
" Oh iya, sebentar lagi Wira mau pamit untuk kembali ke pesantren lagi. " ujar Wira kepada Raka, dan juga mamanya itu yang membuat semuanya terkejut mendengarnya.
" Mm? "
" Iya, memangnya kenapa kak? "
" Kamu tidak mau tinggal disini bersama kami Wira? " tanya mamanya itu.
" Sebenarnya sih mau ma, tapi kan Wira juga masih harus banyak belajar lagi ma di pesantren. Ditambah lagi sebentar lagi ini akan ada event Tartil Qur'an, dimana Wira harus segera bersiap untuk mengikuti event ini. "
" Event Tartil Qur'an? "
" Iya ma. "
" Mama dan juga kakak kalau mau ikut untuk menemani Wira juga tidak apa-apa ma, nanti Wira akan memberi tahu kepada ustadz muda dan juga yang lainnya. " ujarnya Wira lanjutnya lagi.
Mamanya dan juga Raka saling melihat satu sama lain
" Memangnya tidak apa-apa Wira kalau kami ikut? " tanya mamanya itu
" Insyaallah tidak apa-apa ma. Lagi pula kan tidak apa-apa kalau mengajak keluarga untuk mendukung biar menjadi penyemangat. " ujarnya Wira.
" Yasudah, kalau begitu mama akan ngeluangin waktu biar bisa mendukung kamu. "
" Yang penting do'anya ma, jangan lupa. "
__ADS_1
" Iya. Insyaallah mama akan mendo'akan kamu. " ujarnya sambil tersenyum kearahnya.
Kemudian Raka melihat kearah Wira.
" Nasib jomblo ya gitu, tidak punya penyemangat. " ujarnya Raka kepada Wira.
" Bukan jomblo kak. "
" Apa? kalau bukan jomblo? "
" Membujang. "
" Itu sama aja, Wira. Sama-sama jomblo. " ujarnya sambil tertawa kecil.
" Sudah, sudah. Raka jangan gitu sama saudaramu. Kamu juga jomblo sama seperti Wira. " ujarnya mama yang seketika membuat Raka terdiam.
" Hmm? bukan jomblo ma. "
" Memangnya apa kalau bukan jomblo?
" Melajang. "
" Itu sama-sama jomblo Raka. " ujar mamanya itu membuat Raka terdiam dan Wira tertawa kecil mendengar itu.
" Kalau sama-sama jomblo ya gak boleh gitu kali kak. Hahaha. " ujar Wira sambil tertawa namun ditutup dengan tangannya. Namun Raka terdiam melihat itu.
__ADS_1
" Sudah, sudah. Memang kalian bukan jomblo, tetapi jejaka. " ujar mamanya itu kepada keduanya.
" Nah, itu baru bagus tuh ma. Julukan untuk kita berdua. Anak jejaka. " ujar Raka.
" Ketika para jejaka bertemu. Hehehe. " ujar Wira.
" Ya begitulah, yang penting kalian bahagia. " ujar mamanya itu membuat keduanya tertawa kecil.
.
.
Disisi lain.
Fahrul dan Firman sudah bertemu dengan ustadz muda, ustadz muda sudah menceritakan semua yang terjadi sebelumnya kepada keduanya membuat keduanya terkejut mendengar itu.
" Kenapa Dewa tega melakukan itu semua kepada Wira, ustadz muda? " tanya Firman kepada ustadz muda.
" Saya juga tidak tau firman. Saya kurang tau betul apa yang sebenarnya sudah terjadi di masa lalu. Katanya sih keluarga Dewa memiliki dendam pribadi kepada keluarga Wira, makanya Wira diculik sewaktu dia masih kecil dan diasuh orang yang dibayar oleh keluarga Dewa. "
" Memangnya dendam karena apa ustadz? "
" Saya juga kurang tau firman. Alangkah baiknya bila kamu langsung menanyakan ini kepada Wira atau Raka secara langsung. " ujarnya ustadz muda seakan tidak ingin memberi tahu tentang itu dan meminta untuk menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Kemudian firman mengangguk, sementara Fahrul hanya terdiam mendengarnya.
" Baiklah ustadz muda. "
__ADS_1