
Dokter keluar dari ruangan UGD
"Bagaimana keadaannya dok? Apa dia baik-baik saja?" Tanya seorang pemuda seraya mendekatinya
"Apa anda keluarganya?"
"Bukan dok"
"Lalu dimana keluarganya? Mengapa hanya anda seorang diri yang menjaga pasien?"
"Saya hanya kebetulan lewat di jalan itu, memang nya ada apa dok?"
"Saya harus menyampaikan ini kepada keluarganya. Kalau anda bukan keluarganya mohon maaf saya tidak bisa memberi tahu tentang ini"
"Biarkan saya tahu dok, pasien kenapa. Nanti setelah dia sadar saya akan menanyakan dan menghubungi keluarganya"
"Baiklah, bisa ikut keruangan saya?"
Pemuda itu mengangguk. Lalu dokter pergi meninggalkannya dan diikuti oleh pemuda itu.
Setelah sampai di ruangan dokter.
"Mohon maaf sebelumnya, kalau boleh tau nama anda siapa?" Tanya dokter tersebut.
"Raka dok" ujarnya kemudian
"Begini mas Raka, pasien mengalami benturan yang sangat keras dikepala bagian depan. Dan pasien membutuhkan banyak darah, kebetulan pada saat ini stok darah di klinik kami sedang kosong. Jadi kami sangat membutuhkan donor darah saat ini"
"Kalau boleh tau, golongan darah dia apa dok?"
"A+"
"Kebetulan darah saya A+ dok. Jadi dokter bisa mengambil darah saya untuk menolong orang itu"
"Benarkah? Kalau begitu mari. Kita tidak punya banyak waktu mas"
Dokter segera bergegas menghubungi perawat untuk melakukan transfusi darah.
Setelah selesai melakukan transfusi darah Raka kembali ber mondar-mandir didepan ruang UGD
"Ya Allah, bantulah orang itu. Kasihan dia. Semoga dia segera sadar ya Allah, agar aku bisa menghubungi keluarganya" gumam dalam hati Raka.
...****************...
Di sisi lain
Di pesantren Fahrul dan Firman beserta semua santri akan melakukan sholat ashar berjamaah.
Semua para santri mengantri untuk mengambil wudhu.
Fahrul dan Firman seraya menunggu Wira dan menoleh mencarinya tapi tidak kelihatan Wira
"Wira kemana lagi, masa dari tadi dia di kantin? Kan gak mungkin. Lagi pula ini sudah waktunya sholat ashar" ujar fahrul
Firman bertanya kepada salah seorang santri
"Kalian melihat Wira tidak?"
Santri hanya menggelengkan kepalanya
"Yaudah terimakasih."
Firman dan Fahrul seraya khawatir
"Waduh si Wira mana lagi ya, masa iya dari tadi belum kelihatan juga batang hidungnya"
"Mungkin kita bisa bertanya pada ustadz muda"
"Baiklah, mari"
Ustadz yang baru saja keluar kelas langsung dihampiri oleh keduanya
"Ustadz muda"
__ADS_1
Seraya ngos-ngosan
"Assalamualaikum"
Ustadz muda melihat kearah keduanya
"Waalaikumsalam. Ada apa? Mengapa kalian berlari-lari seperti ini?"
"Ustadz muda melihat Wira tidak?"
"Tidak, memangnya ada apa?"
"Kami tidak melihat Wira sama sekali, kami pikir Wira sedang bersama ustadz muda. Ternyata ustadz muda tidak tau"
"Kemana Wira? Bukannya tadi dia selesai latihan langsung keluar dari kelas itu?" Gumam ustadz muda dalam hati.
"Sebaiknya kita cari kedalam kelas itu, mungkin Wira saat ini ada disana"
Ustadz muda berlari menuju ke arah kelas tempat latihan dan diikuti oleh keduanya
Ustadz muda lalu membuka pintu
"Assalamualaikum. Wira?"
Ruangan itu tidak ada orang. Ustadz muda melihat ke sekeliling ruangan dan Fahrul bersama firman menyusulnya.
"Bagaimana ustadz? Wira ada?" Tanya Fahrul.
"Tidak ada. Kemana dia?"
"Saya juga tidak tau ustadz, kemana Wira pergi. Kami juga sudah mencarinya di kantin namun hasilnya nihil"
Ustadz muda berfikir lalu berlari menuju ke tempat ustadzah.
.
.
......................
Dokter membuka pintu ruangan UGD
Raka menghampiri dokter
"Bagaimana keadaan dia dok? Apa dia sudah membaik?"
"Alhamdulillah, tinggal berdo'a saja sama Tuhan. kita sudah memberikan penanganan yang terbaik untuk pasien."
Raka melihat kearah jendela ruang UGD
"Kapan kemungkinan dia bisa sadar dok?"
"Mungkin 2 jam lagi, namun itu masih prediksi mas. Semuanya ini terjadi atas kehendak yang di atas. Jika yang di atas sudah berkehendak, maka medis pun tidak bisa apa-apa"
"Kalau begitu saya permisi dulu mas. Mari" sambungnya seraya meninggalkan Raka
Raka hanya mengangguk lalu melihat kearah jendela ruangan UGD
Dia menatap wajah Wira seakan mengenalinya.
.
.
.
.
Disisi lain
"Assalamualaikum Ustadzah" ujar ustadz muda.
"Waalaikumsalam. Iya, ada apa ustadz muda?"
__ADS_1
"Apa ustadzah melihat Wira?"
Lalu kemudian Fahrul dan Firman datang menyusul ustadz muda
"Wira? Bukankah tadi dia latihan Tartil Qur'an bersama kita dikelas?"
"Iya ustadzah, selesai itu kita tidak melihatnya lagi" ujar Fahrul dan firman mengangguk
"Hmm? Kemana Wira?" Sambil memikirkan sesuatu seraya melangkahkan kakinya ke arah samping.
"Coba kalian tanya sama Dewa, mungkin dia tahu keberadaan Wira" ustadzah menyuruhnya lalu mereka mencari Dewa
.
.
.
Disisi lain
"Mendengar suara Wira tadi itu membuat bulu kudukku merinding loh is" ujar Cantika.
"Biasa aja kali ka, kaya nggak pernah dengar suara orang ngaji aja" ucap Ais
"Beneran, aku tuh baru pertama kali mendengar suara dari Wira. Sudah tampan, baik, lemah lembut, Hafizh Qur'an lagi. Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?"
"B aja tau. Kita itu tidak boleh memuji sesuatu secara berlebih-lebihan melebihi Allah. Yang pantas dipuji itu Allah bukan manusianya"
"Tapi kan kita mengagumi ciptaan Allah"
"Kita? Kamu aja kali yang mengagumi dia"
"Bukannya kamu juga suka sama Wira?"
"Memang betul saya suka dengan Wira, saya suka dengan Wira karena dia punya kepribadian yang baik. Sudah gitu Hafizh Qur'an lagi, bukan cinta atau apa. Cintaku ya tetap hanya untuk Allah. Bukan begitu Angel?" Ujar Aisyah seraya melirik wajah Angel
Angel pun hanya tersenyum dan mengangguk
Ustadzah datang menghampiri ketiganya
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab mereka serentak.
"Apa kalian melihat Wira?"
"Tidak ustadzah, memangnya ada apa?" Tanya Angel
"Kata si firman dan Fahrul, Wira hilang"
"Hilang? Bagaimana bisa?" Tanya Cantika.
"Ustadzah juga tidak tau. Kalau begitu sudah dulu ya, ustadzah akan mencari Wira dulu. Assalamualaikum" seraya meninggalkan mereka.
"Waalaikumsalam"
"Wira hilang? Atau jangan-jangan dia menemui Dinda? Apa perkataan ku terlalu kasar kepada Wira? "
Gumam dalam hati Angel
Ais dan Cantika melihat Angel yang melamun seraya mengagetkannya
"Heyy. Lagi ngelamunin apa?" Tanya Cantika.
"Astaghfirullah hal adzim. Cantika, aku sedang memikirkan Wira"
"Mengapa kamu memikirkan dia? Atau jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta dengannya?" Tanya Ais
"Bukan begitu Ais, aku hanya memikirkan perkataan ku yang tadi. Apa aku sudah melukai perasaan Wira? Apa aku sudah berbicara terlalu kasar dengan dia?"
"Memangnya kamu bicara apa Angel? Mengapa kamu menjadi kepikiran seperti ini?" Tanya Cantika.
"Itu yang kemarin, Wira kan pergi ninggalin Dinda gitu aja. Aku beri dia nasihat, supaya bisa lebih menghargai orang lain lagi, karena aku kasihan terhadap Dinda atas perlakuan Wira kemarin. apa mungkin dia pergi menemui Dinda?"
__ADS_1
Cantika terdiam dan Angel khawatir dengan kesalahannya karena dia sangat merasa bersalah kepada Wira.