
Pada saat itu juga Dinda bersama ustadz muda juga sudah pulang dari rumah sakit bersama firman dan fahrul. Ustadz muda sudah mengantarkannya ke rumah Dinda, kini mereka sudah dalam perjalanan menuju ke pesantren. Ustadz muda, firman dan fahrul berjalan sambil bercanda.
"Terimakasih banyak ya, kalian sudah menemaniku." ujarnya ustadz muda.
"Iya, sama-sama ustadz."
"Oh ya, bagaimana keadaan mamanya Wira saat ini?"
"Semalam sudah pulang ustadz. Alhamdulillah, keadaannya sudah membaik." sahutnya firman, karena semalam dia tengah menghubungi Wira sebelum berangkat ke rumah sakit untuk menemui ustadz muda.
"Alhamdulillah.."
Kini mereka semua berjalan sambil membahas hal lain, tanpa terasa kini mereka sudah sampai di area pesantren.
Sejenak ustadz muda menghentikan langkahnya sambil menatap kearah gapura dimana bertuliskan 'Ponpes Pakubumi'
Aku sudah sampai. Lalu apa yang harus aku katakan kepada semuanya? Apa sebaiknya aku jujur saja dan menceritakan semuanya yang sudah terjadi?
Melihat itu fahrul dan firman menatap heran.
"Ada apa ustadz muda? kenapa berhenti disini?"
"Eh tidak, tidak apa-apa kok." sambil menghela nafasnya.
Kemudian fahrul dan firman bersitatap dengan heran.
"Yasudah, kalau begitu mari masuk ustadz." ajaknya.
__ADS_1
"Iya, mari."
Kemudian mereka masuk ke dalam pesantren dan melihat kearah sekelilingnya dimana hanya ada beberapa santri yang lalu-lalang. Lalu mereka berjalan ke arah asrama untuk beristirahat, namun tatapan mata ustadz muda sejenak melihat kearah kantin. Karena kebetulan tempat kantin itu tidak begitu jauh dengan asrama.
Kantin ini letaknya memang tidak jauh dari asrama santriwan dan juga santriwati. Tempatnya pun terletak di antara pembatas antara keduanya, sehingga para santriwan dan juga santriwati yang ingin membeli sesuatu di kantin pun akan menjadi mudah.
"Sedang melihat apa ustadz muda?" tanyanya firman sambil mengikuti arah pandangan dari ustadz muda.
"Sepertinya itu, Wira." sambil menunjuk ke suatu arah di kantin.
Firman dan fahrul melihatnya dengan menelisik.
"Iya benar. Itu memang Wira, ustadz."
"Sedang apa dia disitu? dan.. sedang bersama siapa dia?" sambungnya.
Ketiganya melihat kearah Wira yang tengah asik bercanda dengan Angel.
Wira yang dari tadi bercanda ria dengan Angel sambil memakan nasi pecel dan minum teh hangat itu langsung melihat kearah ustadz muda yang menyadari akan menghampirinya.
Wira tersenyum kearah ustadz muda, lalu Angel pun melihat kearah Wira.
"Sedang senyum sama siapa?" tanyanya Angel yang mengikuti arah pandang dari Wira.
"Ustadz muda." ujarnya Angel lagi terkejut melihat kedatangan ustadz muda dan juga temannya.
Kemudian ustadz muda berjalan dengan cepat karena sudah tidak sabar ingin menegurnya secara langsung kepada Wira dan juga Angel.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawabnya serentak.
"Sedang apa kalian berdua disini? ini kan tempat umum, tidak baik berduaan seperti ini." sambil mengepalkan tangannya itu.
"Aaaa, kamiii.. " ujarnya Angel lalu dihentikan oleh Wira.
"Sudah, biar aku saja yang menjelaskannya." ujarnya Wira. Lalu Angel pun mengangguk.
"Ustadz, mari duduk dulu. Dan kalian juga, mari duduk sini." ujarnya Wira dengan tenang kemudian menyuruh yang lainnya untuk duduk bersama.
"Kalian tenang saja dulu, ini semua ada alasannya kok." ujarnya lagi.
Sementara itu ustadz muda dan juga kedua temannya itu sama-sama melihat kearah Angel. Angel pun hanya bisa tersenyum kearahnya.
"Sebenarnya, kami berdua ini akan menikah."
"Mm?" ustadz muda dan juga kedua temannya itu terkejut mendengar itu.
"Iya." sambil mengangguk. "kami masih dalam masa ta'aruf, do'akan saja semoga semuanya lancar sampai di acara pernikahan nanti."
Fahrul dan firman yang seakan tidak percaya dengan perkataan dari Wira itu langsung menanyakan langsung kepada Angel.
"Beneran, Angel?" sambil membulatkan kedua matanya itu.
Angel tidak menjawab namun mengangguk.
__ADS_1
"Alhamdulillah..." semuanya terlihat senang dan menghela nafas setelah mengetahui itu semua.
"Kok sudah Alhamdulillah? kan masih belum halal?"