
" Tunggu dulu. " ujar Zein kemudian yang menghentikan langkah kaki dari Aisyah. Seketika Aisyah menghentikan langkahnya.
Lalu Zein berjalan mendekatinya
Tap..tap..tap
Suara dari langkah kaki Zein. Lalu Zein bertatap-tatapan dengan Aisyah, namun Aisyah memilih menundukkan pandangannya.
" Lalu aku harus apa? " tanya Zein kepada wanita itu. Seketika itu Aisyah mendongakkan kepalanya dan menatap Zein.
" Mm? maksudnya? "
Zein menghela nafas dan membuang pandangannya ke segala arah.
" Tadi kamu bilang, kalau aku ini harus belajar untuk mencari ridho Allah. Dan sekarang aku harus bagaimana untuk mencari ridho Allah? "
" Coba kamu tanyakan saja pada dirimu sendiri. " sambil menundukkan kembali wajahnya.
" Bertanya kepada diriku sendiri? bertanya tentang apa? "
" Diri kamu bisa membedakan hal yang baik dengan hal yang buruk tidak? " lalu kembali menatap kearah Zein.
" Bisa. " jawab Zein dengan pasti.
" contohnya? "
Zein terdiam sejenak.
" Ya kalau yang baik ya pasti halal, sedangkan yang buruk ya pasti haram. " jawab Zein sembarangan.
__ADS_1
" Bisa jadi sih, tapi tidak seperti itu. "
" Lalu? bagaimana? "
" Sama halnya dengan hitam dan putih. Kamu lebih memilih yang mana? "
" Kalau aku sih ya lebih memilih putih. Karena putih kan filosofinya bermakna suci. " jawab Zein dengan pasti.
Aisyah terdiam sejenak
" Terus? " tanya Aisyah kepada Zein.
" Ya aku selalu menyukai warna putih. Aku tidak menyukai warna hitam, karena hitam buluk. "
Aisyah tersenyum.
" Tidak semua yang berwarna putih itu disukai oleh semua orang. "
" Iya, contohnya kain kafan. Kain kafan kan berwarna putih namun semua orang tidak merindukannya. Malah bisa jadi warna hitam yang selalu dirindukan oleh semua orang muslim. "
" Contohnya? "
" Kiswah Ka'bah. "
" Mm? " Zein terkejut.
" Iya, apa kamu pernah melihat kiswah Ka'bah berwarna putih? "
Zein seketika terdiam dan memikirkan semua perkataan dari Aisyah.
__ADS_1
" Tidak pernah kan? " lanjutnya lagi Aisyah.
Zein semakin terdiam.
" Makanya kamu harus berhati-hati dengan lisanmu. Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu. Dan bisa jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Seperti bunyi dari salah satu surat didalam Al-Qur'an. " sambungnya Aisyah, yang membuat Zein semakin terdiam membisu.
" Kejarlah dulu akhiratmu, insyaallah dengan izin Allah duniamu akan mengikutimu. " ujar Aisyah lanjutnya lagi.
" Apa aku bisa melakukan keduanya? " tanya Zein kepada Aisyah.
" Tentu. Kalau kau mau berusaha ya mesti bisa. Allah ini tidak melihat hasilnya, tetapi Allah ini melihat dari usahanya. Pernah mendengar kisah seorang pendosa yang masuk syurga? "
" Tidak, tidak pernah. " ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
" Coba saja sharing di internet. "
" Hah? kukira kamu tau kisahnya seperti apa, ternyata disuruh mencari sendiri di internet. "
" Iyalah, sekarang kan sudah serba canggih. Semuanya sudah ada di internet. Jadi kamu tinggal mencarinya. " ujarnya kemudian melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat itu.
" Aku bisa membeli semuanya. " ujar Zein sambil melihat kearah Aisyah, kemudian Aisyah menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Zein.
" Maksudmu? " tanya Aisyah.
" Iya, jangankan internet. Aku juga bisa membeli pesantren ini kalau aku mau. " ujar Zein sambil menyombongkan dirinya.
" Membeli dengan apa? dengan warisan dari papamu? " ujar Aisyah sambil tersenyum kearah Zein. Seketika Zein terdiam.
" Di bumi itu kamu hidup, di bumi itu juga kamu akan mati. Dan dari bumi ini pula kamu akan dibangkitkan. Seperti bunyi dari Q.S Al-a'raf ayat 25. " lanjutnya lagi Aisyah. Zein semakin terdiam.
__ADS_1
" Lalu kalau sudah tau bakal kembali ke bumi kenapa masih memiliki sifat langit yang seakan paling tinggi sendiri? " sambungnya Aisyah yang membuat Zein semakin terdiam membisu mendengar itu semua.
" Diatas langit masih ada langit. Diatas langit lagi masih ada juga yang menciptakan langit. Jangan pernah menyombongkan diri kamu selagi kamu masih membutuhkan Allah. Karena Allah ini sangat tidak suka dengan orang yang sombong. " ujarnya Aisyah. Lalu Zein terdiam menghela nafas dalam-dalam sambil memikirkan semua perkataan dari Aisyah. Perkataan itu seakan menampar hatinya dengan petir yang saling bersahutan.