Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Malu


__ADS_3

" Tapi Angel saat ini sudah tidak mau berbicara denganmu lagi. Sebaiknya kau pulang saja dulu, aku memang tidak tahu permasalahan kalian ini seperti apa, tapi kumohon kau jaga sikap. Ini di area pesantren, tidak baik berteriak seperti itu. Mungkin dilain waktu kau bisa datang lagi kesini. "


" Baiklah, yang dikatakan kamu benar. Kalau begitu, aku mohon pamit. Mari. " sambil meninggalkan Cantika.


" Iya, mari. "


Angel terus berlari tak menghiraukan yang lainnya, dia menuju ke asrama santriwati untuk menenangkan diri. Sementara Cantika mengejarnya, lalu duduk di samping Angel.


" Angel, ada apa? kenapa kamu langsung pergi? " tanya Cantika kepada Angel.


Sementara Angel hanya diam menunduk.


" Angel, apa kamu kenal dengan orang tadi? " tanyanya lagi.


Kemudian Angel mengangguk.


" Terus, kalau kamu kenal dengan dia kenapa kamu pergi begitu saja? kenapa tidak berbicara dengan dia? "


" Tidak apa-apa Tika. "


" Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu pergi? "


" Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. "


" Memangnya kenapa? ada hubungan apa kamu bersama dia? maaf nih sebelumnya, kalau saya terlalu ikut campur urusan pribadi kamu Angel. "


Angel kemudian melihat kearah Cantika.


" Tidak apa-apa Tika. Lagi pula aku sudah melupakan semuanya. "

__ADS_1


" Benarkah? "


Angel mengangguk.


" Memangnya kamu sudah melupakan apa? "


Kemudian Angel menghela nafas dan terdiam.


" Yasudah, kalau kamu tidak ingin memberi tahuku tidak apa-apa. Aku juga tidak memaksamu, karena ini urusan pribadi kamu. "


" Maaf ya Tika, karena ini terlalu menyangkut privasiku, jadi aku tidak mau menceritakan masalah ini ke siapapun, kecuali Allah. "


" Iya tidak apa-apa Angel, aku mengerti. "


Angel mengangguk


" Iya tidak apa-apa Tika, lagi pula aku ingin sendiri dulu. " sahutnya.


" Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu. Assalamualaikum. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan tempat itu.


" Waalaikumsalam. "


...****************...


Disisi lain.


Dewa yang pada saat itu hanya duduk seorang diri di tempat duduk koridor. Dia melihat ke sekelilingnya, sedang banyak santri-santri yang belajar di dalam kelasnya masing-masing. Ia teringat masa lalunya sewaktu sekolah dulu.


" Hmm.... Rasanya aku jadi ingin sekolah lagi. Melihat santri-santri belajar dengan rajin, aku malu pada diriku sendiri. Sekolah pun aku jarang masuk, sekalinya masuk tidak mengerjakan tugas. Aku terlalu manja terhadap diriku sendiri. Ingin rasanya aku kembali ke masa aku sekolah dulu. Aku ingin memperbaiki semuanya, tapi rasanya itu sudah tidak mungkin lagi. " gerutu dalam hati Dewa.

__ADS_1


Kemudian tanpa sengaja Wira keluar dari asrama untuk mencari udara segar seraya menggerak-gerakkan badannya. Dan dia melihat Dewa sedang melamun sendiri di tempat duduk koridor.


" Kak Dewa. " ujarnya.


Lalu dia segera menghampiri Dewa.


" Kak Dewa, sedang apa disini? " ujar Wira sambil membuyarkan lamunannya itu.


Seketika itu Dewa melihat kearah Wira.


" Eh, Wira. Kau tidak istirahat? " tanya Dewa.


" Tidak kak, aku tidak bisa tidur. " ujarnya sambil duduk disampingnya.


" Lagi pula ini kan masih belum dhuhur. Kalau sudah dhuhur kemungkinan aku bisa tidur. " lanjutnya lagi.


" Ohh begitu? "


" Iya, kakak sedang ngelamunin apa? kulihat dari tadi kakak sepertinya sedang melamun. "


" Oh itu, aku hanya melihat santri-santri yang sedang belajar dengan rajin. Aku jadi teringat pada masa aku sekolah dulu. "


" Wahh.. flashback nih ceritanya. " ujar Wira bercanda.


" Yah begitulah.. Aku jadi ingin sekolah lagi, ingin memperbaiki semuanya. Melihat santri-santri yang sedang belajar dengan rajin-rajinnya aku jadi malu pada diriku sendiri. "


" Malu kenapa kak? "


" Iya, aku dulu sekolah jarang masuk. Sekalinya masuk tidak mengerjakan tugas. Aku dulu malas sekali untuk mengerjakan tugas. Apalagi kalau disuruh menulis, kalau disuruh nulis aku ya cuma pura-pura nulis. Itupun kalau ada guru, kalau tidak ada guru ya aku tinggal menyuruh temanku untuk menulis di bukuku. Selesai menulis aku tinggal memberinya upah. "

__ADS_1


__ADS_2