Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Maafkan saja


__ADS_3

" Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang kerumah dan bertemu mama. Mama pasti sangat bahagia mendengar ini semua. Kalau Zou itu masih hidup. " ujar Raka sambil lalu berdiri.


Kemudian dia membangunkan Wira.


Lalu Wira mengangguk.


Seketika itu Raka melihat kearah Deni Savero.


" Den, bawa Dewa ke kantor polisi, agar dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. " ujar Raka. Lalu Deni mengangguk.


" Tunggu dulu. " ujar Wira menghentikannya.


" Kenapa Wira? " tanya Raka dengan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya.


" Alangkah baiknya jika tidak melibatkan polisi dalam hal ini. "


" Loh, memangnya kenapa? "


" Dia tidak bersalah kak, yang melakukan itu semua kan kakeknya, tidak ada hubungannya dengan dia. "


" Tapi dia sudah mengaku-ngaku sebagai kakakmu Wira, dan juga dia sudah memisahkan kita selama ini. "


" Tidak apa-apa kak, maafkan saja. Bukankah setiap manusia ini tempatnya salah? lalu apa salahnya memberikan kesempatan kedua kepada seseorang yang telah berbuat salah kepada kita? "


Kemudian Raka menghela nafas dalam-dalam dan melihat kearah Dewa.

__ADS_1


" Lagi pula dia membayar pasutri sebagai orang tua asuhku. Dan juga mereka sudah merawatku dengan sangat baik. " lanjutnya lagi.


Raka semakin terdiam, karena dia kagum dengan sifat kedewasaan Wira. Dan menghela nafas.


" Baiklah, kalau itu maumu. Aku tidak akan memperpanjang masalah ini sampai ke kantor polisi. " ujar Raka dan kemudian Wira mengangguk.


" Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Mari ustadzah, ustadz dan yang lainnya. " ujar Raka berpamitan kepada yang lainnya dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.


" Iya, mari. " sahut serentak.


" Saya izin dulu, ustadz muda, ustadzah, Angel. Mari, assalamualaikum. " ujar Wira.


" Iya waalaikumsalam. " jawab mereka.


" Hati-hati ya Wira. " ujar Angel dan Wira mengangguk lalu mengikuti langkah kaki dari Raka. Sementara Angel terus melihat kearah Wira sampai menghilang dari pandangannya.


" Ehh, tidak apa-apa ustadzah. "


" Sedang melihat Wira ya? "


" Nggak, itu hanya melihat angin saja yang sedang lewat. "


" Angin lewat? " lalu ustadzah melihat ke sekelilingnya. " Dimana ada angin Angel? kalau melihat Wira ya tinggal ngaku saja, tidak usah berbohong. Berbohong itu dosa loh. "


Angel hanya tersenyum malu, sementara Zein hanya melihatnya dan melihat kearah yang dilewati Wira tadi.

__ADS_1


" Kalau kamu tidak bisa jauh dari Wira, kenapa kamu tidak ikut saja kerumahnya? " ujar ustadz muda kepada Angel sambil bercanda.


" iihh, nggak ustadz. Lagi pula kan Wira juga mau bertemu mamanya untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama mereka berpisah tidak bertemu. " sahut Angel.


" Ya tidak apa-apa atuh, apa salah nya hanya menemani calon. "


" Calon apa? "


" Ya calon itu lah. " ujar ustadz muda dan kemudian melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu dan diikuti oleh ustadzah. Lalu Angel mengikutinya.


Sementara itu, Zein terus menatap Angel namun Angel tidak menghiraukannya.


Dewi, kenapa kau tidak menghiraukanku? Apa kau tidak merindukanku sedikit pun?


Lalu kemudian Zein melihat kearah Dewa dan tersenyum sinis.


" Permainan ku belum selesai. Ini masih awal dari kehancuranmu Dewa. " ujar Zein kepada Dewa, sementara Dewa menatapnya dengan tatapan tajam.


" Akan aku balas semua perbuatan mu yang sudah kamu lakukan kepada Nino saudara kembar ku. Tunggu saja tanggal mainnya " lanjutnya lagi. Kemudian Zein melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Dewa hanya terdiam melihat kearah Zein yang sedang berjalan dan hilang dari pandangannya.


Apa yang akan dia lakukan kepadaku dan juga kakek?


" Aargghhh. " sambil mengusap mukanya dengan kasar.


" Saat ini aku sudah kehilangan Wira, Wira sudah tau semuanya. Lalu akan ada apa lagi yang terjadi selanjutnya? " sambungnya.

__ADS_1


Aku harus waspada.


__ADS_2