Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Atau jangan-jangan..


__ADS_3

Wira sudah di dalam perjalanan menuju pesantren bersama Raka, dia duduk di depan bersama Raka.


" Wira. " ujar Raka yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Wira menoleh


" Iya kak? " ujarnya.


" Alhamdulillah ya, akhirnya kita bisa berkumpul kembali setelah sekian lama. "


" Iya alhamdulilah kak. Aku senang, mama masih mau menerimaku lagi sebagai anaknya. " ujarnya sambil tersenyum.


Raka menghela nafas


" Dari dulu mama sangat merindukanmu. Yang jelas mama pasti menerimamu kembali sebagai anaknya. "


" Aku juga sangat merindukan mama. "


Keduanya terus berbicara sambil membahas hal lain didalam mobil itu.


.


.


Disisi lain.

__ADS_1


Di pesantren, lebih tepatnya di asrama santriwan. Fahrul dan Firman masih merebahkan badannya di atas kasur mereka masing-masing sambil menutup mata menikmati udara segar yang masuk kedalam ruangan itu. Lalu tak lama kemudian ada salah seorang santriwan memasuki ruangan itu.


Seketika itu mereka melihat kearah pintu


" Assalamualaikum. " ujar santri itu.


" Waalaikumsalam. "


" Saya kira yang datang Wira. " ujar Firman.


" Hehehe bukan kak. " sambil melangkahkan kakinya menuju ke lemari pakaiannya untuk mengambil sebuah buku miliknya yang ada didalam asrama itu.


" Memangnya kakak sedang menunggu Wira kah? " ujarnya lagi.


" Iya. " ujar keduanya serentak sambil kembali menutup kedua matanya itu.


Seketika itu juga Fahrul dan Firman refleks dan bangun dari rebahannya.


" Raka? " ujarnya sambil terkejut mendengar itu semua.


" Iya, Raka. " ujarnya santri itu dengan santai sambil mencari bukunya di dalam lemari.


" Benarkah? apa kamu tidak salah mendengar? atau mungkin salah melihat? " ujar Firman sambil berjalan mendekati santri itu.


Santri itu menoleh kearahnya

__ADS_1


" Tidak kak, saya tidak salah mendengar. Saya mendengar itu semua dengan mata kepala dan telinga saya sendiri. "


" Memangnya tadi pagi Raka kesini? "


" Iya, dia datang bersama seseorang dan sepasang pasutri gitu. Tapi tidak tau dia datang ada keperluan apa kesini. "


Fahrul yang semula hanya melihatnya, dia kemudian berjalan mendekati keduanya.


" Memangnya tadi pagi ada kejadian apa? " tanya Fahrul kepada santri itu.


Seketika santri itu terdiam, karena dia tidak ingin menyampaikan sesuatu yang bukan masalah dia. Dan juga dia tidak ingin ikut campur dalam urusan orang lain.


" Saya juga kurang tau ya kak. Lebih baik kakak-kakak ini bertanya saja secara langsung kepada Wira. " ujarnya santri itu yang sudah menemukan bukunya.


" Maaf sebelumnya, saya permisi dulu. " ujarnya lagi sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


Lalu kemudian keduanya menatap kepergian santri itu sampai menghilang di balik pintu. Dan kemudian keduanya memikirkan sesuatu.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada Wira dan juga Dewa? Firman


Atau jangan-jangan, Raka itu kakaknya Wira? makanya dia mencari tau tentang informasi mengenai Wira kepadaku pada saat itu. Apa jangan-jangan selama ini benar kecurigaan Raka kepada Dewa? kalau Dewa itu hanya orang yang mengaku-ngaku sebagai kakaknya saja. Fahrul


Sementara firman menyudahi lamunannya, namun Fahrul masih tetap dalam lamunannya itu sambil berfikir sejenak. Lalu Firman melihat kearahnya.


Jikalau memang benar, Raka itu adalah kakak kandung dari Wira ya bagus dong, akhirnya mereka bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Lalu, Dewa? untuk apa dia melakukan itu semua kepada Wira? untuk apa dia mengaku-ngaku sebagai kakaknya Wira? atau jangan-jangan dia itu orang jahat yang ingin menjahati Wira? Astaghfirullah hal adzim ya Allah, maafkan hamba.. sudah su'udzon.

__ADS_1


" Woyy, lagi ngelamunin apa kok sampe bengong begitu? " ujar Firman membuyarkan lamunan Fahrul sambil menepuk pundak temannya itu.


" Mm? " terkejut. " Tidak, tidak apa-apa. " kali ini Fahrul memasang wajah serius terhadap masalah ini. Karena dia tau kapan waktu serius dan kapan waktu bercanda.


__ADS_2