
Ini belum pukul sepuluh pagi, tapi di ruang rawatku sudah ramai sekali oleh perdebatan antara Lara Dan Daniel. Padahal yang mereka debatkan juga tidak terlalu penting. Hanya mengenai jam berapa mereka Akan membawaku pulang. Menunggu Drey atau tidak. Padahal aku tidak mempermasalahkannya.
Aku lebih sibuk dengan lamunanku. Mengenai apa yang terjadi pagi ini.
* Flashback On *
Aku merasakan Ada sesuatu di wajahku. Bergerak-gerak mengganggu tidurku. Aku ingin melihat apa itu tetapi aku malas membuka Mata. Rasanya tubuhku nyaman sekali dalam kehangatan.
Namun sesuatu itu terus mengusikku. Membuat geli wajahku. Aku menggeliat malas Dan akhirnya membuka mataku. Hal pertama yang kulihat adalah senyuman dari pria bermata biru itu. Serta tangannya yang membelai wajahku Dan membangunkanku.
Awalnya aku tidak peduli. Aku masih mengantuk. Tetapi aku sadar tanganku saat ini sedang memeluk sesuatu Dan kepalaku tidak sedang bersandar di bantal. Refleks aku segera membuka mata.
Aku baru ingat yang terjadi semalam. Drey ketiduran saat kami menonton film. Lalu aku mencuri kesempatan dengan tidur dalam pelukannya. Padahal aku sudah berencana bangun lebih dulu agar tidak ketahuan, namun semalam Tanpa sadar aku malah masuk lebih dalam pelukan Drey. Bersandar sepenuhnya pada pria itu.
"Apa tidurmu nyenyak?"
Tanya Drey dengan smirk andalannya. Ah... Rasanya aku malu sekali. Kemarin mengingatkan Drey agar tidak mencuri kesempatan saat aku tidur. Malah aku yang diam-diam memeluknya saat dia sedang terlelap.
"Kenapa kau tidur di tengah film, aku Kan tidak bisa kembali ke ranjangku"
Aku mulai mencari-cari alasan menyalahkan Drey untuk menutupi Rasa maluku.
"Padahal filmnya bagus Dan ak..."
Cup.
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirku, memotong ucapanku.
"Ini masih pagi Dan kau sudah cantik"
Ujar Drey. Jantungku langsung berdebar Tak karuan melihat senyumnya yang sangat menawan. Membuat wajahku menjadi panas. Ugh! Drey memang selalu tahu cara meluluhkanku. Rasanya aku semakin malu.
* Flashback off *
Aku masih bisa merasakan debaran tadi pagi. Begitu hangat, menerbangkan kupu-kupu di perutku.
Pukulan di bahuku membuyarkan lamunanku.
"Ada apa?"
Tanyaku ketus pada Daniel yang sudah merusak imajinasi indahku.
"Kau terus tersenyum sendiri dari tadi, membuatku takut. Apa kau ingin kuantar ke psikiater?"
Tanya Daniel dengan ekspresi yang dibuat seolah iba padaku. Jelas sekali sedang mengejekku. Dia ini memang selalu tahu Cara menggangguku. Kalau saja dia bukan manajerku, aku mungkin sudah menenggelamkannya ke laut.
Sementara Lara hanya meringis mendengar candaan Daniel. Semakin lama sepertinya mereka semakin klop.
Suara notifikasi ponselku menyelamatkanku dari situasi itu. Pesan dari Drey, menanyakan hasil pemeriksaan dokter Hari ini. Hatiku kembali berbunga-bunga. Drey Tak henti menghujaniku dengan perhatian. Meskipun sekarang dia pasti sedang sibuk.
"Dia tersenyum lagi"
Ujar Daniel usil lagi. Mungkin melihat senyum yang terkembang yang Tak bisa kusembunyikan.
"Hm...pesan di ponsel atau di sosial media? Kalian benar-benar membuat semua orang yang single merasa gagal"
Timpal Lara yang kini ikut-ikutan. Lalu Daniel ikut tertawa.
"Kenapa di media sosial?"
Tanyaku bingung. Aku tidak paham dengan yang Lara bicarakan. Tetapi mereka malah meringis memandangku seolah sedang mengejekku. Sehingga aku tidak bertanya lebih jauh.
Aku segera memeriksa media sosial Drey. Karena tidak Ada yang baru di milikku. Dan Aku hanya bisa terperangah dengan isi sosmed Drey. Penuh dengan postingan baru. Semuanya tentangku.
Sejak dari aku masuk rumah sakit, saat dia membiarkan aku menggenggam tangannya semalaman, saat aku makan, minum obat, hingga kami menonton bersama. Dia menangkap semua momen itu. Tetapi bukan itu yang Paling penting. Semua pesan bernada kekhawatiran yang tidak pernah diungkapkannya secara langsung padaku.
"My sugar is sick. Makes me hurt and sad"
"Please, get well soon sugar"
Dan untaian kata-kata pendek lainnya yang teramat manis buatku.
__ADS_1
Membuat aku Makin bersyukur sakit saat ini.
**********************************
Perdebatan antara Lara Dan Daniel tadi pagi menghasilkan keputusan bahwa aku dibawa pulang Setelah makan siang. Lebih cepat aku pulang, lebih cepat juga aku beristirahat. Kasihan juga Drey jika harus menjemputku. Begitu alasan mereka.
Begitu sampai di rumah, aku langsung pergi ke kamarku. Langsung berbaring di sana. Mencium wangi familiar spreiku, memeluk bantalku Dan merasakan hangatnya kasurku. Betapapun nyamannya ranjang di rumah sakit, tidak Akan bisa mengalahkan milikku.
Aku sudah tidak peduli apa yang dilakukan Daniel Dan Lara di bawah Sana. Walaupun suara mereka berisik terdengar sampai kemari. Rasa nyaman yang kudapat di sini membuat kantukku datang. Saat ini aku hanya perlu menunggu Drey pulang. Dan tanpa bisa kutahan, aku sudah terbawa ke Alam mimpi.
Sepertinya baru juga aku terlelap, Suara pintu yang dibuka membangkitkan inderaku. Dengan malas aku membuka Mata. Sejak dulu aku sensitif dengan suara pintu atau langkah kaki. Pasti langsung terbangun sepulas apapun tidurku. Efek pekerjaan sebagai Artis. Aku parno dengan stalker atau orang jahat.
Aku segera turun dari ranjangku. Baru menyadari jika aku bukannya tertidur sebentar tapi sudah berjam-jam. Hingga langit di luar sudah gelap. Selain itu aku merasa aneh sekali, rumah sangat sepi. Padahal tadi Daniel dan Lara berisik sekali.
Kubuka pintuku pelan-pelan, lalu mengintip dulu keluar. Gelap sekali. Tidak Ada lampu yang dinyalakan. Mendadak jantungku berdegup cepat. Suasananya horor sekali. Aku sempat ragu tetap pergi keluar atau tinggal di kamar saja, menunggu seseorang datang.
Namun aku jelas mendengar suara pintuku dibuka tadi. Artinya Ada orang di sini, kemungkinan bukan Drey karena semua lampu belum dinyalakan. Dan membayangkannya saja sudah membuat tengkukku dingin. Akhirnya aku memutuskan pergi ke lantai bawah bermodalkan lampu senter ponselku.
Aku berjalan pelan sekali hingga bahkan di keheningan ini aku tidak bisa mendengar langkahku sendiri. Mungkin hanya suara nafasku yang sudah tidak beraturan terasa jelas. Tangan Dan kakiku sendiri sudah sedikit gemetar.
Di lantai bawah benar-benar gelap Dan sunyi. Hingga aku kembali bimbang. Ingin berputar balik ke kamar saja. Biasanya aku selalu berpikir bahwa manusia jahat jauh lebih menakutkan daripada hantu. Kali ini Setelah berada di situasi ini, apapun itu ternyata sama-sama menakutkan di pikiranku. Jadi sepertinya aku memang harus kembali ke kamar saja.
Baru saja aku hendak berbalik,
"Krieett..."
Aku mendengar suara kursi ditarik. Hampir saja aku melompat saking kagetnya. Rasanya jantungku langsung berdentam Tak karuan. Dan keringat dingin sudah menetes di dahiku.
Aku ingin memanggil Drey tapi tenggorokanku tercekat. Dan Rasa penasaranku malah membawa kakiku melangkah ke arah dapur. Asal suara itu.
Saat aku sudah tinggal Dua langkah lagi dari dapur, aku mendengar suara kursi diseret lagi. Namun suaranya lebih pelan, seolah yang menariknya sedang berhati-hati. Sehingga aku Makin ingin tahu. Kalau saja aku bisa melihat jelas sekarang, aku pasti sudah mengambil tongkat atau sejenisnya untuk digunakan sebagai senjata.
Aku mematikan senter di ponselku. Hal pertama yang harus dilakukan saat kondisi terancam, jangan pernah menunjukkan keberadaanmu. Lalu pelan-pelan mengintip ke dalam dapur.
Deg.
Rasanya jantungku hampir copot saat melihat Ada bayangan orang di dapur. Tapi bukan tubuh Drey. badannya tinggi sekali dan Hanya kelihatan rambut panjangnya yang bergoyang-goyang. Entah dia manusia atau bukan.
Karena gelap, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Jadi aku merangkak mendekat ke meja makan. Rasanya aku langsung lemas, saat aku melihat tidak Ada kaki yang menyentuh lantai di sana. Padahal bayangan itu masih Ada. Saat itu tidak Ada lagi Yang bisa kupikirkan. Blank. Dan tubuhku juga lemas.
rambut yang tadi kulihat di atas itu tiba-tiba sudah di bawah. Ke arah aku mengintip. Dan sepasang Mata menatapku.
"Huwaaaaaa......."
Teriakku terkaget-kaget. Aku Makin ketakutan saat wajah di depanku itu ikut berteriak. Otomatis tubuhku yang sudah lemas seperti mendapat kekuatan untuk berlari. Aku langsung lari terbirit-birit.
Saat aku berlari, aku sempat mendengar suara sesuatu jatuh dengan keras dari dapur sana. Aku sudah tidak peduli. Kukeluarkan suara Paling kerasku memanggil-manggil nama Drey. Karena saking Takutnya, tidak melihat kemana aku berlari, dan akhirnya menabrak sesuatu yang keras hingga aku terpental ke belakang.
Aku spontan menangis. Masih meracau tidak jelas memanggil Drey. Karena tubuhku juga sudah lemas sekali tidak mau bergerak.
"Sugar, kau baik-baik saja?"
Suara familiar itu membuatku membuka mataku yang sudah banjir oleh air Mata. Setelah melihat bahwa Drey yang berdiri di depanku, aku langsung memeluknya dengan erat. Masih menangis ketakutan.
"Kenapa kau berteriak?"
Tanya Drey sambil mencoba menenangkanku.
Aku benar-benar tidak bisa bicara atau mengeluarkan suara. Tenggorokanku akibat berteriak dan merasa takut tadi. Jadi aku hanya menoleh sambil menunjuk ke arah dapur. Tetapi saat itu, kulihat bayangan berambut panjang itu sedang berjalan ke arah kami, hingga membuat tubuhku mengejang.
Hampir saja aku berteriak untuk kedua Kali saat aku menyadari bayangan itu ternyata sedang berjalan sempoyongan sambil memegangi pantatnya seolah sedang kesakitan.
"I..itu..Lara?"
Tanyaku bingung.
**********************************
Telingaku panas sekali mendengar tawa Drey Dan Daniel yang keras Dan tidak berhenti sejak tadi. Padahal aku sudah malu sekali. Kaki, tangan, keningku semuanya juga sakit semua akibat berlari Dan menabrak Drey tadi.
Yang kulihat di dapur tadi ternyata Lara. Dia sedang mencari sesuatu di dapur, karena tidak bisa menjangkaunya Naik ke atas kursi. Itu membuatku tidak bisa melihat kakinya menginjak lantai. Lagipula biasanya Lara mengikat rambutnya. Sehingga Aku tidak mengenalinya.
Saat aku merangkak mendekat ke meja, Lara mendengar suara grusuk-grusuk itu dan akhirnya memutuskan melihat Ada apa di bawah meja. Saat itulah Mata kami bertatapan. Kami sama-sama terkejut Dan berteriak. Sementara aku berlari keluar dapur, Lara jatuh dari kursi. Dan akhirnya aku menabrak Drey yang datang karena mendengarku memanggilnya.
__ADS_1
Sekarang ini, Drey Dan Daniel sedang menertawakan kami.
"Lagipula kenapa semua lampu dimatikan begini. Kan gelap!"
Protesku kesal. Tawa mereka otomatis berhenti. Lalu tidak Ada yang menjawabku malah mereka saling lempar pandangan. Termasuk Lara.
"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"
Tanyaku lagi. Wajah mereka mencurigakan sekali. Masih tidak Ada Yang menjawab. Mungkin karena belum sepenuhnya sembuh, aku jadi mudah sewot.
"Kalau begitu ya sudah"
Ujarku lalu berdiri hendak pergi ke kamar. Katakanlah bahwa aku sedang ngambek. Namun tangan Drey sudah lebih dulu menahanku.
Aku hanya bisa menatapnya sambil cemberut, sedangkan Drey hanya tersenyum. Kupikir Drey Akan mengalah. Nyatanya, justru aku yang kalah. Melihat senyuman Drey kekesalanku hilang.
"Ayo Kita makan malam dulu"
Aku Makin tidak bisa marah. Cara Drey memperhatikanku, aku menyukainya.
Mataku takjub melihat banyaknya makanan di meja. Dari yang makanan berat sampai dessert. Seakan Ada pesta di sini. Hanya melihatnya saja sudah mampu membuatku menelan ludah. Aku diet selama berminggu-minggu Dan di rumah sakit kemarin hanya mendapat bubur yang hambar. Tentu saja makanan di depanku ini sangat menggiurkan.
"Selamat atas kepulanganmu"
Ujar Drey, Daniel Dan Lara bebarengan. Wah...aku senang sekali. Aku bahkan langsung lupa dengan rencana mencurigakan mereka. Mungkin kejutan ini yang mereka persiapkan.
"Terima kasih, kalian masak semua ini untukku?"
Tanyaku terharu. Namun pertanyaan itu membuat pupus senyum mereka.
"Ya...kami rencananya memasak semua sendiri. Tapi karena skill kami belum terlalu baik. Kami membeli semuanya"
Jawab Drey sambil garuk-garuk kepala. Aku jadi tidak enak sudah merusak momen mengharukan ini.
"Kalau begitu ayo Kita makan. Ini Kelihatannya lezat sekali"
Ujarku mencoba memperbaiki suasana. Yah, yang penting adalah niat baik mereka.
Kami akhirnya makan. Aku yang sudah kelaparan lebih dulu melahap semuanya. Persetan dengan diet atau berat badan. Seperti kata Lara, aku harus menikmati hidupku sebisa mungkin.
Tak lupa, sebagai tanda terima kasihku aku memotret semua makanan itu. Lalu mengunggahnya ke sosial media. Aku memang belum bisa mengungkapkan secara langsung perasaanku pada Drey, namun aku yakin Drey bisa memahaminya lewat bahasa sosmedku.
Malam ini akhirnya Lara Dan Daniel menginap di sini. Aku masih merasakan efek ketakutan karena kejadian di dapur. Jadi aku meminta Lara tinggal untuk menemaniku. Tidak mungkin juga aku meminta Drey.
**********************************
Rasanya badanku nyeri dari atas sampai bawah. Padahal kemarin sudah baik-baik saja. Mungkin karena semalam berlarian dan menabrak Drey. Sakitku dari jatuh sebelumnya kambuh. Lagipula sebenarnya Drey itu manusia atau Batu. Keras sekali. Dua Kali aku menabraknya Dan aku langsung terpental.
Aku jadi Makin tidak ingin turun dari ranjang. Tidak kupedulikan panggilan siapapun yang sedari tadi terus ingin tahu apa yang kulakukan. Baru saja aku hendak menyembunyikan diri di balik selimut, terdengar suara ketukan pintu.
"Apa kau masih sakit?"
Drey sudah muncul berpakaian rapi. Sepertinya hendak pergi berlatih.
Sebenarnya aku baik-baik saja meskipun rasanya ngilu di Sana sini. Tetapi melihat binar khawatir di Mata Drey, mendadak membuatku ingin dimanja. Aku tidak menjawab Drey malah memasang wajah kesakitan.
"Bagian Mana yang sakit? Apa perlu ke rumah sakit lagi?"
Tanya Drey semakin cemas. Dia sudah memeriksa kening Dan tanganku. Untuk melihat bekas memar yang masih Ada samar-samar.
Kalau saja tidak Ada gengsi dalam diriku, pasti aku sudah meminta Drey memelukku. Tidak perlu pergi bekerja Hari ini. Cukup menemaniku. Tapi kalau seperti itu di Mana harga diriku.
"Tidak perlu, aku Akan beristirahat saja"
Jawabku dengan nada yang dibuat lesu. Di saat seperti ini, skill aktingku Akan mendadak Ada pada performa terbaiknya. Dan aktingku ini berbuah manis. Drey mendaratkan sebuah kecupan manis di keningku. Sukses membuatku melompat kegirangan dalam hati.
"Aku Akan pulang secepatnya Dan meminta Lara membuatkan kompres untukmu"
Setelah Drey keluar, langsung Kukeluarkan ponselku. Dengan cepat mengetik kata-kata manis untuk diunggah.
"My everyday's vitamin"
__ADS_1