
Wira membuang muka ke segala arah dan bertanya kepada Dewa.
" Kak, sekarang aku ingin bertanya kepadamu. "
" Apa benar kau yang menyuruhnya untuk mencelakai ku? " sambung nya.
" Tidak, aku tidak menyuruhnya. "
" Bukankah itu orangmu? "
" Iya, memang benar dia orangku. Tapi aku tidak menyuruhnya untuk melakukan itu, Wira "
" Apa kau tidak percaya kepada ku? bukan aku yang menyuruhnya. " sambung nya.
Wira hanya terdiam.
" Aku akan membuktikan, bahwa bukan aku yang menyuruhnya. "
Pasti disini ada yang ingin bermain-main dengan ku. Tapi siapa? Apa jangan-jangan Raka? Tapi Raka juga yang menangkap Gatot itu. Dan dia juga yang mengungkap kasus nya Wira. Kira-kira siapa yang menyuruh Gatot untuk untuk melakukan itu? siapa yang menyuruhnya dan mengkhianatiku. Aku harus menyelidiki nya sendiri.
Dewa lalu pergi meninggalkan Wira untuk ke kantor polisi. Dia ingin mencari tahu informasi tentang Gatot.
Ketika dia sampai ke kantor polisi dia langsung meminta jam kunjung untuk membesuk Gatot dan polisi langsung memberinya izin namun menunggu setelah interogasi selesai.
Seketika dia tanpa sengaja bertemu dengan Deni asisten pribadi Raka.
" Dewa, sedang apa anda disini? "
" Saya ingin bertemu dengan pak Gatot. Anda sendiri sedang apa disini? " seolah-olah tidak tahu.
" Saya kan yang mengajukan laporan itu pak. Apa bapak sudah tahu kalau... "
" Iya, saya sudah tahu. Saya tahu dari Raka, dia ke klinik bertemu Wira tadi. Bukan saya yang menyuruh Gatot untuk melakukan itu, saya juga tidak tahu siapa yang menyuruhnya. Makanya saya datang kesini untuk menanyakan itu kepada Gatot. "
" Baiklah, sekali lagi saya mohon maaf pak. Disini saya hanya menjalankan perintah dari pak Raka untuk mengetahui dalang dari semua ini, dan mencari tahu apa motifnya. "
" Iya tidak apa-apa den, saya memahami. Justru saya berterima kasih kepada kamu karena kamu, saya sekarang jadi tahu sifat asli dari Gatot itu seperti apa. "
" Iya sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu. Mari. "
" Iya, mari. "
Seketika itu Deni Savero meninggalkan tempat itu.
Apa benar yang dikatakan oleh pak Dewa? Dia bukan dalang dari semua ini? Lalu siapa yang melakukan ini semua? bukankah Gatot itu adalah bawahannya pak Dewa? Atau jangan-jangan Gatot itu berkhianat kepada pak Dewa?
Dan selang beberapa saat Gatot keluar menemui Dewa dan didampingi oleh kedua polisi. Mukanya babak belur dan meringis kesakitan.
Plaakkkkk....
suara tamparan dari Dewa untuk pak Gatot.
" Kenapa kamu lakukan ini kepada saya? siapa yang menyuruhmu? "
Gatot hanya terdiam menunduk ketakutan.
" Jawab ! siapa yang menyuruhmu melakukan ini? " seraya memegang kerah baju pak Gatot.
" Saat ini juga, kamu saya pecat. Saya tidak mau lagi melihat wajahmu. " seraya meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Di klinik.
Aisyah, Angel dan juga Dinda pergi menemui Wira dan membawa makanan untuk Wira.
" Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam, eh ada kalian disini. " seraya mendudukkan badannya.
" sudah sudah tidak apa-apa sambil rebahan aja " ujar Dinda.
__ADS_1
" Tidak, saya tidak enak rebahan terus. "
" Memangnya kamu sudah bisa duduk? " tanya Angel.
" Ya seperti yang kamu lihat. "
" Alhamdulillah.. Wira aku khawatir tau dengan keadaan mu. " ujar Dinda seraya memeluk Wira.
Wira terdiam dan melihat kearah Angel. Seketika Angel membuang muka ke segala arah. Melihat hal itu Ais langsung berderam.
" Ekhemmm.. Kalau bukan muhrim dilarang bersentuhan apalagi berpelukan. "
Mendengar itu seketika Dinda melepaskan pelukannya.
" Maaf maaf. tadi aku refleks. " ujarnya.
.
.
" Wira, bagaimana keadaanmu? " tanya Angel.
" Alhamdulillah aku sudah baik-baik saja. kenapa bertanya begitu? kamu kangen ya karena gaada aku di pesantren? " sahutnya seraya menggoda Angel.
" Hmm? " Angel terkejut mendengar itu.
" Iya, kamu kangen kan sama aku? "
" Tidak, "
" Iya Ra, dia kangen katanya sama kamu. Dia ingin melihat kamu membaca Al-Quran dihadapannya lagi, seperti latihan Tartil kemarin. " sahut Ais.
Angel seketika mencubit lengan kiri temannya itu.
Melihat itu Wira tertawa kecil.
" Kalau kangen ya tinggal bilang aja, gak usah gengsi. AKU KANGEN.... gitu. "
" Nggak, biasa aja. "
Melihat itu Dinda merasa cemburu seperti tak dianggap.
" Kebetulan belum, itu makanan untuk siapa? untukku? " seraya menunjuk ke rantang makanan yang dipegang Angel.
" Mmmmm... " Angel bingung menoleh kearah Ais.
" Wira, aku juga bawain makanan untukmu. Ini aku dan mama yang membuatnya. " sahut Dinda.
" Terimakasih. Taruh saja di meja, kak Dewa juga belum makan. Nanti dia yang akan memakan punyamu. "
" Aku ingin memakan makanan Angel" sambungnya.
" Yasudah sini Angel "
" Mmmm? "
" Makanannya sini, itu untukku kan? "
Angel memberikan rantang makanannya untuk Wira.
" Kamu mau makan juga? mau aku suapin? " tanya Wira.
" Tidak, tidak perlu. aku sudah makan. "
" Baiklah, aku akan makan sendiri. "
" Ini siapa yang masak? kamu? " sambungnya.
Angel hanya terdiam.
" Iya Ra, itu Angel yang masak. Dia tuh jago masak loh Ra, disaat waktu kita makan bersama santriwati, Angel yang masak semuanya. " sahut Ais.
" Benarkah? ternyata calonku pintar masak ya. "
" Mmmm? "
__ADS_1
Semua kaget mendengar ucapan Wira.
" Iya calon, calon makmum masa depan. "
" Makmum apa? " tanya Angel.
" Ngga tau. Kamu maunya makmum apa? "
" Ngga tau. "
" Yasudah kalau ngga tau. "
Melihat candaan itu Dinda patah hati dan langsung keluar begitu saja meninggalkan mereka di tempat.
" Dinda, kamu mau kemana? " tanya Angel mencoba menahan Dinda.
" Aku mau pulang, ada urusan mendadak. "
" Mengapa terburu-buru? kan bisa bareng pulang sama kita? Tadi katanya mau bareng? "
" Aku tidak bisa, aku harus pulang. Mari, assalamualaikum. " seraya meninggalkan semua nya.
" Waalaikumsalam. "
" Ais, Dinda kenapa? kenapa dia pergi begitu saja dan terlihat terburu-buru seperti itu? " tanya Angel.
" Mungkin dia cemburu. " sahut Wira.
" Cemburu? cemburu kenapa? "
" Karena melihat makananmu yang dimakan oleh Wira " sahut Ais.
" Mm? benarkah? "
Ais hanya mengangguk sementara Wira terus saja memakan makanan yang dibawa oleh Angel.
" Wira, kamu seharusnya tidak boleh seperti itu. "
" Aku kenapa? "
" Kamu seharusnya menghargai perasaan Dinda. "
" Aku sudah menghargai perasaan nya. "
" Kalau kamu menghargai perasaannya, mengapa kamu tidak memakan makanannya? "
" Aku hanya ingin memakan makanan mu saja Angel. Tidak ada yang lain. Lagi pula kak Dewa juga belum makan, dia pasti senang jika ada makanan Dinda disini. "
" Tapi kan Dewa bisa membelinya di kantin klinik ini? "
" Dia lebih suka makanan Dinda, karena dia mencintai Dinda. "
" Mm? " tersentak kaget.
" Kenapa begitu? iya Dewa mencintai Dinda. Makanya aku menghindar dari Dinda karena aku harus menjaga perasaan kakakku. "
Apa? dewa mencintai Dinda?
" Angel "
" Mm? "
" Apa aku boleh bertanya sesuatu? "
" Bertanya apa? "
" Apa kamu sudah memiliki tunangan, pacar, atau ada hati yang sedang dijaga mungkin? "
Seketika Angel terdiam menunduk. Ais hanya melihat keduanya.
" Angel... "
" Aku belum bisa jawab sekarang. "
" Kenapa? kan cuma jawab Ada atau tidak. "
__ADS_1
" Lebih baik kamu bertanya saja kepada Abi, dia yang lebih tau itu. " ujar Angel seraya membuang muka ke segala arah.
Wira hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya.