
" Angel... "
" Aku belum bisa jawab sekarang. "
" Kenapa? kan cuma jawab Ada atau tidak. "
" Lebih baik kamu bertanya saja kepada Abi, dia yang lebih tau itu. " ujar Angel seraya membuang muka ke segala arah.
Wira hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya.
.
.
Di sisi lain
Deni Savero sedang dalam perjalanan menuju kantor Raka untuk bekerja. Di perjalanan dia mendapat telepon dari kantor polisi.
" Halo, iya selamat siang pak. "
" Iya selamat siang pak Deni. Saya ingin memberi tahu sesuatu tentang saudara Gatot. Dia sudah diinterogasi dan akhirnya mengakui pak, kalau dia disuruh oleh seseorang. Dan kami juga mendapat bukti di ponsel pak Gatot, dimana disitu terdapat panggilan terakhir dari seseorang yang diberi nama Bos muda. Apa pak Deni tahu? siapa yang dimaksud bos muda itu? soalnya sudah kami coba hubungi berkali-kali namun ponselnya tetap saja tidak aktif pak. "
" Bos muda? tidak pak saya tidak tau. "
" Baiklah kalau begitu saya mohon maaf sudah mengganggu waktunya pak Deni. "
" Iya tidak apa-apa pak. "
" Mari, assalamualaikum "
" Iya pak, waalaikumsalam. "
Bos muda? siapa dia? Atau jangan-jangan Dewa?
Deni langsung menghubungi Raka.
" Iya, ada apa den? ada info terbaru apa kali ini? "
" Barusan pak polisi nelfon pak, katanya pak Gatot sudah diinterogasi dan dia mengakui kesalahannya kalau dia disuruh oleh seseorang. Dan juga polisi menemukan bukti di ponselnya kalau di panggilan terakhirnya bernama bos muda. "
" Bos muda? siapa dia? "
" saya juga kurang tau pak, polisi juga sudah menghubunginya berkali-kali namun ponselnya tetap tidak aktif. "
" mungkin dia ketakutan den, kalau anak buahnya kali ini sudah tertangkap. "
" mungkin saja pak. "
" kalau begitu kamu terus awasi Gatot itu di kantor polisi. saya yakin bos nya dia pasti akan mengunjungi dia. "
" Begini pak, tadi waktu saya ke kantor polisi saya tidak sengaja bertemu dengan pak Dewa. "
" Dewa? "
" iya pak, dia katanya akan membesuk Gatot. "
" Untuk apa dia bertemu Gatot? lalu bicara apa aja dia? "
" Dia menampar Gatot pak, lalu memecatnya dari pekerjaannya. Karena dia sakit hati kalau dia sudah dikhianati oleh Gatot yang mencoba mencelakai adiknya itu. "
" Lalu? "
" Selesai itu Dewa langsung pergi begitu saja pak. "
" Baiklah, kamu terus awasi Gatot ya den, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya. "
" baik pak. "
__ADS_1
.
.
.
Di klinik.
Wira melanjutkan makannya dan terus bertanya kepada Angel seakan-akan ingin mengetahui lebih jauh tentang dia.
" Angel "
" Mm? "
" Kalau ada seseorang yang ingin melamarmu, apa kamu langsung terima lamaran itu? "
" Tidak, mungkin akan aku jawab masih belum bisa jawab sekarang. "
" Kenapa? kenapa gak langsung jawab aja? "
" Aku ingin berdo'a meminta petunjuk sama Allah, aku ingin mempunyai suami yang baik. Yang bisa menjadikanku makmumnya. Ketika aku menjadi api amarah, semoga dia bisa menjadi air yang bisa menenangkan ku. Ketika aku menjadi lupa akan sesuatu, semoga dia bisa mengingatkan ku. Dan ketika aku bersalah, semoga dia bisa menjadi penuntunku untuk menuju jalan yang benar. "
" Aamiin. "
" Kenapa kamu bertanya seperti itu? "
" Tidak, tidak apa-apa. Cuma ingin tahu. "
" Apa kamu sudah siap untuk menikah? kalau memang sudah siap dimana calonmu? "
" tidak, aku masih belum siap untuk menikah. masih banyak yang harus aku perjuangkan. "
" Menikah itu tidak perlu menunggu mapan. "
" Maksudmu? "
" Memang benar menikah jangan menunggu mapan, tapi kita ini harus berfikir lebih panjang lagi. Selesai nikah kita mau tinggal dimana? selesai nikah kita mau makan apa? selesai nikah kita mau punya anak berapa? dan selesai nikah juga kita harus sudah memiliki tabungan untuk anak kita nanti. Tabungan biaya melahirkan, menyusui, menyekolahkan dan yang lainnya. Dan semua itu perlu pemikiran yang matang. Banyak diluar sana yang hanya menikah lalu berpisah karena faktor yang lainnya. Termasuk ekonomi. Banyak pula diluar sana yang hanya menikah namun enggan memberikan nafkah keluarga nya. Dan itu semua menjadi pelajaran untukku. Supaya bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga ku. "
" Pemikiran mu sungguh dewasa Wira. Aku kagum kepadamu. "
" Mm? "
Semuanya tersentak kaget. Tanpa sengaja Angel mengucapkan sesuatu.
" Maksudnya, aku kagum dengan pemikiran mu. Pemikiran mu sungguh dewasa. "
" Tidak juga, aku juga masih perlu banyak belajar tentang itu. sama seperti mu. "
Angel hanya tersenyum dan mengangguk. Ais melihat keduanya dan mendengarkan pembicaraan mereka.
.
.
.
Di sisi lain.
Dinda menangis di sepanjang jalan, dia berjalan tak tentu arah. Lalu seketika ada mobil mewah yang berhenti di hadapannya.
" Mau ikut? " ajak dia.
Dinda hanya menggeleng, lalu orang itu mematikan mesin mobilnya dan turun mendekati Dinda.
" Kenapa kamu menangis? "
" Bukan urusanmu. "
__ADS_1
" Kenapa menangis di pinggir jalan seperti ini? "
" Memangnya kenapa? ini kan jalan umum. bukan jalan kakekmu. "
Dewa menghela nafas.
" Kau kenapa? pasti ini gara-gara Wira kan? "
" Bukan, ini bukan gara-gara Wira. Ini semua gara-gara aku, aku yang salah sudah terlalu berharap kepada dia. "
" Din, masih banyak laki-laki diluar sana yang siap menjadi imam kamu. Mengapa kamu terus berharap kepada Wira? "
" Karena aku mencintainya. "
" Kalau kamu mencintai nya kenapa hanya kamu seorang yang menangis? kenapa Wira baik-baik saja? "
Dinda terdiam menangis dan menangis sejadi-jadinya.
Lalu Dewa memeluknya, dia menangis sedih dalam pelukan Dewa.
" Aku tau kamu mencintai Wira, tapi kamu juga berhak bahagia Din, " ucap Dewa.
" Ayo ikut aku, " sambungnya sambil menggandeng tangan Dinda.
" Mau kemana? "
" Kita ke suatu tempat untuk menghilangkan kesedihan mu "
" Janji dulu, kau jangan macam-macam denganku? " ujar Dinda seraya memberikan jari kelingking nya.
" Kaya anak kecil, iya janji " ujar Dewa seraya membalas dan memberikan jari kelingkingnya.
" Yaudah ayo masuk mobil, " sambungnya.
Dinda mengangguk dan langsung memasuki mobil itu.
Mereka langsung berangkat menuju ke suatu tempat yang indah, dimana hanya ada pemandangan pegunungan dan anginnya pun sepoi-sepoi.
Setelah mereka sampai mereka langsung turun.
" Tempat apa ini? " tanya Dinda kepada Dewa.
" ini tempat ku dulu. "
" tempat mu? untuk apa? "
" Menghilangkan rasa stres dan putus asa. "
" jadi kamu sering kesini? "
" tidak juga, aku hanya beberapa kali pergi ke tempat ini. "
" bagaimana tempatnya? " sambungnya.
" tempatnya bagus, lumayan. "
" sudah tidak bersedih lagi? "
Dinda mengangguk.
" kamu juga bisa kok kalau mau bunuh diri disini. " seraya bercanda.
" apaan sih, dosa tau kalau bunuh diri itu. "
" hehehe cuma bercanda. "
" iya aku ngerti. "
__ADS_1
Mereka tertawa melihat pemandangan itu seraya menghilangkan kesedihan masing-masing dan tanpa terasa hari sudah mulai sore dan mereka pun langsung beranjak untuk pulang kerumah masing-masing.