Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Bagaimana keadaanmu?


__ADS_3

Setelah beberapa saat, kemudian akhirnya dokter keluar dari ruangan UGD itu dengan membawa kabar gembira.


" Alhamdulillah. " semuanya bernafas dengan lega mendengar itu karena Dinda sudah siuman dari pingsannya itu.


" Apakah sudah bisa dijenguk dok? " ujar Wira.


" Iya, silahkan tidak apa-apa. "


Kemudian Wira mulai masuk terlebih dahulu kedalam ruangan itu.


Setelah selesai menyampaikan kabar itu, akhirnya dokter pun pamit dan pergi meninggalkan tempat itu. Kemudian ustadz muda dan juga Fahrul juga memasuki ruangan itu mengikuti Wira.


" Bagaimana keadaanmu? " ujar Wira kepada Dinda.


Dinda melihat kearah Wira, dia membuka kedua matanya itu dengan perlahan. Dia memiliki luka di kepalanya karena mengalami benturan keras dengan trotoar jalan. Untung saja dia tidak mengalami kekurangan darah dalam peristiwa itu.


" Wira, kenapa kau bisa ada disini? " ujarnya sambil membangunkan badannya, namun dengan sigap Wira menghampirinya.


" Tidak usah bangun. Tidur saja tidak apa-apa. " ujarnya, kemudian Dinda mengikuti perintahnya untuk segera merebahkan dirinya kembali.


Kemudian Dinda tersenyum kearahnya dan Wira menghela nafas.


" Pertanyaan ku belum kamu jawab. " ujar Dinda kepada Wira.


" Yang mana? "


" Barusan itu. "


Wira mengernyitkan dahinya

__ADS_1


" Kenapa kau bisa ada disini? siapa yang memberi tahumu kalau aku ada disini? "ujarnya Dinda kemudian.


" Saya. " sahut ustadz muda sambil melangkahkan kakinya mendekati keduanya, kemudian Wira dan Dinda menoleh kearahnya.


" Saya yang memberi tahu Wira tentang ini semua. " sambungnya.


" Bagaimana keadaanmu? sudah membaik? " lanjutnya lagi.


" Alhamdulillah, ya seperti yang ustadz muda lihat. " ujarnya Dinda.


" Alhamdulillah. " ustadz muda bernafas lega.


" Keadaan ustadz muda sendiri bagaimana? "


" Saya? alhamdulilah saya tidak apa-apa. "


" Alhamdulillah, lain kali kalau dijalan itu harus fokus dan hati-hati, fikiran jangan kemana-mana. "


" Iya, maafkan saya. Karena saya kamu jadi seperti ini. "


" Iya tidak apa-apa ustadz muda. "


Kemudian Dinda ingin menggerakkan kakinya, namun seketika itu dia merasa kaku.


" Loh. " ujarnya terkejut karena tidak bisa menggerakkan kakinya itu.


Semuanya melihat kearah Dinda.


" Ada apa? "

__ADS_1


" Kaki saya tidak bisa digerakkan. "


" Mm? " semuanya terkejut mendengar itu.


" Yang benar saja kamu. " kemudian memegang kaki Dinda. " Maaf ya. "


" Kaki saya kenapa ini? " ujarnya dengan berkeringat karena tidak bisa menggerakkan kakinya itu.


" Masih tidak bisa digerakkan? " tanya ustadz muda dan Dinda pun menggeleng.


Wira melihat kearah Fahrul.


" Rul, sekarang kamu coba panggil dokter. Ini si Dinda kenapa kok tidak bisa menggerakkan kakinya. "


" Oke. " kemudian Fahrul melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dokter untuk memberi tahu kondisi tentang Dinda.


Dinda mulai mengeluarkan keringat dingin, karena dia takut mengalami cacat. Hampir saja Dinda mengeluarkan air matanya namun dengan sigap ustadz muda menghiburnya. Dengan perasaan bersalah, ustadz muda selalu siap menghibur orang yang telah menyelamatkannya dari maut itu.


Kemudian setelah beberapa saat, dokter dan fahrul kemudian datang. Semuanya melihat kearah dokter dan fahrul tadi


" Bisa ikut ke ruangan saya? " ujarnya dokter itu.


Kemudian ustadz muda melihat kearah Wira dan Wira juga melihat kearahnya.


" Kamu yang disini atau..? "


" Saya disini saja ustadz. Saya kan tidak tau permasalahannya seperti apa. Ustadz muda saja yang ikut ke ruangan dokter. "


" Baiklah. "

__ADS_1


" Kamu disini dulu ya? saya mau ke ruangan dokter dulu sebentar. " ujarnya lagi kepada Dinda, Dinda pun mengangguk.


Kemudian ustadz muda melangkahkan kakinya. " Mari dok. " ujarnya kemudian dokter pergi meninggalkan tempat itu dan diikuti oleh ustadz muda. Sementara Fahrul dan Wira kini menemani Dinda yang sedang terbaring sakit di ruangan itu.


__ADS_2