
Mama Raka, Raka dan juga Wira saat ini sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka sambil bercanda satu sama lain. Namun Raka bertanya sejenak kepada Wira, adiknya itu.
" Wira. " ujar Raka.
" Hmm? "
" Apa aku boleh bertanya sesuatu kepada mu? "
" Mau bertanya apa kak? "
" Apa kamu pernah dijahati oleh Dewa? "
" Dijahati? maksudnya? "
" Ya iya, apa kamu tidak berfikir untuk apa Dewa mengaku-ngaku sebagai kakakmu? pasti itu semua ada alasannya kan? "
Pertanyaan itu membuat Wira terdiam sejenak, sementara mamanya hanya melihatnya dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Wira menundukkan pandangannya.
" Aku juga tidak tau pasti kak, untuk apa dia melakukan itu semua. " ujar Wira.
" Yang jelas itu semua pasti ada alasannya Wira. " ujarnya Raka sambil melihat kearah mamanya itu.
" Semuanya yang dilakukan oleh manusia ini pasti ada alasannya. " lanjutnya lagi.
Wira menatap kearah Raka.
" Aku juga tidak tau kak. " ujarnya.
Raka menghela nafas
" Entah kenapa sepertinya aku merasakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan olehnya. "
" Sesuatu apa? " mama Raka kemudian bertanya kepada Raka.
" Iya sesuatu ma. Yang orang lain tidak tau. "
Kemudian semuanya terdiam, sementara Raka mengingat kejadian dimana Dewa sedang menghajar Zein pada saat di pesantren.
" Oh iya ma, mama benar. " ujar Raka kepada mamanya.
" Benar apanya? "
" iya benar ma, kalau Nino itu memiliki saudara kembar. Tadi sewaktu di pesantren aku tanpa sengaja bertemu dengannya. Dia dihajar oleh Dewa ma. "
__ADS_1
" Dihajar? loh, kok bisa? "
" Iya, dewa tahu kalau Zein itu yang sudah mencelakai Wira ma. Sepertinya Zein mengakui kalau dia salah orang. "
" Salah orang maksudmu? "
" Iya, ntah dari mana dia mengetahui kalau Wira itu bukan adik kandung dari Dewa. " ujarnya sambil melihat kearah Wira
" Loh, bagaimana bisa dia tau semua itu? "
" Aku juga kurang tau ma, sudahlah tidak usah difikirkan. Aku tidak mau berurusan dengannya. Lagipula itu semua urusan mereka. Aku tidak mau ikut campur. "
Mamanya terdiam.
" Dari dulu mereka memang sudah memiliki hubungan yang kurang baik. " ujar mamanya itu.
Kemudian Wira dan Raka melihat kearah mamanya.
.
.
Disisi lain.
Katanya mereka sudah merindukan pesantren itu. Lalu Fahrul mengechat Firman.
Fahrul
Assalamualaikum, kawan. Bagaimana sudah siap untuk kembali ke pesantren hari ini?
" Tingg " kemudian Firman melihat ponselnya dan membalas chat dari temannya itu.
Firman
Waalaikumsalam, kawan. Iya, sudah siap nih.
Fahrul
Sudah siap untuk berjuang kembali?
Firman
Siap dong kawan.
Fahrul
__ADS_1
Saat ini sedang ada dimana posisi?
Firman
Dirumah. Tapi ini sudah otw.
Fahrul
Baik, kalau begitu sampai jumpa di terminal.
Firman
Siap, 86 kawan.
Fahrul
Ditunggu ya, kawan ayang beb. 😘
.
" iiiiii " firman membaca chat itu seakan-akan merasa jijik.
Firman
Jijik Rul, ya meskipun kamu jomblo ya nggak usah gitu juga kali. Males saya ngebacanya. Kalau gaada wanita ya ayam saya noh sikat, kasian tidak ada pejantannya.
Fahrul ketawa-ketawa membaca chat itu sambil berjalan menuju terminal untuk menaiki bus, karena dia tahu Firman selalu menjaga imagenya, namun Fahrul selalu menjahilinya.
Fahrul
Kamu kok gitu sih beb? kamu sudah lupa sama kenangan kita dulu? 😢
Firman
Kenangan mana? sudah ah, ga lucu. 🙄
Fahrul
Bercanda ayang beb 😁✌🏻
Firman
😠😠😠😠
Fahrul tertawa gembira melihat chat di ponselnya karena sudah berhasil mengerjai Firman.
__ADS_1