
"Ada pesan untukmu"
Drey menunjuk ponselku yang tergeletak di nakas saat aku baru keluar dari kamar mandi. Akhirnya kuurungkan niatku mengeringkan rambut dan memeriksa ponsel lebih dulu.
Aku memandang kecewa pada ponselku saat melihat nama Daniel terpampang di sana. Ia sudah menerorku dengan mengirimkan jadwal pekerjaan yang harus kujalani begitu pulang. Dia memang mahluk Tuhan paling menyebalkan. Sengaja sekali mengirimkan ini di tengah liburanku dan merusaknya.
"Sedang melihat apa?"
Tanya Drey. Langsung kujawab dengan menunjukkan layar ponselku padanya. Di mana jadwal panjang yang ditulis susah payah oleh Daniel terpampang di sana.
"Wah... Kau sibuk sekali"
Aku hanya bisa manyun. Drey sama sekali tidak membantu menaikkan semangatku.
Drey lalu mengambil ponselku. Meletakkannya kembali ke nakas.
"Lupakan saja dulu tentang itu"
Ujar Drey. Dia menarikku untuk duduk di sofa. Berlari sebentar ke kamar mandi dan kembali dengan hair dryer di tangannya.
"Kali ini aku akan membantumu agar merasa lebih baik"
Dengan cekatan, Drey mengeringkan rambutku sambil menatanya. Membuatku menikmati rasanya dimanjakan. Aku menatap ke luar jendela. Langit malam ini terlihat indah. Drey benar, aku harus menikmati sisa liburanku ini. Meski hanya tinggal beberapa jam lagi.
Saat itu, gantian ponsel Drey yang berdering. Dia segera memeriksa pesan yang dikirimkan untuknya.
"Kenapa?"
Tanyaku saat melihat ekspresi bingung di wajah Drey.
"Archie mengundang kita makan malam dengannya"
Ada keengganan saat Drey mengatakan itu.
"Kau tidak ingin datang?"
Tanyaku.
"Bukan begitu sih. Sepertinya Archie mengajak sepupunya. Aku tidak terlalu nyaman dengan sepupunya"
Benar-benar baru pertama kali aku mendengar bahwa Drey ternyata mengenal sepupu Archie. Bukankah mereka baru berkenalan saat kami datang kemari? Namun bukan itu yang seharusnya kupikirkan.
"Kita seharusnya datang kan? Sudah mendapat liburan gratis, dan kita juga tidak hadir di pesta ulang tahunnya"
Aku mengingatkan Drey mengenai insiden sebelumnya. Lagipula tidak ada alasan menolak undangan itu. Kami tidak memiliki rencana juga malam ini. Dia sempat garuk-garuk kepala sebentar, lalu mengiyakan.
******
Twinkle twinkle little star,
How I wonder what you are
Rasanya aku ingin sekali menyanyikan lagu itu saat melihat langit malam ini. Langit sangat cerah tanpa awan, hingga bintang terlihat bertabur jelas sekali. Apalagi lantai teratas hotel ini dindingnya terbuat dari kaca membuatku bisa bebas melihat pemandangan itu.
Berkali-kali Drey sampai harus menarik lenganku, karena aku terbengong menatap langit.
"Kita sudah ditunggu"
Tak bosan Drey mengingatkanku. Padahal tadi dia yang enggan menghadiri makan malam ini.
Sky lounge, tempat kami makan malam ternyata lebih indah. Atapnya sepenuhnya terbuat dari kaca, sehingga memberikan suasana mirip seperti planetarium. Langit terlihat jelas ditambah dekorasi ruangan yang megah. Ku dengar, tidak sembarang orang bisa menyewa tempat ini.
"Silahkan"
Seorang pelayan telah menyambut kami dan memandu ke tempat yang telah disiapkan.
Benar kata Drey, kami telah ditunggu. Archie dan Lara telah duduk di sana. Lara yang tampil anggun dengan night dress yang memperlihatkan punggungnya. Sedangkan Archie seperti biasa, tampil dengan setelan jas rapinya. Kontras dengan penampilan santai kami. Mana ku tahu jika makan malam ini ternyata seformal ini.
Di samping Archie, duduk seorang wanita cantik dengan rambut brunette-nya yang berwarna coklat. Mungkin dia yang dimaksud Drey sebagai sepupu Archie, karena mereka memiliki kemiripan.
Tunggu? Sepupu Archie adalah wanita? Jangan bilang Drey merasa tak nyaman karena mereka pernah memiliki hubungan sebelumnya.
Pikiran jelek seperti itu tidak bisa kuhindari.
Namun bukan itu yang membuat aku dan Drey kompak berhenti sebelum mencapai meja. Melainkan kehadiran Richard yang ternyata juga sudah duduk di sana.
Tidak bisakah aku menikmati liburan yang tenang?
"Silahkan duduk"
Ucapan si pelayan yang sudah menarik kursi untuk kami memaksa aku dan Drey melangkah maju.
Aku bisa melihat keengganan di wajah Drey untuk duduk di sana. Kursi itu tepat di samping Richard. Aku pun tidak ingin duduk di samping pria bengis itu. Namun mempertimbangkan perasaan Drey, aku menempati kursi itu.
__ADS_1
Sambil menebalkan muka, aku menyapa Richard.
"Selamat malam, Sir"
Entah suaraku yang kurang keras atau memang dia tidak peduli, tak ada sambutan atas sapaanku. Richard bahkan sama sekali tidak melihat ke arahku. Seolah aku tidak ada. Malah Drey yang melotot padaku. Tidak suka dengan inisiatifku. Jadi akhirnya aku berpura-pura tidak terjadi apapun.
"Aku baru tahu jika ternyata Drey dan Lara adalah keluarga Charleville. Kebetulan kami ada urusan bisnis di sini, jadi aku menggunakan kesempatan ini untuk mempererat hubungan kita"
Tanpa ditanya, Archie sudah menyampaikan alasannya mengundang kami dalam satu meja. Sungguh alasan bagus yang terpaksa ku maklumi.
Richard berdeham pelan,
"Aku sangat menghargai niat baik Anda. Lain kali tidak perlu repot begini"
Sebuah jawaban kurang simpatik dari Richard keluar. Meskipun diucapkan dengan senyum di wajahnya, jelas sekali dia memiliki pikiran yang sama sepertiku dan Drey. Namun di saat yang sama membuat kami jadi merasa tak nyaman.
Saat itu, aku baru melihat wajah Lara. Ternyata ekspresinya tidak begitu baik, cenderung tegang malah. Dia pasti ikut merasa tidak nyaman.
Benar-benar ayah dengan kepribadian yang buruk.
"Drey, Luna, perkenalkan. Dia adalah sepupuku, Priscilla"
Archie mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan wanita di sampingnya. Kami berjabat tangan. Entah kenapa ada perasaan tak nyaman saat berkenalan dengan Priscilla. Padahal dia gadis yang ramah dan terlihat lembut. Sekilas aku sempat memperhatikan ekspresi Drey ketika berjabat tangan, masih ada keengganan di wajahnya.
Apa prasangkaku itu benar?
Meskipun begitu aku tidak bisa menunjukkan kegelisahanku. Jadi aku mencoba berbicara dengan nada bersahabat pada Priscilla.
"Senang bertemu denganmu, Priscilla"
Richard berdeham saat tepat setelah aku bicara.
"Lady Priscilla. Itu sebutan yang lebih sopan bagi seseorang yang masih memiliki darah bangsawan"
Apa Richard sedang menyindirku?
Namun aku lumayan gugup saat tahu telah bersikap tidak sopan.
"Maafkan ketidaksopanan saya, Lady Priscilla"
Ujarku kikuk. Aku sama sekali tidak tahu kalau wanita di depanku ini adalah orang penting.
"Tidak perlu bersikap seformal itu padaku. Teman Archie adalah temanku juga"
Kedatangan pelayan akhirnya memotong pembicaraan canggung di antara kami. Selagi Archie bicara dengan pelayan itu mengenai menu, Drey mendekat dan berbisik padaku.
"Ayo kita pergi dari sini"
Anaknya tanpa basa basi. Aku bisa melihat wajah Drey yang berlipat akibat emosi. Pasti karena ucapan Richard barusan.
Sejujurnya aku setuju dengan Drey. Menilik sifatku yang suka kabur dari masalah, tidak ada ruginya pergi dari sini. Namun, melihat Richard mengingatkanku pada ayah. Bagaimana perasaan ayahku jika putrinya pergi di tengah makan malam dengannya?
Aku meraih tangan Drey yang berada di bawah meja, menggenggamnya lalu menggelengkan kepala padanya. Drey melihatku heran. Ada ekspresi penuh tanya di wajahnya atas penolakanku. Namun karena khawatir didengar yang lain, aku memilih tidak menjelaskan.
"Apa kalian tidak keberatan dengan pilihan menu yang sudah kupersiapkan?"
Pertanyaan Archie kembali menyela kami. Drey akhirnya berdecih kesal meskipun memilih tetap berada di kursinya.
Tak lama, appetizer disajikan. Hidangan berbahan dasar tuna dan alpukat itu langsung mengalihkan perhatianku. Seketika aku lupa bahwa Richard sedang duduk di sampingku. Lupa juga dengan atmosfir tidak menyenangkan barusan.
Pilihan menu dari Archie memang tidak mengecewakan. Seafood adalah makanan favoritku. Apalagi yang menggunakan resep ala mediterania. Mataku langsung terpaku pada isi meja, apalagi begitu hidangan utama disajikan. Lagipula sebagian besar pembicaraan didominasi Archie dan Richard yang membicarakan bisnis.
Berbeda denganku yang menikmati makan malam ini, Drey hampir tidak menyentuh makanannya. Beberapa kali aku mencoba menawarinya makanan juga ditolak. Dia yang biasanya luwes berbincang saat bertemu teman, lebih banyak diam. Drey benar-benar seperti orang lain.
Kupikir sikap Drey bukanlah masalah besar. Selama tidak ada perselisihan di atas meja ini dan Archie sebagai penjamu tidak dibuat tersinggung. Kami bisa menikmati makan malam hingga selesai. Namun, aku harusnya tidak berpikir sesantai itu.
"Saya sangat terkesan dengan acara amal yang Anda lakukan di Liverpool baru-baru ini"
Kali ini Richard menjadikan Priscilla sebagai lawan bicaranya. Dari cara bicaranya, aku bisa menilai bahwa Richard pasti sangat menghormati Priscilla.
"Terima kasih, berkat bantuan Anda acara tersebut bisa berjalan dengan lancar"
Balas Priscilla.
"Saya merasa terhormat dengan pujian Anda"
Sesungguhnya, mendengarkan mereka bicara sangat membosankan. Kaku sekali.
"Saya masih harus banyak belajar, agar di masa depan tidak akan menjadi seorang mertua yang memalukan"
Aku bisa mendengar suara Lara tersedak tepat saat Richard selesai bicara. Dia sampai terburu-buru mengambil minuman. Bukan hanya itu, suara garpu dan pisau yang diletakkan ke meja cukup keras juga terdengar dari arah Drey. Aku menatap bingung mereka secara bergantian. Mendadak suasana hening, seolah ucapan Richard barusan adalah hal tabu untuk diucapkan.
Wajah semua orang kecuali Richard juga tiba-tiba saja berubah canggung.
__ADS_1
Apa hanya aku yang tidak menyadari sesuatu sedang terjadi?
Drey melemparkan serbet makan di tangannya dengan sedikit kasar. Lalu menarik tanganku, memaksa untuk berdiri.
"Terima kasih atas jamuannya, kami sangat menikmatinya. Sayang sekali kami harus melewatkan makanan penutup. Aku meminta maaf cukup dalam atas ketidaksopananku"
Drey mendadak pamit pada Archie. Lalu menarikku yang masih dalam keadaan bingung, pergi dari sana.
*****
"Drey, ada apa?"
Aku harus mengulang pertanyaan yang sama sepanjang jalan karena Drey tidak mengatakan apapun. Walaupun sudah mengacaukan jamuan makan malam barusan.
"Drey--"
"Bisakah kau diam?!"
Bentak Drey mengejutkanku. Dia tampak marah sekali. Jadi aku langsung bungkam. Padahal seharusnya aku yang marah di sini.
Sejak itu, Drey tidak bicara padaku lagi. Dia langsung naik ke ranjang, entah tidur atau tidak. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Meninggalkan aku yang masih bingung.
Aku tidak kehabisan akal. Jika Drey tidak mau bicara, aku akan mencari tahu dari orang lain. Jadi aku mengirim pesan pada Lara. Dengan jelas menanyakan tentang masalah barusan. Butuh waktu lama sampai Lara membalasnya. Mungkin karena menunggu makan malam berakhir.
Priscilla adalah wanita yang dijodohkan dengan Drey oleh Richard. Meskipun hanya kalimat singkat, cukup bagiku membayangkan sendiri semuanya. Karena itu Drey tidak nyaman dengan sepupu Archie itu, dan Richard memintaku putus dengan Drey. Jadi kesimpulannya, aku telah masuk dalam hidup Drey merusak rencana Richard itu.
Karena itukah Richard memukul Drey kemarin?
Dengan sifatnya, Drey pasti menolak perjodohan itu dengan cara provokatif. Memancing kemarahan Richard. Sebaliknya, malam ini Richard, entah sengaja atau tidak ingin membuat Drey marah. Menunjukkan Priscilla di hadapanku.
Aku tidak tahu harus bersedih atau tertawa geli dalam masalah ini. Kalau Richard sengaja memanasiku tadi, rencananya gagal total. Kepekaanku kurang sekali. Karena Richard juga masih memiliki Lucas sebagai anak, kupikir dia akan menjadi mertua bagi Priscilla lewat Lucas, bukan Drey. Jadi bukannya merasa tersinggung aku malah bingung tadi.
Namun aku masih tidak mengerti alasan Drey marah padaku juga.
Aku menghembuskan nafas besar saat menaruh ponselku.
Seperti sedang syuting telenovela saja. Rintangan yang klise.
Padahal sudah cukup melelahkan bagiku menghadapi wanita dari masa lalu Drey. Tak kusangka masih ada juga yang dari masa depan. Belum lagi, berbeda dengan semua mantan Drey yang kelihatan seperti gampangan, Priscilla berbeda. Dia sepertinya memiliki latar belakang terpandang dan sifat baik. Persis seperti yang digambarkan mengenai tokoh utama dalam sebuah cerita. Membuatku mirip seperti tokoh pendukung yang berusaha mendapat perhatian dari tokoh utama pria.
Aku mengenyahkan pikiran itu. Kalaupun menjadi pemeran pendukung, setidaknya aku harus menjadi pemeran pendukung yang sukses dan berakhir bahagia.
Aku mendekat ke arah ranjang. Mengamati Drey yang kini terbaring seperti balok kayu di balik selimut. Aku harus mencari cara mengajaknya bicara.
"Agh...!"
Teriakku seolah sedang kesakitan. Dalam sekejap, selimut Drey langsung terbuka. Dengan panik dia langsung mendekat padaku.
"Kenapa? Ada apa?"
Tanya Drey sambil memeriksa tangan dan tubuhku.
"Apa aku harus terluka dulu agar mendapat perhatianmu?"
Protesku. Drey akhirnya menatap mataku, pertama kali sejak dia begitu marah di acara makan malam tadi. Mungkin ia malu, dengan cepat memalingkan wajahnya lagi.
"Kau membuatku khawatir saja"
Drey hendak kembali menghindar, tetapi aku lebih dulu melingkarkan tanganku di lehernya. Memaksa Drey melihatku lagi.
"Aku tidak akan bisa menikmati liburan jika kau bersikap seperti ini padaku"
Ujarku jujur. Mengatakan itu sambil menatap matanya serius.
Bisa kurasakan lengan Drey akhirnya melingkari pingganggku. Menarik tubuhku lebih dekat. Menyatukan kening kami.
"Maafkan aku"
Ujar Drey.
"Maafkan juga sikap ayahku. Meskipun ayahmu bersikap begitu baik padaku, kau malah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan"
Aku mengangguk setelah Drey selesai bicara. Karena sepertinya Drey belum ingin membahas tentang Priscilla, aku tidak jadi menyuarakan keingintahuanku.
"Beri aku waktu meluluhkan hati ayahmu. Aku pasti akan membuatnya mengakuiku. Karena aku juga tidak ingin melepaskanmu"
Janjiku. Ini adalah jawaban dari janji Drey sebelumnya. Saat ia bilang tidak akan melepaskanku.
Kali ini Drey bisa tersenyum.
"That's my Sugar"
Ujarnya sebelum aku merasakan bibirnya telah meraih milikku. Rasanya seperti dia ingin memberi stempel atas janji itu.
__ADS_1
Rasanya aku merasakan hal yang berbeda malam ini. Rasa manis yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Mungkin janji yang kami buat telah membawa kami dalam tingkatan hubungan yang baru. Lebih dalam, dan lebih menakutkan. Layaknya menjelajah palung laut yang gelap tanpa tahu apa yang menunggu kami di kedalaman sana.