Sugar

Sugar
Lucas


__ADS_3

Aku memaksakan untuk meminum habis jus itu. Rasanya aneh sekali. Jus sayur buatan Drey hari ini lebih pahit dan getir dari biasanya. Padahal aku sudah menutup hidungku, masih saja kesulitan menelan semuanya. Aku berharap dia akan mengganti menunya dengan menambahkan buah ke dalamnya. Namun Drey bilang, ini kombinasi jus terbaiknya. Entah terbuat dari apa.


"Apa kau sudah melihat iklannya?"


Hampir saja aku tersedak karena Drey muncul secara tiba-tiba. Aku segera menghabiskan isi gelasku, hingga tubuhku bergidik akibat rasa jus itu. Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Drey. Bisa muntah aku jika langsung bicara.


"Kau masih saja kesulitan meminum itu?"


Ledek Drey. Aku justru heran bagaimana dia bisa menemukan resep aneh macam begini dan bisa meminumnya tanpa masalah.


Tiba-tiba saja Drey meraih daguku lalu menciumku. Lidahnya menyapu habis bibirku, menghapus sisa jus di sana. Mengganti rasa getirnya dengan yang lain.


"Sudah hilang kan rasanya?"


Tanyanya dengan senyum menggoda.


Dasar Drey. Rutukku dalam hati. Aku bahkan tidak bisa membantah pernyataannya.


"Tadi kau menanyakan apa?"


Sebelum Drey makin besar kepala, aku segera mengalihkan pembicaraan. Drey kemudian menunjukkan ponselnya kepadaku.


"Daniel memperlihatkannya padaku kemarin"


Jawabku. Meskipun begitu, aku tetap meraih ponselnya dan memperhatikan seksama gambar yang ditunjukkan oleh Drey. Lagipula aku suka melihatnya.


Hasil pemotretan sebelumnya sudah keluar, menyusul produk yang sudah di-launching lebih dulu. Karena kami mempromosikan koleksi busana musim semi. Mengatakan hasil pemotretan itu bagus, bukan hanya pendapatku saja. Perusahaan fashion itu juga mengakuinya. Sehingga aku dan Drey mulai dikontrak resmi sebagai brand ambassador koleksi busana couple mereka untuk koleksi musiman selanjutnya. Sepertinya, kisah cinta kami cukup laku dijual.


Morrino memang fotografer handal. Dia mengambil foto utama ini dengan baik. Kali ini aku juga terselamatkan dari idealisme Morrino, tentang mengeluarkan estetika melalui keintiman. Aku dan Drey berhasil menghindarinya. Semua berkat Drey. Setelah dia membuatku fokus melihatnya, ekspresi kami membaik. Kami bisa mengeluarkannya secara alami.


Mengingat hal itu aku jadi malu sendiri. Aku baru menyadari jika mencintai Drey lebih dari yang kubayangkan. Di foto ini misalnya. Aku terlihat sumringah saat menatap Drey, begitupun sebaliknya. Hingga Morrino membatalkan niatnya mengambil foto lebih vulgar. Dia bilang cukup terkesan dengan chemistry kami.


Bisa bekerja dengan Drey, memang menyenangkan.


"Hasilnya sangat bagus"


Ujarku sambil mengembalikan ponsel Drey. Aku sudah menyimpan foto itu, jadi bisa melihatnya kapan saja.


Drey tersenyum.


"Ini hasil pemotretan terbaikku"


Balas Drey. Aku hanya bisa tersipu dengan ucapannya. Setelah sempat mengalami hal memalukan, dia masih memujiku.


"Oh ya, apa bisa aku minta tolong padamu untuk ke rumah Lucy?"


"Sepertinya bisa, syutingku baru dimulai besok pagi. Memangnya ada apa?"


"Lucy sedang sakit, tetapi Lara ada pekerjaan. Jadi tidak ada yang merawatnya"


"Lucy sakit? Sakit apa?"


"Aku sendiri tidak tahu. Saat Lara memberitahuku, dokter belum datang memeriksanya"


"Baiklah, aku akan kesana"


"Terima kasih, aku titip salam padanya"


Drey mengakhiri pembicaraan dengan mengecup keningku.


******


Saat aku sampai di rumah Lucy, hanya ada si kecil Rilla yang membukakan pintu untukku. Rumah sepi sekali. Karena tidak hanya Lara, para kakak Rilla juga sedang pergi ke sekolah.


"June..."


Sapa Rilla senang. Seperti biasa dia langsung berlari ke dalam pelukanku. Setelah itu Rilla langsung menuntunku ke kamar Lucy.


"Maaf jadi merepotkanmu. Lara terlalu membesar-besarkannya, aku hanya kelelahan"


Ujar Lucy tidak enak.


"Aku juga ingin menjenguk anak-anak"


Jawabku beralasan. Jelas sekali Lucy sedang lemah. Namun dia juga terlihat tidak suka dianggap merepotkan.


"Drey ingin sekali menjengukmu, tetapi dia ada pertandingan hari ini"


"Katakan padanya agar tidak perlu mencemaskanku"


Aku mengangguk.


"Aku akan menyiapkan makan siang"


Ujarku sambil beranjak pergi. Sebenarnya aku hanya perlu menghangatkan makanan yang kubeli saat datang kemari. Hanya saja memasak sendiri adalah hal buruk apalagi untuk orang yang sedang sakit. Mata Lucy terlihat kuyu sekali. Dia mungkin masih di bawah pengaruh obat, tetapi memaksakan diri untuk bangun demi diriku. Jadi aku sadar diri dan pergi.


Usai membuka bungkusan semua makanan, aku menonton TV dengan Rilla. Bermaksud untuk istirahat sejenak. Karena harus menyimpan banyak tenaga untuk syuting besok. Baru saja aku menyandarkan tubuhku, suara langkah kaki mendekat dari ruang depan membuatku segera terbangun.


Setahuku Lara baru akan pulang nanti malam. Begitupun dengan kakak Rilla.


"Siapa?"


Tanyaku pada Rilla, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala. Rilla tidak terlalu peduli juga. Matanya sibuk menatap layar televisi.


Aku memutuskan melihat ke depan. Baru saja hendak melewati pintu yang menghubungkan ke ruang tengah, aku sudah bertabrakan dengan seseorang yang baru saja muncul sampai-sampai terhuyung ke belakang.


"Kau tidak apa-apa"


Orang itu dengan sigap meraih tanganku.


"Terima ka...sih"


Sedikit terkejut aku saat akhirnya melihat dengan jelas siapa orang yang sudah masuk tanpa ijin itu.

__ADS_1


"Lucas?"


Tanyaku ragu.


"Senangnya, kau ternyata masih mengingatku"


Jawab Lucas. Seperti biasa, dia selalu tampak tampan dan rapi.


"Aku sedang ada urusan di sekitar sini. Jadi aku memutuskan mampir untuk memberikan ini"


Sebelum aku tanya tujuannya datang kemari, Lucas sudah menunjukkan sekantong plastik buah apel di tangannya. Aku langsung ingat dengan hal yang penting.


"Lucy sedang sakit, kau harus melihatnya di kamar"


"Sakit?"


Wajah Lucas terlihat heran sekali. Sepertinya tidak ada yang memberitahunya tentang hal itu. Setelah ity Lucas segera pergi ke kamar Lucy.


******


Aku menyajikan makanan yang baru saja kuhangatkan ke meja makan. Asapnya masih mengepul dan aromanya yang harum tercium menggugah selera. Rilla sudah merengek karena lapar, jadi kami memutuskan untuk makan siang lebih awal.


"Hm...harum sekali baunya"


Lucas datang. Tanpa kutawari, dia langsung bergabung dengan kami di meja makan. Tentu saja aku langsung membagikan satu porsi untuknya. Lucas langsung menyantap tanpa sungkan.


Sebenarnya aku canggung sekali. Memang karena aku tidak nyaman dengan pria yang baru kukenal. Juga masih terbayang olehku perkelahiannya dengan Drey.


Aku hanya bisa menatap Lucas. Mengejutkan melihatnya di sini. Jika Drey melihat Lucas di sini, dia pasti merasa senang.


"Dia memperlakukan Lucy dengan buruk. Terutama pada bagian lebih mementingkan ayah tirinya daripada ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya"


Itu yang dikatakan Drey sebelumnya. Namun sepertinya Lucas tidak seburuk itu.


"Apa ada sesuatu di wajahku?"


Pertanyaan Lucas membuyarkan lamunanku.


"Huh?"


"Kau terus melihatku"


Aku baru sadar jika memperhatikannya untuk waktu yang lama.


"Ti...tidak ada apa-apa"


Jawabku malu. Aku jadi salah tingkah sendiri.


"Oh ya, kita sudah beberapa kali bertemu, tetapi tidak pernah memiliki waktu untuk berbicara"


Lucas kembali membuka percakapan. Sepertinya dia memikirkan hal yang sama denganku. Bahwa setiap bertemu, selalu dalam situasi kurang menyenangkan.


"Ya, karena kalian tidak akur"


"Kau tahu, padahal aku adalah fans beratmu"


Ujar Lucas tanpa basa basi. Dia mengatakannya dengan wajah yang bersungguh-sungguh seolah hal biasa. Dalam hal ini dia mirip sekali dengan Drey.


"Kau juga populer di antara teman-temanku"


Pujiku balik. Bukan kebohongan juga. Buktinya Gracey mengejarnya, dan terus memaksa diriku mengenalkan mereka.


"Sayangnya tidak cukup populer untukmu"


Entah apa maksud Lucas mengatakannya.


Setelah itu kami ngobrol mengenai banyak hal. Lucas memiliki kepribadian yang cukup ramah daripada kelihatannya. Perkelahiannya dengan Drey meninggalkan kesan cukup dalam bagiku hingga aku berpikir bahwa dia adalah orang yang kaku.


Akhirnya aku jadi penasaran. Selama ini aku hanya mendengar cerita tentang hubungan Lucas dan Drey dari satu sisi. Mungkin Lucas punya alasannya sendiri. Aku juga ingin tahu kenapa Lucas marah pada Drey.


"Kenapa kau tidak tinggal di sini dengan Lucy? Sepertinya dengan adanya dirimu di sini, Lucy akan banyak terbantu"


Tanpa bisa kubendung keingintahuanku, jadi langsung saja kutanyakan pada Lucas.


"Bukankah sudah ada Drey yang melakukannya?"


Tanya Lucas balik. Namun dialah anak kandung Lucy. Ingin kujawab seperti itu, tetapi kubatalkan. Drey memang anak yang baik bagi Lucy meskipun tidak terikat darah.


"Apa kau membenci Drey?"


Kini kami malah saling melempar pertanyaan. Lucas tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia diam sejenak sambil tersenyum.


"Dia tidak pernah melakukan kesalahan yang membuatku membencinya. Hanya saja, mungkin aku merasa iri padanya"


Aku mengernyitkan kening mendengar pengakuan Lucas. Semakin aku bicara padanya, malah semakin besar juga rasa penasaranku.


"Drey tidak pernah tahu jika dia memiliki segalanya. Semua yang diharapkan orang lain, dia akan mendapatkannya dengan mudah. Namun tetap saja bersikap seolah dia yang paling menderita. Aku tidak suka hal itu"


"Mungkin kau berpikir begitu karena kau belum mengenal Drey"


Sanggahku halus.


Sejujurnya aku kurang bisa memahami maksud perkataan Lucas. Dia menilai Drey begitu tinggi, padahal di mataku justru Drey adalah pria dengan banyak kekurangan. Drey memang mendapatkan apa yang dia harapkan, tetapi dia harus bekerja keras untuk itu. Contohnya saja aku. Butuh waktu lama hingga aku bisa menerima kehadiran Drey. Karena itu, aku tidak bisa memahami Lucas.


"Yah... aku memang tidak bisa berbicara dengannya"


Jawab Lucas setuju.


"Mengenai pertanyaanmu tadi..."


Lucas mengembalikan topik kami pada pertanyaanku yang pertama masalah Lucy.


"Kau juga harus mempertimbangkan sisi lainnya. Saat ibuku memutuskan untuk tinggal di sini, Lara dan Drey selalu mengikuti dan mendukungnya. Tapi bagaimana dengan ayah Drey? Tidak ada yang tinggal di sisinya. Semua orang termasuk anaknya sendiri pergi. Jadi kupikir aku bertanggung jawab untuk tetap tinggal dengannya. Bukan karena aku tidak menyayangi ibuku"

__ADS_1


Kali ini Lucas benar-benar memberikan penjelasan mengenai alasannya. Hal sederhana yang tak terpikir olehku. Sebenarnya baik Drey maupun Lucas memikirkan hal yang sama. Mereka berusaha memperhatikan orang tuanya. Hanya saja, dari sudut pandang yang berbeda. Firasatku sebelumnya benar. Hubungan keluarga lebih rumit dari kelihatannya


Kalau saja Drey bisa mendengarkan ucapan Lucas ini. Mereka pasti tidak akan saling berseberangan lagi.


"Ah, sudah jam segini. Aku harus segera pergi"


Lucas beranjak dari kursinya. Obrolan kami berhenti sampai di situ.  Bersamaan dengan berakhirnya makan siang kami.


******


Aku menatap keluar jendela. Hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Padahal tadi siang cukup cerah. Saat itu aku menangkap bayangan Lara yang sedang berlarian dari mobilnya yang terparkir di halaman. Tak lama dia sudah mengumumkan kedatangannya.


"Aku pulang"


"Selamat datang"


Sambutku sambil menyerahkan handuk yang sudah kubawakan. Rambut dan sebagian pakaian Lara telah basah oleh hujan.


Lara kemudian bergabung untuk makan malam denganku dan anak-anak setelah mandi. Sebenarnya tugasku menjaga Lucy telah selesai. Namun karena hujan di luar belum reda, Drey melarangku pulang sendiri. Dia akan menjemputku.


Selagi menunggu Drey, aku dan Lara berbincang sambil ditemani coklat hangat.


"Terima kasih, hari ini aku banyak merepotkanmu"


Ujar Lara dengan wajah sungkan.


"Tidak masalah. Lagipula aku sedang tidak ada pekerjaan"


Rasanya tidak hanya Kali ini, Lara sudah mengucapkan terima kasih berkali-kali padaku.


"Oh ya, Lucas datang kemari"


Ujarku berusaha mencari topik lain. 


"Untuk apa dia datang kemari?"


Di luar dugaanku, Lara merespon berita dariku dengan sedikit tak acuh. Dia juga tidak terlihat terkejut.


"Kenapa kau tidak memberitahu Lucas jika Lucy sakit?"


Tanyaku balik.


"Memberitahunya atau tidak, kurasa tak ada bedanya. Dia hanya akan kemari saat dia menginginkannya. Lagipula Drey adalah kakak yang lebih baik darinya"


Aku mulai mencium hawa keretakan dalam hubungan Lara dan Lucas walaupun mereka saudara kandung. Bahkan reaksi Lara lebih buruk daripada Drey.


"Meskipun begitu, dia berhak mengetahuinya"


Nasehatku. Lara tampaknya sedikit memikirkan ucapanku. Aku tidak membuang kesempatan dengan menambahkan daftar kebaikan Lucas.


"Dia juga membawakan sekantong besar apel untuk kalian"


Lara malah mendengus kesal.


"Padahal sudah berulang kali kukatakan padanya bahwa ibu lebih suka anggur. Dia harusnya membawa apel itu untuk ayahnya"


Sepertinya aku malah salah bicara. Mana kutahu jika apel bukan buah kesukaan Lucy.


"Aku tidak tahu topeng apa yang sudah dia tunjukkan padamu, tetapi Lucas bukan orang sebaik itu. Dia tidak pernah ada kapanpun ibu membutuhkannya. Malah terus menyalahkan Drey karena meninggalkan ayahnya. Harusnya Lucas berkaca dulu sebelum mengatakannya. Dia dan ayah adalah dua orang yang mirip. Sama-sama tidak memiliki perasaan"


Umpat Lara panjang lebar. Kali ini aku hanya diam. Sepertinya aku Makin bingung dengan hubungan keluarga mereka. Siapa yang sebenarnya salah dan siapa yang benar. Rasanya mereka semua bertentangan.


"Daripada membicarakan hal membosankan seperti itu, mari membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan"


Usul Lara


"Apa itu?"


******


Rasanya perjalanan ini bagai mimpi. Tanpa bisa menolak, sekarang aku sedang dalam sebuah liburan yang tak pernah kurencanakan.


Dalam kunjunganku yang terakhir ke rumah Lucy, Lara bercerita bahwa sekarang dia sedang dekat dengan seorang pria. Hubungan mereka berjalan dengan lancar. Lalu pria yang bukan dari kalangan selebriti itu membuat acara liburan untuk merayakan ulang tahunnya. Lara mendapat undangan, tetapi dia gugup karena harus masuk dalam lingkungan baru yang asing. Dia akhirnya memintaku dan Drey menemaninya. Drey sama sekali tidak menolak dan aku terpaksa ikut.


Pria incaran Lara sepertinya anak seorang konglomerat. Dia mengundang kami di sebuah pulau yang hanya bisa didatangi melalui reservasi. Bahkan menyediakan semua akomodasi termasuk tempat menginap di hotel mewah. Tidak hanya kami yang diundang, ada puluhan orang lainnya. Beberapa adalah selebriti dan model. Namun sebagian besar adalah teman-teman pria itu.


Kalau seperti ini aku tidak akan bisa membantu Lara. Aku juga minder kalau sudah berhadapan dengan kalangan atas begitu. Mereka seperti hidup di dunia yang berbeda.


"Ayo kita langsung ke kamar"


Ajak Drey. Aku menurut saja. Kami baru saja menghabiskan hampir lima jam perjalanan hanya untuk kemari. Dan hari sudah malam juga.


Seorang pelayan hotel sudah mengantar ke kamar kami sambil membawakan barang-barang.


"Silahkan"


Pelayan itu mempersilahkan masuk ke dalam kamar.


"Kau saja yang tidur di ruangan ini. Biar aku di kamar satunya"


Ujar Drey menyuruhku segera masuk. Aku mengangguk.


"Koper yang itu adalah milikku. Jadi tidak perlu ikut dimasukkan kemari"


Ujar Drey pada pelayan saat melihat kopernya dimasukkan juga ke kamar.


Namun pelayan hotel itu menatap Drey dengan wajah bingung.


"Hanya satu kamar ini saja yang dipesan untuk Tuan Drey dan kekasihnya"


Aku yang awalnya hendak merebahkan diri untuk tidur langsung bangun mendengar jawaban  pelayan hotel itu.


"Kami akan tinggal sekamar?!"

__ADS_1


__ADS_2