Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Kembali ke pesantren


__ADS_3

Wira dan juga Raka sudah sampai di pesantren. Mereka mulai memasuki area pesantren dan memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Kemudian Wira membuka pintu mobilnya dan turun dari mobilnya itu lalu Raka juga melakukan hal yang sama.


Wira melihat ke sekelilingnya, Raka yang mulai menyadari itu kemudian bertanya kepada Wira.


" Sedang mencari siapa? " tanyanya Raka kepada Wira.


Wira menoleh kearahnya


" Mm? tidak, tidak sedang mencari siapa-siapa. " ujarnya.


Kemudian Raka tersenyum kearahnya sambil menggelengkan kepalanya.


" Mari masuk kak. " ujarnya Wira sambil melangkahkan kakinya dan mempersilahkan Raka untuk masuk ke dalam pesantren.


Namun Raka tidak mau


" Tidak Wira. " sahutnya itu dan menghentikan langkah Wira, seketika itu Wira menoleh kearahnya.


" Loh kenapa? "


Raka menghela nafasnya


" Tidak apa-apa. Sebaiknya aku pulang, karena tidak baik aku mengganggu kenyamanan seseorang yang sedang belajar. "


Wira seketika tersenyum mendengar itu.


" Tidak mau mampir dulu nih ceritanya ke pesantren? "


" kapan-kapan aku akan mampir. Mungkin dilain waktu, bukan hari ini. "


Wira kemudian menghela nafas


" Oke, baiklah. Tidak apa-apa. "


" Maaf ya Wira, aku tidak bisa mampir. Aku harus kembali ke kantor sekarang juga, karena masih banyak hal lain yang aku urus. "

__ADS_1


" Iya sudah tidak apa-apa kak. "


" Oke, kalau begitu aku pamit. Assalamualaikum. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya menuju ke mobil dan membuka pintu mobilnya lalu memasukinya. Sementara itu Wira hanya melihatnya dan tersenyum.


" Waalaikumsalam. " ujarnya tersenyum sambil melambaikan tangannya itu kemudian dijawab oleh bunyi klakson mobil dari Raka dan meninggalkan tempat itu.


Kemudian Wira membalikkan badannya itu, seketika dia kaget dengan kehadiran ustadz muda. Entah sudah berapa lama dia sudah berdiri disitu.


" Astaghfirullah hal adzim. " ujarnya sambil mengelus dada.


" Ustadz muda mengagetkan saya. " ujar Wira lanjutnya lagi.


Sementara itu ustadz muda hanya tersenyum melihat kearahnya


" Assalamualaikum. " ujar ustadz muda.


" Waalaikumsalam. "


" Bagaimana? sudah bahagia tidak hari ini? "


Wira tersenyum


" Alhamdulillah.. " ujar ustadz muda sambil menghela nafas. " ustadz muda juga senang mendengarnya. " sambungnya.


Wira tersenyum " iya alhamdulilah ustadz. " kemudian mengangguk.


" Ustadz sendiri mau kemana? mau keluar atau mau kemana mungkin? " tanyanya Wira kepada ustadz muda.


" Oh iya. " ujarnya sambil menepuk dahi. " ustadz muda ada kepentingan diluar pesantren. Ini mau kesana. " sambungnya.


" Kepentingan apa ustadz muda? "


" Yah biasalah, kepentingan gitu. "


" Kepentingan umat? " tanya Wira dengan polosnya kepada ustadz muda.

__ADS_1


" Bisa dibilang seperti itu. "


Kemudian Wira mulai memahami dari setiap perkataan yang terucap dari mulut ustadz muda.


Wira menghela nafas.


" Saya tau maksud ustadz muda. "


Ustadz muda tersenyum kearahnya. " Memangnya apa maksud saya? "


" Pasti ustadz muda diundang untuk menghadiri acara pernikahan kan? " sambil menunjuk kearah ustadz muda.


Ustadz muda pun tersenyum kembali.


" Iya, kok kamu tau? "


" Dari cara berpakaian ustadz muda ini, sangat rapi sekali. " sambil melihat kearah ustadz muda yang memandang dari ujung kaki sampai ujung rambutnya itu yang tertutup oleh kopyah hitamnya.


Ustadz muda tersenyum lagi menghela nafas.


" Yah begitulah. "


" Hehehe, nanti ustadz muda berceramahnya tentang apa? " tanya Wira dengan kekepoannya itu.


" Mm? berceramah? maksudmu? " sambil mengernyitkan dahinya.


" Iya, apa ustadz muda tidak mau berceramah? ustadz muda tidak mengisi acara di acara itu? "


Ustadz muda pun kembali tersenyum


" Tidak, kan sudah ada Kyai Syifulan yang akan mengisi acaranya. "


" Oalah. Saya kira ustadz muda yang akan mengisi acaranya. "


" Tidak, Wira. " sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2