
Setelah selesai membaca doa lalu diamini oleh semua orang yang ada di tempat itu. Lalu Angel mencium punggung tangan dari Wira yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Lalu dibalasnya dengan ciuman pertama dari Wira yang mendarat di keningnya Angel.
"Alhamdulillah.."
Kemudian keduanya bersalaman kepada Kyai, Bu Nyai, dan mamanya secara bergiliran itu untuk meminta do'a agar rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang dirahmati oleh Allah dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.
Setelah sampai di urutan sang mama, kini mamanya meneteskan air mata untuk Wira.
Wira yang melihat itu lalu langsung memeluk mamanya yang sedang meneteskan air mata untuknya. "Ma, mama kenapa menangis?"
"Mama tidak apa-apa, wira."
"kalau mama tidak apa-apa, kenapa mama menangis?"
"Mama hanya terharu saja."
Lalu melepaskan pelukannya itu dan beralih menatap kearah Angel.
"Mama titip wira ya nak, ingatkan dia kalau dia sedang melakukan kesalahan."
Angel pun mengangguk. Dan mamanya wira pun mulai memeluknya.
Lalu wira dan juga Angel kini meminta do'a kepada Raka. Tanpa sepatah kata pun Raka langsung memeluk adik kandungnya itu.
"Selamat ya, adikku."
"Iya, sama-sama kak."
"Kamu sudah boleh ngamar sama dia." ledek kakaknya itu.
__ADS_1
Kemudian keduanya melepaskan pelukannya itu.
"Iissshh, apaan sih?" sambil tersenyum malu karena tidak enak didengar oleh kekasihnya yang sedang berdiri disampingnya kini.
"Ya tidak usah malu-malu kali, kan sudah halal."
"tapi kan masih banyak orang."
"nanti kalau sudah pulang semua kerumah masing-masing." sambil menyengir. Sekali lagi mereka saling berpelukan kembali lalu melepaskan pelukannya itu.
"Ini aku nggak papa peluk Angel, wira?" sambil menunjuk kearah Angel.
"Iissshh, enak aja nggak boleh. Bukan muhrim. Sini, biar aku wakilkan kak." sambil membuka tangannya.
"Nggak nggak, nggak jadi."
Kemudian setelah selesai acara akad nikah, kini Wira dan juga Angel mulai kembali ke rumah mamanya Wira, dengan dikawal oleh beberapa orang bodyguardnya.
Setelah sampai dirumah, Angel turun dan membuka pintu mobil dan melihat ke sekelilingnya.
"Wahh, ini rumah kamu wira?"
"Bukan, ini rumah mama. Kalau aku nggak punya rumah."
"Ya sama aja atuh."
Wira tersenyum kearahnya.
Keduanya berjalan dengan diikuti oleh beberapa orang berpakaian hitam layaknya seorang satpam yang siap standby 24jam dan disambut dengan baik oleh beberapa asisten rumah tangganya itu.
__ADS_1
"Selamat datang tuan dan nona muda." ujarnya sambil membungkuk hormat.
"tidak perlu panggil saya tuan tante, cukup panggil namaku saja. Oh ya, perkenalkan ini istriku, Angel." sambil menunjuk kearah Angel.
Angel membalasnya dengan senyuman manis dan mengangguk hormat pula.
"Apa kami tidak papa bersalaman dengan istri tuan?"
"Astaghfirullah, sudah kubilang jangan panggil tuan." sambil mengusap mukanya dengan kasar. "Coba aja tanya dia."
"Tidak apa-apa kok tante."
"Alhamdulillah.. maafkan saya tuan, eh maksudnya mas wira." kemudian berjalan mendekati Angel untuk bersalaman. Lalu semua orang yang ada disitu pun juga ikut serta untuk menyalaminya.
"ya tidak apa-apa."
Sejenak Wira melihat kearah Angel karena semua asisten pribadinya itu tengah mengantri untuk berjabat tangan dengan Angel. Wira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu semua.
Lalu mamanya datang menghampirinya. "Ada apa Wira?"
"Biasalah ma, ingin bersalaman."
Mamanya itu pun tersenyum. "Kamu tidak usah cemburu, lagi pula dia sudah resmi menjadi milikmu."
Wira menghela nafasnya dalam-dalam. "Iya ma."
"Yasudah, mama masuk dulu ya." sambil melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.
Wira mengangguk lalu kembali melihat kearah Angel.
__ADS_1