Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Kesalahan


__ADS_3

" Malu kenapa kak? "


" Iya, aku dulu sekolah jarang masuk. Sekalinya masuk tidak mengerjakan tugas. Aku dulu malas sekali untuk mengerjakan tugas. Apalagi kalau disuruh menulis, kalau disuruh nulis aku ya cuma pura-pura nulis. Itupun kalau ada guru, kalau tidak ada guru ya aku tinggal menyuruh temanku untuk menulis di bukuku. Selesai menulis aku tinggal memberinya upah. "


" Jadi kakak dulu sekolah cuma nitip absen doang? "


" Iya Ra. " ujar Dewa sambil melihat kearah Wira.


" Wahh.. Berarti kakak dulu hebat. " sahutnya sambil bercanda.


" Hebat? maksudmu? "


" Iya, kakak bisa membeli segalanya dengan uang. Tapi sayangnya itu bukan uang kakak, kalau itu uang kakak tidak mungkin kakak akan berbuat seperti itu. "


Dewa terdiam seakan terkena tamparan keras di dalam hatinya mendengar perkataan Wira.


" Jadi, apa yang harus aku lakukan Wira? untuk memperbaiki semuanya? " tanya Dewa kepada Wira seakan meminta solusi.


" Yang sudah terjadi biarlah terjadi kak. Karena itu semua pasti sudah takdir Allah. Ya kita harus terima itu, mau tidak mau, siap tidak siap kita harus terima semuanya. Kita harus bersyukur atas takdir Allah dan nikmat Allah yang sudah diberikan kepada kita. Hanya dengan bersyukur bisa mengubah masa lalu menjadi kenangan manis. "


Dewa mengangguk memahami setiap perkataan itu.


" Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah jangan sampai mengulanginya kembali. Jadikan masa lalu itu sebagai pembelajaran dalam hidup kita. Ya mungkin aku tidak pantas memberikan nasehat kepada kakak, karena kakak lebih tua dari aku. Tapi aku wajib mengingatkan kakak jika kakak melakukan kesalahan. Karena manusia ini memang tempatnya salah kak, kebenaran hanya milik Allah semata. " lanjutnya lagi.


" Alhamdulillah.. Terimakasih ya Wira. " ujarnya sambil memeluk Wira.


" Iya sama-sama kak. "

__ADS_1


Kemudian Dewa melepaskan pelukannya kepada Wira. Dan kembali bertanya.


" Wira, apa aku boleh bertanya sesuatu? " tanyanya kepada Wira.


" Mau bertanya apa kak? "


" Kalau seandainya aku telah melakukan kesalahan, apa kamu masih memaafkanku? "


" Memang apa yang kakak perbuat? kakak sudah melakukan apa terhadap diriku? "


Dewa terdiam seakan ingin menyampaikan sesuatu.


" Kalau seandainya aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar dan berbohong kepadamu, apa kamu masih bisa memaafkanku, Wira? " tanyanya semakin dalam.


" Tergantung, tergantung letak kesalahannya itu dimana. Jika masih bisa dimaafkan ya aku maafkan. Namun jika sudah kelewat batas, ya wallahu wa'lam, aku juga tidak tau. Yang tahu hanya Allah semata. " ujar Wira kepada kakaknya itu.


Dewa terdiam memikirkan sesuatu. Dia berpikir bahwa inilah saatnya dia memberi tahu sebuah rahasia besar yang selama ini tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.


" Kak, kenapa kakak diam? apa ada sesuatu yang kakak rahasiakan dariku? " tanya Wira seraya menatap mata Dewa lebih dalam lagi.


" Wira, sebenarnya aku... "


" Assalamualaikum. "


Ucapan Dewa terhenti, dan seketika keduanya menoleh kearah suara tadi.


" Waalaikumsalam. Eh Cantika. " ujar Wira.

__ADS_1


" Kalian sudah pulang dari klinik? dan Wira, bagaimana keadaanmu saat ini? sudah mulai membaik? " tanya Cantika.


" Iya, alhamdulilah ka. Aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan alhamdulilah juga, ada perkembangan. "


" Alhamdulillah. Aku bersyukur. Lalu, kalian.. sedang apa disini? berdua disini? "


" Saya tadi hanya mencari angin disini. Lalu Wira menghampiriku. Lalu kami mengobrol. " sahut Dewa.


" Mengobrol kok cuma berdua? " ujar Cantika sambil bercanda kepada keduanya.


" Bertiga kok. Kan saat ini sudah ada kamu yang menemani kita. "


" Iya juga sih. "


" Ngomong-ngomong kamu habis dari mana? "


" Ini habis dari kantin membeli minuman. " sambil menunjukkan minumannya itu.


" Ohh, lalu? "


" Ya mau kembali ke kelas. Kasian ustadz muda saat ini sendirian mengurus santri-santri yang lain dikelasnya. "


" Ohh.. "


" Iya kalau begitu saya permisi dulu, ingin kembali ke kelas menemui santri yang lainnya. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya itu meninggalkan keduanya.


" Iya silahkan. " sahut keduanya.

__ADS_1


__ADS_2