
Pada saat itu, ketika adzan Ashar berkumandang. Semua santri bergegas ke masjid. Wira dan juga Dewa kakaknya juga bersiap untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah. Dari kejauhan Fahrul dan juga Firman melihat keduanya lalu menghampiri.
"Woyy. ayo ke masjid. siapa nih? kok baru kelihatan?" ujar Fahrul yang menepuk bahu Wira dan menunjuk ke arah Dewa.
"Kakak gue nih. dia juga masuk di pesantren ini nemenin gue" ujar Wira
"kok kamu sama dia manggilnya elu gue?" sambung Dewa seraya menunjuk ke arah Fahrul
"yah begitulah, kadang kita sopan manggil saya kamu, kadang ya amburadul gitu manggilnya kaya gini, tapi ya tidak apa-apa lah, lagi pula kita kan temen baik ya nggak Ra? ya meskipun kita baru kenal sih. hehe" sahut Firman
"Oh iya kita belum kenalan loh kak, namaku Fahrul Arga Irawan. kakak bisa panggil aku Fahrul. temen-temen yang lain juga panggilnya gitu" ujar Fahrul seraya menjulurkan tangannya kepada Dewa
"Dewa Adrian Mahesa. Dewa. senang bertemu denganmu" ujar Dewa membalas uluran tangannya dan memberikan senyuman.
Fahrul mengangguk dan tersenyum
"Firmansyah Chandra Winata. Firman" ujar Firman seraya menjulurkan tangannya ke arah Dewa
"Dewa. senang bertemu denganmu" dewa membalas uluran tangannya dan memberikan senyuman.
Firman mengangguk
"Kalau begitu ayo langsung ke masjid. kalau sudah tau satu sama lain" ucap Wira sambil meninggalkan mereka menuju ke masjid
"Okelah kalau begitu. Mari" ajak Fahrul kepada Dewa
"Ayo kamu juga ayo. kita ke masjid" sambungnya sambil menepuk lengannya Firman
"Oke oke"
...****************...
Setelah selesai beribadah ustadz muda memanggil Wira untuk menemui Kyai Syifulan.
"Wira. tunggu dulu" ujar ustadz muda seraya menghampiri Wira
Wira langkah nya terhenti dan menoleh ke belakang
"Iya, ada apa ustadz?"
"kamu sekarang lagi sibuk tidak?"
Wira hanya menggelengkan kepala.
"Memangnya ada apa ustadz?" Wira bertanya
"Kyai Syifulan memanggilmu. Dia meminta agar engkau segera menemuinya"
"saya? sekarang? dimana?"
"Mari saya antar" seraya berjalan mendahului Wira dan Wira mengangguk dan membuntuti nya.
......................
Dalam perjalanan untuk menemui Kyai, ustadz muda berbincang-bincang dengan Wira.
"Kelihatannya engkau akan diikutkan lomba Tartil oleh Kyai Syifulan. Mengingat engkau mempunyai riwayat yang baik dengan Al-Qur'an. Suaramu bagus, bacaan nya juga bagus. siapapun yang mendengarnya mesti bulu kuduknya merinding mendengarkan suaramu" ucap ustadz muda sambil bercanda.
__ADS_1
"Tidak begitu ustadz. saya masih belajar. saya sama dengan santri yang lainnya, sama-sama manusia biasa yang mesti harus banyak belajar"
"Tapi mengingat engkau. Aku yakin, suatu saat engkau bisa menghafal semua juz di dalam Al-Qur'an" ustadz muda memuji Wira.
"Iya itu kan harus banyak belajar juga ustadz. kan tidak mungkin langsung hafal gitu aja" ucap Wira seraya mengelak
Ketika Wira bersama ustadz muda sedang berbincang-bincang, lalu ada Angel, Ais dan juga Cantika yang kebetulan pada saat itu juga dipanggil oleh Kyai Syifulan untuk menemuinya.
"Assalamualaikum ustadz" mereka serentak.
"Waalaikumsalam" jawab ustadz.
"Mau bertemu dengan Kyai kah?" tanya Cantika.
"Iya kami akan bertemu dengan Kyai. kalian sendiri mau kemana?"
"Sama. kita juga akan bertemu dengan Kyai" sahutnya.
"Yasudah mari. Kalian berjalan terlebih dahulu. biar saya dan Wira dibelakang kalian" ucap ustadz muda seraya menoleh ke arah Wira.
Mereka hanya tersenyum dan mengangguk. kemudian mereka berjalan menuju rumah Kyai dan diikuti oleh ustadz muda dan juga Wira
......................
Setelah sampai di rumah Kyai Syifulan, dan benar saja yang dikatakan ustadz muda bahwasanya mereka akan diikut sertakan lomba Tartil yang diselenggarakan di tingkat Provinsi. Mengingat pesantren Pakubumi ini berada di daerah Surabaya yang kebetulan ibu kota provinsi Jawa timur. Mau tidak mau, siap tidak siap mereka harus berpartisipasi.
"Bagaimana kalian semua? apa kalian setuju untuk berpartisipasi dalam event ini? Event nya masih bulan depan, kalian masih bisa mempersiapkan diri dari sekarang" tanya ustadz muda.
Mereka semua terdiam memikirkan sesuatu, Wira juga memikirkan sesuatu lalu segera menyetujuinya.
"Insyaallah kami siap" jawab serentak. Ais, Angel dan juga Cantika.
"Saya rasa kita perlu persiapan untuk event ini. Namun perlu diingat, tugas kita hanya berusaha bukan berhasil. Kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan berdo'a selebihnya biar Allah yang menentukan" pesan ustadz muda.
"Baik ustadz" jawab mereka serentak.
Selesai bertemu dengan Kyai dan ustadz muda, Wira langsung keluar menuju asrama. Dalam perjalanan menuju asrama, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Ais, Angel dan Cantika. Mereka memanggil Wira.
"Wira" panggil Cantika.
Wira menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah panggilan itu.
"Iya, ada apa Cantika? Mengapa kamu memanggil ku?"
"Persiapkan diri kamu sebaik mungkin. Karena cuma kamu diantara santriwan yang mewakili mereka." sahut Angel.
Wira hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kamu juga persiapkan diri. Jangan sampai sakit" ujar Wira
"Ekhemm. cuma Angel aja nih yang diperhatiin?" Ucap Cantika dengan nada menyindir.
Wira tersenyum.
"Kalian semua. Jaga kesehatan juga, jaga pola makan. supaya tidak sakit" sahut Wira
Aisyah, Angel dan Cantika tersenyum mengangguk.
__ADS_1
"Sudah. kalau begitu saya akan kembali ke asrama santriwan. sampai bertemu kembali" ujar Wira seraya meninggalkan mereka.
Lalu Cantika memanggil Wira kembali,
"Wira" panggil Cantika.
Wira mendengar panggilan itu dan menoleh ke arah wanita tadi.
"Ada apa?" tanya Wira.
"Apa kamu tidak merasa ada yang ketinggalan?" tanya balik Cantika.
"Saya rasa tidak ada." sambil memperhatikan semua yang ada di badan Wira dan melihat di sekelilingnya.
"memangnya apa yang ketinggalan?" sambungnya.
"Cintaku ke kamu yang tertinggal disini" ucap Cantika seraya menunjuk kearah hatinya itu.
"Hehh. sudah, apaan sih. kamu kok menggoda laki-laki?" tegur Aisyah.
"Tidak apa-apa. namanya juga usaha" seraya menyengir.
Wira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku temannya itu dan tersenyum.
"Maafkan teman kami ya, teman kami memang suka begitu. suka tidak jelas" ucap Angel seraya minta maaf.
Wira hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kalo begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum" ucap Wira seraya meninggalkan mereka.
"Waalaikumsalam" serentak.
"Calon imamku" ujar Cantika yang lalu lengannya di tepuk oleh Ais.
Angel hanya menggelengkan kepalanya dan menatap kearah Wira yang sedang berjalan menuju asrama sampai menghilang.
...****************...
"Assalamualaikum" ucap Wira sambil masuk kedalam asrama.
"Waalaikumsalam. kamu dari mana aja sih Ra? tadi kita nyariin kamuu. eh malah enggak ada" ucap Fahrul seraya menoleh ke arah Dewa dan Firman.
"saya dipanggil Kyai"
"Lah, ngapain?" tanya Dewa
"itu disuruh ikut partisipasi Event Tartil Qur'an."
"Widih.. bagus mantap. saya dukung kamu, kita semua dukung kamu, ya nggak?" jawab Fahrul seraya mengkode kepada temannya.
"Iyaps, kita semua dukung kamu. jadi dari sekarang kamu harus menyiapkan diri untuk ikut event itu. saya do'akan yang terbaik buat kamu" sahut Firman.
"Semoga ayah dan ibu bahagia disana melihat kamu berbakat seperti ini adikku" gumam Dewa dalam hati seraya memeluk Wira.
"Kakak bangga kepadamu. Kakak juga ingin menjadi sepertimu. tapi kakak sadar kelebihan dan kekurangan masing-masing manusia itu berbeda. Kakak sangat bangga kepadamu, Wira" ucap Dewa kepada Wira dengan memeluk erat adiknya itu sambil menepuk punggung adiknya.
Wira hanya terdiam mendengar perkataan kakaknya dan menunduk seraya membalas pelukan kakaknya. Mereka berlarut dalam suasana. tak terasa air mata membasahi mata keduanya. Melihat suasana seperti itu Fahrul dan Firman merasa iba dan menghampiri keduanya seraya mengelus punggung keduanya.
__ADS_1