Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An

Takdir Cinta Sang Hafizh Qur'An
Jatuh cinta


__ADS_3

Cantika hanya menoleh kearah Angel. Dan diikuti oleh Wira, kemudian Angel menundukkan kepalanya.


Wira yang seakan faham dan mengerti maksud Cantika lalu hanya tersenyum kepada Angel.


" Jika tidak diungkapkan bagaimana aku bisa tahu kalau ada seseorang yang menyukaiku. " ujar Wira yang menyindir Angel dan membuang muka ke segala arah.


" Kata siapa orang itu tidak mengungkapkannya? " sahut Angel melihat kearah Wira.


" Kataku. " ujar Wira dan melihat kearah Angel.


" Orang itu sudah mengungkapkannya, mengungkapkan lewat sepertiga malam. "


" Benarkah? "


" Iya. "


" Lalu bagaimana jawabannya? apa sudah mendapatkan kepastian? "


" Tidak tau ya. Yang pasti aku selalu berdo'a dan memohon kepada Allah, agar seseorang yang aku do'akan dan aku cintai tidak pernah mengecewakanku. "


" Memangnya kamu mencintai siapa? " tanya Wira kepada Angel seakan-akan memancing sesuatu.


" Ehh.. tidak tau ya. Yasudah, aku pergi duluan. Assalamualaikum. " ujar Angel seraya melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.


" Waalaikumsalam. " jawab mereka serentak.


" Angel, tunggu. " ujar Aisyah.


" Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum. " sambungnya.


" Saya juga pamit bersama Ais. Assalamualaikum. " ujar Cantika.


" Waalaikumsalam. "


Wira hanya melihatnya, sementara di tempat itu hanya tinggal mereka bertiga. Ustadz muda, ustadzah, dan juga Wira. Kemudian mereka berjalan menuju kearah keluar dari ruangan itu.


Di koridor, sambil berjalan Wira mencoba mencari tahu tentang siapa yang dicintai oleh Angel kepada ustadzah.

__ADS_1


" Ustadzah? " ujar Wira.


" Mm? " sahut ustadzah.


" Apa saya boleh bertanya sesuatu? "


" Mau bertanya apa Wira? "


" Kapan ya event itu dimulai? " ujar Wira seakan basa-basi mencari topik pembicaraan.


" Sekitar kurang lebih satu minggu lagi. Memangnya kenapa? "


" Tidak apa-apa, cuma bertanya saja ustadzah. "


" Hanya bertanya itu? " ujar ustadzah seakan tidak percaya.


" Iya, memangnya kenapa ustadzah? apa ada yang salah? "


Ustadz muda hanya mendengarnya dan seakan faham maksud dari Wira.


" Saya rasa yang ingin ditanyakan ini bukan masalah itu, tapi masalah lain. Namun Wira hanya basa-basi untuk memulainya. "


" Mm? benarkah? " ujar ustadzah.


" Iya, saya rasa sih seperti itu ustadzah. Coba aja tanya lebih lanjut kepada Wira. "


Dan ustadzah melihat kearah Wira.


" Mau bertanya apa Wira? apa ada pertanyaan lain yang ingin kamu tanyakan kepada saya? " ujar ustadzah.


Seketika Wira mendongakkan kepalanya dan tersenyum.


" iihh.. kenapa senyum-senyum? hayo mau bertanya apa? " ujar ustadzah lanjutnya lagi.


" Apa ustadzah pernah jatuh cinta? " tanya Wira.


Seketika ustadzah menghentikan langkahnya.

__ADS_1


" Jatuh cinta? kamu sedang jatuh cinta, Wira? jatuh cinta kepada siapa? " ujar ustadzah.


" Tuh kan bener, saya bilang juga apa. Pasti ada yang lain yang ingin ditanyakan. " sahut ustadz muda.


" Hehehe. Caranya membedakan antara jatuh cinta dan nafsu itu bagaimana sih ustadz muda, ustadzah? " tanya Wira kepada keduanya.


Kemudian ustadz muda duduk di pinggir koridor yang kebetulan pada saat itu terdapat tempat duduk.


" Sini duduk dulu. Biar kuperjelas. "


Kemudian Wira mengikuti ustadz muda untuk duduk, sementara ustadzah hanya berdiri.


" Cinta dan nafsu itu sulit dibedakan. Cinta itu buta, begitu pula dengan nafsu yang sama butanya seperti cinta. " ujar ustadz muda kepada Wira, sementara ustadzah hanya mendengarnya.


" Lalu bagaimana cara membedakannya ustadz muda? " tanya Wira.


" Kalau menurut saya sih, tidak bisa dibedakan diantara keduanya. Menurut saya keduanya itu kembar. Misalkan nih ya, 'cinta karena cantik' dan 'cantik karena cinta' itu menurutmu sama tidak? "


" Sama ustadz. "


" Persamaannya dimana? "


" Ya sama-sama cinta. "


Ustadz muda tersenyum.


" Itu beda Wira. 'cinta karena cantik' dan 'cantik karena cinta' itu beda. " ujar ustadz muda.


" Perbedaannya dimana ustadz? "


" Cinta karena cantik itu ya kamu mencintai seseorang karena kecantikannya, misalkan nih kamu mencintai dia karena dia baik, cantik, imut, lucu. Begitu cantiknya luntur, luntur pula cintanya. Berbeda dengan cantik karena cinta. Kalau cantik karena cinta, bagaimana pun keadaanmu, aku akan tetap selalu berada di sampingmu. " ujar ustadz muda.


Wira mengangguk seakan faham maksud dari semua perkataan ustadz muda, sementara ustadzah hanya tersenyum melihat Wira.


" Bagaimana? sudah faham kan maksudnya? " tanya ustadzah kepada Wira.


Wira tersenyum dan menjawab.

__ADS_1


" Alhamdulillah, sudah ustadzah. "


__ADS_2