
Di klinik.
Raka berbincang-bincang dengan Wira.
"Bagaimana keadaanmu saat ini? Sudah membaik?" Tanya Raka.
"Alhamdulillah mas. Saat ini keadaan saya sudah membaik" ucap Wira.
"Kamu sudah makan? Kalau belum makan ini silahkan dimakan. Tadi perawat membawanya ke ruangan ini" seraya menunjuk kearah meja yang diatasnya ada makanan.
"Iya mas, nanti akan saya makan"
"Tetapi, kalau boleh tau mas ini siapa ya? Mengapa kau menunggu ku disini? Apa kita saling kenal dulu?" Sambung Wira
"Tidak, kita tidak saling kenal. Bahkan kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Tadi waktu kau kecelakaan, aku tidak sengaja lewat di jalan itu. Lalu aku membantumu untuk dibawa ke klinik ini"
Wira terdiam mendengarkan perkataan Raka
"Sekali lagi terimakasih banyak ya mas.. maaf saya sudah merepotkan"
"Tidak apa-apa, kebetulan saja saya tadi jalan-jalan. Memang mencari udara segar. Mungkin Allah menolongmu melalui perantara saya" ucapnya.
Kemudian pada saat bersamaan ustadz muda dan yang lainnya datang.
"Assalamualaikum" ucap ustadz muda.
"Waalaikumsalam"
"Bagaimana keadaanmu Wira? Apa kau tidak apa-apa?" Tanya ustadz muda.
"Alhamdulillah saya tidak apa-apa ustadz. Cuma luka kecil di bagian kepala aja"
Dewa kaget melihat Raka dan mereka saling bertatap.
"Kauu.." ucap Dewa seraya menunjuk ke wajah Raka.
"Kau Dewa kan? Senang bertemu denganmu lagi" ujar Raka seraya mengulurkan tangannya.
"Iya. Terimakasih kau sudah menolong adikku." Seraya membalas uluran tangan dari Raka
"Adik? Dia adikmu?"
"Iya, dia adik kandungku. Dia cucu dari Adhitama Mahesa"
Raka melihat kearah Wira
"Mengapa aku baru tahu kalau kau memiliki adik?" seraya menatap Dewa.
Dewa menghela nafas
"Ceritanya panjang. Dan biar dia menjadi urusan keluarga ku, kau boleh pergi sekarang" seraya menundukkan kepalanya
"Apa kau mengusir ku?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya tidak ingin adikku tidak merasa nyaman disini. Karena ada orang tak dikenal yang berada di dalam ruangan ini" seraya membuang muka ke segala arah
"Tidak kak, dia yang telah membantuku. Dia juga yang menjagaku saat aku belum siuman tadi. Aku merasa nyaman saat berada didekatnya" sahut Wira.
"Kau harus istirahat. Kau belum sembuh. Biar aku yang akan membawa orang ini keluar dari ruangan ini" seraya menyeret Raka keluar.
"Kak, jangan kasar seperti itu. Kakak bisa kan bicara baik-baik dengannya" Ucap Wira
"Dewa, tunggu dulu. Ini rumah sakit, kau seharusnya tahu kita ini disini harus menjaga sopan santun dan etika." Ucap ustadz muda seraya melerai keduanya.
"Tapi adikku harus istirahat ustadz" sahut Dewa sambil menghela nafas
Dewa melihat kewajah Raka
"Kau yang keluar, atau aku yang keluar?"
"Oke baiklah. Aku akan pergi, aku mohon maaf jika kehadiran ku disini membuat mu merasa kurang nyaman. aku mohon pamit kepada kalian semua. Masalah biaya administrasi sudah kuurus semuanya. Aku pamit untuk pulang. Assalamualaikum" ucap Raka seraya meninggalkan ruangan itu.
"Waalaikumsalam"
Raka keluar dari ruangan itu seraya memikirkan sesuatu.
"Mengapa aku baru tahu kalau dewa memiliki adik? Mengapa dia merahasiakan ini dari semua orang? Mengapa Dewa tidak mau aku berdekatan dengan Wira? Dan juga mengapa aku memiliki golongan darah yang sama dengan Wira? Ada apa dengan dia? Benar-benar aneh" Gumam dalam hati Raka seraya menghentikan langkahnya dan memikirkan sesuatu.
.
"Siapapun yang merusak permainan ku, akan berhadapan langsung dengan ku. Meskipun itu kau sekalipun" gumam Dewa dalam hati sambil tersenyum sinis melihat kearah pintu.
.
Ustadzah mencoba berkali-kali menghubungi ustadz muda dan akhirnya tersambung
"Assalamualaikum Ustadzah, ada apa?" tanya ustadz muda.
"Waalaikumsalam, ustadz muda bersama Wira?"
"iya ustadzah, ini sedang bersama saya dan juga yang lainnya di klinik Kasih Ibu"
"Bagaimana keadaan Wira? apa dia baik-baik saja?"
"Sepertinya tidak, dia terluka di bagian kepala Ustadzah. Saat ini kepalanya dibalut dengan perban"
"Innalilah, terus kata dokter apa dia sudah dibolehkan pulang? atau rawat jalan?"
"sepertinya belum boleh ustadzah, mengingat Wira saat ini baru siuman, sejak tadi dia pingsan"
"ya sudah kalau begitu saya dengan beberapa Santriwati akan menuju kesitu"
"Yasudah, hati-hati"
"Iya, tolong dijaga ya nak Wira nya ustadz muda"
"siap ustadzah"
__ADS_1
sambil menutup telfonnya.
"Bagaimana ustadzah? Wira ada disana?" tanya Angel seraya mendekatinya.
"Iya ada, betul dia mengalami kecelakaan"
"Ya Allah, innalilah" ucap Angel seraya menutup mulutnya seakan terkejut mendengar berita itu.
Aisyah dan Cantika menutup mulutnya seakan mereka terkejut
"Lalu bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja?" tanya Angel.
"Kepalanya terluka, katanya sih dia mengalami benturan keras"
"kalau begitu mari kalian ikut ustadzah ke klinik Kasih Ibu untuk menjenguk Wira" sambungnya sambil berjalan terburu-buru dan diikuti oleh Santriwati.
"Pak, saya izin untuk ke klinik Kasih Ibu bersama mereka. Aisyah, Angel dan Cantika." seraya menunjuk ketiganya.
"kami ingin menjenguk Wira. kami ingin melihat Wira. mungkin tidak akan lama kok pak, selesai dari sana kita akan kembali lagi ke pesantren ini" sambungnya.
Penjaga gerbang mengangguk
"baik Bu" seraya membuka pintu gerbang.
"Hati-hati di jalan ya Bu, mbak" seraya menunduk sambil memegang gerbang.
"Iya mari" ucap ustadzah dan ketiganya seraya menunduk pula.
.
Disisi lain
"Zou, mengapa saat ini aku teringat pada zou? saat aku melihat Wira tadi seakan-akan zou terlahir kembali, mengapa aku merasakan zou itu ada pada diri Wira?" seraya melihat foto masa kecilnya bersama adiknya itu.
"Zou, kakak merindukanmu. cepat kembali lah, semua orang dirumah sangat merindukan mu, Zou Athalah" sambil menangis di depan fotonya itu.
Tiba-tiba ponsel Raka berbunyi.
Panggilan telpon dari asisten rumah tangganya dan Raka mengangkat telfon
"Iya, ada apa?"
"nyonya besar tuan. dia tidak mau makan"
"mengapa bisa begitu? bukankah tadi pagi sebelum aku berangkat mama baik-baik saja?"
"iya tuan, tapi nyonya besar tiba-tiba teringat pada Zou. dia mengigau nama Zou"
"Baiklah, tunggu aku dirumah. aku akan segera kembali kerumah saat ini juga"
"baik tuan"
seraya menutup telfonnya.
__ADS_1
.
"ada apa dengan mama? mengapa tiba-tiba dia teringat pada Zou? aku harus segera kembali kerumah untuk mengetahui keadaan mama" ujar Raka seraya berlari menuju ke mobil untuk kembali.