
Setelah mereka sampai di klinik itu, mereka langsung masuk kedalam. Mereka berlarian menuju kearah UGD, dimana disitu ustadz muda sudah menanti kedatangannya.
" Assalamualaikum, ustadz muda. " ujarnya dengan nafas terengah-engah.
" Waalaikumsalam. " jawabnya. Kemudian Wira melihat ke segala arah untuk mencari tau siapa korban dalam peristiwa itu, namun tidak dapat menemukannya.
Kemudian Firman bertanya di sela-sela itu.
" Kenapa ustadz muda bisa ada disini? apa yang sudah terjadi? siapa yang kecelakaan ustadz? " tanyanya.
Semuanya melihat kearah ustadz muda, kemudian ustadz muda menghela nafas untuk menenangkan diri dan mulai memberi taunya.
" Dinda. " ujar ustadz muda.
" Apa? Dinda? " semuanya terkejut mendengar itu. Seketika semuanya mengintip kearah jendela UGD untuk mengetahui kondisinya namun tidak bisa melihat, karena tertutup oleh korden dari jendela itu.
Ustadz muda mengangguk.
" Bagaimana bisa ini terjadi? apa ustadz muda yang melakukannya? " tanya Wira yang membalikkan badannya dan melihat kearah ustadz muda.
__ADS_1
Ustadz muda menunduk terdiam seribu bahasa tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, karena dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian ini.
" Kenapa ustadz muda diam saja? apa ustadz muda yang melakukan ini semua? " tanyanya Wira lagi sambil menaikkan nada bicaranya yang seakan memiliki emosi yang meronta-ronta di dalam dirinya namun memilih ia redam sendiri karena tidak menginginkan sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.
Sementara itu Fahrul mendekat kearah ustadz muda, sambil mengelus pundaknya.
" Bukan Wira, bukan saya yang melakukannya. " ujarnya dengan gugup.
" Lalu siapa? "
Ustadz muda kemudian menghela nafasnya, kemudian Firman mendekatinya di sela-sela itu.
" Tidak. " ujarnya sambil menggeleng.
" Astaghfirullah hal adzim. " menghela nafas sambil mengusap mukanya secara kasar. " orang tua Dinda harus tau ini semua ustadz muda. Mereka harus mengetahuinya. " ujarnya Wira.
Sementara itu ustadz muda hanya terdiam menunduk kembali, karena merasa bersalah. Andai saja dia berjalan dengan sangat hati-hati mungkin kejadian ini tidak akan menimpa orang lain pikirnya itu.
" Yasudah, kalau begitu saya yang akan memberi tahunya. " ujar Firman.
__ADS_1
" Iya silahkan. " ujar Wira.
Firman menghela nafasnya. " Ustadz muda yang sabar ya, mungkin ini ujian dari Allah. " ujarnya firman lagi sambil mengelus pundaknya ustadz muda dan ustadz muda mengangguk. Kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
" Waalaikumsalam. " celetuk Fahrul sambil melihat kearah firman. Firman yang mulai menyadari itu langkah kakinya pun sontak terhenti dan menoleh sambil tersenyum.
" Assalamualaikum. " kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Wira masih dengan rasa gelisah yang menyelimuti hatinya. Dia bermondar-mandir di depan ruangan itu, sementara Fahrul yang mulai menyadari itu kemudian menegurnya.
" Duduk aja dulu Ra. Enggak cape mondar-mandir mulu dari tadi? " ujarnya Fahrul.
Wira melihat kearahnya sambil menghela nafas.
" Sini duduk dulu. " ujarnya lagi sambil menepuk kursi sebelahnya yang diduduki itu. Kemudian Wira mulai menuruti perintah dari temannya itu sambil bersedekap.
" Tenang aja, pasrahkan semuanya sama Allah. Banyak-banyak berdo'a supaya Allah membantu dokter untuk menyembuhkan Dinda. " ujarnya kemudian sambil berusaha menenangkan hati Wira. Sementara itu Wira kemudian menghela nafasnya kembali dan tersenyum kearahnya Fahrul. Melihat itu Fahrul bahagia.
" Nah, gitu dong senyum. "
__ADS_1
Wira tersenyum dengan hati yang gelisah memikirkan keadaan Dinda, sementara itu ustadz muda hanya terdiam membisu dengan perasaan bersalahnya.