Sugar

Sugar
Disagreeable Reason


__ADS_3

Wangi almond dan lili langsung tercium di hidung saat aku membalurkan lotion ke lenganku. Musim panas sudah di depan mata, sehingga kulitku jadi terasa lebih kering. Meskipun sudah menghabiskan bertahun-tahun di negara 4 musim, aku masih belum terbiasa dengan pergantiannya.


Usai memakai semua produk perawatan kulit, aku turun untuk melihat Drey. Hari ini dia bersikeras membuat sarapan.


Aku tercengang melihat potongan buah di atas meja makan. Itu tidak terlihat seperti memasak di mataku. Kami berdua melewatkan makan semalam, jadi aku berharap kami bisa makan sesuatu yang lebih berat saat ini.


"Bahan makanan kita ternyata sudah habis"


Sebelum aku bertanya, Drey sudah menjelaskan alasannya menyajikan buah.


Benar juga. Aku baru ingat bahwa kami belum pergi belanja sejak sebelum pergi ke Amsterdam. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk itu, jadi aku segera menyantap sarapan tanpa protes.


"Aku Akan pergi belanja Setelah ini. Apa Ada yang ingin kau beli?"


Tanya Drey di sela makan.


"Aku ikut denganmu saja"


"Kau masih banyak pekerjaan di rumah"


Drey menunjuk ruang laundry, mengingatkanku bahwa aku sudah berencana mencuci baju Hari ini. Selain itu aku juga harus berlatih dengan naskah film yang syutingnya akan segera dimulai.


"Bagaimana dengan kakimu? Apa kau sudah benar-benar sembuh?"


Aku masih berusaha mendebat. Meski perban di kaki Drey telah lama dibuka, dan dia sudah pergi berlatih, aku masih khawatir.


Drey segera menunjukkan kakinya, memutar dan menghentakkannya keras di lantai. Berusaha meyakinkan bahwa pergelangan kakinya telah dapat digunakan seperti biasa.


Aku akhirnya mengalah dan menganggukkan kepala.


*****


Setelah Drey berangkat, aku bergegas menuju ruang laundry. Sambil menunggu mesin cuci bekerja, aku juga membuka naskah film. Karena menjadi pemeran utama, lumayan banyak juga porsi dialogku.


Rasanya jantungku berdegup cepat saat memegang naskah ini. Bukan disebabkan Rasa gugup, melainkan Rasa Tak sabar. Setelah memainkan karakter sebagai gadis lemah, aku punya kesempatan untuk kembali melakukan action. Saking Tak sabarnya, aku sampai berkali-kali melihat jadwal latihan bela diri untuk persiapan syuting.


Namun belum lama aku terhanyut dalam naskah, suara bel memaksaku untuk bangkit dari tempatku.


"Apa Drey sudah kembali?" Gumamku.


Aku merasa heran karena ini baru Lima belas menit saat Drey mengemudikan mobilnya keluar rumah. Lagipula Drey juga tidak Akan memencet bel.


Aku bergegas pergi ke depan. Benar saja, Mobil mewah yang Tak pernah ku lihat sebelumnya berhenti di depan pagar. Sedangkan seorang pria mengenakan seragam rapi sedang memencet bel, menunggu jawabanku. Jelas sekali pria itu adalah supir, tetapi ini juga pertama kalinya aku melihat ada yang berpakaian serapi itu. Teman-temanku jelas tidak Ada yang memiliki supir seperti itu.


Aku yakin siapapun tamu yang datang, dia tidak berbahaya. Penampilan mobil Dan supirnya cukup meyakinkan. Sisi cerobohku akhirnya membiarkan tanganku memencet tombol. Secara otomatis pagar depan terbuka dan Mobil itu segera masuk untuk parkir di depan.


Aku keluar untuk melihat tamu yang datang. Saat supir itu membuka pintu penumpang, aku segera mengumpat di dalam hati. Aku bersumpah, sekarang jadi memiliki trauma sendiri terhadap rambut bergaya brunette itu.


"Kenapa kau kemari?" tanyaku tak bersahabat saat Priscilla dengan senyum tanpa dosa sudah berdiri di hadapanku.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih atas bantuanmu sebelumnya. Kau banyak membantuku saat aku sakit"


Sepertinya Priscilla telah dididik dengan baik. Bahasa yang dipilihnya membuatku susah menolak kedatangannya. Selagi kami bicara, supir yang tadi sudah berdiri di belakang Priscilla sambil membawakan sebuah kotak besar.


Aku tidak punya pilihan selain mempersilahkan Priscilla masuk. Setidaknya aku cukup sadar untuk tidak mempermalukannya di depan bawahannya. Mengusirnya juga hanya akan melukai harga dirinya.


"Maaf, hanya ini yang ku punya. Semoga sesuai dengan seleramu"


Ujarku saat menghidangkan teh untuk Priscilla. Aku bukan bicara sekedar basa basi atau bermanis lidah. Kenyataannya, aku hanya memiliki teh seduh instan yang banyak dijual di supermarket.

__ADS_1


Inggris cukup dikenal dengan tradisi afternoon tea, yang kadang dianggap sebagai aktivitas sakral. Sehingga orang di sini cukup pandai menilai kualitas teh. Sebagai bagian dari keluarga terpandang, Priscilla pasti memiliki kemampuan itu. Teh ku jadi terlihat murah di depannya sekarang.


Priscilla menjawab dengan tersenyum. Sebuah senyuman yang selalu sukses membuatku merinding, karena aku tidak tahu kadar ketulusannya.


"Rumahmu terlihat nyaman"


Puji Priscilla sambil mengedarkan pandangan pada seluruh ruang tamuku. Sebenarnya aku tahu dia terus memeriksa seperti apa rumah ini sejak datang kemari. Aku hanya pura-pura tidak peduli. Sadar diri bahwa rumah ini mungkin sangat sederhana dibanding kediamannya.


Kata nyaman yang ia pilih untuk memuji juga menunjukkan itu. Ah... Aku jadi gelisah sendiri. Apakah gadis ini datang kemari hanya untuk membandingkan keadaan kami?


"Kenapa kau kemari? Ku rasa kau tidak seharusnya repot mengantar hadiahmu sendiri kemari"


Aku kembali mengulang pertanyaan tadi. Antara masih tidak percaya dengan jawabannya atau Karena aku ingin mengalihkan pandangan menyelidiknya.


"Kau selalu jujur dan tidak suka basa basi"


Ucapan Priscilla terdengar mengejek saat dia sendiri juga melakukan hal yang sama.


"Aku ingin melanjutkan rencana pembicaraan kita yang tertunda"


Aku kurang suka dengan penyebutan rencana kita itu. Seolah sejak awal aku memang ingin bicara dengannya. Padahal di ingatanku, Priscilla secara sepihak memintaku untuk berdiskusi tentang Drey. Pada akhirnya dia juga yang membatalkannya karena jatuh pingsan di acara amal.


Aku menghirup nafas dalam-dalam. Menahan perasaan di hatiku yang kacau. Seolah sedang dihantam badai. Di saat begini, aku harus tetap tenang.


"Aku mungkin sudah mengatakannya berulang Kali padamu. Tapi aku tetap Akan mengatakannya lagi. Segera akhirilah hubunganmu dengan Drey"


Dan entah mengapa, rasanya sekarang aku seperti selingkuhan yang sedang dilabrak. Apalagi Priscilla bicara dengan penuh percaya diri. Tatapannya menghakimi seolah aku sudah merebut apa yang menjadi miliknya.


"Aku juga tidak Akan bosan mengatakan ini padamu. Aku tidak Akan melepaskan Drey. Kau tidak punya hak meminta kami putus"


"Tentu saja aku punya hak. Aku tunangannya"


"Kalian tidak pernah secara resmi bertunangan. Kalian bahkan tidak saling mencintai!"


"Sejak awal perjodohan kami sama sekali tidak Ada hubungannya dengan cinta"


"Kalau begitu aku lebih punya alasan untuk tidak putus dengan Drey"


Perlahan namun pasti, suasana menjadi panas dan canggung di antara kami. Mungkin saja teh yang ku sajikan bisa kembali mendidih sekarang ini.


"Baiklah. Begini saja, jika kau bersedia melepaskan Drey, aku Akan memberimu kompensasi yang pantas"


"Apa maksudmu dengan kompensasi?"


"Sebutkan berapa nominal yang kau inginkan. Kau bahkan bisa meminta dalam bentuk aset, mungkin tanah atau rumah. Betapapun yang kau minta, aku sanggup memberikannya"


Rasanya badai di hatiku semakin besar Dan buruk. Menghantam seluruh hatiku, membuatnya hampir runtuh.


Sementara Priscilla juga tidak tahu kapan harusnya dia berhenti.


"Atau mungkin kau tidak butuh uang. Aktris sepertimu pasti lebih menyukai popularitas. Tenang saja, aku juga bisa memberikannya. Saat kalian putus, aku bisa membuatkan berita besar untukmu, cukup untuk membuat orang tidak Akan melupakanmu"


Aku bahkan sudah memanggil Priscilla dengan sebutan bi*ch di dalam hatiku. Dia sudah mengatakan Hal Paling kubenci di dunia ini. Merendahkanku dengan uang dan popularitas.


Namun anehnya, aku justru tertawa. Aku terbahak keras seakan baru saja mendengar lelucon paling mengocok perut. Priscilla memandangku heran. Namun aku terus saja tertawa bagai orang gila hingga rasanya air Mata berkumpul di pelupuk mataku.


Hatiku sakit sekali. Ucapan Priscilla menyakitiku. Namun di saat yang bersamaan aku tidak ingin terlihat lemah.


"Tidak ada yang lucu dengan ucapanku," ujar Priscilla masih kebingungan.

__ADS_1


Aku akhirnya menatap Priscilla dengan penuh kemarahan.


"Aku tidak mau mendengar ocehanmu lagi, jadi Keluar dari sini"


Kali ini aku tak lagi sungkan mengusir Priscilla. Aku bisa melihat ekspresi protes Dan Tak terima di wajahnya.


Ku pikir kami selesai di sini. Nyatanya tidak. Priscilla ternyata masih menyimpan Trump card. Dari tasnya, dia mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah hati dan menyerahkannya padaku. Seperti dihipnotis, aku membukanya.


Kali ini akulah yang bungkam. Ada sebuah undangan di dalam amplop itu. Belum ditulis kapan tanggalnya, namun Ada nama Priscilla dan Drey di sana. Berkali-kali aku membacanya, karena takut emosiku membuat mataku bermasalah. Hingga aku harus merasa yakin, bahwa itu memang nama mereka berdua.


Tidak perlu dijelaskan lagi, ini jelas undangan untuk pesta pertunangan. Namun Priscilla sepertinya membaca ekspresi yang menuntut pertanyaan di wajahku sehingga berbaik hati menjelaskannya.


"Ini bukti keseriusan keluargaku dan keluarganya. Aku memintamu meninggalkan Drey sekarang juga demi kebaikanmu. Kau tahu, keluarga kami punya cukup kekuatan untuk membuatmu berada di posisi yang salah"


Aku merasakan tanganku yang memegang amplop itu gemetar. Padahal hatiku tahu bahwa aku tidak salah. Aku juga tidak perlu takut dengan ancaman Priscilla. Namun mengetahui bahwa keluarga Drey tidak menginginkanku ternyata cukup menyakiti Dan menakutiku.


"Karena itu, mundurlah... "


"Dia tidak Akan mundur"


Suara Drey menyela kami. Entah sejak kapan dia datang, namun dia sudah berdiri dengan wajah berlipat penuh kemarahan.


Drey segera membanting belanjaan di tangannya ke lantai. Kemudian segera menjajariku untuk berhadapan dengan Priscilla.


Drey menggenggam tanganku dengan paksa hingga amplop di tanganku hampir jatuh. Dia mungkin bisa merasakan betapa dinginnya tanganku.


"Apa kau datang ke rumah kami hanya untuk mengancamnya?"


Tanya Drey dengan nada mengintimidasi. Dia sengaja menegaskan bahwa kami tinggal bersama dalam satu atap. Dan itu membuat Priscilla mulai pias.


"Aku hanya mengatakan faktanya"


"Sebaiknya kau berhenti melakukan hal seperti ini. Kau menganggu kami"


"Kenapa kau seperti ini? Richard bahkan tidak menyetujui hubungan kalian. Dia tidak menyukainya!"


Sepertinya ucapan Drey telah membuat Priscilla marah. Untuk pertama kalinya, dia meninggikan suaranya. Hanya saja dia mengatakan sesuatu yang semakin melukaiku.


"Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan pernah menemui Luna lagi. Atau aku sendiri yang akan mengatakan pada media bahwa Ada wanita gila yang melakukan tindakan stalking padaku," ancam Drey dengan penuh amarah.


Aku bisa melihat Mata Priscilla berkaca-kaca sebelum akhirnya pergi meninggalkan kami berdua.


Aku dan Drey sama-sama terdiam Setelah Priscilla pergi. Meskipun tangan kami masih saling berpegangan. Rasanya amplop yang masih kupegang di tangan satunya telah mengunci rapat mulutku.


Drey melepaskan tangannya lebih dulu. Seolah menebak bahwa itu pemberian Priscilla, dia mengambil kotak di meja lalu membuangnya ke tempat sampah. Drey melempar dengan kuat hingga isi kotak itu keluar dari tempatnya. Sebuah tas mahal yang bulan lalu batal ku beli karena menganggapnya hanya buang-buang uang.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Drey Setelah dia sedikit merasa tenang.


Ekspresiku harusnya menunjukkan jelas bahwa aku tidak baik-baik saja. Namun aku hanya menjawab dengan anggukan.


"Aku harus mengangkat cucian"


Ujarku sebelum akhirnya cepat-cepat pergi dari sana. Aku ingin menghindar dari depan Drey. Perasaanku masih syok dengan ucapan Priscilla.


Tangisku langsung pecah saat aku sudah berada di depan mesin cuci. Aku bahkan sampai harus menggigit handuk di sana agar suara tangisku teredam.


Semuanya tumpah saat ini. Seluruh air Mata yang sudah ku pendam sejak Priscilla menyebut tentang kompensasi, seakan aku hanya memanfaatkan Drey. Rasa sedih yang telah aku tahan sejak Priscilla menyebutkan bahwa keluarga Drey tidak menginginkanku. Dan sakit yang meremukkanku sejak aku memegang amplop di tanganku.


Segala kepercayaan diriku runtuh. Kini aku harus melihat Kenyataannya,

__ADS_1


Apakah cinta kami sudah cukup melawan segala hak istimewa yang dimiliki Priscilla?


Dia memiliki lebih banyak hal dariku. Dunianya sama dengan dunia di Mana Drey berasal. Lebih dari apapun, Richard memilihnya. Sehingga keberadaan Priscilla menjadi sangat besar. Cukup untuk membuatku tidak bisa lagi melihat ujung dari ceritaku Dan Drey.


__ADS_2