Sugar

Sugar
Shocking Impression


__ADS_3

Aku menatap tak simpatik pada wanita di depanku. Entah jatuh dari langit atau keluar dari lubang, dia bisa muncul di depanku. Tepatnya di sela pekerjaanku.


"Foto denganmu yang kuungah kemarin mendapat tanda suka terbanyak dibandingkan fotoku yang lain. Ini rekor. Sepertinya aku harus sering-sering berfoto denganmu"


Mata Gracey berbinar menatap layar ponselnya. Bahkan tanpa perlu ia mengatakannya aku sudah tahu. Dia benar-benar berpijak padaku dengan baik. Tidak hanya respon pengguna media sosial saja yang tinggi. Bahkan sampai ada artikel yang keluar memberitakan itu.


Mantan pacar dan pacar saat ini berteman baik. Menurut mereka sungguh fenomena aneh.


"Kau datang kemari hanya untuk menunjukkan itu?"


Tanyaku mengabaikan ucapan Gracey sebelumnya.


"Tentu saja tidak. Aku ingin bertanya kapan kau akan mengenalkanku pada Lucas"


Jawab Gracey tanpa basa basi. Kejujurannya itu memang menyeramkan. Menusuk hatiku dengan cepat. Harusnya dia bilang kalau ingin bertemu denganku sebagai teman, meskipun bohong bisa menyenangkan hatiku.


"Aku sudah bilang tidak ingin ikut campur dalam masalah itu"


Tegasku. Aku masih bergidik ngeri jika mengingat pertengkaran Drey dan Lucas.


"Kenapa? Kau sudah kenal dengannya kan?"


Aku mendengus kesal. Gracey cukup keras kepala juga. Namun aku sendiri tidak bisa menjelaskan alasan penolakanku.


"Minta tolong pada Lara saja. Dia adiknya kan?"


Jawabku memberi solusi lain yang lebih masuk akal.


"Aku sudah pernah meminta padanya, tetapi Lara selalu bilang tidak ingin punya calon kakak ipar sepertiku"


Aku hampir tertawa mendengar pengakuan Gracey. Cerdas sekali jawaban Lara, atau bisa dibilang sangat jujur. Aku mungkin akan mengatakan hal yang sama. Gracey memang wanita yang memesona, tetapi setiap melihatnya yang terbayang adalah rubah licik.


"Lagipula, kenapa kau begitu ingin mendekati Lucas? Dia masih keluarga Drey. Kau mengincarnya meskipun pernah berhubungan dengan Drey"


Sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, namun tidak ada salahnya memperjelas maksud Gracey.


"Yah, kuakui tidak ada pria yang lebih baik daripada Drey. Hanya saja percuma aku mengejarnya kalau di matanya hanya ada kau. Jadi lebih baik aku mengincar seseorang yang hampir sepadan dengannya. Lagipula Lucas punya masa depan menjanjikan"


Jawaban persis dengan yang kubayangkan. Kecuali pernyataan bahwa Gracey masih tertarik pada Drey.


"Aku mendengar rumor tentang Lucas. Dia punya peluang besar mewarisi kekayaan keluarga Charleville"


Tambah Gracey sedikit berbisik.


"Charleville? Maksudmu dari ayah Drey?"


Tanyaku terheran.


"Kau tidak tahu ya? Perusahaan yang berinvestasi pada merk 'V' adalah milik ayah Drey. Lucas hanya menjalankannya"


Lama-lama Gracey ini mirip Daniel. Isi pembicaraannya selalu mengenai rumor yang entah didengar dari siapa. Namun sejujurnya aku cukup terkejut dengan fakta itu. Bukankah artinya Lucas dekat dengan ayah Drey? Lalu kenapa Drey yang anak kandung malah bisa tidak akur?


"Jangan tergoda untuk mendekati Lucas juga meskipun dia berpotensi akan menjadi lebih kaya daripada Drey"


Ancam Gracey yang sepertinya salah paham melihatku memikirkan sesuatu.


"Aku bukan wanita sepertimu"


Jawabku sengit. Aku tidak terima dianggap seperti itu padahal tidak pernah mempertimbangkan faktor kekayaan saat memacari Drey.


*****


Aku mengalungkan lenganku pada Drey, lalu menyandarkan keningku di tengkuknya. Tinggiku tidak sampai untuk menggapai ceruk lehernya. Memang tak nyaman sekali memeluk punggung Drey yang keras, tetapi aku menyukai sensasi itu. Meskipun aku memberikan seluruh berat di badanku padanya, dia tidak bergeming sama sekali.


Drey segera meletakkan gelas di tangannya.


"Mau minta gendong?"


Tanyanya seperti biasa dengan candaan vulgar. Namun kali ini aku tidak memiliki cukup tenaga untuk menanggapinya. Semalam aku begadang di lokasi syuting dan sejak pulang ke rumah Daniel terus menggangguku dengan telfonnya. Jadi saat ini aku hanya sedang ingin bersandar pada Drey yang baru pulang dari latihan.


Aku hampir terhuyung saat Drey tiba-tiba membalikkan badannya. Dia menatapku dengan kening berkerut. Lalu meletakkan telapak tangannya di dahiku.


"Kau demam?"


Tanyanya. Aku hanya mengangguk.


"Suhu badanku langsung naik setelah begadang"


Walaupun aku menjawab dengan santai, tetapi Drey tidak menanggapinya sama. Dia segera mengangangkatku untuk dibawa ke kamar.


"Apa perlu ke dokter? Mungkin kau akan diberi vitamin"


Tanya Drey yang langsung kutolak. Karena sudah sering mengalami hal seperti ini, aku tidak berpikir bahwa ini adalah keadaan darurat. Suhu badanku akan turun dengan sendirinya. Lagipula aku tidak merasa pusing.


Drey mengalah dan menidurkanku di ranjang. Dia segera menutupi tubuhku dengan selimut. Lalu memeriksa suhu penghangat ruangan. Meski musim dingin sudah berakhir, udara belum terasa begitu hangat.

__ADS_1


Drey tidak beranjak dari kamar. Dia justru duduk di tempat kerjaku dan menyalakan komputer. Drey pasti tahu jika aku sedang ingin ditemani. Sehingga akhirnya aku bisa memejamkan mataku.


Baru saja aku hendak jatuh terlelap, suara notifikasi pesan di ponsel memaksaku bangun. Sebenarnya ingin mengabaikannya saja, tetapi akhirnya kuambil juga ponsel itu. Ada pesan masuk dari kakakku.


Lupakan kantuk, lelah atau demam. Mataku langsung terbuka lebar setelah membaca isi pesan itu. Badanku yang tadinya lemas langsung kembali bertenaga hingga bisa bangun.


Setengah berlari aku mendekati Drey yang sedang asyik mendengarkan musik dengan headphone hingga tidak menyadari aku telah bangun.


"Apa kau merasa sakit?"


Tanya Drey panik. Mungkin saja karena melihat wajahku yang sudah pucat.


"Drey, orang tuaku akan datang kemari"


Jawabku sambil gemetar. Namun Drey malah menanggapinya santai.


"Kupikir ada masalah apa. Bukankah itu kabar baik? Kau bilang merindukan mereka"


Aku segera mengapit wajah Drey dengan telapak tanganku agar dia melihat wajahku dengan jelas.


"Jika orang tuaku tahu rumah kita terhubung atau salah paham bahwa kita tinggal bersama, maka tamatlah riwayat kita. Bisa-bisa ayahku menggantung kita berdua"


Ujarku dengan nada penuh penekanan. Berusaha menunjukkan padanya bahwa tidak ada candaan. Aku sedang sangat serius.


"Kk..kapan orang tuamu akan datang?"


Tanya Drey yang akhirnya memahami isi pikiranku.


Aku berpikir sejenak menghitung waktu terbang orang tuaku kemari.


"Nanti malam. Aku harus menjemput mereka ke bandara"


"Bukankah itu terlalu cepat?"


"Kakakku lupa memberitahuku. Dia hampir saja berpikir menjadikan ini kejutan"


Jawabku. Kami berdua langsung sama-sama mengeluarkan ekspresi ngeri. Tidak akan bisa kubayangkan jika tiba-tiba saja orang tuaku sudah di depan rumah saat aku sedang berduaan dengan Drey. Apalagi Drey mungkin melakukan kesalahan seperti saat Casey berkunjung kemari.


Mungkin kepanikan kami terdengar berlebihan. Orang tuaku juga nampak sangat kolot. Namun itu bukanlah sebuah kekhawatiran tak berdasar. Walaupun konservatif, orang tuaku juga paham bahwa aku telah dewasa. Menjalin hubungan dengan pria adalah hal yang sulit dihindari. Bahkan selama aku bersama Casey, tidak sedikitpun mereka menyuarakan protes.


Berbeda halnya dengan tindakan yang dilakukan dalam hubungan itu. Ayahku terlalu keras untuk menolerir skinship. Mungkin karena aku anak perempuan, mungkin juga karena itu tindakan yang menyimpang dari moral dalam pandangan mereka. Entahlah. Yang jelas, Casey sampai tidak berani hanya sekedar memegang tanganku di depan mereka. Apalagi Drey yang sampai saat ini belum kukenalkan pada mereka. 


"Baiklah, apa rencanamu?"


Tanya Drey.


Drey terlalu banyak menghabiskan waktu di sini, jadi membutuhkan banyak waktu untuk membereskan barangnya. Dari dapur hingga ruang tamu, barangnya tercecer di mana-mana. Namun tidak berhenti sampai di situ.


Yang jadi masalah besar adalah pintu yang menghubungkan antara rumahku dan Drey. Orang tuaku pasti curiga jika melihatnya. Akhirnya kami memutuskan untuk menutupnya. Ada sisa wallpaper dari ruang tengah yang bisa digunakan. Langsung ditempel seadanya di sana. Walaupun terlihat aneh dan tak karuan bentuknya. Asal bisa menutupi pintu itu.


Kami baru selesai mengerjakan semua saat aku sudah harus pergi menjemput ke bandara. Awalnya aku ingin pergi sendiri. Namun Drey tidak mengijinkannya. Dia khawatir jika aku yang menyetir sendirian. Jadi dia pergi menemaniku sebagai supir.


"Seperti apa orang tuamu? Apa yang tidak bolek kulakukan agar tidak meninggalkan kesan buruk pada mereka?"


Aku bisa merasakan kegugupan dari pertanyaan Drey. Ini akan jadi pertemuan pertama mereka. Tentu saja ada banyak hal yang dikhawatirkannya.


"Di negara asalku, kami sangat menghargai sopan santun, terutama pada orang yang lebih tua. Sangat tidak biasa bagi yang muda berbicara dengan cara yang santai. Mungkin itu yang perlu kau lakukan saat berhadapan dengan mereka"


Jawabku. Sejujurnya aku sendiri meragukan hal itu.


Berdasarkan pengalaman saat mengenalkan Casey, aku tidak tahu kriteria suka dan tidak suka orang tuaku. Casey pria yang baik dan sopan. Dia bahkan bicara dengan nada yang lembut. Namun orang tuaku tidak menunjukkan ketertarikan. Orang tuaku bersikap asing padanya. Bahkan tidak pernah sekalipun ada pertanyaan mengenai Casey dari orang tuaku.


Aku melirik Drey. Rasanya pria ini jauh lebih mengkhawtirkan kondisinya ketimbang Casey. Badannya besar mengintimidasi, dan sikapnya yang kelewat santai itu jauh dari kata idaman bagi calon mertua.


Belum lagi reputasi Drey. Mustahil orang tuaku tidak tahu sepak terjang Drey dalam bergonta ganti pasangan. Orang tuaku bukan manusia purba yang tidak mengikuti perkembangan berita. Bagaimana kalau hal itu dipermasalahkan? Memikirkannya saja rasanya ada keringat dingin menetes di dahiku.


Aku hanya bisa berdoa, semoga orang tuaku tidak tiba-tiba menyuruh kami putus.


******


"Ini Drey"


Aku sudah mencoba membuat suaraku terdengar percaya diri, walau kakiku sudah gemetar saking cemasnya. Sebisa mungkin aku mencoba mengenalkan Drey dengan tatapan bangga pada orang tuaku.


Namun orang tuaku hanya diam. Mereka menatap Drey, mungkin karena heran. Ayahku terutama. Sejak melihat Drey, keningnya terlipat. Dia menatap Drey dari atas sampai bawah. Meneliti semuanya.


Aku menelan ludah.


Apa mereka membencinya?


Pikiran terburukku itu datang. Saat ini aku tidak berharap lebih. Asal orang tuaku tidak menampakkan sikap buruk pada Drey, aku sudah bersyukur. Aku takut itu akan melukai harga diri Drey.


Ayahku melepaskan koper di tangannya dan mendekat pada Drey. Aku segera ambil ancang-ancang. Jika sampai ayahku menarik kerah Drey atau memukulnya, aku akan langsung menghadang.


Kuperhatikan seksama tangan ayahku yang mulai melakukan gerakan ditujukan pada Drey. Seiring jantungku yang berdetak kencang, aku siap melepaskan teriakan.

__ADS_1


"Boleh aku bersalaman denganmu?"


"Huh?"


Ayahku ternyata mengulurkan tangannya berharap akan diraih oleh Drey.


Apa maksudnya ini?


"**... tentu saja"


Drey sedikit gelagapan. Sama sepertiku dia sama sekali tidak menyangka tindakan ayahku. Namun Drey segera mengulurkan tangannya juga.


Senyum lebar dan ekspresi sumringah langsung keluar dari wajah ayahku begitu berhasil menggenggam tangan Drey. Ekspresi yang tidak pernah ditunjukkannya pada Casey.


"Aku adalah penggemarmu, sudah lama ingin melihatmu secara langsung. Beruntung sekali bisa bertemu denganmu di sini"


Celoteh ayahku ramah.


Sepertinya kekhawatiranku tidak ada artinya.


Ayahku rupanya benar-benar penggemar Drey. Sepanjang perjalanan pulang tidak henti mereka bicara. Kebanyakan ayahku mengungkapkan kesannya terhadap permainan Drey, yang menurutnya tanpa cela. Aku tahu ayahku menyukai sepak bola, tetapi siapa yang menyangka, dia begitu mengidolakan Drey.


Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari jok belakang. Rasanya lega sekali. Tidak perlu melakukan apapun, ayahku bisa berhubungan baik dengan Drey. Sedangkan ibuku, walau tidak sesemangat ayahku saat melihat Drey, juga bersikap ramah padanya. Ibuku terus memuji Drey tampan hingga jatuh tertidur akibat kelelahan.


Sudah larut malam saat kami sampai di rumah. Ayah dan Drey masih sibuk berbagi cerita mengenai sepak bola. Sedangkan aku dan ibu bekerja di dapur. Kebiasaan kami adalah memasak mie instan dari produk yang terkenal di Indonesia saat orang tuaku berkunjung. Katanya sebagai obat jetlag. Entah apa hubungannya.


"Apa Drey tidak terganggu dengan ayahmu? Kalau tidak dihentikan, bisa bicara sampai besok pagi"


Tanya ibu saat mengintip ayah dan Drey di meja makan.


"Tidak apa-apa, biarkan saja dulu"


Jawabku. Aku sudah melihat ekspresi Drey saat bicara dengan ayahku. Dia kelihatan senang sekali. Mungkin dia juga menikmati obrolan itu.


"Kalau kalian mengatakan padaku akan kemari lebih awal, aku pasti akan menyiapkan sesuatu"


Ujarku saat melihat ibuku yang sudah berganti acara memeriksa kulkas. Aku belum belanja jadi di sana kosong.


"Kami juga tidak merencanakan perjalan ini. Tiketnya baru terbeli seminggu yang lalu. Kupikir lebih baik menyampaikan kabar secara langsung padamu"


"Kabar apa"


"Kakakmu sedang berpacaran dengan seseorang, dan pria itu akan segera datang dengan keluarganya untuk melamar"


"Huh? Siapa? Kapan?"


Tanganku yang sedang mengaduk mie otomatis berhenti. Mendengar kabar bahwa kakakku memiliki kekasih saja sudah mengejutkan, apalagi sampai dilamar.


"Mereka bertemu karena pekerjaan. Ayahmu sudah memberikan persetujuan setelah bertemu. Mungkin bulan depan keluarganya akan datang"


"Apa sudah dipastikan tanggalnya? Aku akan meminta Daniel mengosongkan jadwalku"


"Tidak perlu"


"Apa kalian tidak berharap aku datang?"


Tanyaku kecewa. Ibuku langsung melihatku dengan tersenyum.


"Kata kakakmu, kejutannya harus diberikan belakangan"


Aku langsung tertawa kecil mendengar jawaban ibuku. Paham maksud kakakku.


"Kau juga harus segera membicarakannya dengan Drey, kapan kalian akan menikah"


"Aww..."


Aku sampai tidak sengaja memegang bagian panci yang panas saking terkejutnya.


"Ada apa?"


Tanya Drey yang mendengar jeritanku.


"Tidak apa-apa. Hanya terpeleset sedikit"


Jawabku canggung. Setelah mendengar kata menikah dari ibuku, rasanya jadi merasa malu.


Ibuku yang melihat itu cekikikan sendiri.


Pembicaraan antara ibu dan aku terhenti setelah mie matang dan siap dihidangkan. Kami akhirnya makan bersama. Sebelumnya Drey sudah pernah mencoba mie instan ini denganku, jadi tidak terlalu terkejut akan rasanya.


"Dari tadi aku sudah ingin menanyakan ini. Tapi apa itu yang dipasang di sana? Kelihatan jelek dan mengganggu sekali"


Tanya ayahku di sela makan. Dia menunjuk wallpaper yang kupasang menutupi pintu. Aku langsung bungkam karena gugup. Lupa belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.


"Ada kesalahan saat proses pembangunan dan belum sempat diperbaiki. Jadi hanya ditutup seperti itu untuk sementara"

__ADS_1


Untung saja Drey dengan cepat memikirkan alasan, yang sudah jelas bohong. Setidaknya ayahku mempercayai itu dan tidak bertanya lebih jauh.


Aku dan Drey saling berpandangan lega.


__ADS_2