Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Zou Athalah kamu dimana?


__ADS_3

Dirumah Raka.


"Dimana dia saat ini? apa mama boleh bertemu dengannya?" Ujar Mama menanyakan Wira.


"Dia saat ini ada di klinik Kasih Ibu ma, Dia ditemani oleh dewa dan juga beberapa teman santri lainnya. Untuk apa mama mau menemui nya?" Ujar Raka.


"Mama hanya ingin tahu orang itu. Mama hanya ingin melihat wajahnya saja. Karena mama penasaran dengan ucapan mu"


"tapi Dewa ma?"


"Ada apa dengan Dewa?"


"Wira ditemani oleh Dewa, dan dewa seakan akan tidak memperbolehkan orang lain masuk ke dalam ruangan itu"


"Tapi kan niat kita baik nak? Kita hanya ingin menjenguknya. Walau kita belum kenal akrab, tapi kan tidak ada salahnya kita berbuat baik kepada sesama. Apa itu salah?"


Raka terdiam menghela nafas.


"Baiklah ini demi kebaikan mama"


"Apa keadaan mama sudah baik-baik saja? sudah tidak bersedih lagi?" sambungnya.


"Alhamdulillah, mama sudah tidak apa-apa nak"


"Baiklah kalau begitu mama saat ini segera bersiap siap, aku akan membawa mama untuk bertemu dengan orang itu. Aku tunggu di mobil ya" seraya berdiri melangkahkan kakinya.


"Baiklah nak, mama akan segera bersiap. Kau tunggu saja di mobil"


.


.


Di sisi lain


Fahrul dan firman berada di kantin dekat klinik tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang sedang menerima telpon dari orang lain dan mendengarnya.


"Maafkan saya tuan, saya ingin melapor. anak itu belum meninggal. Dia hanya mengalami luka di bagian kepala dan saat ini dia berada di klinik bersama tuan muda"


"Bagaimana bisa? Kau ini bekerja bagaimana sih? Bisa bekerja tidak? Masa hanya menuntaskan seorang anak-anak saja tidak bisa" ucap dari dalam telpon dengan nada kesal.


"Saya sudah berusaha sebaik mungkin tuan, maafkan saya" ucap pria itu dengan nada lembut


"Apa ada saksi yang melihatmu?"


"Saya rasa tidak ada tuan, karena pada saat itu di tempat itu sangat sepi sekali"


"Yasudah"

__ADS_1


"Baik tuan." ujar pria itu seraya mematikan ponselnya lalu masuk kedalam mobil mewah.


.


.


Mendengar itu Fahrul dan firman terus melihat kearah mobil pria tadi yang meninggalkan area klinik itu.


"Tuan muda?" ujar Fahrul dan firman saling melihat.


.


.


Disisi lain.


Didalam perjalanan menuju klinik.


"Ka, mampir dulu ke minimarket ya. mama ingin membelikan sesuatu untuk Wira"


"Baik ma" Ujar Raka yang sambil fokus menyetir.


Raka menyetir sambil kefikiran sesuatu.


"Ma, Raka boleh bertanya sesuatu tidak?" tanya Raka.


"Mau bertanya apa Raka?"


Mama terdiam melihat kearah Raka lalu membuang pandangannya ke segala arah.


"Iya kenal, memangnya ada apa?"


"Sempat berteman baik kah?"


Mama terdiam menghela nafas.


"Iya, dulunya memang keluarga Adhitama Mahesa itu berteman baik dengan kita. Mempunyai hubungan baik dengan keluarga kita. Bahkan sampai menjalin kerjasama membangun bisnis bersama. Cuma ada insiden yang menimpa keluarga itu. Rumahnya kebakaran, bapak ibunya Dewa meninggal dalam insiden itu. Dan mereka mengira itu perbuatan dari keluarga kita"


"Mengapa bisa begitu? Mengapa mereka mengira kalau keluarga kita pelakunya?"


"Ntahlah, karena pada saat itu ada salah seorang karyawan yang mengadu domba keluarga kita dengan keluarga itu. Sehingga terjadi kesalahpahaman diantara kita."


"Mengadu domba? maksudnya?"


"Iya, salah seorang karyawan dari perusahaan Adhitama Mahesa itu membuat konspirasi. Mereka berbicara seolah-olah bahan yang kita kirim ke perusahaannya itu bukan barang berkualitas. Tapi kita sudah mengirimkan barang yang berkualitas, namun mereka membatalkan kontrak kerja sama dengan sepihak."


"Lalu?"

__ADS_1


"Setelah beberapa hari dari kejadian itu, rumah mereka kebakaran. Orang tua dewa menjadi korban dalam insiden itu. Dan anehnya semua asisten rumah tangganya itu selamat dalam insiden itu."


"Bagaimana bisa mereka selamat? sedangkan yang punya rumah menjadi korban?"


"Ntahlah, yang jelas keluarga Adhitama Mahesa itu menutup rapat-rapat tentang kejadian itu dari media. Karena dia berfikir kejadian itu pasti ada dari salah satu orangnya yang berkhianat kepadanya"


"Lalu mengapa mereka mengira kalau keluarga kita pelakunya?"


"Karena terakhir kali perusahaan dia menjalin kerjasama dengan perusahaan kita. Mungkin mereka mengira kita sakit hati, dan akan membalas perbuatannya. Padahal, semua karyawan di perusahaan kita sudah mengikhlaskannya termasuk papamu dulu"


"Lalu setelah beberapa hari dari kejadian itu, adikmu diculik oleh beberapa orang tak dikenal. mereka mencegat mama yang pada saat itu mama hanya jalan berdua bersama Zou" sambungnya.


"Zou?" Raka terkejut.


"Iya, adikmu dibawa pergi oleh orang itu. Dan sampai saat ini mama sangat-sangat merindukan adikmu. Entah dimana dia saat ini? bersama siapa? Mama sangat merindukannya" ujar Mama seraya meneteskan air mata.


"Ma, sudah jangan menangis. mungkin suatu saat Zou akan kembali kepada kita" seraya memberikan tisu untuk menghapus air mata mamanya.


.


"Dewa? apa dia ada hubungannya dengan hilangnya Zou? Atau jangan-jangan Wira itu adalah Zou yang selama ini mama dan aku mencarinya" gumam Raka dalam hati seraya mengira-ngira.


"Zou Athalah, dimana kau nak? mama merindukan mu. Sedang apa kau saat ini? bersama siapa?" gumam dalam hati mama seraya mengingat kenangan bersama Zou dan meneteskan air mata.


.


.


Disisi lain.


Fahrul dan firman seraya berbincang-bincang ingin kembali ke ruangan Wira.


"Tuan muda? atau jangan-jangan ada hubungannya dengan Wira?" tanya Fahrul.


"Ntahlah Rul, mungkin nanti bisa kita tanyakan langsung kepada Wira atau kakaknya itu" ujar firman.


"Tuan muda? Kira-kira siapa ya yang dia panggil tuan muda itu?"


"Mungkin anak orang kaya kali Rul, kalo kita mah kan gak kira mungkin dipanggil tuan muda."


Fahrul terdiam memikirkan sesuatu dan berjalan menunduk.


"Aduh Rul, ikut dulu yuk. ke toilet. gue udah kebelet nih" ucap Firman seraya memegang anunya itu.


"Yaelah man, yaudah sana. cepetan jangan lama-lama"


"Oke siap" ujar firman seraya berlari menuju ke arah toilet umum dan diikuti oleh Fahrul.

__ADS_1


Fahrul terus berjalan mengikuti firman seraya menunduk memikirkan sesuatu.


"Tuan muda? siapa tuan muda? lalu mengapa dia ingin membunuh seorang anak-anak seakan-akan murni terjadi kecelakaan? Apa motif dia sebenarnya?" gumam dalam hati Fahrul gelisah memikirkan sesuatu yang sudah terjadi tadi.


__ADS_2