Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Kesedihan mama


__ADS_3

Di pesantren.


"Benarkah yang kamu sampaikan ini?" Ujar Kyai.


"Iya benar bi, Wira kecelakaan dan dia saat ini ada di klinik Kasih Ibu." ujar Angel.


"Lalu bagaimana keadaannya? Tidak apa-apa kan?"


"Kepalanya terluka dan dibalut perban."


"Innalilahi,"


Kyai terdiam mendengar perkataan itu. dan langsung menghubungi seseorang untuk mempersiapkan mobil menuju klinik. Kyai berangkat bersama Bu Nyai, Angel dan juga ustadzah.


Setelah sampai di klinik mereka langsung menuju ke kamar Wira dan langsung menemuinya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, eh pak Kyai?"


Semua menghampiri Kyai dan bersalaman. Setelah selesai bersalaman Kyai dan yang lainnya mendekati Wira.


"Bagaimana keadaan nak Wira? sudah membaik?" tanya Kyai.


Wira mencoba untuk duduk namun kepalanya masih terasa pusing, lalu kembali merebahkan badannya.


"Mohon maaf sebelumnya ya Kyai, Bu Nyai dan juga yang lainnya. Saya bicara sambil merebahkan badan saya"


"Iya, tidak apa-apa kok nak."


"Alhamdulillah Kyai, keadaan saya sudah membaik, mungkin beberapa hari lagi sudah bisa kembali lagi ke pesantren"


"Benarkah?" tanya Bu Nyai.


"Iya. Kata dokter harus beristirahat total Bu Nyai"


"Alhamdulillah, kalau begitu nak. Ohh iya, mengingat tentang acara Tartil Qur'an itu saya akan menghubungi panitia pelaksana dan akan memberi tahu tentang kejadian ini. Jadi ya cukup santriwati saja yang mengikuti nya" ujar Kyai.


"Kenapa bisa begitu Kyai? Saya masih bisa berdiri dan berjalan dengan normal. Saya tidak apa-apa, saya yakin bisa ikut event itu. Toh, lagi pula acara nya masih bulan depan kan? jadi saya masih bisa bersiap-siap dan beristirahat yang cukup"


"Apa kamu yakin nak Wira?"


"Iya, saya yakin Kyai. Mungkin ini ujian saya untuk ikut event itu. Saya tidak apa-apa" ucap Wira seraya tersenyum.


"Baiklah kalau begitu tidak apa-apa. Nak Wira akan tetap ikut"


"Oh iya ini ummi membawakan sesuatu untuk mu" ujar Angel seraya memberikan bingkisan kepada Wira dan firman menerima nya.


"Terimakasih banyak Kyai, Bu Nyai, ustadzah dan juga Angel"


"Sama-sama. Semoga nak Wira cepat sembuh ya, kalau begitu kami pamit untuk kembali ke pesantren."


"Mengapa terburu-buru Kyai?" tanya ustadz muda.


"Karena masih ada urusan yang belum diselesaikan" sahut ustadzah.


Kyai, Bu Nyai dan juga Angel tersenyum.

__ADS_1


"Ohh jadi begitu? yasudah tidak apa-apa"


"Mari, Assalamualaikum" seraya meninggalkan ruangan itu.


"Waalaikumsalam"


.


.


Disisi lain.


Raka memikirkan sesuatu, di bermondar-mandir gelisah.


"Apa kecurigaan ku benar? bahwa Wira itu adalah Zou. Arzanel Zou Athalah, yang selama ini Mama dan aku mencarinya. Dan Dewa telah menculiknya dari Mama. Tapi... untuk apa dewa melakukan itu? Aku harus segera menyelidiki nya" Ucap Raka.


Raka mencari kontak seseorang di ponselnya untuk dihubungi.


"Halo? Kamu sibuk?"


Raka menghela nafas.


"Saya minta, kamu mencari tau tentang seorang santri dari pesantren Pakubumi. Dia bernama Wira, kamu cari tau selama ini dia tinggal bersama siapa, nama orang tuanya siapa, dan dia asalnya dari mana."


"Kamu mengerti? baiklah, saya tunggu kabar baiknya" ucap Raka seraya mematikan teleponnya.


Raka terdiam sejenak


"Aku harus memastikan, kecurigaan ku benar atau tidak tentang Wira" gumam dalam hati Raka.


.


.


"Bi, Angel boleh bertanya sesuatu tidak?" ujar Angel.


"Mau bertanya apa Angel?" ujar Kyai


"Wira itu seperti apa sih bi? karakter Wira? sifat Wira?"


"Ya Wira itu anak yang baik, anaknya penurut. Mengapa kamu menanyakan Wira?"


"Tidak apa-apa bi, cuma ingin tau kepribadian Wira seperti apa" seraya tersenyum.


"Apa jangan-jangan kamu menyimpan rasa terhadap Wira?"


Angel terdiam menunduk.


"Ihh, Angel sudah tau yang namanya cinta ya?" ujar Bu Nyai seraya mencubit tipis pipinya.


Angel hanya tersenyum menundukkan wajahnya


"Apa benar Angel kamu menyukai Wira?" tanya Kyai


Angel mengangguk.


"Tapi jangan bilang-bilang ke siapapun ya bi? termasuk Wira."

__ADS_1


"Kenapa Angel? bukankah lebih baik dia tau kalau kamu menyukai nya?" sahut ustadzah.


"Tapi Angel takut nanti kalau Wira sudah tau tentang perasaan Angel dia akan menjaga jarak dan menjauhi Angel"


"Jika berharap kepada manusia maka bersiaplah untuk kecewa" ujar Kyai.


Angel terdiam seketika saat mendengarnya.


"Mengapa tidak mencoba menjodohkan Wira dan juga Angel bi?" tanya Bu Nyai kepada kyai.


"Insyaallah nanti akan Abi pikir-pikir dulu tentang masalah ini" sahutnya.


Mendengar itu Angel tersenyum.


"Semoga engkau merestui ya Allah" dalam hati Angel.


.


.


Disisi lain.


Raka melamun memikirkan sesuatu dikamar lalu Mama Raka tanpa sengaja melewatinya dan menghampiri nya.


"Kamu belum tidur nak? sedang memikirkan apa?" tanya Mama.


Raka seketika membuyarkan lamunannya.


"Ehh mama, mama belum tidur?"


"Mama tidak bisa tidur nak, mama kefikiran tentang anak tadi"


"Dia begitu mirip dengan adikmu. Bola matanya itu mengingatkan mama pada Zou." sambungnya.


Raka terdiam.


"Ma, mama pernah kefikiran kalau Zou itu masih hidup nggak sih? dan suatu saat dia akan kembali berkumpul bersama kita?" tanya Raka.


Mama meneteskan air mata.


"Mama yakin nak, Zou itu masih hidup. Dia ada di suatu tempat yang kita tidak tau itu dimana. Mama akan selalu menanti kedatangan Zou dirumah ini. Mama sangat merindukannya, suara nya, tangisan nya, senyuman nya, tertawa nya. Mama sangat rindu itu semua"


Mama menangis memeluk Raka.


"Mama yang sabar ya ma, jangan lupa untuk selalu berdo'a kepada Allah. Semoga Zou segera kembali kepada kita" ucap Raka seraya menghapus air mata mamanya dan mengelus bahunya.


Mama terus meneteskan air mata.


"Zou, kau dimana? apa kau tidak merindukan mama dan kakakmu? mama dan kakakmu selalu menanti kedatangan mu. cepat kembali Zou. Kami sangat merindukan mu disini" gumam dalam hati Raka seraya meneteskan air mata.


.


.


Di klinik.


Wira tidak bisa tidur mengingat kejadian tadi, dia merasakan ada hal lain pada saat bertemu dengan mama Raka dan Raka. Dia melihat kearah langit-langit dinding itu. Dan sesekali menoleh kearah temannya, yang kebetulan pada saat itu sudah tertidur pulas. Ustadz muda tertidur sendiri di tempat duduk, Fahrul dan firman tidur saling bersender satu sama lain seraya menganga, dan Dewa tertidur duduk dengan tangan bersedekap di dada.

__ADS_1


"Fahrul, firman. Kalian kalau tidur lucu sekali" ucap Wira seraya tersenyum kepada keduanya.


Dan Wira mencoba memejamkan matanya untuk istirahat.


__ADS_2