Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Pertemuan Aisyah dan Zein


__ADS_3

Di satu sisi


Zein sudah menemui Kyai Syifulan dan sudah berbicara panjang lebar dengannya tentang wasiat dari almarhum papanya itu, dia juga akan belajar agama di pesantren itu.


Setelah selesai menemui Kyai, dia langsung pamit untuk pulang kerumahnya.


Setelah keluar dari rumah Kyai, dia masih melihat-lihat pesantren itu dan mengelilinginya. Seperti sedang mencari seseorang. Ya, tentu saja itu Angel.


Dia mencarinya di segala arah, namun tetap tidak menemukannya. Namun tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Aisyah yang sedang berjalan terburu-buru dan membawa beberapa buku.


Dduuugggg


Seketika buku yang dipegang Aisyah pun terjatuh dan Aisyah pun mengambilnya. Lalu Zein refleks dan membantunya mengambil buku itu.


" Aduh, maaf ya. Tadi saya tidak sengaja. Saya tidak melihat tadi. " ujarnya Zein yang tidak melihat orangnya sambil mengambilkan bukunya itu.


Aisyah juga tidak melihat orangnya, dia nampak fokus mengambil buku yang jatuh tadi.


" Iya tidak apa-apa. " sahutnya sambil mengambil bukunya itu.


Lalu kemudian mereka berdiri serentak, dan kepala mereka berbenturan.


" Aduh. "


Kemudian keduanya refleks mengusap kepalanya masing-masing.


" Maaf, saya tidak sengaja juga. " ujar Zein kepada Aisyah sambil terus mengusap kepalanya.


" Iya tidak apa-apa. " juga sambil mengusap kepalanya.


" Ini bukumu. " sambil memberikan buku Aisyah yang jatuh tadi kepada Ais.


" Terimakasih. "


" Iya, sama-sama. "


" Oh ya, namaku Zein. " lanjutnya lagi sambil memberikan tangannya untuk bersalaman.


Namun Aisyah menolaknya untuk bersentuhan secara langsung dengannya, karena memang dalam syariat Islam laki-laki dan perempuan itu dilarang bersentuhan kecuali bersama mahramnya.


" Ehh, iya maaf lupa. " ujar Zein.

__ADS_1


" Iya, tidak apa-apa. "


" Kau sendiri mau kemana? kelihatannya sedang terburu-buru? "


" Aku harus ke kelas. Karena aku sekarang harus menjadi guru pengganti untuk para santri. "


" Guru pengganti? maksudnya? "


" Iya, kalau ada guru yang tidak masuk, izin kepentingan, sakit dll. Itu aku yang menggantikannya. "


" Mmmm " sambil mengangguk.


" Iya, sepertinya kau orang baru disini. Baru pertama kali aku melihatmu. "


" Iya, benar sekali. "


" Ohh.. " hanya mengangguk.


" Maksudnya? "


" Ya tidak apa-apa. Lagi pula ini kan pesantren, siapapun bisa saja datang kesini. "


" Terus, kamu tidak mau bertanya apa tujuanku datang kesini? " sambungnya Zein sambil terus melihat kearah Aisyah.


" Tidak, untuk apa aku bertanya itu? itu kan hakmu. "


Zein menghela nafas


" Ya, siapa tau aja kamu ingin bertanya apa tujuanku datang kesini. "


Kemudian Aisyah tersenyum kepadanya.


" Memangnya kamu disini sedang apa? mencari seseorang atau apa? atau ada keperluan lain? "


" Ngomongnya bisa sambil jalan? "


" Iya bisa. " kemudian keduanya berjalan berdampingan namun ada jarak diantara keduanya.


" Sebenarnya aku baru selesai bertemu dengan Kyai. " ujar Zein kepada Aisyah sambil berjalan.


" Terus? "

__ADS_1


" aku ingin belajar ilmu agama disini, di pesantren ini. Untuk menjalankan wasiat dari almarhum papa aku. "


" Wasiat? maksudnya? "


" Iya, wasiat. "


Zein menghela nafasnya sementara Aisyah terus menatapnya.


" Untuk mendapatkan semua aset kekayaan dari almarhum papa, aku harus menjalankan wasiat papa. " lanjutnya lagi.


" Maksudnya kamu harus belajar dulu di pesantren ini lalu baru kamu bisa mendapatkan warisan dari almarhum papa kamu? "


" Iya. "


Seketika Aisyah menghentikan langkahnya. Lalu kemudian Zein ikut terhenti dan menoleh.


" Kenapa berhenti? " tanya Zein.


" Tidak apa-apa. "


" Kalau tidak apa-apa kenapa kamu berhenti? "


" Jadi kamu ingin belajar di pesantren ini hanya untuk mendapatkan warisan? "


Kemudian Zein menganggukkan kepalanya.


" Astaghfirullah hal adzim. " ujar Aisyah sambil menggelengkan kepalanya.


" Kenapa? "


" Kalau kamu belajar di pesantren ini hanya untuk mendapatkan warisan, kamu salah. Salah besar malah. "


" Maksudnya? "


" Iya, kamu salah. "


" Dimana letak kesalahan ku? "


" Harusnya kau belajar untuk mencari ridho Allah, bukan untuk mendapatkan warisan. Dihadapan Allah, harta ini tidak ada apa-apanya. " ujarnya sambil melangkahkan kaki meninggalkan Zein di tempat itu.


Sementara Zein seketika terdiam mendengar perkataan itu, perkataan yang seakan menampar hatinya begitu dalam.

__ADS_1


__ADS_2