
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanyanya Wira kepada Angel setelah acara lamaran selesai dan semuanya sudah kembali ke rumah masing-masing. Kini keduanya sedang sama-sama berjalan menuju kearah masjid.
"Mm?"
"Kenapa terkejut? apa kamu tidak senang dengan perjodohan ini?" tanyanya Wira sekali lagi.
Angel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan sejenak terdiam.
*Bagaimana ini? apa aku jujur saja tentang perasaanku kepada Wira? tidak.. tidak.. tidak.. yang ada nanti dia malah kegeeran lagi. Tapi kalau aku tidak jujur bagaimana dia bisa tahu tentang isi hati dan perasaanku?
Tidak Angel, tidak. Kamu ini seorang perempuan. Harga diri kamu itu hanya menerimanya, bukan mengungkapkan isi hatimu*.
Kemudian Wira mulai mendadahkan tangannya di depan wajah Angel yang saat itu tengah terdiam.
"Hei, hallo. Sedang melamunkan apa?"
"Eh, aaaa anu tidak apa-apa kok."
Kemudian Wira tersenyum kearahnya sementara Angel hanya membuang muka ke segala arah karena harga diri wanita itu ya hanya menerima lamaran bukan melamar begitulah pikirnya.
Sejenak keduanya menjadi canggung.
"Ehemm, ngomong-ngomong kamu sudah makan?" tanyanya Wira mencoba untuk mencairkan suasana.
"sudah."
"kapan?"
"tadi, sebelum kamu datang."
"ohh.." Wira sambil mengangguk. "boleh ikut saya sebentar?"
"kemana?"
"ke kantin."
" mau ngapain?"
__ADS_1
"Kalau ke kantin biasanya mau apa?"
"mmmm, kamu mau makan?" tanyanya Angel.
Wira tersenyum kearahnya. "iya, ayo ikut."
Tanpa basa-basi lagi Wira pun berjalan kearah kantin dan diikuti Angel dibelakangnya.
Setelah mereka sampai di kantin, Wira pun mulai memesan makanan dan minuman yang biasa ia pesan saat bersama temannya.
"Kamu mau pesan juga?" tanyanya Wira kepada Angel.
"Tidak usah, mending kamu saja yang pesan." ujarnya Angel yang sudah duduk di kursi kantin itu.
"Oke, baiklah."
Kemudian keduanya duduk bersama namun ada jarak diantara keduanya itu. Keduanya sama-sama menunggu pesanan dari Wira. Sementara Angel hanya duduk terdiam sambil sesekali memainkan ponsel miliknya itu.
"Angel." ujarnya Wira.
"Hmm? iya?"
"Mau bertanya apa?"
"Maaf ya sebelumnya? jujur aku jadi tidak enak harus memulai dari mana."
"Mau bertanya apa? memangnya kenapa kok jadi tidak enak?" ujarnya Angel sambil terus melihat kearah Wira.
"Ehem, apa kamu pernah pacaran? atau pernah menyukai seseorang mungkin?"
Sejenak Angel terdiam setelah mendengar perkataan itu.
Pacaran? kenapa Wira mulai bertanya seperti itu?
"Mmmm, memangnya kenapa?"
"Ya, tidak apa-apa sih. Cuma pengen tau aja kamu dulu pernah menyukai seseorang atau tidak."
__ADS_1
Angel tersenyum kearahnya.
"Kalau kamu sendiri pernah pacaran?" ujarnya Angel menanyakannya kembali.
"Eh, kenapa malah balik bertanya?"
"ya tidak apa-apa, memangnya kenapa kalau saya bertanya? apa ada yang salah dari pertanyaan saya?"
"kan aku dulu tadi yang bertanya? kenapa malah balik nanya? pertanyaanku juga belum kamu jawab." ujarnya Wira.
"Mending kamu saja dulu yang jawab, saya belakangan."
"ihh nggak bisa gitu ihh."
"kenapa?"
"harusnya yang lebih tua yang lebih dahulu." sambil menyengir.
"enak aja, kita seumuran ya." ujarnya Angel.
"Memang benar kita seumuran, tapi kan kamu lebih tua dari aku, jadi ya kamu dulu."
"Kamu saja Ra."
"Kamu dah."
"kamu."
"kamu."
"Iissshh, kamu ya! Kamu mau saya panggil adik?"
"Hmm? adik?" Wira terkejut mendengar itu.
"iya, adik. Kan umurmu masih lebih tua saya."
"Iya kak, aku juga tidak apa-apa dipanggil adik oleh kakak. I love you kak." ujarnya Wira, sementara Angel hanya menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah laku Wira.
__ADS_1
Sementara itu disisi lain, Zein tengah melihat kearah keduanya sambil menghantam tembok dinding yang ada didekatnya itu.
Sial ! Apa yang mereka lakukan berdua dikantin? Tidak boleh, ini tidak boleh terjadi. Dewi harus menjadi milikku !