
Keesokan harinya
Afka sedang dalam perjalanan menuju ke pesantren Pakubumi, dia menggunakan mobilnya menuju kesana. Dia ingin menjalankan wasiat almarhum papanya.
Setelah sampai di pesantren Pakubumi, dia memarkirkan mobilnya di tempat parkiran. Lalu turun dari mobilnya dan mulai memasuki pesantren itu. Tanpa sengaja Dewa melintasi jalan itu.
" Zein, sedang apa dia disini? " lalu kemudian berlari menuju kearah Afka.
Tanpa basa-basi dia langsung menghajarnya.
*Bbbbuuuukkkk..
Bbbbuuuukkkk..
Bbbbuuuukkkk*..
Seketika Afka terjatuh dan Dewa langsung menendangnya. Afka meringis kesakitan, namun Dewa tidak memperdulikannya.
Kemudian Dewa memegangi kerah baju Afka.
" Sedang apa kau disini hah? mau bermacam-macam lagi denganku? " ujar Dewa dengan nada emosi.
Afka hanya tersenyum.
Lalu Dewa menghajarnya kembali.
Bbbbuuuukkkk..
Bbbbuuuukkkk..
Bbbbuuuukkkk..
Sementara itu, semua santri hanya melihatnya. Tanpa sengaja ustadz muda melewati segerombolan santri itu.
" Sedang melihat apa? kok rame-rame disini? " tanya ustadz muda kepada salah seorang santri itu.
__ADS_1
" Itu ustadz. " jawabnya sambil menunjuk kearah Dewa yang sedang berkelahi.
Ustadz muda melihat kearah yang ditunjuk oleh santri itu.
" Yaa Allah, astaghfirullah hal adzim. Dewa. " ujarnya kemudian berlari menuju kearah tempat perkelahian itu.
Lalu ustadz muda melerai keduanya,
" Dewa, sudah hentikan. " sambil memegangi tubuh Dewa. Dewa yang amarahnya kian menguasai dirinya itu tetap saja tidak menghiraukannya. Dewa tetap saja menendang tubuh Afka, sementara Afka hanya terdiam meringis kesakitan.
Lalu ustadz muda mendorong tubuh Dewa.
" Dewa, sudah cukup ! Ini pesantren. Ada apa ini? " tanya ustadz muda kepada Dewa.
" Dia ustadz. Dia yang sudah mencelakai Wira. " sahut Dewa sambil menunjuk kearah Afka dengan nada yang begitu penuh emosi. Lalu Dewa ingin menghajarnya kembali, namun masih ditahan oleh ustadz muda.
Lalu disisi lain ustadzah yang saat itu sedang bersama Angel tanpa sengaja melihat kejadian itu.
" Ya Allah, Dewa. " lalu kemudian berlari menuju ke tempat itu.
Afka hanya terdiam tidak menjawab.
" Ada apa ini? " tanya ustadzah kepada semuanya.
Semuanya melihat kearah ustadzah dan Angel.
" Afka, sedang apa kamu disini? " tanya Angel kepada Afka.
" Apa? Afka? " sahut Dewa dan melihat kearah Afka.
" Iya, dia Afka. "
" Kalian saling kenal? " tanya ustadzah.
" Iya ustadzah. "
__ADS_1
" Wow.. Sandiwara apa lagi ini Zein? kamu mengaku kalau dirimu adalah Afka? " ujar Dewa sambil bertepuk tangan.
" Loh, memangnya kenapa Dewa? dia ini Afka. Dia teman masa kecilku. "
" Mm? Benarkah? Teman masa kecil? " sambil melihat kearah Dewa dengan sinis.
" Dia ini adalah Zein. Zeinino Afka Sagara yang tidak lain saudara kembar dari Zionino Andika Sagara. " sambungnya.
" Mm? " semuanya tersentak kaget mendengar itu.
" Ya, dia adalah Zein. Dia juga yang sudah mencelakai Wira. Dia juga yang sudah membayar anak buahku untuk berkhianat kepadaku, dan menyuruhnya untuk menabrak Wira. "
" Benarkah itu semua yang dikatakan Dewa, Afka? " tanya Angel kepada Afka.
Afka hanya terdiam menunduk.
" Afka jawab, kenapa kamu diam? " sambungnya.
Kemudian Dewa hendak menghajarnya Afka kembali, namun seketika ustadz muda menariknya.
" Dia memang tidak bisa berbicara jika berbuat kesalahan dan ada orang lain yang mengetahuinya. Dia harus dihajar. Jika sudah dihajar dia pasti akan berbicara. " ujar Dewa.
" Sudah Dewa, tenang. Kendalikan dirimu. Jangan sampai amarah mengendalikan dirimu. " ujar ustadz muda sambil memegang tubuh Dewa.
" Kamu mau menjawab pertanyaan ku, atau aku yang akan pergi? " ujar Angel mencoba mengancam Afka untuk berbicara.
Namun, Afka tetap memilih diam.
" Baiklah, kalau itu maumu. " ujar Angel sambil hendak berlari ingin meninggalkan tempat itu namun Afka menahannya dan memegangi tangannya.
" Tunggu. " ujar Afka sambil menahan kepergian Angel dan memegangi tangannya Angel.
Kemudian tanpa sengaja Wira melihat kejadian itu.
Deghh
__ADS_1
" Angel.. dia bertemu dengan siapa? " ujar Wira sambil melihat kearah Angel yang tangannya sedang dipegang oleh Afka.