Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Ini hanya luka kecil


__ADS_3

Setelah ustadzah sampai ke klinik bersama ketiganya. Mereka langsung mencari ruangan Wira dan bertanya pada staf receptionis.


Setelah sampai didepan ruangan Wira mereka langsung memasuki ruangan itu.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, kalian sudah sampai?" tanya ustadz muda.


Ustadzah mengangguk. seraya mendekati Wira


"Wira, bagaimana keadaanmu?" tanya ustadzah.


"Saya baik-baik saja ustadzah. Tidak apa-apa" jawab Wira seraya tersenyum.


"Kalau kamu baik-baik saja, mengapa kepalamu di perban?" tanya Angel.


"Ini hanya luka kecil saja, tidak apa-apa."


"Bagaimana rasanya? masih terasa sakit kah?" tanya Aisyah.


"Tidak apa-apa, ini sudah diobati oleh dokter tadi" seraya memegang lukanya di kepala.


"Yasudah, kamu yang semangat yaa, semoga lekas sembuh, dan semoga cepat kembali lagi ke pesantren" ujar Angel seraya tersenyum kepada Wira.


Wira mengangguk


"terimakasih" ucap Wira.


"Ekhemmm.. sudah bicaranya? kalau lagi kasmaran serasa dunia milik berdua gitu ya?" ustadz muda berderam dan melihat kearah Fahrul.


"serasa yang lain ngontrak gitu ustadz" sahut Fahrul.


Yang lain tertawa mendengar candaan mereka, Wira dan Angel hanya tersenyum menunduk malu.


.


"Pasti semangat nih Rul, dan pasti juga cepat sembuh ini. dokter cinta nya sudah datang." sambung firman seraya melirik kearah Wira.


"Mama aku butuh dokter cinta, dadaku sakit. Eh, kepalaku sakit karena tak bisa mengingat kenangan manis bersamamu" sahut Fahrul dengan nada lebay berpuisi.


Yang lain seraya tertawa melihat candaan mereka.


Wira hanya tersenyum melihat tingkah laku temannya itu.


.


"Yasudah kamu cepat sembuh ya? jangan lupa makan. jangan lupa sholat juga, mungkin nanti aku akan kembali kesini bersama Abi, soalnya saat ini aku ada janji bersama guru yang lain karena ada urusan penting" ucap Angel.


"Perasaan dari tadi Wira aja yang diperhatiin" ucap Firman.


"Kamu cemburu man? ya udah kamu aja yang kecelakaan sana." ucap Fahrul.


ustadz muda dan ustadzah menggeleng-gelengkan kepala melihat candaan santrinya itu.


"astaghfirullah hal adzim Rul, bukan gitu"

__ADS_1


"Lalu?"


"Gantian gitu kek, yang lain diperhatiin. Jangan cuma Wira" ujar Firman seraya melirik kearah Angel.


"Kan Wira sakit, ya wajar lah kalo diperhatiin" sahut Aisyah.


"Saya juga sakit, sakit hati melihat calon istri saya memperhatikan orang lain" ujar firman seraya menunjuk kearah hatinya.


"Eeaa eeaaa" sahut Cantika.


"Tenang man, Selagi janur kuning belum melengkung elu masih bisa berusaha mendapatkan hati Angel" sahut Fahrul seraya mengelus pundak temannya itu.


"Aseekk" sahut ustadz muda seraya tersenyum.


"Kamu sudah makan?" tanya Angel kepada firman.


"Belum"


"Yaudah makan, nanti kalau telat makan kamu bisa masuk angin"


"Saya kira mau dibawakan makanan, ternyata cuma ditanyain gitu doang, ya Allah.. mengapa begini nasibku? nasib punya tampang gak good looking"


"Hehh.. gak boleh gitu. Kamu harus bersyukur, dihadapan Allah nanti kita tidak dilihat dari tampang wajahnya, tetapi dilihat dari amalannya" ucap ustadz muda.


"betul itu Fahrul, kamu harus banyak bersyukur" sahut ustadzah.


Yang lain mendengarkan perkataannya


"Sudah-sudah, kalau begitu kami mohon pamit untuk kembali ke pesantren, kasihan Wira tidak nyaman disini biarkan dia istirahat Wira cepat sembuh ya. Dewa jaga baik-baik adikmu ya. kami mohon pamit, assalamualaikum" ujar Angel seraya pergi meninggalkan ruangan itu.


Dewa mengangguk


"Kami juga mohon pamit, Wira cepat sembuh. mari, assalamualaikum" ucap ustadzah yang kemudian pergi meninggalkan ruang itu lalu diikuti oleh santrinya.


"Waalaikumsalam"


.


Disisi lain.


Raka baru saja tiba di rumahnya, dan langsung turun dari mobil nya dan berlari menuju pintu rumahnya. Mendengar suara mobil Raka, asisten rumah tangganya pun turun untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum. Mama dimana bi?"


"Nyonya besar ada didalam kamarnya tuan, dia tampak bersedih memikirkan sesuatu"


Mendengar itu Raka langsung berlari menuju kamar mamanya. Disaat itu langsung membuka pintu kamarnya dan langsung memeluk mamanya yang nampak menangis bersedih.


"Ma, mama kenapa? apa yang terjadi pada mama? mengapa mama menangis?"


Mama Raka terus menangis dalam pelukan anaknya itu.


"Zou, Raka. Mama teringat pada Zou. Mama merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada Zou" ujar Mama Raka seraya menangis sesenggukan.


"Sudahlah, mama tidak boleh seperti ini, mama jangan fikirkan yang lain. Lebih baik mama fikirkan kesehatan mama sendiri. Itu lebih baik"

__ADS_1


"Tapi mama kangen Zou, Raka"


"Andai saja 15 tahun yang lalu mama tidak keluar rumah waktu itu, mungkin saat ini Zou masih bersama kita" sambungnya.


Raka berfikir sesuatu


"15 tahun yang lalu, kira-kira pada saat itu Zou masih berusia berapa tahun ma?"


Mama berfikir mengingat-ingat masa lalunya itu.


"Mungkin 4 tahun, dan sekarang jika dia berada disini mungkin dia seumuran kamu nak, dia hanya 2 tahun lebih muda darimu" ujar Mama nya dengan bersedih terus meneteskan air mata.


.


Raka mengingat-ingat kejadian tadi disaat dirinya menolong Wira.


"Kalau Zou masih ada disini, mungkin dia seumuran Wira" gerutu Raka.


"Wira? siapa dia nak?" tanya Mama Raka.


"Oh begini ma, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan seseorang. Orang itu mengalami kecelakaan ma, terluka di bagian kepala, sampai tidak sadarkan diri. Lalu aku bantu dia sampai ke klinik, lalu di klinik itu kebetulan stok darah yang sama dengan dia lagi kosong. Dia juga kehabisan banyak darah, dan pada saat itu dokter menyuruhku untuk transfusi darah dan kebetulan darah dia sama denganku. Ntah kenapa disaat aku melihat wajahnya, aku seperti melihat bayangan Zou. Zou itu seperti ada dalam diri dia ma. Dan anehnya lagi, mama tau dewa kan?"


"Dewa? cucu dari Adhitama Mahesa?"


"Iya dewa yang itu. Katanya Wira itu adiknya Dewa ma, setahuku kan dia tidak memiliki adik? bagaimana bisa dia memiliki adik sedangkan orang tua dia sudah lama meninggal?"


Mama terdiam. dan memikirkan sesuatu


.


.


Di klinik


"kamu kalau butuh apa-apa segera memberi tahu kakak, jangan sungkan-sungkan" ujar Dewa.


Wira hanya mengangguk


"Fahrul, boleh saya minta tolong?" ucap dewa.


"Minta tolong apa mas?"


"Kamu beli makanan dan minuman untuk ustadz muda, firman dan juga kamu sendiri. Terserah kau mau beli apa aja, yang penting yang menjaga disini jangan sampai kelaparan atau kehausan"


"Tidak apa-apa wa, Tidak usah merepotkan." sahut ustadz muda.


"Tidak apa-apa ustadz, tidak merepotkan kok. ini, kamu beli sekarang juga" ucap Dewa seraya memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Fahrul.


"Firman, elu mau ikut ke kantin kagak?" tanya Fahrul.


"Yaudah ayo kalo dipaksa" sahut Firman.


"siapa yang maksa elu?"


"lah, elu tadi. Ayo cepetan, nanti gue berubah fikiran lagi" seraya membuang muka ke segala arah.

__ADS_1


"yaudah ayo"


Ustadz muda tertawa kecil melihat tingkah laku santrinya itu.


__ADS_2