
" Disaat malam itu kita sedang bertemu dengan salah satu klien kita. Pada waktu itu bertemunya di sebuah cafe, lalu kami duduk bersebelahan. Kami semua saling mengobrol satu sama lain. Dan klien kami mengira kalau kami ini sepasang suami istri. Dia bilang seperti itu pada saat ada mama kamu disitu. Ntah dari mana mama kamu tiba-tiba muncul dan mengira kalau kami selingkuh. Dia salah paham dan dirinya pada waktu itu sangat terbakar dengan emosi. Dia menampar papa kamu dan juga tante lalu pergi begitu saja. "
" Benarkah? "
" Iya, Zein. "
" Apa aku harus percaya dengan semua ucapan tante? sedangkan mama kandungku sendiri pun tidak mempercayainya. " ujar Zein sambil tersenyum sinis seakan tidak mempercayai setiap perkataan mama tirinya itu.
" Mama kandungmu tidak percaya karena dia salah paham. Dia terbakar api cemburu. Dan aku bersama papamu juga menyadari akan hal itu. " ujar mama tirinya itu.
" Lalu, kenapa tidak dari dulu tante menjelaskan ini semua kepada mama? kenapa baru sekarang? dan juga buat apa tante bercerita tentang ini kepadaku? yang berurusan disini kan tante dengan mama, bukan denganku. " ujar Zein kepada mama tirinya.
" Tante hanya ingin kamu tidak membenci tante. Kamu sudah tante anggap seperti anak tante sendiri. "
Seketika Zein menatap tajam kearah mama tirinya.
" Kalau tante menganggap aku seperti anak tante sendiri, lalu kenapa tante tega membuat kedua orang tuaku berpisah? dan juga aku dengan almarhum saudaraku juga ikut terkena dampaknya. Kenapa tante tega? " ujar Zein penuh emosi dan meneteskan air mata.
" Tante tidak melakukan itu Zein, tante tidak melakukannya. " ujar mama tirinya itu sambil menangis.
" Sudahlah tante, yang terjadi biarlah terjadi. Lagi pula semuanya sudah tiada. Papa juga sudah meninggal dan mama juga sudah mengikhlaskan semuanya. Biarkan papa tenang di alam sana. "
__ADS_1
.
Setelah keduanya selesai berbicara, lalu tak lama kemudian orang yang sudah dihubungi oleh mama tirinya itu datang membawa berkasnya.
" Permisi. " ujarnya sambil mengetok pintu.
Seketika keduanya menoleh ke arah pintu.
" Eh sudah datang. Silahkan masuk pak. " ujar mama tirinya itu mempersilahkan dia untuk masuk.
" Iya terimakasih Bu. " sahutnya sambil memasuki rumahnya itu.
" Silahkan duduk. "
" Apa bapak sudah membawa berkas yang saya maksud? " tanya mama tirinya itu.
" Sudah Bu. Ini. " sahutnya sambil memberikan berkas kepadanya.
Mama tirinya itu mengambil berkasnya dan mulai membuka dan membaca satu persatu halaman demi halaman. Zein hanya melihatnya.
" Tante, orang ini siapa? " tanya Zein dengan polosnya melihat kearah orang tadi.
__ADS_1
" Orang ini orang kepercayaan papamu. Dia yang mengurus semua berkas tentang aset dan wasiat dari almarhum papamu. "
" Ohh.. " ujarnya sambil mengangguk.
Mama tirinya terus membaca berkas itu sampai selesai.
" Kau mau semua aset kekayaan almarhum papamu jatuh ke tanganmu kan? " tanya mama tirinya itu kepada Zein.
Zein hanya mengangguk.
" Disini tertulis, kalau kamu kamu semua aset kekayaan darinya itu ada syaratnya. "
" Syaratnya apa tante? "
" Tante juga tidak tau. Ini semacam teka-teki. " ujarnya sambil terus melihat ke berkas itu.
" Coba lihat tante. " sambil meminta berkas itu untuk membacanya dan mama tirinya pun memberikannya.
...Kejarlah akhirat jangan lupakan dunia....
" Mm? " Zein terkejut membaca itu semua.
__ADS_1
" Maksudnya ini apa pak? apa bapak tau maksud dari semua ini? " tanya Zein kepada orang yang membawa berkas tadi.