
Keesokan harinya ustadz muda dan ustadzah memanggil anak-anak yang telah dipilih untuk mengikuti event Tartil Qur'an tersebut untuk berkumpul di kelas yang kosong.
Aisyah dan Angel datang terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Wira.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Ais dan Angel.
Wira menoleh ke segala ruangan karena tidak melihat yang lainnya.
"Yang lain mana?"
"Mungkin sedikit terlambat. Tidak apa-apa duduk dulu disini"
Wira hanya mengangguk dan mencari tempat duduk.
"Sambil menunggu yang lain datang, boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Angel.
"Tanya apa?"
"Mengapa kamu tinggalkan Dinda begitu saja pada waktu itu?"
Wira hanya terdiam
"Apa kamu masih marah terhadap Dinda?" Sambungnya.
"Tidak"
"Terus? Mengapa kamu pergi begitu saja saat Dinda ingin berbaikan denganmu?"
Wira menunduk
"Wira, tidak baik bermusuhan seperti itu. Kamu seperti itu sama saja kamu memutuskan tali silaturahmi, dan Allah sangat membenci orang yang memutuskan tali silaturahmi" ujarnya kemudian.
"Aku tidak memaksa mu untuk berbaikan dengannya, aku juga tidak memaksa mu untuk kembali ke masa lalu mu. Karena itu hak mu. Aku cuma ingin kamu menghargai dia. Hargai dia sebagai seorang perempuan, jika tidak bisa hargai dia sebagai seorang manusia. Jika tidak bisa hargai dia sebagai seseorang yang tulus ingin menerima maaf darimu" sambungnya.
Wira terdiam menatap Angel
"Paham kan maksud saya?"
Wira mengangguk.
"Sepertinya kamu itu cinta pertama dia, buktinya dia sampai sekarang masih berharap kepadamu. Kata orang banyak yang bilang kalau cinta pertama itu sulit dilupakan. Sepertinya itu berlaku terhadap Dinda." Ujar Angel kemudian.
"Apakah kamu pernah jatuh cinta?" Wira bertanya kepada Angel.
Angel terdiam
"Apa kamu pernah merasakan sakit hati?" Sambungnya seraya menatap Angel dengan tajam.
"Apa itu cinta? Jatuh cinta itu seperti apa? Aku tidak tahu. Apa kamu pernah jatuh cinta? Apa kamu pernah melihat cinta? Kalau kamu pernah melihat cinta, mari tunjukkan kepada saya seperti apa itu cinta." Jawab Angel.
Wira terdiam menatap Angel.
"aku pernah jatuh cinta" ujar Wira.
"Seperti apa bentuk cinta?"
"Aku tidak tahu"
__ADS_1
"Kalau kamu tidak tahu mengapa kamu berkata kalau kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Angel.
"Cinta ituu..."
Tok..tok..tok...
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab mereka serentak.
"Eh ustadzah.. mengapa baru datang?" Tanya Aisyah.
"Tadi masih ada keperluan lain yang ustadzah tidak bisa tinggal. Alhamdulillah saat ini sudah bisa di handle oleh guru lain" ujar ustadzah kemudian.
"Lalu, dimana Cantika ustadzah?"
"Mungkin masih ada dikelas. Sebentar lagi mungkin akan kesini" jawab ustadzah.
Kemudian tak seberapa lama lalu ustadz muda datang dan diikuti oleh Cantika.
"Baik, kalau semua sudah berkumpul. Mari kita mulai belajar." Ujar ustadzah
"Baik ustadzah"
...****************...
Di sisi lain Dinda yang ingin bertemu dengan Wira seraya mau memberikan makanan tanpa sengaja bertemu dengan dewa di gerbang.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Dewa.
"Aku ingin bertemu seseorang"
"Bukan, bukan kamu."
"Lalu siapa?"
"Wira, Dimana dia?"
"Hah? Wira? Ada apa? mengapa kamu mencari Wira? Wira lagi sibuk tidak bisa diganggu. Dan juga sejak kapan kamu mengenal Wira?"
"Ada apa dengan Wira? Mengapa tidak bisa diganggu? Aku bukan berniat untuk mengganggu nya. Aku hanya ingin menemuinya itu saja. Ini sambil mau memberikan ini" ucap Dinda seraya memberitahu jika membawa rantang yang berisi makanan.
"Sejak kapan kamu mengenal Wira? Itu masih belum kamu jawab"
"Aku tidak tau. Aku lupa. Sudah dari dulu aku mengenal Wira. Kamu kan kakaknya? Coba aja tanya kepada Wira. Mungkin dia bisa menjawab semua pertanyaan mu" ujarnya kemudian.
Dewa hanya terdiam mendengar semua perkataan dia.
"Ada hubungan apa antara Dinda dan Wira adikku?" Gumam dalam hati Dewa
"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu. Aku akan menemuinya" seraya meninggalkan Dewa lalu dihentikannya
"Eitttss. Wanita itu dilarang bertemu dengan laki-laki. Apalagi ini area pesantren. Mending kamu pulang, karena Wira saat ini sedang tidak bisa diganggu"
"Memangnya ada apa sih? Kamu selalu aja menghalangiku untuk bertemu Wira. Memangnya Wira kenapa? Kok sampai tidak bisa diganggu?"
"Wira saat ini sedang belajar untuk mengikuti event Tartil Qur'an. Karena dia akan menjadi perwakilan santriwan dari pesantren ini" ujarnya kemudian.
"Ya Allah Wira, ternyata kamu sudah banyak berubah, aku senang mendengar berita ini" dalam hati Dinda
__ADS_1
Dinda terdiam
"woyy. Malah bengong aja nih cewek. Mending kamu sekarang pulang, takut mamah papah mu mencari mu nanti." Ujar Dewa.
Dinda melihat kearah Dewa
"Baiklah. Kalau begitu aku pamit. Nanti pasti aku akan kembali lagi untuk Wira"
"Kalau kembali jangan lupa membawa dua porsi ya? Satu lagi untuk Wira, satu lagi untukku" ujarnya sambil tersenyum kearah Dinda
"Tergantung. Sudah aku pamit, takut ibuku mencari ku dirumah. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" sambil melambaikan tangan kepada Dinda.
"Dinda, apa kamu tidak melihat seseorang yang tulus mencintaimu berdiri disini, selalu menanti mu" gumam hati Dewa.
...****************...
Di kelas latihan Tartil Qur'an.
"Audzubillahhiminas syaitonirrojim, bismillahirrahmanirrahim" suara Wira bak suara merdu yang membaca indah ayat-ayat Allah.
"Subhanallah"
Ustadz muda menggeleng-gelengkan kepalanya.
Angel tersenyum menunduk seraya seraya mendengarkan alunan indah bacaan Qur'an yang dibacakan oleh Wira. Sementara Ais dan Angel terus menatap wajah Wira seakan wajahnya berubah menjadi calon suaminya yang akan memberikan bacaan indah ayat suci Al-Quran.
Ustadzah hanya tersenyum melihat wajah Wira. Seakan bangga terhadap Wira, karena memang hanya Wira dari santriwan yang menjadi wakil dari pesantren ini.
"Mohon maaf ustadzah, apa disini ada minum?" Tanya ustadz muda.
Seraya memecah pandangan semuanya
"Ya Allah lupa ustadz, kami lupa menyediakannya." Ujar ustadzah.
Ustadzah melihat kearah santriwati
"Nak, ustadzah boleh minta tolong untuk membelikan minum untuk kita semua" sambungnya.
"Saya, saya ustadzah" berebut Ais dan Cantika.
Ustadzah melihat kearah keduanya.
"Sudah, sudah tidak usah berebut. Kalian bisa pergi berdua sekarang"
Ais dan Cantika berebut karena ingin memberikan perhatian lebih kepada Wira karena mereka tidak ingin laki-laki yang jadi idamannya itu merasa kehausan pikirnya.
Melihat itu Angel hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua temannya itu.
Suara Wira begitu jelas terdengar merdu sampai keluar kelas. Bahkan santriwati yang melewati kelas itu tertegun mengagumi suara indah Wira sampai-sampai menabrak tembok.
Kemudian Fahrul dan firman izin untuk ke toilet lalu tak sengaja melewati kelas itu dan menoleh kearah suara itu.
Fahrul menggeleng-gelengkan kepala
"Subhanallah.. benar-benar nih si Wira. Benar-benar calon suami idaman semua wanita dia nih" ucap Fahrul.
"saya jadi bangga kepada temen saya sendiri. Ya walaupun itu bukan saya ya setidaknya nama kita kan ikut harum saat bersama Wira. Hehe" sahut Firman seraya tertawa kecil.
__ADS_1
Fahrul tertawa kecil melihat tingkah laku teman yang disampingnya itu lalu segera menuju ke arah toilet.