Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Mencari pesantren


__ADS_3

" Maksudnya ini apa pak? apa bapak tau maksud dari semua ini? " tanya Zein kepada orang yang membawa berkas tadi.


" Saya juga kurang tau mas, mungkin mas pernah ada wasiat sebelumnya dari papanya mas? " ujar laki-laki itu memancingnya untuk mengingat masa lalunya bersama papanya.


Zein mengingat sesuatu di masa lalu, dimana dia masih hidup dengan orang tuanya yang masih lengkap. Dia teringat kalau papanya itu pernah ingin memasukkan dia dan saudara kembarnya ke pesantren, namun dirinya enggan masuk karena takut meninggalkan kedua orang tuanya.


" Apa jangan-jangan itu? " ujar Zein mengucap secara perlahan.


" Itu apa? " sahut mama tirinya itu yang mendengar perkataan Zein.


" Mm? " Zein terkejut.


" Apa? " ujar mama tirinya itu.


" Nggak, bukan apa-apa kok tante. Aku hanya mengingat masa laluku saat bersama papa dan mama. Aku mengingat kejadian dimana keluarga kita masih berkumpul jadi satu. Dimana pada saat itu papa pernah berpesan kepadaku dan juga Nino untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren, tapi aku menolaknya karena alasanku pada waktu itu tidak mau berjauhan dengan kedua orang tuaku. Atau jangan-jangan itu ya tante? "


Mama tirinya itu terdiam dan tersenyum.


" Mungkin saja itu. " ucap mama tirinya.


Zein lalu melihat kearah laki-laki tadi.


" Apa papa saya pernah berbicara tentang ini kepada bapak? " tanya Zein.


" Berbicara tentang apa mas? " sahutnya seakan-akan tidak tau apa-apa.


" Tentang wasiat ini. "

__ADS_1


" Tidak mas, saya tidak tau apa-apa. "


" Benarkah? "


" Sudah-sudah. Zein, kamu mau kan semua aset kekayaan almarhum papamu ini jatuh ke tanganmu? " ujar mama tirinya itu mencari topik lain.


" Iya. "


" Yasudah, kamu lakukan saja wasiat papamu itu. "


" Baiklah. Aku akan mondok. Tapi mau mondok dimana? "


" Aku akan mencarikan pesantren untukmu. "


Lalu mereka terdiam.


Pesantren Pakubumi? apa aku harus belajar di pesantren itu? kan disana ada Angel. Tapi kalau aku ada disana, kira-kira Angel marah tidak ya? kan dia saja sudah tidak ingin bertemu denganku lagi.


.


Alhamdulillah mas, anakmu akhirnya mau memenuhi wasiat dari kamu. Semoga kamu tenang di alam sana ya mas.. dan semoga do'a-do'a anakmu ini bisa meringankan dosa-dosamu.


dalam hati mama tirinya.


......................


Beberapa hari kemudian

__ADS_1


.


.


Disisi lain.


Di pesantren Pakubumi, ustadz muda memanggil Wira untuk menemuinya di kelas biasa tempat latihan Tartil. Begitu juga dengan ustadzah yang memanggil Angel, Aisyah, dan juga Cantika untuk latihan bersama.


Mereka semua sudah datang dan berkumpul kecuali Wira yang masih belum datang juga pada saat itu.


" Kemana Wira ustadzah? kenapa belum datang juga? " tanya Angel kepada ustadzah.


" Ustadzah juga tidak tau Angel. Mungkin sebentar lagi. " sahutnya sambil melihat kearah pintu.


" Apa dia sudah sembuh? "


" Kamu bisa bertanya secara langsung setelah dia datang. Kenapa? apa kamu khawatir dengan keadaan dia? " ujar ustadzah seraya memancing-mancing Angel.


" Nggak, biasa saja ustadzah. " ujar Angel seraya menutup-nutupi perasaannya dan menunduk.


" Kalau kamu biasa saja kenapa kamu bertanya tentang dia? " ujar ustadzah sambil tersenyum kearah Angel.


Angel tersenyum menunduk.


" Kalau cinta ya harus istikharah dulu, jangan asal khawatir. Ntar nanti kecewa lagi. " sindir ustadzah kepada Angel.


Seketika Angel menatap kearah ustadzah.

__ADS_1


" Mm? kata siapa? " ujar Angel.


" Tidak tau ya kata siapa. Ustadzah hanya menebaknya saja tadi. " ujar ustadzah menutup-nutupi itu. Sebenarnya pada beberapa hari yang lalu ustadzah sempat melihat Angel dan Ais berpelukan di asrama santriwati. Setelah ustadzah bertanya kepada Ais ternyata Angel bersedih karena bertemu dengan seseorang dari masa lalu.


__ADS_2