
Aku memandang Tak puas fotoku di layar monitor. Seperti ada yang kurang dengan ekspresi Dan gayaku.
"Bisakah Kita mengulanginya? aku tidak terlihat terlalu bagus"
Pintaku pada fotografer yang ikut memonitor di sampingku. Isyarat "oke" langsung diberikannya.
Aku kembali ke set pemotretan. Mencoba mengulangi Gaya sebelumnya. Namun dengan ekspresi yang sedikit berbeda. Suara "shutter" kamera Dan cahaya blitz langsung kembali menghidupkan studio. Ditemani dengan suara arahan dari fotografer.
Pemotretan Hari ini Akan menempatkanku dalam bagian cover majalah fashion terkenal. Dan juga tampil di rubrik khusus. Menggunakan konsep "girl crush" favoritku. Sehingga aku ingin memberikan yang terbaik. Mungkin itu tidak sepenuhnya benar. Aku ingin menunjukkan pada Drey bahwa aku juga bisa menjadi gadis yang menawan.
Biasanya aku menyerahkan seluruh hasil pada fotografer Dan Tim redaksi. Aku terlalu malas ikut campur menilai hasil pemotretan. Karena semakin sedikit komplain, biasanya pemotretan juga berakhir lebih cepat. Tetapi Kali ini aku ikut memonitor. Aktif memberikan Saran Dan minta pengambilan ulang gambar. Pokoknya aku ingin yang sempurna. Demi mendengar pujian Drey.
"Kau ini sebenarnya kerasukan apa? Semangat sekali Hari ini"
Bisik Daniel saat aku hendak mengganti kostum. Terlihat sekali dia memasang tampang heran.
Saat aku memberi penjelasan mengenai masalah kualitas hasil pemotretan, dia hanya memasang wajah tidak percaya. Sebegitu tidak percayanya Daniel dengan tingkahku. Padahal aku sedang serius bekerja.
Aku mengabaikan Daniel. Sepanjang pemotretan, masih melakukan Hal yang sama. Mengambil gambar, memonitor, mendiskusikannya, mengambil gambar lagi. Terus saja begitu. Aku tidak tahu jika bekerja begitu serius cukup menyenangkan buatku.
Setelah berjam-jam di pekerjaan di studio, aku melakukan monitoring terakhir. Melihat dari awal semua fotoku. Semua bisa membuatku puas. Seperti Ada diriku yang sempurna di foto-foto itu.
Dan yang Paling membanggakan adalah, untuk pertama Kali aku mendapat pujian atas keterlibatanku memberi masukan selama pemotretan. Berbeda dari pujian yang biasa kudengar dari fotografer lain, Kali ini aku mendapat apresiasi. Mereka menunjukkan Rasa terima kasih yang besar.
Aku bisa bernafas lega melangkah keluar dari studio. Segelas milkshake dingin sudah menungguku sebagai hadiah atas kerja kerasku Hari ini. Setelah ini aku tinggal pergi menonton pertandingan Drey.
"Jam berapa ini?"
Tanyaku pada Daniel. Aku ingin memastikan apakah aku punya waktu untuk tidur sebentar di Mobil sebelum pergi ke stadion.
"Setengah empat"
Aku langsung tersedak mendengar jawaban Daniel. Aku terbawa suasana tadi. Tidak sadar jika sudah berada di dalam studio selama hampir empat jam. Pertandingan Drey dimulai pukul empat. Sementara jarak tempuh dari Sini ke stadion adalah satu jam Tanpa macet. Artinya aku pasti Akan terlambat.
Aku segera mengajak Daniel bergegas pergi. Usahaku untuk tampil baik di pemotretan ini tidak Akan Ada artinya jika aku melewatkan pertandingannya.
**********************************
Wajahku sudah pucat melihat antrian kendaraan di jalan. Karena pertandingan Tim nasional, banyak orang memiliki tujuan yang sama sepertiku menuju stadion. Menyebabkan kemacetan panjang.
Aku teringat pertanyaan Drey tentang kesediaanku hadir di pertandingan ini. Meski tidak memaksa, aku bisa membaca bahwa dia mengharapkan kedatanganku. Karena itu juga dia menitipkan Dua tiket pada Daniel. Aku bahkan sudah meluangkan jadwalku untuk ini, bodohnya malah terjebak dalam situasi ini.
"Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi?"
Tanyaku sedikit gelisah. Melihat jam sudah lewat dari pukul empat Dan kami masih cukup jauh dari lokasi stadion.
"Aku bukan Dominic Toretto"
kelakar Daniel, menyebut salah satu karakter dalam film tentang balap Mobil.
Aku tahu, mengomel pada Daniel tidak Akan membuat kami sampai lebih cepat. Tetapi Aku tidak bisa mengendalikan Rasa panikku. Saat terpikir bahwa kami mungkin sampai saat pertandingan telah berakhir.
Seperti menebak perasaanku, Daniel menyalakan radio. Lalu mencari channel yang menyiarkan pertandingan itu. Untungnya karena Tim USA yang sedang turun ke lapangan, Ada siaran pertandingan itu berlangsung.
Pertandingan telah memasuki menit ke 5. Setidaknya membuatku benar-benar kecewa karena ketinggalan. Sisi baiknya, aku tetap bisa memonitor pertandingan.
Aku bukan penggemar sepak bola. Masih merupakan penonton awam. Aku tidak paham segala istilah yang dipakai untuk menjelaskan situasi disana. Sehingga mendengarkan pertandingan ini sebenarnya membuatku bingung. Berbeda dengan saat melihat langsung. Satu-satunya yang kupahami hanyalah saat nama Drey disebut. Dan kehebohan Daniel yang merupakan fans berat sepak bola.
"Ah...sayang sekali... Itu Drey hampir saja membuat gol"
Daniel membantuku memahami situasi. Akhirnya dengan penjelasan dari Daniel, aku bisa ikut menikmati pertandingan.
Setelah perjuangan luar biasa melawan kemacetan, kami akhirnya tiba di stadion. Pertandingan sudah sisa 20 menit saat akhirnya kami duduk bersama para penonton lainnya.
Mataku secara otomatis memindai lapangan mencari Drey. Tidak sulit menemukannya. Sudah kubilang bahwa dia adalah bintang di lapangan. Drey punya pesona yang bisa membuat Mata semua orang terpaku padanya.
__ADS_1
Sebenarnya sudah berapa lama aku tidak melihat Drey? Dua Hari. Hanya Dua Hari. Dan aku tidak tahu kenapa aku bisa merasa begitu senang bisa melihatnya lagi. Bukan Drey yang senang mempermainkanku. Tetapi Drey yang menawan. Melihatnya berlari di lapangan, mengeluarkan segala kemampuannya. Aku tidak bisa sedikitpun mengalihkan pandangan darinya.
Aku tidak suka sepak bola. Namun aku suka melihat Drey bermain di lapangan Sana. Aku betah menontonnya.
"Drey Charleville ternyata pemain yang cukup bagus ya? Dia bisa menghindari offset Dan tendangan bebasnya juga berbahaya"
Aku Tak sengaja mendengar suara orang yang duduk di belakangku membicarakan Drey.
"Dia tampan Dan seksi juga. Benar-benar tipeku"
Sahut orang di sebelahnya. Setelah itu orang di depanku, sampingku, entah berapa banyak lagi orang yang menyebut nama Drey. Kebanyakan memuji dia. Jika pria, memuji kemampuannya. Jika wanita memuji ketampanannya.
Karena saat ini aku mengenakan kaca Mata besar, topi Dan masker, orang tidak mengenaliku. Karena itu mereka bisa membicarakan Drey dengan bebas.
Mendengar berbagi pujian dilontarkan pada Drey entah kenapa memberiku rasa bangga. Pria yang sedang mereka bicarakan Dan kagumi itu adalah kekasihku. Jika saja aku sedang tidak menyamar seperti ini, mungkin aku Akan menunjukkan senyum yang sekarang muncul di bibirku ini.
"Apa kau tahu jika dia punya kekasih baru?"
Para wanita yang bicara di belakangku kembali mendapat topik baru. Membuatku heran, mereka kemari menonton sepak bola atau sedang mencari bahan gosip.
Kali ini aku menajamkan telingaku. Namaku ikut disebut Dan membuatku penasaran bagaimana tanggapan mereka tentangku.
"Yeah, sayang sekali. Dia bisa menemukan yang lebih baik. Aku berani taruhan, mereka tidak Akan bertahan sampai satu bulan ke depan"
Ujar salah satu dari mereka sebelum tertawa. Kata-kata itu benar-benar tepat menghunus hatiku. Bahkan Daniel di sampingku ikut cekikikan mendengarnya.
Rasa bangga tadi mendadak menjadi rasa jengkel luar biasa. Karena mereka masih terus membicarakan aku. Menganggap bahwa aku tidak pantas bersanding dengan Drey. Walaupun hanya pendapat, tetapi itu keterlaluan. Menyebutku merayu Drey. Menggodanya sampai memantrai Drey agar mau berkencan denganku. Harusnya mereka tahu bagaimana aku bisa berakhir dengan Drey.
Kalau saja aku tidak sedang menyamar, mungkin aku sudah memaki mereka. Bahkan menjambak rambut mereka.
Buntut dari semua itu, aku menahan marah sepanjang sisa pertandingan. Aku bahkan sudah tidak memperhatikan dimana Drey Dan apa yang dia lakukan. Aku bahkan sempat mengambil selfie. Akan kuunggah ke sosmed ku agar mereka sadar bahwa mereka bicara di dekatku saat melihatnya.
Pertandingan Hari ini berakhir seri. Drey menyumbang satu gol bagi Tim nya. Namun karena sudah termakan amarah, aku tidak menyadarinya.
"Tidak!"
Aku memotong tawaran Daniel dengan kesal. Lalu segera pergi dari Sana. Sebagai kekasih, aku bisa saja mendapatkan kesempatan pergi ke bagian dalam stadion bertemu Drey. Tapi Mana mungkin aku mau bertemu dengan Drey dalam situasi seperti ini.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana hatiku buruk. Mungkin bisa dibilang ngambek. Aku tidak mau bicara Dan terus menampakkan ekspresi kesal. Bahkan Daniel sampai menyebutku kekanakan. Aku tidak peduli.
**********************************
"Kriiiinggg......"
Suara alarm memekakkan telingaku. Memaksaku membuka Mata Dan menggerakkan tubuh untuk mematikan alarm. Tidurku kurang nyenyak semalam, sehingga sekarang rasanya aku malah lebih lelah saat bangun. Rasanya ingin kembali tidur.
Hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa ponsel. Mataku langsung terbuka lebar melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Daniel. Aku segera membuka kotak pesan dengan perasaan cemas. Hanya Ada satu alasan Daniel mencoba menghubungiku berkali-kali di pagi Hari. Pasti mengenai pekerjaan.
"Selamat, kau Akan menjadi Sofia di proyek film berikutnya"
Isi pesan dari Daniel. Seketika aku langsung melonjak bahagia. Sofia adalah karakter dari film yang kuikuti casting nya belum lama ini. Tokoh utama dari film bergenre romantis.
Rasa kantuk Dan lelahku seketika hilang Dan sibuk melakukan selebrasi pagi sambil berjoget ria di kamarku.
"Kabari aku jika kau mendapatkan peran itu"
Tiba-tiba saja aku teringat pada pesan Drey terakhir Kali saat bertemu. Aku memang menceritakan padanya mengenai casting. Memikirkan Drey membuatku ingat lagi dengan kejadian di stadion kemarin.
Aku marah Dan tidak menemui Drey ataupun mengucapkan sesuatu padanya. Hanya mengunggah fotoku saat di stadion ke sosmed. Itupun untuk membalas orang yang menggosipkanku.
Aku segera memeriksa sosmedku. Mataku Tak kalah terbelalak dengan ribuan notifikasi yang menyerbuku. Aku belum melihatnya sama sekali Dan tidak mengira bahwa banyak respon membanjiri postinganku. Salah satu di antara mereka adalah Drey. Menyukai postinganku Dan menuliskan kata "terima kasih untuk dukungannya" sebagai komentar. Ada emot hati disertakan di Sana juga. Itulah yang membuat komentar lain memberondongku.
Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak sedang menunjukkan bahwa aku pergi ke stadion, mengambil gambar di Sana untuk menunjukkan dukunganku pada Drey. Tetapi komentar Drey membuatnya seolah kami sedang saling berkirim pesan cinta. Itu membuat Gila para fans. Dan ramai-ramai memberikan komentar juga.
__ADS_1
Aku merasa ditampar dengan situasi ini. Bagaimana Drey mengucapkan terima kasih setelah aku pergi begitu saja dari stadion. Kuakui kemarahanku kemarin cukup kekanakan. Jadi sebagai permintaan maaf, aku mengirim pesan pada Drey. Mengabarkan bahwa aku lolos dalam audisi.
**********************************
Kabar aku lolos audisi cukup mengacaukan jadwal pekerjaanku yang telah ditentunkan. Sehingga Hari ini sekali lagi aku harus melakukan meeting di kantor agensi.
Syuting film Akan berlangsung lama. 4-6 bulan, tergantung dengan proses "take scene". Semua jadwal yang bentrok terpaksa harus disesuaikan atau bahkan dihilangkan.
"Kita Akan ke London?"
Tanyaku terkejut saat melihat Ada tulisan lokasi untuk Syuting. Tidak di Amerika, melainkan di Inggris. Dan aku baru tahu.
"Iya, sepertinya itu adalah setting dari film ini"
Jawab salah satu staff yang terlibat mengatur jadwalku.
Aku hanya bisa melongo. Artinya selama beberapa bulan aku Akan tinggal di London. Tidak mungkin juga pulang pergi LA - London walaupun Syuting tidak Akan dilakukan setiap hari.
"Tidak perlu khawatir, agensi Akan menyiapkan semua keperluanmu, seperti tempat tinggal Dan lainnya"
Sahut Daniel yang melihat wajahku yang tidak terlalu bersemangat.
Aku sudah tahu itu. Dan bukan itu masalahnya. Aku Akan tinggal di Kota yang berbeda, bisa dikatakan juga pindah walau sementara. Aku harus bekerja sambil beradaptasi di Sana.
Seluruh jadwalku akhirnya selesai. Lebih dari sebelumnya, aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk bersantai. Syuting dimulai bulan depan. Artinya, aku juga Akan pindah saat itu juga. Sebelum itu, rangkaian proses pra produksi juga menungguku.
Mendadak kebahagiaanku tadi pagi menguap bersama Seluruh jadwal itu. Aku ingin melupakannya sejenak, hingga membuka ponsel. Berharap menerima balasan dari Drey lalu mencurahkan hatiku padanya. Entahlah, aku merasa bahwa Drey lebih bisa dipercaya ketimbang Daniel sebagai tempat berkeluh kesah.
Namun seperti biasa, Drey kembali menghilang dari peredaran. Pesanku sejak tadi pagi tidak dibalasnya. Saat aku mengharapkannya, dia selalu saja tidak Ada.
"Apa Drey tidak bilang ingin bertemu denganku?"
Tanyaku pada Daniel. Aku sudah tidak sabar lagi menantikan balasan Drey. Biasanya Daniel lebih tahu mengenai kegiatan Drey daripada aku.
"Bukannya Kau tidak ingin bertemu dengannya kemarin? Kenapa sekarang bertanya?"
Tanya Daniel balik dengan nada sarkas. Orang satu ini memang sangat ahli membuat tekanan darahku naik.
"Aku hanya bertanya karena dia tidak membalas pesanku"
Jawabku berusaha sabar. Daniel tertawa, mungkin merasa senang karena berhasil menggodaku.
"Tidak mungkin dia Akan menemuimu. Aku melihat di berita kalau dia Dan timnya sudah kembali ke Madrid pagi ini"
Jawab Daniel yang akhirnya serius.
Seketika aku merasa kecewa. Drey sama sekali tidak memberitahuku jika dia Akan pulang. Kalau begitu mungkin aku Akan bersikap lebih baik padanya kemarin. Aku Akan menemuinya sehingga dia bisa mengucapkan Salam perpisahan dengan benar padaku.
"Kenapa kau tidak memberitahuku tadi pagi?"
Dan, dimulailah omelan kesalku pada Daniel di sepanjang jalan pulang.
**********************************
Sepertinya aku harus belajar mengendalikan emosi. Di belakang kamera, aku orang yang cukup mudah terbawa emosi. Saat kesal dengan sesuatu, suasana hatiku menjadi buruk Dan terkadang mengomel Tanpa henti.
Kali ini biang kekesalanku lagi-lagi si Drey. Aku tahu sebagian dari kejadian ini adalah salahku. Harusnya aku menemuinya kemarin. Tetapi Drey juga cukup salah tidak memberitahuku bahwa dia Akan pulang pagi ini. Seolah tidak bertemu denganku bukan masalah besar. Padahal kami Akan menjalani hubungan jarak jauh.
Bukan berarti kami saling mencintai lalu LDR menjadi masalah. Namun aku hanya ingin Drey menempatkanku dengan benar. Dia menyuruhku bersikap seperti pacar, tetapi dia sendiri menyikapi hubungan kami dengan santai.
Sambil berjalan kembali ke apartemenku, aku terus merutuk Drey. Aku bahkan berpikir untuk memblokir nomornya. Atau mengabaikannya saat dia membalas pesanku. Aku memikirkan semua balas dendam itu hingga akhirnya membuka kamar apartemenku.
Aku hanya bisa membeku di depan pintu karena terkejut. Antara percaya Dan tidak dengan apa yang kulihat di ruang Tamu apartemenku. Drey memang selalu tahu Cara mengejutkanku.
__ADS_1