuh mengisi seluruh restoran. Baik pria maupun wanita menyanyikannya. Bahkan Luna yang biasanya sedikit pemalu. Dia berdiri seperti pengunjung lainnya, menggunakan sendok sebagai pengganti mic.

__ADS_1


Beginilah aku disambut Setelah pulang dari Istanbul untuk pertandingan final. Tim kami akhirnya menang Dan membawa pulang piala tertinggi di kompetisi Eropa Setelah perjalanan yang panjang.


Namun, ku pikir euforia kemenangan telah berakhir karena pertandingannya berlangsung kemarin. Ternyata mereka masih merayakannya. Mereka bahkan menyewa restoran untuk membuat pesta. Aku, orang Paling bahagia malam ini justru hanya bisa melihat mereka. Bagiku, ini sudah cukup menyenangkan.


Suara nyanyian mendadak berhenti. Lalu seorang temanku berdiri.


"Sebelum Kita melanjutkan pesta, Mari Kita mendengarkan sambutan dari pahlawan Kita. Untuk Drey Charleville, waktu Dan tempat ku persilahkan"


Suara tepuk tangan Dan sorakan terdengar riuh, membuatku tersipu. Menyebutku sebagai pahlawan terdengar berlebihan meskipun aku menyumbangkan tiga gol kemenangan Tim.


Luna memaksaku untuk segera berdiri dari kursiku. Mau Tak mau aku menurutinya. Semua Mata kini tertuju padaku. Mereka seolah menantikan apa yang Akan ku katakan, meskipun aku sendiri tidak bisa memikirkan satu pun kalimat yang menarik.


Lalu aku melihat Luna. Dan itu terpikir olehku, Alasanku bisa berlari dengan penuh ambisi di atas lapangan.


Aku lupa sejak kapan aku begitu menikmati semua ini. Sepak bola tidak lagi menjadi beban, Dan tidak lagi dipenuhi keinginan untuk dilihat ibuku. Aku hanya ingin bermain karena aku memang menyukainya. Namun aku tahu, itu sejak Luna melihatku memainkannya. Rasanya aku ingin menjadi pria yang terus terlihat mengagumkan di matanya.


Aku berdeham untuk mempersiapkan diri berbicara.


"Aku hanya melakukan yang ku bisa. Aku ingin memenangkan semua pertandingan yang ku jalani, dan cukup beruntung untuk bisa melakukannya. Semua itu karena... "


Aku tidak melanjutkan ucapanku dan mengambil gelas di depanku. Lalu menyodorkannya pada Luna.


"Karena Ada seorang dewi keberuntungan yang dikirimkan padaku. Dan untuknya yang sudah berbagi keberuntungan denganku, aku ingin berbagi kemenangan ini dengannya"


"Cium... Cium... Cium... "


Suara sorakan kembali terdengar di restoran itu. Mereka terus menggoda kami.


Aku segera meletakkan gelasku, lalu menarik Luna dalam pelukanku. Menatap matanya yang sungguh memiliki binar terang. Serta pipinya yang memerah dengan manis. Dialah kemenanganku yang sebenarnya.


Aku segera menciumnya dengan tidak sabar. Lalu suara tepuk tangan Dan sorakan di restoran itu terdengar Makin meriah.


*****


"Rayuan yang bagus" ujar Luna saat kami dalam perjalanan pulang. Dia pasti membicarakan ucapanku sebelumnya yang menyebutnya dewi keberuntungan.


"Jika merayumu bisa membuat kau tersipu malu, itu Hal yang mudah bagiku," jawabku setengah bercanda.


Luna hanya tertawa.


"Apa jika aku itu benar-benar ucapan yang datang dari hatiku kau tidak Akan percaya?"


"Aku percaya, hanya saja aku jadi merasa sudah menipumu. Apanya yang membawa keberuntungan." Luna meledek dirinya sendiri.

__ADS_1


Kali ini kami berdua yang tertawa.


"Apa kau sudah menghubungi ayahmu?" Tanya Luna kemudian.


Ini cukup mengejutkanku, dia masih ingat Pak tua itu. Setelah kejadian terakhir kali yang memaksaku membohonginya, aku menganggap pembicaraan tentang ayahku atau Priscilla adalah Hal tabu. Kami menghindari topik itu selama ini.  Lagipula Luna berkata dengan nada yang berat, seolah dia masih terluka.


Lagipula suasana juga langsung  berubah. Tawa kami langsung pupus, berganti dengan keheningan. Padahal hubungan kami sedang membaik akhir-akhir ini tanpa mereka.


"Kenapa aku harus menghubunginya?" Tanyaku balik. Aku berusaha tidak terdengar terganggu agar tidak semakin merusak suasana di antara kami.


"Apa kau perlu alasan khusus untuk menghubungi ayahmu? Kau bisa menanyakan kabarnya, atau memberitahunya bahwa kau menang Hari ini"


Aku menatap heran pada Luna. Dia terdengar seperti memintaku bersikap baik pada ayahku. Atau dia hanya sedang sarkas saja?


"Ku pikir kau marah pada ayahku"


Kali ini Luna yang melihatku dengan heran. Lalu seperti menyadari sesuatu, dia tertawa. Aneh sekali. Ini benar-benar aneh. Bahkan aku tidak tahu di mana letak lucunya pertanyaanku.


"Yah.. ayahmu memang menyebalkan.   Tapi tidak Ada gunanya terus berlari menghindarinya. Kita juga tidak Akan bisa benar-benar bahagia"


Luna seolah mengingatkan perilaku kami yang terus menghindari pembicaraan tentang ayahku. Ku Kira itu yang Luna inginkan.


"Lagipula Kita sudah sepakat untuk mengambil hatinya. Jadi Bukan hanya hubunganku yang perlu diperbaiki, tapi hubungan antara dirimu Dan ayahmu juga. Sudah saatnya kalian berhenti bermusuhan"


Luna menatap mataku dalam-dalam.


"Yang ku harapkan sebenarnya adalah, agar ayahmu bisa menerimamu apa adanya. Tidak lagi memaksamu menjalani kehidupan yang ia harapkan. Tetapi Mendukungmu memilih jalan hidup yang kau inginkan. Baik itu Masa depanmu, karir sepak bolamu. Dan... Jika kebetulan aku adalah bagian dari pilihan hidup yang kau inginkan itu, ayahmu juga pasti bisa menerimaku"


Aku mencoba mencerna perlahan ucapan Luna. Karena yang ku sangkakan selama ini berbeda dari ini. Ku pikir Luna membenci ayahku. Dia hanya mengatakan Akan mengambil hatinya hanya agar aku tidak dipaksa menikah dengan Priscilla. Ku Kira hanya sebatas itu yang Luna inginkan. Aku tidak tahu jika dia ternyata mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari itu. Kebahagiaan sebenarnya yang dicari oleh hatiku. Bahwa aku ingin memiliki hubungan keluarga yang normal seperti orang lainnya.


Membayangkan ayahku duduk dan mengobrol santai denganku. Lalu mendengarkan semua masalahku. Atau melihatnya duduk di kursi penonton menyaksikan pertandinganku. Memberiku selamat atas kemenangan dan menghiburku saat aku kalah. Akan lebih baik jika di samping ayahku Ada Luna tertawa bersamanya. Bagiku, itu adalah kebahagiaan sebenarnya.


Aku baru menyadarinya, bahwa itulah harapanku yang sebenarnya. Sampai Luna mengatakan itu padaku.


"Tapi... Apa yang harus ku lakukan? Aku sudah meyakinkannya selama bertahun-tahun dan dia tetap tidak bisa menerimaku"


"Terkadang, orang tidak setuju dengan kita bukan karena mereka tidak bisa memahaminya. Mungkin Ada yang salah dengan Cara Kita menyampaikannya. Kita ubah itu. Langkah pertama, bersikap baiklah pada ayahmu"


Rasanya itu sebuah nasehat yang sudah biasa ku dengar dari tempat lain. Entah mengapa rasanya jadi berbeda saat Luna mengucapkannya.


Mungkin karena ayahku kejam padanya, dan Luna seharusnya membencinya, bukan malah menyuruhku bersikap baik padanya. Mungkin juga karena ini pertama kalinya seseorang mempedulikan kehidupanku. Apapun itu, Luna meyakinkanku bahwa aku harus berusaha membuat ayahku melihat sisi baiknya ini. Ayahku harus tahu, bahwa gadis seperti Luna Tidak seharusnya menerima kebencian.


Aku mengangguk setuju, lalu memeluk erat Luna. Sepertinya dia memang dikirimkan padaku. Bukan hanya untuk mencintaiku, namun juga memperbaiki sedikit demi sedikit kehidupanku yang berantakan.

__ADS_1


__ADS_2