Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Salah paham


__ADS_3

" Aku tidak mau memakai uang papamu hanya untuk dihabiskan untuk hal yang kurang bermanfaat. Selagi aku bisa melakukannya, aku tidak akan membayar pembantu dan tidak akan meminta bantuan kepada orang lain. "


Zein terdiam.


Omong kosong. Pasti dia cuma mau mengambil hati supaya aku mengasihaninya. Dasar ibu tiri


" Rumah sebesar ini tante hanya hidup seorang diri? " tanya Zein seakan tidak percaya dengan ucapan mama tirinya itu.


" Iya. Memangnya kenapa? " sahutnya sambil terus makan.


" Tidak apa-apa. Memangnya tante tidak takut kalau tidur sendiri? dirampok atau dibunuh mungkin? "


Mama tirinya itu hanya tersenyum mendengar itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Aku kalau malam pulang kerumah ibuku. Rumah ini hanya untuk istirahat siang saja. "


" Loh, tapi tadi kata tante, tante ini tinggal disini. Gimana sih? "


" Iya, aku hanya siangnya saja tinggal disini. Kalau malam aku pulang kerumah ibuku. "


" Kenapa tante tidak tinggal 24jam disini? "


" Kan ini bukan rumahku. Tapi rumah almarhum papamu. "

__ADS_1


" Tapi kan tante ini istrinya? " ujar Zein tanpa sengaja mengucapkan itu semua.


Seketika mama tirinya itu terhenti melahap makanannya itu.


" Zein, tapi kan masih ada mama kamu. Dan juga kamu. Aku gak berhak menerima ini semua. "


" Kalau memang tante tidak berhak, lalu kenapa tante dulu menikahi papaku? kalau bukan karena harta, lalu karena apa? "


" Sebentar lagi aku akan memberi tahumu sesuatu. Kau lanjutkan saja makanmu, segera habiskan. " ujar mama tirinya itu kepada Zein, kemudian Zein melanjutkan makannya dan menghabiskan sisa makanan di piringnya itu.


Setelah keduanya selesai makan lalu Zein segera berdiri dan melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan duduk di sofa. Dan mama tirinya itu mulai membersihkan meja tempat makannya.


Setelah semuanya selesai, kemudian mama tirinya itu menghampiri Zein dan duduk bersebelahan.


" Sebentar. Aku panggil orangku dulu. " Ujarnya sambil berjalan mencari handphonenya itu.


Mendengar itu Zein bingung dengan tingkah laku mama tirinya itu.


Mau apa sih sebenarnya dia?


Terlihat dari jauh mama tirinya sedang menghubungi seseorang untuk datang kerumah itu. Lalu setelah selesai berbicara di telepon, mama tirinya kembali ke sofa.


" Menghubungi siapa tante? " tanya Zein.

__ADS_1


" Tidak ada. Hanya menghubungi seseorang untuk datang kemari dan membawa wasiat dari ayahmu. " ujarnya itu.


" Ohh.. "


" Iya, kamu tunggu saja disini. Sebentar lagi dia juga akan datang. "


Zein menganggukkan kepala.


" Oh iya, katanya tante tadi mau bicara sesuatu? mau bicara soal apa? " tanyanya Zein lagi.


" Jadi gini, kau pasti mengecap aku sebagai pelakor kan? dan juga ibumu pasti juga begitu? "


" Iya, benar. Bener banget malah. Ya syukur deh, kalau tante merasa. " ujar Zein seakan mengiyakan perkataan itu.


" Zein, aku mau mengatakan sesuatu. Entah itu mama kandungmu atau kamu, percaya atau tidak, yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya. "


" Memangnya kenapa tante? ada apa? "


" Sebenarnya papamu dulu saat bercerai dengan mamamu itu semua karena salah paham. Aku ini sebenarnya cuma teman kerja papamu, aku sekertarisnya. "


" Terus? "


" Disaat malam itu kita sedang bertemu dengan salah satu klien kita. Pada waktu itu bertemunya di sebuah cafe, lalu kami duduk bersebelahan. Kami semua saling mengobrol satu sama lain. Dan klien kami mengira kalau kami ini sepasang suami istri. Dia bilang seperti itu pada saat ada mama kamu disitu. Ntah dari mana mama kamu tiba-tiba muncul dan mengira kalau kami selingkuh. Dia salah paham dan dirinya pada waktu itu sangat terbakar dengan emosi. Dia menampar papa kamu dan juga tante lalu pergi begitu saja. "

__ADS_1


__ADS_2