
Angel bersama dengan yang lainnya masih berada di kantin. Mereka bersama-sama bercanda ria dengan tertawa terbahak-bahak karena pada saat itu tidak banyak santri-santri yang ada di tempat itu.
Fahrul dan firman sesekali melihat kearah Wira dan juga Angel.
"kalian mah enak, sudah menjalani masa taaruf. Kalau kami? entah lah jodoh kami masih belum tau ada dimana." gerutu firman sambil sesekali menghela nafasnya.
"ya kalian tinggal pasrah saja kepada Allah, semua yang ada di alam semesta ini hanya Allah yang mengaturnya." timpal ustadz muda.
"saya sudah pasrah ustadz, tapi jodohnya masih belum datang juga."
"mungkin do'anya kurang mantap kali." celetuk Angel.
"Kurang mantap bagaimana? saya sudah berusaha dan berdo'a agar segera menemukan jodoh, tapi masih belum datang juga jodohnya."
"Mungkin belum waktunya untuk bertemu jodoh kali."
Firman menghela nafasnya. "Iya mungkin." kemudian melihat kearah Fahrul yang dari tadi tidak menghiraukannya karena sibuk memakan gorengan sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.
"Tenang saja, kalian semua jomblo kan?" tanyanya Wira.
Kemudian fahrul dan firman pun mengangguk.
"Kejombloan seseorang akan berakhir, kalau tidak di pelaminan ya minimal di pemakaman."
"Enak saja, aku masih pengen punya istri. Masih pengen merasakan indahnya malam pertama." sahut firman.
Mendengar itu semuanya tersenyum kecil.
"Memangnya malam pertama itu seperti apa sih yang ada dalam fikiran kamu?" tanya ustadz muda.
Sejenak firman melihat kearah ustadz muda.
__ADS_1
"Ya begitulah ustadz, malu-malu kucing."
Ustadz muda tersenyum sambil geleng-geleng begitu mendengar perkataan itu.
"Tusuk sate lagi?" sahut wira.
"Ya iyalah, indahnya malam pertama ya tusuk sate."
Semuanya tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Mereka melanjutkan candaannya sampai gorengan yang dipesannya tadi habis tak bersisa.
Kemudian Wira dan Angel pamit terlebih dahulu untuk meninggalkan tempat itu kepada yang lainnya karena ada suatu hal yang harus diselesaikan. Setelah selesai berpamitan, mereka berdua pergi meninggalkan kantin tempat mereka sebelumnya. Mereka sejenak bercanda tawa sambil berjalan di koridor, namun tanpa sengaja Wira bertabrakan dengan seseorang yang sedang terburu-buru.
Buukk
Wira terhenyak sejenak melihat kearah orang yang sudah menabraknya tadi.
"Kalau jalan liat-liat dong, pake mata jangan berdua terus, tidak baik di area pesantren berduaan." ujarnya orang itu.
Sementara itu, Angel sejenak melihat kearah orang itu yang tak lain adalah Zein, seseorang dari masa lalunya itu yang sudah menabrak Wira lalu membuang pandangannya ke segala arah.
Sudah pasti dia dengan sengaja melakukannya.
Kemudian Zein melihat kearah Angel.
"Kamu? masih ingat saya kan?" ujarnya Zein sambil menunjuk kearah Angel dengan angkuhnya.
"Iya, saya ingat." sahutnya dengan dingin.
"Lalu, kalian..?" sambil kemudian menunjuk kearah Wira.
"Iya, kami berdua. Memangnya kenapa? masalah?" sahut Angel lagi.
__ADS_1
"Wahh, hebat." sambil tepuk tangan. "kalian luar biasa. Bagaimana bisa area pesantren dibuat untuk pacaran?"
Wira terkejut mendengar perkataan dari pria yang berada di depannya kini.
"Maksud kamu apa?" tanyanya Wira.
Astaga, drama apa lagi ini? gumam Angel.
Zein tersenyum sinis kearah Wira. Karena itulah yang dia inginkan, yakni untuk memancing amarah Wira.
"Apa kamu tidak sadar kalau ini di area pesantren?"
"iya, saya tau ini di area pesantren. Memangnya ada apa?"
"Apa pesantren tempat untuk berpacaran?"
"Mm?" Wira terkejut mendengar perkataan itu.
"Saya tidak berpacaran dengan Angel." sambungnya.
"Lalu ini kalian berdua, apa kalau tidak berpacaran?"
"Dia calon istri saya." sahut wira. Angel melihat kearah Wira.
"Memangnya apa urusannya dengan anda?" sambungnya.
"Tidak ada urusannya kan?" ujarnya lagi sambil menarik tangan dari Angel lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Zein terdiam melihat kearah siluet keduanya.
Sial ! dengan beraninya dia mengakui Angel kalau dia itu calonnya.
__ADS_1
Zein menghela nafasnya dalam-dalam lalu mengusap wajahnya dengan kasar.