
" Lepaskan tanganku. " ujar Angel sambil menghempaskan tangannya yang pada saat itu ditahan oleh Afka, lalu kemudian Afka melepaskannya.
" Angel, kumohon dengarkan dulu penjelasan ku ini. " ujar Afka sambil berusaha meyakinkan Angel.
" Kau tidak perlu memberikan penjelasan apapun. " ujar Dewa yang penuh amarah ingin menghajarnya lagi, namun dengan sigap ustadz muda menahannya.
" Sudah Dewa, cukup ! " ujar Angel.
" Dewa, ini di area pesantren. Tidak baik memakai kekerasan seperti itu. " ujar ustadzah mencoba menenangkan Dewa.
" Masalah ini bisa diselesaikan secara baik-baik. Kamu harus tenang. Dengarkan dulu penjelasannya. " ujar ustadz muda.
" Baiklah, maafkan aku semuanya. " ujar Dewa kepada semuanya.
Kemudian semuanya mulai melihat kearah Afka.
" Apa yang ingin kamu jelaskan, Afka? " ujar Angel.
" Coba jelaskan sekarang kepada semuanya. Biar semua orang tau apa alasanmu mencelakai Wira dan untuk apa kamu datang kesini dan apa tujuanmu?. " sambungnya Angel.
Kemudian Afka seperti ingin mengatakan sesuatu namun gugup karena merasa takut.
__ADS_1
Lalu Afka menghela nafas dalam-dalam.
" Baiklah aku akan mengakui semuanya. " ujar Afka.
" Cepat katakan! apa alasanmu mencelakai Wira? " ujar Dewa dengan nada kesal.
" Aku melakukan itu semua karena ada alasannya. " ujar Afka.
" Apa? " tanya Angel kepada Afka dengan rasa penasaran didalam dirinya.
" Sebenarnya keluarga ku dengan keluarga Mahesa ini adalah saingan bisnis. Keduanya sama-sama bergerak di bidang yang sama. Perusahaan keluargaku dan perusahaan dia menjual barang yang sama. "
" Perusahaan dia menjual barang yang sama dengan harga murah. Dia bersaing tidak begitu sehat. Dia menghancurkan harga pasaran dari barangku. Makanya aku tidak terlalu menyukainya. "
" Lalu, bagaimana bisa kamu mencelakai Wira? Wira kan tidak tau apa-apa tentang masalah ini? "
" Awalnya aku mengira Wira itu adalah adik kandungnya, makanya aku mencoba untuk mencelakainya, namun sayang sasarannya meleset. Dia tidak apa-apa, dan orang yang aku suruh ternyata tertangkap di bandara. Aku sempat menjadi buronan polisi karena kecelakaan itu, namun aku memilih menyerahkan diri. Lalu aku dibebaskan oleh seseorang. Dan akhirnya aku bebas. Aku minta maaf karena sudah mencelakai Wira. Aku salah orang. "
" Ya Allah. " ujar ustadzah terkejut mendengar itu dan menutup mulutnya, sementara ustadz muda hanya terdiam mendengarnya dan terus melihat kearah Afka.
" Salah orang? maksudmu? " tanya Angel yang tidak mengerti maksud perkataan Afka.
__ADS_1
" Iya, yang sebenarnya adalah Wira itu bukanlah adik dari Dewa. Dia hanya mengaku-ngaku sebagai kakaknya saja. "
" Apa? " Semuanya terkejut mendengar itu, termasuk Dewa juga terkejut karena Zein mengatakan sesuatu yang tidak diinginkan olehnya.
Seketika semuanya melihat kearah Dewa, sementara Dewa hanya menunduk.
" Apa? " kemudian Wira datang dan mendengar semua perkataan itu. Seketika Dewa terkejut, dan Afka hanya tersenyum. Karena inilah yang dia inginkan.
" Benarkah? " tanya Wira kepada kakaknya itu seakan-akan tidak percaya. Sementara Dewa hanya terdiam.
" Kak, jawab! apa yang dikatakan Afka ini benar begitu? " sambungnya sambil menunjuk kearah Afka.
Dewa terus terdiam seribu bahasa tanpa sepatah kata pun.
" Kak, jawab! kenapa kakak diam? apa yang dikatakan oleh Afka ini semuanya itu benar? kalau aku ini bukan adik kandungmu? " ujar Wira.
Wira menghela nafas
" Kalau aku bukan adik kandungmu, lalu aku ini sebenarnya siapa? jika orang tua yang aku anggap sebagai orang tua kandungku sendiri selama ini itu hanyalah orang tua asuh, lalu dimana orang tua kandungku? " lanjutnya lagi.
Dewa hanya terdiam dan menunduk, sementara Afka tersenyum melihat itu.
__ADS_1