
Wira berjalan ke arah keluar. Dia berjalan menuju kearah pintu gerbang, tanpa sengaja dia bertemu dengan supir yang membawa mereka bersama teman-temannya itu. Melihat Wira sedang menolah-noleh seperti sedang mencari sesuatu, seketika itu supirnya itu pun menanyainya.
" sedang mencari siapa mas? " tanya supirnya itu.
" eh, itu.. apa, anu.. " sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" anu apa mas? "
Wira terdiam sejenak menghela nafasnya
" sudahlah, aku tidak punya banyak waktu. "
Seketika itu Wira melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, namun dengan refleks pun supirnya itu menahannya dengan memegang tangan Wira.
" mau kemana mas? "
" bapak tau rumah sakit ini? " sambil menunjuk ponsel kearahnya. Dan supirnya pun melihat kearahnya.
" oh iya tau mas, memangnya ada apa? "
" tempatnya jauh kah kalau dari sini? "
" lumayan, memangnya ada apa mas? ada kepentingan apa kamu mau ke rumah sakit itu? "
" Mama saya kecelakaan pak, saya mau kesana. "
" baiklah, kalau begitu saya antarkan mas. "
" eh, tidak usah pak, tidak usah repot-repot. Saya bisa kesana sendiri. "
" tidak apa-apa mas. Saya tidak merasa direpotkan. Mari saya antar. " sambil melangkahkan kakinya, namun Wira menghentikan langkahnya itu.
" tunggu pak, beneran? "
" iya mas. "
Wira terdiam sejenak.
" oke baiklah, mari. "
" iya mari. " keduanya pun sama-sama melangkahkan kakinya menuju ke mobil pesantren dan memasukinya. Seperti biasa supirnya pun menyupir mobilnya itu dengan fokus. Sementara itu Wira hanya terdiam sambil melihat kearah ponselnya untuk mengecek perjalanannya benar atau tidak salah jalan.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan menuju ke rumah sakit, akhirnya keduanya pun sampai di area parkiran rumah sakit.
Seketika itu Wira langsung turun dari mobil dengan membuka pintu mobilnya, dan diikuti oleh supirnya itu.
" terimakasih pak. "
" iya sama-sama mas. "
" bapak mau ikut atau..? "
" lebih baik saya ikut mas, meskipun hanya sebentar sekedar menjenguk mamanya kamu. "
" oke baiklah, tidak apa-apa. Mari. "
__ADS_1
Lalu keduanya pun berjalan menuju kearah rumah sakit itu, dan langsung menuju ke arah kamar mamanya itu dengan bantuan share location dari ponsel milik mamanya yang dikirim oleh Raka.
Selang beberapa menit, mereka sudah sampai di depan kamar mamanya itu dan langsung memasukinya.
" Assalamualaikum. " ujarnya sambil mengetok pintu lalu membuka pintu dan melangkahkan kakinya untuk masuk.
Mamanya dan Raka pun serentak melihat kearah pintu.
" waalaikumsalam. " jawab serentak.
Wira berlari ke arah mamanya sambil memeluknya.
" Mama, bagaimana keadaan mama? " ujarnya Wira yang sudah berada di dalam pelukan mamanya itu.
Melihat itu Raka hanya tersenyum kearahnya.
" Alhamdulillah, mama baik nak. Mama tidak apa-apa. "
" Alhamdulillah.. " sambil menghela nafasnya.
Lalu kemudian Raka menoleh ke arah seseorang yang mengikuti Wira.
" Wira, kau dengan siapa kesini? " ujarnya sambil melihat kearah seseorang itu.
Sejenak Wira melepaskan pelukannya itu dan langsung berdiri melihat kearahnya.
" oh itu? itu supir dari pesantren kak. "
Sementara supirnya membungkuk hormat sambil tersenyum kearahnya.
" oohh, saya kira siapa. " ujarnya Raka.
" iya terimakasih banyak mas, sebentar lagi saya langsung pamit saja karena yang lainnya sudah menunggu. "
Setelah beberapa saat ditempat itu, dan melihat keadaan mama Wira secara langsung lalu supirnya itu pun langsung berpamitan kepada semuanya karena takut yang lainnya sudah menunggu.
" kalau begitu saya permisi dulu mas, bu. "
" loh, mau kemana kok sudah mau pulang? " ujarnya mamanya itu yang mencoba menghentikannya.
" takut yang lainnya menunggu saya, karena saya pun pergi tanpa pamit dengan yang lainnya. "
" oohh, yasudah hati-hati pak. "
" iya siap terima kasih. Saya permisi, assalamualaikum. "
" waalaikumsalam, saya disini dulu ya pak? karena saya ingin menemani mama dulu. " ujarnya Wira kepada supirnya itu.
" iya tidak apa-apa mas. Mari. "
" iya mari. " semuanya melihat kearah siluet tubuh supirnya itu yang keluar dari ruangan itu.
Kemudian mamanya itu bertanya sesuatu kepada Wira.
" kamu sudah makan? " tanya mamanya itu kepada Wira.
__ADS_1
Wira menggelengkan kepalanya. " Belum ma. "
" mau makan? "
" memangnya disini ada makanan? kan disini rumah sakit? "
" ada kok, tenang aja. " timpal Raka, yang kemudian berjalan mendekati lemari didekat ranjang itu dan membukanya.
" ini. " sambil memberi tau kepada Wira. Sementara itu mamanya tersenyum melihat itu.
" Alhamdulillah. " ujarnya Wira.
" Mama mau makan? " ujarnya kemudian.
Mamanya mengangguk.
" biar aku yang suapin ma. " ujarnya lagi, yang kemudian berjalan mendekati Raka untuk mengambil makanannya itu. Namun mamanya itu pun menghentikan langkahnya.
" sudah, sudah. Mama bisa makan sendiri. "
" tapi ma.. "
" sudah tidak apa-apa. " kemudian mengambil makanan yang dipegang oleh Raka. Lalu mamanya pun menaruhnya di pahanya itu untuk memakannya.
Kemudian mamanya itu pun membuka bungkus makanan itu dan mulai memakannya. Sementara itu Wira hanya terdiam melihat itu dan menelan salivanya.
" kamu kenapa melihat mama seperti itu, Wira? " ujarnya Raka yang menyadari itu yang sedari tadi melihat kearah Wira. Wira yang mendengar itu langsung membuang pandangannya dengan menunduk.
" eh nggak apa-apa kak, cuma melihat saja. "
Mendengar itu mamanya tersenyum melihat tingkah laku Wira.
" Kamu mau disuapin mama, Wira? " tanya mamanya itu.
Mendengar itu langsung seketika itu juga Wira pun menjawabnya. " Ya mau lah ma. Aakk. " sambil menganga membuka mulutnya untuk menerima suapan dari mamanya itu. Sementara itu mamanya tersenyum kearahnya dan memberikan suapan pertama kalinya untuk Wira.
Melihat itu Raka menelan ludah. Mamanya yang menyadari bahwa Raka sedang memperhatikannya, lalu menanyakannya.
" kamu mau juga nak? " ujarnya, lalu Raka pun seketika itu membuang pandangannya ke segala arah.
" tidak ma, tidak usah. "
" kalau mau ayo mama suapin. "
" Aakk. " ujarnya kemudian sambil memberikan sesuap nasi yang ada ditangannya untuk diberikan kepada Raka. Kemudian Wira tersenyum kearahnya.
" kalau mau ya mau aja kak, tidak usah gengsi. " ujarnya, sementara itu Raka hanya melihatnya.
" kalau kakak tidak mau, ya sudah untukku saja ma. Aakk. " ujarnya merebut tangan mamanya yang berisi sesuap nasi namun dihentikan oleh Raka.
" Eiittsss, tunggu dulu. Itu untukku kan? yasudah aku mau. " sambil melahap suapan nasi yang ada di tangan mamanya itu. Kemudian Raka memakannya, sementara keduanya pun tersenyum kearah Raka.
" enak? " tanya Wira.
Raka mengangguk. " iya, enak. "
__ADS_1
" yasudah habiskan. Jangan dimuntahkan, mubadzir. "
Raka mengangguk kembali dan mamanya pun tersenyum kearahnya.