Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Masih Makan Bersama


__ADS_3

Kemudian mereka makan bersama di meja makan.


" Mama kenapa kok masak cumi semua? kok tidak ada yang lain? " tanya Raka kepada mamanya itu.


" Iya, tidak apa-apa. Mama hanya ingin masak ini semua untuk kalian. Memangnya kamu tidak suka, Raka? "


" Suka, suka kok ma. Suka banget malah. " ujarnya sambil tersenyum.


" Ini kan masakan kesukaan kalian. Mama ingat betul dari dulu sewaktu kalian masih kecil, kalian selalu merengek agar dibuatkan ini. "


" Oh ya? sepertinya aku sudah lupa ma. " ujarnya Raka.


" Kau masih ingat tidak Wira? " ujarnya Raka lanjutnya lagi.


" Iya ingat kak. Waktu itu kau ini makan masih minta didulang oleh mama. " jawab Wira yang mengada-ngada sambil bercanda. Sementara mamanya tersenyum.


Raka melihat kearah mamanya.


" Beneran ma? dulu aku kalau makan minta didulang? "


Mamanya mengangguk.


" Iya, bener. "


" Hmm? " Raka terkejut.


" Tuh kan, bener. " celetuk Wira sambil tertawa.


" Sudah sudah kalian makan saja dulu. Lanjut nanti lagi bercandanya. "


" Siap ma. " ujar Raka. Kemudian mereka melanjutkan makannya.


Kemudian Wira hendak mengambil cuminya lagi.

__ADS_1


" Kak, kasian ya cuminya. " Wira berujar kepada Raka.


" Kasian kenapa? " sahut mamanya


" Iya, cuminya mati dibunuh ma. "


" Ya iyalah mati. Kalau masih hidup mana bisa dimakan Wira. " celetuk Raka.


" Hehe, coba kakak bayangin, kalau cuminya itu punya anak. Terus anaknya mencari ibunya, tapi nggak ketemu-ketemu. Kan kasian anaknya kak. Mencari-cari ibunya, sedangkan ibunya disini dimakan sama kita. "


" Kamu tenang aja tidak usah berfikir seperti itu. Ini semua cuminya lagi jomblo kok, yang sudah lelah sama kehidupan ini. " sahut Raka.


Mamanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.


" Benarkah? dari mana kakak tau kalau cuminya ini lagi jomblo? " Wira bertanya.


" Ya ini buktinya cuminya tidak ada yang mencarinya, berarti dia jomblo. "


" Ohh, begitu ya? " Wira kemudian tersenyum dan melanjutkan makannya.


Sementara mamanya hanya tersenyum sambil melanjutkan makannya, karena sudah lama dia tidak melihat candaan kedua anaknya itu. Dia benar-benar merindukan itu semua.


Alhamdulillah ya Allah. Engkau hadirkan kembali kebahagiaan kami, kebahagiaan yang selama ini hilang. Terimakasih ya Allah.


.


.


Disisi lain


Di pesantren Pakubumi, Dewa sudah merasa putus asa karena Wira sudah mengetahui semuanya. Dia duduk terdiam didalam asrama santriwan.


Apa sebaiknya aku pulang saja? lagipula aku disini juga sudah tidak ada gunanya lagi. Wira juga sudah mengetahui semuanya. Rencanaku semuanya sudah berantakan.

__ADS_1


Dewa terdiam sejenak, lalu berdiri kearah lemarinya dan membereskan semua barang-barangnya. Tanpa sengaja teman seasramanya itu melihatnya lalu menghampiri.


" Dewa, kau mau kemana? " tanya temannya itu.


" Aku mau pulang. " Dewa berujar sambil meletakkan barang-barangnya ke kopernya.


" Mau pulang? kenapa? apa ada acara mendadak dirumahmu? "


" Tidak, tidak ada. "


" Lalu kenapa kau ingin pulang Dewa? "


" Bukan urusanmu. "


Seketika itu temannya pun terdiam.


" Kau lebih baik keluar. Aku sedang tidak mau diganggu. " lanjutnya lagi.


" Baiklah. " ujar temannya itu lalu melangkahkan kakinya menuju keluar dari asrama itu.


......................


Disisi lain.


Mama, Raka dan juga Wira sudah selesai makan bersama. Lalu Wira ingin menaruh piringnya ke tempat cuci piring namun dihentikan oleh mamanya.


" Sudah, kamu disini saja. Biar mama saja yang membawanya. " ujar mamanya itu.


" Tidak apa-apa ma, aku hanya ingin membantu mama saja. Biar mama tidak kecapean. Kan mama tadi sudah masak. "


" Yasudah terserah kau saja kalau seperti itu. "


" Oke siap. "

__ADS_1


Mama dan Raka hanya tersenyum melihat tingkah laku Wira. Ternyata tidak ada yang berubah dari sikap Wira selama ini.


__ADS_2