
Dewa Adrian Mahesa seorang cucu dari Adhitama Mahesa kini memasuki area pesantren Pakubumi bersama mobil mewah nya. Dia memakai kacamata hitam lalu keluar dari mobil seraya membuka kacamata nya
"Permisi pak. Pak Kyai ada? saya ada perlu dengan Kyai" tanya pemuda itu kepada penjaga gerbang
"Ohh ada mas. mari saya antarkan" ucap penjaga gerbang itu seraya mengantarkan pemuda ke rumah Kyai Syifulan sambil diikuti oleh pemuda itu di belakangnya
...****************...
"Jadi kedatangan nak Dewa disini ingin melanjutkan pendidikan di pesantren ini?" Kyai bertanya.
"Benar pak. maksud kedatangan saya kesini ingin melanjutkan pendidikan disini seperti adik saya" ujar Dewa
"Adik? siapa adik nak Dewa yang berada disini?"
"Wira. Nagara Wirayuda Mahesa. dia adik saya pak" ujarnya.
"Jadi nak Wira itu adik dari nak Dewa ini?"
"iya benar pak. dia adik saya" ujar Dewa
Kyai terdiam karena terkejut dan mengangguk paham
"Kalo boleh saya minta izin. untuk bertemu dengan adik saya pak. apakah diizinkan?" tanya Dewa
"Oh boleh boleh. sebentar saya panggilkan dulu nak Wira" ujar Kyai
Lalu Kyai Syifulan memanggil seseorang untuk menjemput Wira di asrama santriwan.
Setelah beberapa saat, Wira datang bersama seseorang tadi.
"Assalamualaikum. Pak kyai"
"Waalaikumsalam" serentak
Deghh
Wira begitu kaget melihat seseorang yang berada didalam ruangan itu. Dirinya seolah diam tak dapat berkata apa-apa dan terdiam seribu bahasa. Rasanya seperti tidak asing lagi dengan orang itu. Melihat bola matanya, tatapan nya, seakan semua pernah dilihat nya di masa lalu.
"Wira, kamu apa kabar?" tanya Dewa
"Alhamdulillah baik.. Kaya nggak asing. tapi siapa ya?" ujar Wira seraya mengingat-ingat siapa orang itu.
"Dewa. Dewa Adrian Mahesa. Kakakmu, apa kamu masih ingat dengan ku?"
"Dewa? aku tidak ingat sama sekali. siapa anda?"
Dewa lalu berdiri menunjukkan foto masa kecilnya yang saat itu bersama adiknya itu. Lalu Wira mendekatinya dan melihat dengan jelas foto itu..
"Foto ini? foto ini sangat mirip sekali dengan ku semasa kecil dulu. Dari mana anda mendapatkan nya?" tanya Wira
"Sebenarnya dulu sewaktu kita kecil kita ini kakak beradik yang tak bisa dipisahkan. namun, musibah menimpa keluarga kita. Rumah kita terbakar dulu, semuanya habis dilalap api. Harta benda dan kekayaan kita termasuk orang tua kita pun ikut habis terbakar. Dengan sangat terpaksa kakek membawaku. Dan kau ikut bersama bibi, asisten rumah tangga kakek. Selama ini kakek memang sengaja tidak menjenguk mu, tapi dia mencukupi kebutuhan mu. Setiap bulan kakek selalu menghubungi bibi, bertanya tentang mu. Dia ingin supaya kau tidak berlarut-larut dalam trauma kesedihan di masa lalu semenjak kematian orang tua kita. Karena dia ingin engkau diasuh dengan baik oleh orang kepercayaannya. Termasuk aku, aku dulu juga diasuh oleh orang kepercayaan kakek." ujar Dewa
"Jadi selama ini ibu dan ayah sudah meninggal?" tanya Wira
Dewa hanya mengangguk lalu kemudian Wira menangis sesedih-sedih nya. Ketika mengingat Kedua orang tuanya telah tiada. Selama ini dia dibesarkan oleh orang tua asuh bukan orang tua kandung.
__ADS_1
Dewa lalu mendekati Wira dan memeluknya, terjadilah pertumpahan air mata diantara keduanya karena sudah sejak lama tidak bertemu. Melihat kejadian itu Kyai tak bersuara, karena dia tau betul bagaimana terpukul nya perasaan Wira saat mengetahui bahwa kedua orang tuanya sudah tiada.
"Kamu tenang aja. sekarang ada aku bersamamu" ucap Dewa
"Terimakasih kak" Wira seraya memeluk kakaknya dengan erat.
Setelah selesai menangis dan melepaskan pelukannya, Dewa memberikan kado untuk adiknya ya walaupun hanya sebatas kotak sedang.
"Ini, aku ada hadiah buatmu adikku. Jangan lihat isinya tapi lihatlah keikhlasan orang itu saat memberikan sesuatu" ucap Dewa seraya memberikan kotak yang ada di atas meja tersebut
Wira tersenyum dan mengangguk
"Terimakasih kak" jawab Wira sambil menerima hadiah tersebut.
"By the way kakak ngapain kesini? ada perlu dengan Kyai kah?" sambungnya
"Oh iya sampai lupa, aku akan melanjutkan pendidikan disini. dan aku menemanimu di pesantren ini. Umur kita kan tidak berbeda jauh, hanya aku yang 2 tahun lebih tua darimu. dan juga Kakek yang menyuruhku untuk menemani mu disini. Dengar-dengar kau Hafizh Qur'an ya?" ujar Dewa
"Masih belajar kak. Sejatinya semua orang ini tidak bisa. Sama sepertiku, aku juga tidak bisa. Aku masih perlu banyak belajar, belajar, dan belajar lagi."
"Kau ini memang selalu merendah. Aku jadi sangat Ingin menjadi seperti mu"
"Ya hidup memang harus merendah kak, meskipun kita berada diatas langit sekalipun, kita harus tetap membumi. Kita harus meniru sifat bumi, bumi walau pun diinjaknya berkali-kali sekalipun dia tetap memberikan kehidupan untuk kita"
Dewa hanya tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan adiknya itu
"Ternyata pemikiran mu sudah dewasa. Bagus, kakak suka itu" ujar Dewa
Wira tersenyum dan mengangguk.
"Nanti akan aku antarkan engkau ke makam ayah ibu setelah dari sini" jawab dewa
Mereka lalu melanjutkan percakapan antara satu sama dengan yang lainnya.
...****************...
"Ayah, ibu. maafin Wira. kalo Wira ada salah sama ayah ataupun ibu. Wira akan selalu mendo'akan kalian dari sini. semoga kalian tenang di alam dan ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah. Aamiin" ujar Wira menangis sedih sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan secara halus.
Dewa yang melihat itu tanpa terasa meneteskan air mata. namun tetap menyembunyikan dihadapan Wira karena dia tau dia harus kuat dan memberikan contoh yang baik kepada adik semata wayangnya itu.
Lalu Dewa menghampirinya dan mengusap punggung adiknya itu secara halus.
"sudah tidak boleh nangis. kau kan anak lelaki, mestinya kuat" ucap dewa seraya memberikan senyuman kepada adiknya itu
Wira hanya mengangguk dan mengusap air matanya karena tidak ingin melihat orang tuanya sedih dialam sana.
"Mari, kita kembali ke pesantren" ajak Dewa sambil memberikan tangannya
Wira hanya mengangguk lalu menerima tangan kakaknya tersebut
...****************...
Pada saat di perjalanan, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Dinda.
"Assalamualaikum" ucap Dinda
__ADS_1
"Waalaikumsalam" serentak keduanya menjawab
Dinda melihat mata Wira yang memerah seperti baru selesai menangis
"Kenapa kamu menangis, Wira? Ada apa? Lalu mengapa kalian bisa saling kenal satu sama lain?" tanya Dinda
"Tidak apa-apa. Oh iya, ini adikku. jadi kalian sudah saling kenal?" ujar Dewa
"Apa? adik? jadi kau adik dari laki-laki ini?" tanya Dinda seraya menunjuk kearah Dewa
Wira hanya mengangguk dan terlihat banyak diam. Memang Wira akhir-akhir ini banyak diam, mungkin karena ada trauma di masa lalu
"Lalu kenapa?" tanya Dewa
"tidak apa-apa. Wajah kalian serasa masih seumuran. aku juga tidak nyangka kamu kakaknya Wira" ucap Dinda
"Ya mungkin karena wajahku terlihat awet muda. makanya kita berasa seumuran" ujar Dewa nyengir sambil menghibur adiknya itu.
Dinda tersenyum manis dan tertawa melihat kearah kedua bersaudara itu.
Wira hanya tersenyum melihat tingkah laku kakaknya itu.
"kau ini sudah tua, masih saja tingkah laku mu seperti anak kecil. sudahlah aku balik ke pesantren dulu. kalian kalau mau ngobrol dulu silahkan. tapi ingat jangan lama-lama. karena tidak baik berduaan. apalagi dijalan sepi seperti ini" ujar Wira seraya meninggalkan mereka
"Kau... tunggulah abangmu disini.. kasian ini sendirian kalau tidak diantar ke rumahnya." ucap Dewa dengan nada yang begitu kesal
"aku tidak apa-apa kak. kalau kakak mau duluan silahkan aja. aku bisa sendiri" sahutnya
"Tapi kan kau sendirian, gak baik cewe sendirian"
"Lah, gak baik juga kalo bukan muhrim berduaan. Dijalan lagi"
"iya juga ya, yasudah kamu jalan dulu nanti aku yang akan membuntuti mu"
Dinda tersenyum lalu pergi meninggalkan Dewa, dan Dewa ikut membuntuti nya.
...----------------...
Diperjalanan Dinda sekali-kali menoleh kearah belakang dan dilihatnya Dewa tersenyum
"Kamu ih, sering banget buat aku tersenyum. Bagaimana? jadi bunuh diri tidak? hehe" tanya dewa sambil menyindir Dinda dan tertawa
"Tidak jadi. karena aku yakin diluar sana masih banyak yang sayang sama aku, yang tulus sama aku hehe" ujarnya
"tidak usah jauh-jauh. Buktinya sekarang ada didekatmu. Menjagamu dan melindungi mu" ucap Dewa dengan nada menggoda
Dinda melihat kearah Dewa dan tersenyum lalu menunduk. karena Dewa memang tidak tahu bahwasanya Dinda adalah masa lalu adiknya itu.
Aku tidak memaksa mu untuk menyukai ku
Aku tidak juga memaksamu untuk mencintai ku
Yang aku inginkan, kamu mengetahui ketulusan hati ku bahwa aku sangat mencintaimu.
celetuk hati Dewa.
__ADS_1