Sugar

Sugar
Brother


__ADS_3

Sesi pertama dari show baru saja berakhir. Namun suara penonton justru terdengar makin riuh. Semua sedang menantikan sesi selanjutnya dari show itu. Termasuk aku.


Aku tersihir oleh penampilan para model hari ini. Dari Gracey, Lara hingga Melina. Mereka tampil sangat baik dan berhasil membuat penonton terpesona. Aku bahkan sudah tidak memperhatikan Drey sejak acara dimulai. Tidak peduli dia merasa senang bisa menatap tubuh seksi wanita sepuasnya.


Sesi kedua akhirnya dimulai dan penyanyi berikutnya tampil membawakan lagu. Seperti sebelumnya, Gracey kembali muncul pertama kali. Namun kali ini dia melakukan sesuatu. Saat lewat di depanku, Gracey melakukan gestur "cium jauh" padaku. Awalnya kukira untuk Drey, ternyata dia jelas-jelas menatapku.


Spontan saja aku bingung walau masih tetap menampakkan wajah tersenyum. Kamera langsung menyorotku dan itu bisa jadi masalah jika aku tidak terlihat menanggapi Gracey. Namun sejujurnya aku masih terkesiap oleh tindakan Gracey itu.


Model lain bergantian keluar dan aku bisa melupakan tindakan tiba-tiba Gracey tadi. Malahan aku jadi terbiasa. Karena seperti sudah janjian, Lara, Melina dan seorang model lagi yang kuketahui termasuk dalam lingkaran pertemanan Gracey melakukan hal yang sama padaku. Mereka memastikan melakukan kontak mata padaku. Hingga orang di sebelahku yang kuketahui seorang kritikus di majalah fashion terkenal berkomentar.


"Kau sangat populer ya"


Membuatku tersipu sendiri.


*****


Drey merangkulku erat, seolah khawatir aku akan terpisah darinya dan tersesat. Meskipun kami lewat jalur yang khusus disediakan bagi tamu VIP, di sana masih dipenuhi tamu dan staff yang berlalu lalang. Jika kami lengah, bukan tidak mungkin kecemasan Drey akan terjadi.


Drey membawaku berjalan ke arah backstage. Lara sudah meminta ijin agar kami bisa masuk kesana. Karena dia ingin memenuhi keinginanku melihat salah satu tempat paling diimpikan oleh para model itu. Lagipula aku harus bertemu Gracey dan mengucapkan terima kasih padanya sudah diundang kemari.


Bagian belakang panggung jauh lebih sesak daripada di luar. Para model, penyanyi yang mengiringi acara, staff berbagai bidang, bahkan reporter dari beberapa media terkenal yang meliput. Semua campur aduk jadi satu. Suasana ini benar-benar seperti nostalgia bagiku. Saat jadi model, aku sering melihat pemandangan seperti ini. Walaupun tidak sebesar ini.


Tanpa perlu mencari, seseorang sudah membawaku pada Gracey dan teman-temannya. Menyeretku bergabung dengan mereka hingga aku terpisah dengan Drey. Tidak ada basa basi, aku dipaksa bergabung dalam acara berfoto mereka.


Aku mencoba menolak untuk masuk dalam sesi foto itu. Mereka mengambil foto berkali-kali dan membuatku lelah terus memasang senyum. Namun Gracey dan temannya tidak tinggal diam. Mereka mengunci tubuhku hingga aku tidak bisa lepas dari mereka. Alhasil, aku terpaku di tempatku seperti boneka.


Setelah puluhan kali merasakan lampu flash hingga mataku sakit, mereka akhirnya berhenti juga. Aku berpikir untuk segera lari dari mereka. Para wanita ini cukup brutal, menjadikanku seperti mainan.


"Gracey, terima kasih sudah mengundangku"


Ujarku segera menyampaikan tujuanku datang kemari.


"Sugar, lihat kesini"


Bukannya menanggapi ucapan terima kasihku, Gracey sudah memasang ponselnya dalam mode selfie. Sebenarnya wajahku sudah kaku untuk tersenyum, tetapi aku menurut saja. Sialnya, Gracey tidak berhenti hanya dengan satu foto. Dia mengambil foto kami berkali-kali. Yang kurang cantik, kurang jelas, ada saja alasannya.


"Gracey, aku harus segera pulang"


Protesku karena merasa Gracey tidak berniat untuk berhenti.


"Kenapa terburu-buru? Kau ikut bergabung dengan after party kami saja"


"Aku tidak mau"


Tolakku cepat. Aku masih sensitif dengan kata "pesta". Sepertinya Gracey pura-pura tidak mendengar dan masih mengarahkan ponselnya kepadaku.


"Kenapa kau mengambil banyak sekali foto? Bukankah itu sudah lebih dari cukup?"


Karena sudah tidak tahan aku mulai menghindari layar ponsel Gracey.


"Aku harus memasang foto yang bagus di media sosialku. Jangan lupa untuk memberi tanda suka dan komentar nanti"


Gracey akhirnya berhenti. Tangannya sudah sibuk memilih foto untuk diunggahnya.


"Kita tidak berteman. Aku bahkan tidak tahu nama akunmu"


"Tenang saja, aku akan menandai akunmu. Kau punya banyak penggemar kan? Itu pasti akan meningkatkan popularitasku"


Aku menatap tak percaya pada Gracey. Apa itu alasannya mengundangku kemari? Dia ingin menjalin imej berteman baik denganku agar bisa mendapat perhatian dari fansku. Sungguh artis yang pintar.


"Kau hanya ingin menjadikanku batu pijakan?"


Sindirku sebal.


"Ah... tentu saja aku benar-benar menganggapmu sebagai teman. Kita kan sama-sama bergabung di klub mantan wanitanya Drey"


Jawab Gracey sambil nyengir.


"Aku masih pacaran dengannya!"


Semburku sebal. Gracey hanya menanggapinya dengan tawa.

__ADS_1


"Hanya bercanda. Sebenarnya aku mengundangmu karena ingin bertemu seseorang"


"Siapa? Drey?"


Tanyaku curiga.


"Bukan. Kalau pertemuan ini berhasil, aku mungkin akan berhenti mengganggumu dan Drey"


Kali ini aku sedikit tertarik dengan kata-kata Gracey. Kalau wanita ini sukarela mundur mengusik Drey, tentu akan sangat menguntungkan bagiku. Saat ini dia ada di daftar teratas wanita paling mengancam dalam hubungan kami. Jadi aku langsung setuju.


Sambil membawaku ke tempat orang yang ingin ditemuinya, Gracey menjelaskan alasannya meminta bantuanku. Orang yang ingin ditemui Gracey ini rupanya memiliki posisi penting. Baru-baru ini perusahaannya telah membeli sebagian besar saham dari merk "V". Menjadikan sulit bagi Gracey mendekatinya. Dari ceritanya aku bisa mengendus aroma uang sebagai tujuan Gracey. Dia pasti tergiur dengan latar belakangnya.


Gracey pernah mendengar jika orang itu adalah fans ku. Sehingga Gracey ingin memanfaatkanku agar memiliki alasan untuk berkenalan dengannya. Sekarang aku sedikit khawatir dengan rencana Gracey. Sumber yang mengatakan bahwa orang itu merupakan penggemarku tidaklah jelas. Kalau itu salah, kami pasti akan malu.


Gracey menunjuk seorang pria yang sedang berbicara dengan beberapa staff. Dia memakai setelan jas lengkap dan terlihat mencolok karena tinggi badannya. Begitu melihatnya, aku langsung menahan Gracey agar berhenti.


Aku kenal betul siapa pria itu. Walau kami hanya bertemu sekali, dan aku sempat melupakannya.


"Kenapa?"


Tanya Gracey.


"Itu Lucas, saudara tiri Drey"


Jawabku sedikit tegang. Masih lekat di ingatanku bagaimana Drey bertengkar dengan pria itu sebelumnya.


"Kau mengenalnya? Cih, padahal Drey selalu menghindar kalau aku minta dikenalkan padanya"


Umpat Gracey kesal. Sejurus kemudian ekspresinya berubah.


"Kalau begitu semua menjadi mudah. Tolong kenalkan dia padaku"


Pinta Gracey. Aku langsung melotot.


"Aku mundur dari rencanamu"


Sergahku cepat. Sepertinya bukan ide yang bagus bagiku mendekati Lucas saat aku tahu hubungan mereka buruk. Aku tidak tahu seperti apa reaksi Drey nanti.


Kuabaikan suara Gracey yang merajuk. Aku hendak menariknya pergi saat kulihat dari kejauhan Drey menghampiri Lucas. Sepertinya firasat burukku tentang datang ke acara ini sudah menemukan jawabannya.


Butuh waktu untuk mengalihkan perhatian Gracey. Dia tidak berhenti memintaku mengenalkannya pada Lucas. Untungnya aku berhasil membuatnya terjebak dengan reporter yang sedang meliput. Sehingga aku langsung kabur.


Ada perasaan tidak enak saat melihat Drey bertemu Lucas tadi. Aku tahu Drey bukan orang bodoh yang akan lepas kendali di tempat seperti ini. Dia harus menjaga reputasinya apalagi di sekitar media. Namun tetap saja, rasanya dia memandang Lucas dengan tatapan mengancam.


Aku makin cemas saat tahu Drey dan Lucas tidak ada di tempat sebelumnya. Aku sudah mencoba bertanya pada beberapa orang, tetapi kebanyakan tidak melihat kemana mereka pergi.


Sebelum aku menemukan mereka, acara telah berakhir. Dari belakang panggung, semua tamu dan model sudah bersiap meninggalkan venue. Para staff juga mulai beberes.  Sehingga mau tak mau aku juga harus keluar. Aku menyerah dan berpikir untuk menunggu Drey di mobil.


Justru karena itu aku akhirnya menemukan mereka. Tentunya dalam situasi yang kurang baik seperti sebelumnya.


Aku hendak masuk ke dalam mobil saat teringat jika kunci ada pada Drey.  Akhirnya hanya bersandar pada badan mobil. Saat itu aku mendengar suara berisik hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri. Tepatnya di belakang mobil sebelah. Karena mobil berjenis van, aku tidak bisa melihat siapa yang ada di sana.


Karena terdengar seperti perdebatan sengit, aku mendekat dan mengintip. Tetap menyembunyikan tubuhku dengan berjongkok di samping mobil. Betapa terkejutnya aku saat melihat wajah Lucas. Di depannya kemungkinan adalah Drey. Aku menduga dari pakaian yang dipakainya karena pria itu membelakangiku.


"Apa kau ingin aku mewakilimu untuk bicara? Kalau aku, mungkin saja akan didengarkan"


Ejek Lucas.


"Aku tidak butuh kau mencampuri urusanku"


Jawab Drey sengit.


Rasanya keringat dingin sudah meluncur dari keningku. Aku bingung harus melakukan apa. Langsung muncul menengahi atau minta tolong pada seseorang. Namun dua-duanya terdengar beresiko.


"Lalu, kenapa kau harus memanggilku kemari?"


Tanya Lucas.


"Aku hanya ingin mengatakan padamu untuk berhenti bersikap seperti pria brengsek. Aku tidak peduli tentang masalahmu denganku, kau hanya tidak boleh bersikap seperti itu  pada keluargamu"


Lucas tertawa mendengar kata-kata Drey.

__ADS_1


"Ingin bertindak sok pahlawan, huh?"


"Lebih baik daripada menjadi seorang penjilat"


Tawa Lucas pupus. Wajahnya kelihatan merah padam. Dia menatap tajam pada Drey. 


"Aku sudah membuang yang tidak perlu. Kalau kau mau, kau bisa memungutnya"


Tanpa kusangka, Drey mendorong tubuh Lucas hingga menghantam mobil van di belakangnya. Drey pasti mendorong sekuat mungkin terdengar dari suara yang ditimbulkan. Drey langsung menekan bagian dada Lucas menggunakan lengannya. Sedangkan Lucas membela diri. Dia menarik kerah baju Drey untuk mendorongnya.


Sejujurnya tubuhku langsung lemas melihat pemandangan itu. Namun aku harus menghentikan mereka. Ini tempat parkir. Ada kemungkinan orang akan melihat mereka.


"D...Drey... hentikan Drey..."


Panggilku terbata. Susah payah aku mengeluarkan suara dari tenggorokanku. Aku tidak berekspektasi bahwa panggilanku yang menyedihkan itu akan berhasil menghentikan mereka. Untungnya Drey akhirnya melepaskan lengannya dari Lucas. Lalu mundur, sehingga Lucas bisa bangun dan pergumulan itu langsung selesai.


Tanganku berpegang pada pintu mobil menahan kakiku yang rasanya akan ambruk. Sementara di sana, aku bisa mendengar mereka mengumpat dengan kata-kata yang sama.


"Dasar sampah!"


Lucas merapikan jasnya lalu pergi dari tempat itu. Setelah itu, aku baru bisa melihat wajah Drey. Merah padam, dengan urat yang menonjol menandakan bahwa dia menahan amarah yang teramat besar. Ekspresinya saat itu sangat menyeramkan.


Drey sepertinya masih kesal, dia melepaskan pukulan pada bagian belakang mobilnya menimbulkan suara besar mengejutkanku. Jantungku berdetak lebih cepat daripada saat melihatnya berjibaku dengan Lucas tadi. Namun aku tidak bisa mengatakan apapun padanya.


*****


Cukup lama kami berdua hanya terdiam. Hingga tempat parkir itu hampir kosong. Mobil lain telah pergi satu persatu sejak tadi. Sementara kami berdua masih di sini, dalam keheningan.


Aku ingin segera mencari tahu tentang kejadian tadi, tetapi kupikir sebaiknya membiarkan Drey meredakan emosinya. Aku bisa melihat tangan Drey yang dipukulkan pada mobil masih merah. Mungkin amarah di hatinya juga masih membara.


Sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan Drey dan Lucas. Penyebab mereka bisa berselisih. Padahal Drey sangat akrab dengan Lucy dan Lara yang sama-sama keluarga tirinya. Namun aku tidak menemukan perasaan yang sama saat melihat Drey dan Lucas.


Tidakkah melelahkan harus bertengkar dengan keluarga sendiri?


Pikiran itu terbesit di benakku.


Aku juga memiliki seorang kakak perempuan dan kami hampir seumuran. Namun tidak pernah berkelahi. Mungkin saja karena sejak kecil terbiasa hidup terpisah. Kakakku sempat diasuh nenek saat ekonomi keluarga sedang tidak baik. Lalu aku sendiri harus pergi merantau sejak remaja. Kami tidak cukup dekat untuk bertengkar seperti itu.


Suara mesin dinyalakan membuyarkan lamunanku. Drey tampaknya sudah tenang. Dia bersiap melajukan mobil meninggalkan tempat ini.


"Apa aku harus mengatakan sesuatu padanya?"


Batinku. Karena Drey tetap tidak bicara dan mengemudikan mobil dalam diam.


"Untuk pertama kalinya dia membiarkan seseorang memangkas jarak dengannya..."


Aku teringat ucapan Lucy beberapa waktu yang lalu tentang Drey. Dia mengatakan seolah aku telah berhasil memasuki kehidupan Drey. Nyatanya tidak. Drey masih menutup dirinya dariku. Dia masih tidak ingin aku melihat seluruh masalahnya.


Bukannya aku ingin mencampuri urusan Drey, tetapi tidak mengetahui apapun mengenai dirinya sedikit membuatku mempertanyakan arti diriku bagi Drey.


"Aku tidak pernah akur dengan Lucas. Dari dulu aku sangat tidak menyukainya"


Aku dibuat terkejut karena Drey tiba-tiba saja bicara.


"Ke..kenapa?"


"Dia memperlakukan Lucy dengan buruk. Terutama pada bagian lebih mementingkan ayah tirinya daripada ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya"


Rasanya aku masih belum sepenuhnya percaya bahwa Drey akhirnya mengatakan sesuatu mengenai Lucas.


"Baik ayahku maupun pria itu sama saja. Mereka meninggalkan Lucy setelah dia tidak mampu berdiri lagi. Sebagai anak, Lucas lebih sibuk menyenangkan hati ayah daripada memperhatikan ibunya"


Aku bisa merasakan suaranya yang mengandung rasa geram. Drey mengeratkan genggamannya pada setir. Awalnya aku mengira dia pasti sangat membenci Lucas, tetapi saat melihat matanya, bukan itu yang kulihat.


Mata Drey hanya mengisyaratkan rasa kecewa. Mungkin sebenarnya Drey juga tidak menginginkan pertengkaran dengan Lucas. Sebaliknya justru berharap mereka bisa saling memahami. Seperti halnya Lucy dan Lara.


"Dulu Drey menghalangiku menikah dengan ayahnya. Namun sekarang dia bahkan bersikap lebih baik dari anakku sendiri"


Lagi-lagi aku mengingat ucapan Lucy lainnya. Menyadarkanku bahwa hubungan keluarga mereka ternyata lebih rumit dari yang kubayangkan. Ini tidak lagi sekedar urusan rasa benci atau sayang. Dan aku bersyukur telah menahan diri untuk tidak ikut campur. Aku masih harus mendengar lebih banyak.


"Pertama, kau mungkin harus berhenti berbicara dengannya menggunakan kekerasan. Tidak ada kata darimu yang akan tersampaikan dengan Cara itu"

__ADS_1


Ujarku sambil mengusap lembut bahu Drey. Hanya itu nasehat yang bisa kuberikan padanya saat ini.


Bisa kurasakan ketegangan di tubuh Drey memudar. Otot di bahunya mulai mengendur. Dia sudah bisa tersenyum walau kecil.


__ADS_2