
Kini sudah tiba disaat hari pernikahan Wira dan Angel. Dan keduanya pun sudah mulai bersiap-siap untuk segera memulai acara itu.
Acara ini digelar tidak terlalu megah nan mewah, hanya digelar akad nikah saja yang dihadiri oleh beberapa santri sebagai saksi dan perwakilan saja dari santri-santri yang lain. Tentunya ini adalah hari yang paling bahagia untuk Wira dan Angel karena sebentar lagi mereka akan menjadi sah sebagai pasangan suami istri.
Namun, tidak untuk Zein. Ya, dia sangat sedih dan juga sakit hati begitu mendengar saat pujaan hatinya akan menikah dengan orang lain selain dirinya. Tapi, dia menunjukkan kepada semua orang bahwa dia sedang baik-baik saja dan dia juga menghadiri acara akad nikah ini bersama dengan fahrul, firman, ustadz muda dan juga yang lainnya.
Sejenak ustadz muda melihat kearah Zein yang sedang menutupi semua kesedihannya itu dalam-dalam agar tidak ada orang yang mengetahuinya. Namun ustadz muda mengetahui bahwa Zein saat ini tengah patah hati karena dulu ustadzah pernah bercerita tentang masa kecil Zein dan Angel sewaktu mereka masih bersekolah bersama dulu dan mengatakan bahwa Zein mencintai Angel, namun takdir berkata lain, perlahan namun pasti Angel sudah melupakan semua kenangan masa lalunya bersama Zein dan dia memilih untuk membuka lembaran baru dan memilih untuk memulai hubungan baru dengan Wira.
"Kamu tidak apa-apa kan, Zein?" tanyanya ustadz muda.
Zein sejenak menunduk dan menghela nafasnya. "InsyaAllah saya tidak apa-apa, ustadz."
"Yang sabar ya, mungkin belum jodohnya." sambil mengelus punggung Zein.
Zein membalasnya dengan senyuman. "Terimakasih banyak ustadz."
"Iya sama-sama."
Lalu tiba-tiba datang seseorang menghampirinya.
"Assalamualaikum, ustadz muda."
"Waalaikumsalam, iya ada apa firman?"
"Itu, ustadz dipanggil Kyai di dalam disuruh mendekat katanya." sambil menunjuk kearah dalam dimana Angel dan Wira sudah duduk bersebelahan untuk melakukan ijab qobul.
Ustadz melihat kearah yang ditunjuk oleh firman. "Baiklah." beralih menatap kearah Zein. "Zein, saya kesana dulu ya."
__ADS_1
Zein mengangguk. "iya silahkan, ustadz."
Kemudian ustadz muda melangkahkan kakinya menuju ke dalam dan meninggalkan tempat itu. Kini hanya tinggal mereka berdua yang tersisa disitu. Sejenak Zein dan firman saling bersitatap seperti sepasang musuh yang siap untuk mengibarkan bendera perang untuknya dimulai.
"Bagaimana, sudah mendapatkan calon istri yang baru yang lebih baik dari Angel?" tanyanya firman yang masih melihat kearah depan, sejenak Zein melihat kearahnya lalu melihat kearah depan pula.
Zein menghela nafasnya. "bukan urusan kamu."
"Masih banyak yang lebih baik dari dia, mending kamu cari yang lain yang bisa menerimamu apa adanya. Kalau sudah bersuami, ya sudah ikhlaskan saja, buat apa masih difikirin? buang-buang tenaga saja."
"Saya sudah mengikhlaskan dia."
"Owhh, ya baguslah kalau begitu."
Kemudian fahrul datang menghampiri keduanya.
"Waalaikumsalam." jawabnya serentak.
Firman melihat kearah fahrul, dilihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sementara yang dilihat hanya memberikan senyuman Pepsodent.
"Wahh, anda terlihat lebih rapi ya, terlihat lebih beda dari yang sebelumnya."
"Iya pasti lah, Fahrul tampil beda gitu loh." sambil memegang rambutnya dengan menyisirnya ke belakang.
Firman tersenyum kecil melihat tingkah laku temannya itu. Sejenak Fahrul melihat kearah Zein.
"Ini, yang patah hati itu?" tanyanya Fahrul sambil menunjuk kearah Zein.
__ADS_1
Firman mengangguk.
"Wahh, selamat ya." sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Zein dan Zein pun membalas uluran tangannya.
Firman memukul dahi Fahrul dengan perlahan. "Orang lagi patah hati dikasi ucapan selamat."
"Ya nggak apa-apa lah."
Lalu kemudian terdengar suara dari soundsystem yang memberi tahu bahwa acara akad nikah akan segera dimulai, lalu semuanya pun berjalan mendekati tempat ijab qobul itu. Termasuk Zein dan kedua sejoli itu.
Semuanya terdiam mendengar perkataan dari penghulu yang mengeluarkan kata ijab kepada Wira.
"Saya terima nikah dan kawinnya Angeli Dewi Rengganis Binti Syifulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas batangan 10gram dibayar tunai."
"Sah"
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillah.."
Lalu kemudian penghulu pun mulai membacakan doa lanjutan dan diamini oleh semua orang yang berada di tempat itu. Tanpa terasa Zein meneteskan air matanya untuk menangisi pujaan hatinya yang telah resmi menjadi milik orang lain itu.
Aku kalah, Dewi. Aku kalah dengan seseorang yang lebih muda dariku.
Sambil mengusap air matanya.
__ADS_1