Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Di klinik Tunas Inti


__ADS_3

Setelah pada akhirnya sampai di klinik, akhirnya para perawat pun datang untuk menolongnya.


" Kenapa pak? " ujarnya sambil tergesa-gesa memberikan kasur dorong itu.


" Ini korban tabrak lari. Cepat bantu saya untuk menyelamatkan dia. " ujarnya sambil meletakkan tubuh dinda dari gendongannya itu ke kasur dorong.


" Siap pak. " kemudian mereka mendorong kasur itu menuju ke ruang UGD.


Dalam perjalanan menuju ke UGD, ustadz muda tak ada habis-habisnya memanggil nama Dinda untuk segera sadar. Namun Dinda tidak menjawabnya, karena sedari tadi dia pingsan.


Setelah dia masuk ke UGD, perawat yang sedang bertugas melarang ustadz muda untuk masuk.


" Mohon maaf pak, sebaiknya bapak tunggu disini saja. " ujar perawat itu.


" Baiklah, tolong selamatkan teman saya ya. " ujarnya sambil mengangguk dengan rasa perasaan bersalah yang ada di dalam dirinya itu.


" Insyaallah. Bapak sebaiknya berdo'a saja kepada Allah, semoga Allah menolongnya. "


Kemudian ustadz muda mengangguk


Dan perawat itu menutup pintu ruangan itu dari dalam. Sementara ustadz muda hanya mondar-mandir dengan perasaan bersalah yang ada dalam dirinya itu.


Yaa Allah, selamatkanlah Dinda. Semoga dia baik-baik saja.


.


.


Sementara itu di sisi lain.

__ADS_1


Di pesantren Pakubumi


Wira sedang meminum minuman di kantin bersama Fahrul dan Firman sambil berbincang-bincang tentang sesuatu yang sudah menimpa Wira. Wira sudah bercerita panjang lebar kepada temannya itu.


Kemudian selang beberapa lama, Wira mendapatkan panggilan telepon.


" Hallo, assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. " ujarnya suara dari dari dalam telepon itu dengan nada yang tergesa-gesa.


Wira mulai menyadari suara itu, ternyata yang tidak lain adalah suara dari ustadz muda.


" Ustadz muda? ada apa? "


" Wira, aku ingin meminta tolong kepadamu. "


" Meminta tolong apa ustadz muda? " ujarnya Wira, sementara kedua temannya itu hanya melihat kearah Wira.


Ustadz muda menghela nafas


" Klinik? siapa yang sakit? " Wira terkejut mendengar itu, suaranya berubah menjadi membesar.


Ustadz muda menghela nafasnya lagi


" Aku tadi hampir saja kecelakaan. Dan untung saja ada seseorang yang menolongku, tetapi orang itu saat ini ada di UGD. Dia yang mengalami kecelakaan. " ujar ustadz muda dengan rasa perasaan bersalah yang terus menghantuinya.


" Innalilahi.. "


" Yasudah, saat ini ustadz muda ada di klinik mana? biar saya segera mendarat kesitu. " ujarnya lagi.

__ADS_1


" Saya saat ini ada di.. " sambil mencari nama klinik itu dengan melihat ke sekelilingnya kemudian dia menemukan sebuah nama yang tak jauh dari tempat itu. " di klinik Tunas Inti. "


Mendengar itu seketika itu Wira mulai menjawabnya " Oke baiklah, ustadz muda tunggu saja disana. Assalamualaikum. " kemudian menutup panggilan teleponnya itu.


" Waalaikumsalam. "


Seketika itu kedua temannya itu langsung mendekat ke arah Wira dan menanyakannya.


" Siapa yang menelepon Wira? " tanya Firman.


kemudian Wira melihat kearahnya


" Ustadz muda. Katanya dia saat ini dia ada di klinik. "


" Klinik? sedang apa? " timpal Fahrul.


" Ada sesuatu. Kalian tau tempat dimana klinik Tunas Inti berada? " tanya Wira kepada keduanya sambil mengalihkan topik pembicaraan.


" Tau. " celetuk Firman.


Wira seketika menoleh kearah firman


" Dimana? apa kau bisa mengantarkanku kesana? "


" Baiklah, ayo. "


" Tunggu dulu, aku ikut kawan. " sahut Fahrul, keduanya pun melihat kearah Fahrul.


" Baiklah, tapi ingat jangan sampai rahasia ini bocor ya? " ujar Wira kepada keduanya

__ADS_1


Keduanya pun mengangguk.


Kemudian mereka berjalan pergi meninggalkan tempat itu, dan tak lupa membayar minuman tadi.


__ADS_2