Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Korban tabrak lari


__ADS_3

Kemudian setelah beberapa saat, orang tua Dinda datang. Mereka kaget dengan kondisi Dinda saat ini. Sementara itu yang lainnya hanya melihat disaat mama Dinda memeluk Dinda.


" Kenapa anak saya bisa seperti ini? siapa yang melakukannya? " tanya mamanya Dinda ke ustadz muda bersama yang lainnya, sementara yang lainnya terdiam.


" Sebenarnya Dinda korban tabrak lari bu.. Dia mengalami kecelakaan ini karena saya, dia menyelamatkan nyawa saya. " ujarnya ustadz muda dengan berani mengakuinya di depan kedua orang tua Dinda.


Mama Dinda melihat kearahnya sejenak, lalu melihat kearah Dinda kembali.


" Apa benar seperti itu? " ujarnya kepada Dinda dan Dinda pun mengangguk.


Mamanya kemudian menghela nafas dan meneteskan air mata


" Maafkan saya pak, bu. Ini semua karena kesalahan saya. " ujarnya ustadz kepada kedua orang tua Dinda sambil menjatuhkan dirinya untuk meminta maaf.


Papanya yang melihat itu kemudian berjalan mendekati ustadz muda kemudian membangunkannya.


" Sudah tidak apa-apa, ayo bangun. " ujarnya menyuruh ustadz muda untuk bangun, kemudian ustadz muda bangun mengikuti perintahnya.


" Mungkin ini semua sudah takdir dari Allah. Kita harus terima dengan lapang dada. " ujarnya lagi dengan nada lemah lembut, sementara ustadz muda tidak banyak bicara hanya mengangguk. Karena terus dihantui oleh perasaan bersalah terhadap sesuatu yang sudah menimpa Dinda.

__ADS_1


Dan kemudian papanya Dinda melihat kearah Wira. Lalu Wira tersenyum.


" Loh kamu? kenapa bisa ada disini? " ujarnya sambil menunjuk kearah Wira.


Wira kemudian berjalan mendekati papanya itu dan bersalaman.


" Iya, saya diberi tau oleh ustadz muda kalau Dinda saat ini ada disini. "


" Ohh.. "


" Iya. "


Kemudian setelah itu mama Dinda bertanya kembali kepada Dinda.


Melihat itu Dinda hanya tersenyum


" Mama tenang aja, semuanya insyaallah akan baik-baik saja kok. Biarkan Allah yang mengatasi semuanya ma, mama tidak perlu khawatir. "


" Bagaimana mama tidak khawatir nak? kamu ini anak satu-satunya dari mama. Ya pantas saja mama khawatir sama kamu. Orang tua mana yang tidak khawatir disaat mendengar kabar kalau anaknya itu mengalami kecelakaan? "

__ADS_1


Semuanya terdiam melihat itu.


Sementara itu Dinda semakin erat memeluk mamanya itu.


Setelah beberapa saat kemudian, Wira, Fahrul dan juga Firman berpamitan untuk kembali ke pesantren. Namun ustadz muda tidak ikut karena masih ingin menemani Dinda sampai sembuh, karena masih dihantui rasa bersalah terhadap dirinya.


" Kalau begitu saya dengan yang lainnya pamit om, tante. " ujarnya Wira sambil melihat kearah keduanya secara bergantian.


" Iya, makasih ya sudah kesini untuk menemani Dinda. " jawab mamanya Dinda.


" Iya sama-sama tante. Kalau begitu saya permisi om, assalamualaikum. " ujarnya sambil bersalaman dengan papanya Dinda dan diikuti oleh kedua temannya itu.


" Iya waalaikumsalam, hati-hati ya. "


" Siap om. "


Kemudian ketiganya keluar dari ruangan itu. Sementara itu papanya Dinda melihat kearah ustadz muda, dia heran kenapa ustadz muda kok tidak ikut kembali ke pesantren bersama dengan yang lainnya.


" Kamu kok tidak ikut? " tanya papanya itu kepada ustadz muda.

__ADS_1


Ustadz muda menghela nafas dan tersenyum. " Saya masih ingin disini om, saya ingin memastikan bahwa keadaan Dinda baik-baik saja. Semuanya terjadi karena saya, jadi mau tidak mau saya harus bertanggung jawab terhadap apa yang dialami Dinda saat ini. "


Mendengar itu papa Dinda mengangguk, karena memahami dari setiap perkataan yang terucap dari ustadz muda.


__ADS_2