
" Apa? " suara ustadz muda terkejut mendengar itu semua disaat dokter sudah memberi tahu tentang keadaan Dinda yang sebenarnya.
" Iya mas, keadaannya seperti itu. " ujarnya dokter itu.
Ustadz muda menghela nafas
" Apa masih ada kemungkinan dia untuk sembuh dok? "
" Kemungkinannya ada mas, karena saat ini dia hanya mengalami cidera di kakinya akibat bertabrakan dengan benda keras. Makanya kakinya terasa kaku untuk digerakkan. "
Ustadz muda mengangguk.
" Apa prosesnya lama? "
" Saya juga kurang tau mas, untuk sementara ini ilmu medis hanya memprediksi selebihnya kita pasrahkan saja semuanya kepada Allah. Biar Allah yang menjawab semuanya. " ujarnya dokter itu dengan pasti.
Ustadz muda menghela nafasnya lagi.
" Baik, kalau begitu saya permisi dok. " ujarnya sambil mengangguk
" Iya silahkan. "
" Assalamualaikum. " ujarnya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
" Waalaikumsalam. "
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan itu, ustadz muda malah kepikiran terus tentang keadaan Dinda yang sudah menyelamatkan nyawanya. Dia berjalan dengan fikiran kosong, hingga tanpa sadar akhirnya dia bertabrakan dengan seseorang.
Dduuugggg
seketika itu ustadz muda mulai membuyarkan lamunannya dan melihat kearah orang itu.
" Loh, kamu? sedang apa kamu disini? " terkejut melihat orang itu.
" Saya ingin menjenguk teman saya. Dia di rawat inap disini. Kamu sendiri sedang apa disini? siapa yang sakit? " ujarnya orang itu yang tak lain adalah tunangan dari ustadz muda.
Ustadz muda seketika itu terdiam, karena tidak mungkin dia mengatakan sesuatu kalau dia saat ini sedang bersama wanita. Apalagi wanita itu orang yang sudah menyelamatkan nyawanya dari maut.
" Aaaa, saya disini sedang bersama Fahrul, santri kami kebetulan ada disini, dia sedang sakit. Kami hanya menjenguknya saja. "
" Santri? " sambil melihat ke sekelilingnya. " Ada dimana dia saat ini? "
" Waalaikumsalam. " jawabnya, dia merasakan keanehan dari sifat ustadz muda pada saat ini. Sepertinya ada yang sedang ditutup-tutupi olehnya.
" Yasudah, tidak apa-apa. Mungkin saja dia memang ke tempat Fahrul. " ujarnya sambil membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya ke tempat tujuan.
Setelah berada jauh dari tempat tadi, ustadz muda menoleh kearah belakang takut tunangannya itu mengikutinya. Dan akhirnya dia menghela nafasnya
" Hhhhhh, untung saja. "
" Tapi, dia curiga tidak ya kalau saya sedang berbohong? " ujarnya ustadz muda lanjutnya lagi sejenak terdiam.
__ADS_1
" Ah, sudahlah semoga saja dia tidak curiga. "
" Ya Allah maafkanlah hamba, saat ini hamba sedang berbohong kepada calon hamba. " ujarnya sambil menengadahkan tangan dan menatap ke atas sejenak, lalu kemudian pergi meninggalkan tempat itu menuju ke tempat Fahrul yang tidak lain adalah kamar Dinda.
Setelah beberapa saat, kemudian ustadz muda mulai memasuki kamar Dinda. Dia membuka pintu kamar itu dan memasukinya.
" Assalamualaikum. "
Seketika itu semuanya melihat kearah pintu.
" Waalaikumsalam. "
Kemudian Wira berjalan dengan semangat mendekati ustadz muda.
" Bagaimana katanya? dia tidak apa-apa kan? "
Ustadz muda terpaksa memberikan senyuman, untuk menutupi semuanya.
" Iya tidak apa-apa. Ini hanya bagian dari kram saja katanya dokter. "
" Kram? " Wira heran mendengar itu, dan merasa seperti ada yang sedang ditutup-tutupi olehnya.
" Iya, kram. " ujarnya sambil mengangguk.
" Lalu kapan dia bisa berjalan kembali seperti semula? "
__ADS_1
Ustadz muda menghela nafas
" Saya pasrahkan saja sama Allah. Biar Allah yang mengatasi semuanya. " jawab ustadz muda dengan simpel.