
Raka dan mamanya sudah sampai di klinik. Lalu mereka turun dari mobil dan langsung menuju ke ruangan Wira.
Wira yang pada saat itu sudah ada di ruangan rawat inap ditemani Dewa dan juga ustadz muda.
Lalu Raka membuka pintu ruangan kamar Wira dan masuk kedalam ruangannya dan diikuti oleh mamanya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
"Sedang apa kau disini?" ucap Dewa.
"Aku ingin menjenguk orang yang aku tolong tadi. Dan juga ini mama. Dia ingin melihat keadaan adikmu secara langsung." ucap Raka seraya menunjuk ke arah mamanya dengan sopan.
"Ntah itu adik kandungmu atau bukan" sambungnya seraya menatap kearah Wira.
"Maksudmu apa bicara seperti itu?" ucap Dewa seraya memegang kerah baju Raka.
Ustadz muda melerai dan juga mama Raka.
"Sudah sudah, cukup hentikan. Ini rumah sakit, Wira itu butuh istirahat, butuh ketenangan. Dan kamu Dewa, harusnya kamu senang ada orang lain yang menjenguk adikmu. Kamu juga harus menghargai orang yang lebih tua darimu. Biarkan dia menjenguk saudara mu. Lagi pula Wira sendiri tidak merasa keberatan dengan keberadaan mereka. Bukan begitu Wira?" ucap ustadz muda.
Wira mengangguk.
Lalu Mama Raka melihat kearah Wira.
.
Degghhh
.
Wira dan Mama Raka saling melihat. Mereka terdiam membisu satu sama lain, merasa ada ikatan keluarga diantara satu dengan yang lainnya.
"Ma, mama kenapa melamun? ada apa?" ujar Raka seraya membuyarkan lamunannya.
"Tidak, tidak apa-apa nak. Mama hanya tertegun melihat anak ini. Bola matanya mirip sekali dengan adikmu, Zou"
Dewa seakan menahan emosi dan amarahnya seraya membuang muka ke segala arah. Dan ustadz muda tersenyum melihat Wira dan juga mama Raka karena merasakan ada ikatan keluarga diantara mereka.
"Mari, silahkan duduk Bu, Raka" ujar ustadz muda.
"Iya terimakasih ustadz" sahutnya.
"Namamu Wira ya nak?" tanya Mama Raka.
Wira ingin membangunkan badannya namun kepalanya masih terasa sakit.
"Aduh" ucap Wira seraya memegang kepalanya yang terluka.
"sudah sudah, kamu tidak perlu bangun. tetap tiduran saja tidak apa-apa"
Wira mengangguk lalu kembali merebahkan badannya.
"Iya tante nama saya Wira, mohon maaf sebelumnya kalo boleh tau Tante ini mamanya Raka?" ujar Wira.
__ADS_1
"Iya Tante ini mamanya Raka. Raka tadi cerita kalau dia selesai bantu orang yang mengalami kecelakaan. Dan wajahnya itu mirip sekali dengan adiknya"
"Adik?"
"Iya, adik Raka, Zou. Zou Athalah."
"Kemana zou Tante? kok dia nggak ikut?"
Mama Raka menceritakan semua kejadian di masa lalu yang menimpa nya bersama Zou pada waktu itu. Seraya meneteskan air mata.
Melihat itu Wira menjadi iba dan menghapus air mata nya.
"Sudah sudah tante, Tante tidak boleh bersedih. Mungkin saja suatu saat Zou akan kembali kepada tante"
"Aamiin. Tante selalu berdo'a nak, semoga Zou selalu bersama orang baik. Dan semoga selalu dalam lindungan Allah"
"Aamiin"
.
Disisi lain.
Dewa sudah memberikan kabar kepada orang tua asuh yang mengasuh Wira. Dan pada saat itu juga akan menjenguk Wira di klinik.
Dan disaat mereka sudah sampai di klinik, mereka tidak sengaja bertemu dengan Tuan Mahesa, bos besar mereka.
"Kalian sedang apa disini?" tanya bos besar mereka.
"Kami akan menjenguk Wira tuan."
"Tapi tuan, kami ingin melihat keadaan Wira bagaimana"
"Kau membantah perintah ku?"
"Tidak tuan, baiklah kalau begitu kami permisi. Mari" dengan sangat terpaksa mereka membatalkan untuk menjenguk Wira dan kembali kerumahnya.
Dan pada saat itu tanpa disengaja Fahrul melihat semuanya.
Firman yang baru saja keluar dari toilet melihat Fahrul menatap kearah kakek-kakek itu seraya mengagetkannya.
"Woyy. ngeliatin apa sih?"
"Astaghfirullah hal adzim. kau ini, nggak itu loh, ada sepasang suami istri yang ingin menjenguk seseorang, namanya Wira. Tetapi kakek-kakek itu melarangnya. Apa yang dia maksud Wira teman kita?"
Firman terdiam seraya mengikuti pandangan Fahrul melihat kearah kakek-kakek itu.
"Untuk menepis rasa penasaran, alangkah baiknya kita mengikutinya dibelakang dia" ujar firman.
Fahrul melihat kearah firman.
"Yakin?"
"Iya ayo kita ikuti kakek-kakek itu"
"Baiklah, ayo"
__ADS_1
Disaat bersamaan kakek itu pun pergi berjalan meninggalkan tempat itu dan diikuti oleh Fahrul dan firman dibelakangnya.
Lalu setelah sampai di depan ruangan Wira kakek berhenti dan merasa kalau dari tadi ada yang mengikuti nya. Lalu menoleh ke arah belakang dengan sigap Fahrul dan firman bersembunyi tanpa sepengetahuan kakek itu.
Lalu kakek itu mulai masuk kedalam ruangan itu.
Fahrul dan firman keluar dari tempat persembunyian nya.
"Tuh kan bener Wira temen kita, lalu kenapa kakek itu melarang suami istri tadi untuk menemuinya?" tanya Fahrul.
"Penuh misteri nih" sahut Firman.
"Firman, gue minta tolong sama elu. Mending elu jangan kasi tau sama siapa-siapa dulu tentang kejadian ini. Mending kita selidiki dulu apa motif nya dia melarang orang tadi untuk menemui Wira"
"Oke siap."
.
Diruangan Wira.
"Om Mahesa?" Ucap Raka saat melihat kakek-kakek itu datang lalu yang lainnya juga menatapi kedatangannya.
"Kau? sedang apa kau disini?" ujar kakek itu.
"Kami hanya menjenguk teman kami, lalu om?"
"Aku menerima kabar, kalau cucuku saat ini sedang mengalami kecelakaan dan dirawat di klinik ini. Makanya aku datang kesini"
"Cucu? cucu dari mana? Bukankah anakmu sudah meninggal dalam kebakaran rumah waktu itu?" sahut Mama Raka.
"Diam kau ! Kau tidak perlu ikut campur urusan keluarga ku. Kau bukan siapa-siapa disini" dengan nada kesal penuh emosi dan amarah.
"Maksud om apa membentak mama saya? Anda bisa bicara baik-baik kan? Anda ini orang terpelajar bukan? kalau memang orang terpelajar mana etika dan sopan santun ada?" Ucap Raka seraya mendekati muka kakek itu.
"Sudah sudah ka, tidak baik marah-marah disini. Ini rumah sakit" ucap Mama Raka seraya menenangkan anaknya.
"Bawa pergi saja anakmu dari sini, mengganggu kenyamanan orang saja"
"Kau.." seraya mengepal tangannya.
"sudah sudah ka" ucap Mama Raka seraya memegang lengan Raka.
"Urusan kita belum selesai" seraya menunjuk kearah wajah kakek itu.
"Sudah sudah, ayo ka, kita pulang. Wira kamu cepat sembuh ya, maafkan Tante. Tante harus pulang kerumah terlebih dahulu. Maafkan Raka juga. Mari semuanya. Assalamualaikum" seraya keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan Fahrul dan firman.
"Raka? ngapain balik lagi kesini?" tanya Fahrul.
"Gapapa. tadi ada barang ku ketinggalan disini. Aku pulang dulu, mari"
"Mari nak"
"Iya mari Bu, hati-hati di jalan"
"Iya" seraya meninggalkan mereka berdua lalu keluar dari klinik dan memasuki mobilnya.
__ADS_1